Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 16: Sidak Pajak dan Akuntan Bar-bar

Namun, alih-alih panik atau menangis, Aura justru mendesah panjang. Ia membuka laci mejanya, mengambil Kartu Debit Imperial Platinum itu, dan memutar-mutarnya dengan malas di sela jari telunjuknya.

"Gratifikasi? Korupsi?" Aura berdiri perlahan. Ia merapikan rompi kerjanya, menatap Arthur dan para petugas pajak itu bagaikan menatap sekumpulan murid TK yang salah menjawab soal matematika dasar.

"Bapak Petugas Pajak yang terhormat," sapa Aura dengan senyum sangat sopan namun mematikan. "Sebelum Bapak bawa borgol ke sini, Bapak sudah ngecek Tax Identification Number (NPWP) perusahaan atas nama Kartu Platinum ini belum?"

Petugas pajak itu mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Itu kartu pribadimu yang diberikan oleh Pangeran Caden sebagai uang suap, kan?!"

"Uang suap dari mana, Pak! Fitnah aja kerjaannya!" Aura menggebrak meja dengan keras hingga membuat kelima petugas pajak itu terlonjak kaget.

Aura mengangkat kartu platinum itu tinggi-tinggi. "Baca nama yang tertera di sudut kartu ini! 'FASILITAS OPERASIONAL DEPARTEMEN KEUANGAN - DIVISI ANALIS'! Ini bukan uang pribadi! Ini adalah dana Taktis Perusahaan!"

Arthur ternganga. "B-bohong! Caden jelas-jelas bilang kemarin itu untuk uang jajanmu!"

"Pangeran Arthur, tolong bedakan antara gimmick (candaan) bos di depan publik sama pencatatan buku besar akuntansi!" balas Aura pedas. Ia menyalakan layar hologram di belakangnya, menampilkan barisan tabel pengeluaran yang sangat rumit.

"Nih, lihat, Pak Pajak!" tunjuk Aura pada layar. "Setiap keping emas yang saya gesek pakai kartu ini masuk ke kategori 'Biaya Operasional Eksekutif' alias Opex! Karena saya adalah Asisten VIP yang mengelola dana jutaan koin emas, Departemen wajib memberikan fasilitas penunjang keamanan dan mobilitas tingkat tinggi. Kartu ini dipakai untuk sewa Naga Kargo semalam, dipakai untuk traktir klien, dan dipakai untuk biaya riset pasar! Semuanya ada kwitansinya!"

Petugas pajak itu memucat. Ia mulai membaca angka-angka di layar hologram itu. Benar saja, seluruh pengeluaran terdaftar sebagai biaya operasional divisi yang sah di bawah hukum kekaisaran, yang secara hukum dibebaskan dari pajak pribadi.

"Dan soal gratifikasi?" Aura melangkah maju, wajahnya semakin garang. Ia menunjuk tepat ke hidung ketua petugas pajak. "Gratifikasi itu kalau pejabat menerima uang dari swasta! Saya ini KARYAWAN! Saya digaji oleh Caden! Kalau Bos ngasih bonus kinerja pakai kartu perusahaan, itu namanya Fringe Benefits (Tunjangan Karyawan), dan pajaknya dipotong dari PPh Pasal 21 yang sudah disetorkan Lucas ke kas negara bulan lalu! Bapak mau nuduh saya korupsi? Bapak belajar akuntansi di mana?! Di pasar malem?!"

"A-apa itu PPh Pasal 21...?" petugas pajak itu tergagap bingung. Istilah-istilah bar-bar yang dikeluarkan gadis ini sama sekali tidak ada di buku hukum feodal mereka, tapi logika angkanya tercatat sangat sempurna dan mengikat di sistem blockchain istana.

"Bapak nggak tahu?!" Aura menepuk dahinya. "Ya ampun, pantesan negara ini korupsinya subur, orang dinas pajaknya aja gaptek sama sistem pembukuan double-entry! Mia! Kasih bapak ini print-out laporan SPT Tahunan divisi kita biar dia bisa baca sambil nangis di pojokan!"

"S-siap, Bu Bos!" Mia dengan sigap menyodorkan setumpuk kertas tebal ke tangan petugas pajak yang gemetar.

Arthur tidak bisa berkata-kata. Rencana cemerlangnya untuk memenjarakan Elara dan menghancurkan Caden baru saja dihancurkan secara brutal dengan presentasi laporan SPT.

"I-ini tidak mungkin! Caden pasti memanipulasi sistemnya!" teriak Arthur frustrasi.

"Pangeran Arthur," suara berat dan dingin yang sangat familiar memotong teriakan Arthur.

Pintu ruangan terbuka. Caden masuk bersama Lucas, wajahnya menggelap melihat kerumunan di ruangannya.

"Kau kembali membuat masalah di wilayahku, Arthur?" Caden melangkah mendekat, auranya begitu pekat hingga kelima petugas pajak itu langsung bersujud di lantai.

"Y-Yang Mulia Pangeran Caden! K-kami hanya menjalankan tugas pengecekan rutin!" cicit ketua pajak itu, wajahnya sepucat mayat.

"Pengecekan rutin yang didasari oleh laporan palsu Pangeran Arthur?" Caden menatap Arthur dengan tatapan meremehkan yang sangat membekas. "Kau gagal memblokir jalur darat semalam, jadi kau menggunakan Otoritas Pajak pagi ini? Strategimu sangat usang dan menyedihkan, Saudaraku."

Arthur mengepalkan tangannya kuat-kuat. Harga dirinya benar-benar telah diinjak-injak selama dua hari berturut-turut. "Kau pikir kau menang, Caden?! Kau hanya bersembunyi di balik rok asistenmu yang manipulatif ini!"

"Dia tidak bersembunyi," sela Aura, melangkah mendekat ke sisi Caden dan merangkul lengan pangeran itu dengan berani. "Dia cuma tahu cara delegasi tugas yang efisien. Bos yang pinter bayar orang pinter buat ngerjain hal remeh kayak ngurusin hama macem Anda. Betul kan, Bos?"

Caden menatap Aura yang bergelayut di lengannya. Kemarahan di matanya seketika mereda, berganti dengan kilatan geli dan posesif.

"Sangat betul, Asisten Elara," jawab Caden, tangannya menutupi tangan Aura di lengannya.

Caden kembali menatap para petugas pajak. "Kalian. Keluar dari ruanganku dalam tiga detik, atau aku akan memasukkan seluruh divisi Otoritas Pajak ke dalam daftar audit pencucian uang Departemen Keuangan besok pagi."

Tidak perlu sampai tiga detik. Para petugas pajak itu bangkit dan berlari pontang-panting keluar dari ruangan, menjatuhkan beberapa kertas di lantai.

Arthur berdiri sendiri. Wajahnya merah karena menahan malu dan amarah. Ia menatap Aura sekali lagi dengan pandangan penuh luka dan kebencian.

"Kau akan menyesali pilihanmu, Elara. Uang Caden tidak akan bisa menyelamatkanmu saat konspirasi sebenarnya dimulai," ancam Arthur, sebelum akhirnya membalikkan badan dan keluar ruangan dengan langkah kaku.

Begitu pintu tertutup, Aura langsung melepaskan rangkulannya dari lengan Caden dan mengipasi wajahnya pakai kartu platinum.

"Gila! Pagi-pagi udah diajak debat hukum pajak. Kalori gue habis nih, Bos," keluh Aura.

Caden bersandar di pinggiran meja, menatap asistennya dengan kekaguman yang tak bisa disembunyikan. "Kau benar-benar luar biasa, Elara. Darimana kau belajar mengarang istilah-istilah hukum pajak aneh seperti PPh Pasal 21 dan Opex itu? Otoritas Pajak bahkan tidak tahu harus menjawab apa."

"Bukan ngarang, Bos! Itu ilmu akuntansi dunia nyata! Dan gue nerapin itu di sistem software hologram kita bulan lalu biar nggak ada yang bisa ngecelah transaksi kita," jawab Aura bangga. "Makanya, punya asisten itu yang melek literasi finansial. Jangan kayak Hama Pirang yang cuma melek literasi puisi cinta."

Caden tersenyum lebar. Ia menarik pinggang Aura, membawa gadis itu kembali ke dalam pelukannya.

"Aku memang pria paling beruntung memiliki asisten sepertimu," bisik Caden. "Sebagai hadiah karena memukul mundur Arthur lagi pagi ini, apa yang kau inginkan? Tas mewah? Mobil terbang model terbaru?"

Aura menengadah, matanya berbinar-binar penuh kelicikan kapitalis.

"Gue mau persenan dari laba bersih panen gandum bulan depan, Bos. Dua persen bersih, no potong pajak."

Caden tertawa, suara tawanya bergema di ruangan VIP itu. "Lima persen untukmu, Gadis Serakah. Asalkan nanti malam kau tidak protes lagi saat aku melewati Garis Batas Guling Berbayarmu."

Aura tersenyum malu namun matre. "Kalau lima persen, jangankan ngelewatin guling, Bos lempar gulingnya ke luar jendela juga gue ikhlas!"

Di sudut ruangan, Mia hanya bisa geleng-geleng kepala sambil terus mengetik, mulai terbiasa dengan gaya romansa brutal dan penuh hitungan uang antara bos dan atasannya ini. Alur novel Cinta Sang Mahkota benar-benar sudah berbelok tajam menuju genre Wall Street Romance yang barbar.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!