Indonesia
NovelToon NovelToon
Ayah Tiri

Ayah Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Anak Genius / Romansa Fantasi
Popularitas:747
Nilai: 5
Nama Author: fazamanmut

Angela Syambega, gadis perpaduan darah Tionghoa dan Jawa yang tumbuh sederhana. Hidupnya pernah berkilau penuh kemewahan saat ayahnya masih sukses, namun semuanya berubah drastis ketika nasib berbalik arah. Ayahnya dipecat, kecelakaan, hingga harus berpulang selamanya, menyisakan Angela dan ibunya yang harus berjuang keras menyambung hidup dari nol. Dari buruh pabrik hingga pelayan kafe, Angela tak pernah lelah berusaha demi satu-satunya keluarga yang ia miliki.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fazamanmut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

14

"Masak sup saja, simpel," gumamku pelan dalam hati.

Aku pun beranjak ke dapur dan mulai menyiapkan bahan-bahannya. Segala sayuran segar yang ada di kulkas kuambil satu per satu, lalu dicuci hingga bersih bersih. Aku mengingat-ingat resep sup sederhana yang dulu sering Ibu ajarkan kepadaku. Sayur wortel, kentang, kol, buncis, ditambah potongan daging ayam yang empuk, dibumbui bawang putih, bawang merah, lada, dan sedikit pala agar wanginya harum menenangkan. Sambil mengupas dan memotong sayuran, bayangan kejadian di apotek tadi sesekali muncul kembali di benakku. Lucas yang mengulurkan tangan meminta maaf... aku masih tidak percaya hal itu benar-benar terjadi. Sekarang bukan waktunya memikirkannya, pikirku. Yang terpenting saat ini adalah sup hangat untuk Ibu.

Air mendidih di dalam panci, uap panasnya mengepul membawa aroma sayuran segar yang mulai tercium harum. Aku memasukkan bahan-bahan satu per satu dengan perlahan, memastikan tidak ada yang terlalu lembek atau terlalu keras. Sambil menunggu matang, aku sesekali mengaduknya pelan, menyesuaikan rasanya persis seperti buatan Ibu. Gurih, hangat, dan menenangkan hati. Semakin lama dimasak, semakin sedap aromanya memenuhi seisi rumah, seakan membawa kenyamanan ke setiap sudut ruangan. Aku berharap sup ini tidak hanya menyembuhkan pusing Ibu, tetapi juga menghangatkan hatinya yang sedang berat.

 

Setelah sup matang dan kuangkat dari kompor agar tetap hangat, aku pun beralih mencuci pakaian. Air bersih mengalir deras membasuh noda dan debu pada kain-kain itu. Sambil menggosok pelan, pikiranku perlahan tenang kembali. Tidak ada Lucas, tidak ada Samudra, tidak ada kekhawatiran tentang masa depan. Di sini, di dapur rumah kecil kami, hanya ada aku, air yang mengalir, dan harapan agar Ibu cepat sembuh. Gerakanku teratur dan menenangkan, seakan setiap kali kubersihkan pakaian kotor, beban di hatiku pun ikut terangkat sedikit demi sedikit. Setelah selesai, aku memerasnya perlahan lalu menjemur satu per satu di halaman rumah. Sinar matahari siang yang hangat menyinari kain-kain itu, membuatnya berkilau bersih dan beraroma segar. Aku tersenyum kecil melihat barisan jemuran yang rapi, merasa puas bisa melakukan sesuatu yang sederhana namun berguna bagi kami berdua hari ini.

"Uuhh, capek sekali," keluhku pelan sambil mengusap keringat di dahi dengan punggung tangan. Tubuhku terasa pegal semua seharian sibuk bekerja hingga pulang lalu tak berhenti bergerak di rumah. Namun di sisi lain, hatiku terasa begitu lega. Semuanya sudah selesai, obat Ibu sudah diminum, sup hangat sudah tersedia, pakaian pun sudah bersih dan terjemur rapi. Tidak ada yang tertunda, tidak ada yang terbengkalai. Aku duduk sebentar di kursi teras sambil menghela napas panjang, menatap jemuran yang bergoyang pelan tertiup angin. Rasa capek itu nyata sekali, namun ada kepuasan hangat yang menyelimuti dadaku. Rasanya damai sekali melihat rumah kami rapi dan siap untuk istirahat. Setetes keringat ini terasa berharga jika semuanya demi Ibu dan rumah kecil kami ini.

Setelah beristirahat sebentar dan menenangkan napas, aku teringat sesuatu. Mungkin Ibu akan terasa lebih enak hatinya jika ada camilan sederhana untuk menemaninya saat bangun nanti. Aku pun beranjak kembali berdiri.

"Pergi ke warung saja, beli jajanan sedikit," pikirku pelan.

Aku melangkah keluar rumah menuju warung kecil di ujung jalan. Langkahku terasa ringan meski tubuh masih sedikit lelah. Di sana tersedia berbagai macam jajanan pasar yang masih segar dan menggugah selera. Ada pisang goreng yang masih hangat, kue lapis yang kenyal, talam yang manis, hingga bolu kukus yang empuk. Aku memilih beberapa jenis yang biasa disukai Ibu, memastikan semuanya masih enak untuk dimakan bersama. Anggap saja hadiah kecil untuk Ibu hari ini, batinku tersenyum membayangkan wajah beliau yang pasti akan senang melihat kesederhanaan ini.

Baru saja melangkah, terdengar suara panggilan yang tak asing lagi. "Cilok... cilok..."

Mataku langsung berbinar. Wah, kebetulan sekali! Aku pun berbalik arah menuju tukang cilok itu. Aroma bumbu kacang yang gurih dan bau uap panas dari adonan cilok yang baru matang tercium sedap sekali.

"Bu, beli cilok ya!" seruku antusias.

"Iya, Neng. Mau yang besar atau kecil?" tanya tukangnya ramah.

"Yang besar satu bungkus ya, banyakin bumbu kacangnya," pesanku sambil tersenyum. Kebetulan sekali, ini jajanan favorit Ibu sejak dulu. Pasti beliau akan senang sekali, apalagi sedang kurang enak badan, makan cilok hangat-hangat pasti enak rasanya.

Setelah cilok tersaji rapi di kantong plastik dengan bumbu kacang yang melimpah, aku membayarnya lalu berjalan pulang dengan langkah ringan. Sup hangat, jajanan kesukaan, dan cilok yang masih mengepul. Hari ini sederhana saja, tapi rasanya lengkap sekali untuk kami berdua.

Sesampainya di rumah, aku meletakkan jajanan pasar di atas meja makan, lalu merapikannya dengan rapi. Setelah itu kututup dengan tudung saji agar tetap bersih dan hangat saat Ibu hendak memakannya nanti.

Aku pun kembali duduk di kursi teras, membuka bungkusan cilok milikku. Angin sepoi-sepoi berhembus pelan menerpa wajahku, membawa sejuk yang menenangkan. Di depannya langit cerah bersih, daun-daun di pepohonan bergoyang pelan mengikuti tiupan angin. Aku menyantap cilok itu perlahan-lahan, hangat dan gurih di mulut. Rasanya nikmat sekali, apalagi dinikmati di sini sendirian dalam keheningan yang damai. Tidak ada keributan, tidak ada kekhawatiran, hanya aku, udara segar, dan angin sejuk yang memelukku lembut. Hari yang sederhana namun terasa begitu lengkap.

 

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!