Sinopsis:
Lima belas tahun setelah perpisahan yang dipenuhi salah paham, Helena kembali bertemu dengan Arthur Fernando, mantan suami yang tak pernah berhenti mencarinya. Di balik perceraian mereka, tersimpan konspirasi musuh yang ingin menghancurkan klan Fernando. Kini, saat kebenaran terungkap, Arthur bertekad merebut kembali Helena, meski harus menjadikannya tawanan cinta yang tak pernah padam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gigiwww, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Malam Keluarga
Sudah seminggu mereka tinggal di rumah baru di tepi pantai. Pagi-pagi, Arthur selalu bangun lebih awal dan berjalan ke teras belakang untuk melihat matahari terbit di atas laut. Helena menyusulnya dengan segelas kopi hangat, dan mereka duduk berdampingan, menikmati angin laut yang sejuk.
Hari ini, James masih tertidur di kamarnya. Helena menatap Arthur. "Kamu sudah memikirkan tentang makan malam hari ini? Kita bisa memasak bersama."
Arthur tersenyum. "Aku suka ide itu. Kita bisa membuat ikan bakar dan nasi hangat. Seperti keluarga biasa."
Helena tertawa. "Keluarga biasa? Kita sudah menjadi keluarga biasa sekarang, Arthur."
Mereka berdua memasak di dapur. Helena memotong sayuran dan menyiapkan bumbu, sementara Arthur sibuk membersihkan ikan dan menyalakan pemanggang di halaman belakang. Suasana terasa begitu hangat, dan tak lama kemudian, James muncul dengan mata yang masih sembab.
"Pa, aku mencium bau ikan bakar?" tanya James, menguap.
Arthur tersenyum. "Iya, Nak. Ayo bantu Papa menyiapkan meja makan."
James mengangguk, lalu mulai merapikan meja makan. Beberapa menit kemudian, mereka bertiga duduk di meja makan dengan hidangan yang lengkap. James menyantap ikan bakar dengan lahap, dan Arthur menatapnya dengan penuh kebanggaan.
"Nak, bagaimana rasanya tinggal di sini?" tanya Arthur.
James berhenti makan, menatap Arthur. "Aku bahagia, Pa. Aku suka rumah ini. Aku suka bisa bangun pagi dan melihat laut. Aku juga suka bisa makan bersama Papa dan Mama."
Helena tersenyum. "Kita akan sering makan bersama, Sayang."
James menatap Arthur dan Helena. "Ma, Pa... aku ingin bertanya sesuatu."
Arthur mengangguk. "Tentu, Nak. Tanya apa saja."
James mengambil napas panjang. "Kenapa dulu Mama tidak pernah menceritakan tentang Papa? Apakah Mama membenci Papa?"
Helena menunduk, merasa bersalah. "James, Mama tidak membenci Papa. Mama takut."
James menatap Helena. "Takut akan apa, Ma?"
Helena menangis, mengusap matanya. "Mama takut jika Papa tahu tentang kamu, Papa akan membawamu pergi. Mama takut keluarga Papa akan menyakitimu. Mama takut kamu tidak akan bisa menjalani hidup yang normal."
Arthur menggenggam tangan Helena. "Hel, semua sudah berakhir. Kita sudah melewati masa itu."
James berdiri, berjalan ke sisi Helena, lalu memeluknya. "Ma, aku tidak akan pernah berhenti mencintaimu. Kamu adalah Mama terbaik di dunia."
Helena memeluk James, air matanya jatuh di bahu James. "Mama juga sayang kamu, James."
Arthur tersenyum, ikut memeluk mereka berdua. "Ini adalah keluarga yang selalu aku impikan."
---
Malam tiba, dan mereka bertiga duduk di teras belakang sambil menikmati angin laut. Bintang-bintang bersinar terang di langit, dan suara ombak terdengar menenangkan.
"Pa, boleh aku minta tolong?" tanya James.
Arthur menoleh. "Tentu, Nak. Apa itu?"
James tersenyum. "Aku ingin kamu mengajarkan aku berenang. Kolam renang di halaman belakang sudah jadi, dan aku belum pernah belajar berenang."
Arthur tertawa. "Aku pikir kamu sudah bisa berenang sebelumnya."
James menggeleng. "Belum pernah, Pa. Mama tidak sempat mengajarkan aku."
Arthur menatap Helena, lalu kembali menatap James. "Baiklah, Nak. Besok pagi, kita mulai belajar berenang. Tapi kamu harus janji, kamu tidak akan menyerah jika merasa takut."
James mengangguk. "Aku janji, Pa."
Helena tersenyum. "Aku juga ingin belajar berenang. Kita belajar bersama."
Arthur tertawa. "Kalau begitu, kita akan menjadi keluarga yang pandai berenang."
---
Keesokan paginya, Arthur, Helena, dan James sudah berdiri di tepi kolam renang. Arthur melompat ke dalam air lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya.
"Ayo, James. Jangan takut. Papa di sini."
James ragu, tapi akhirnya melompat ke dalam air. Arthur menangkapnya, dan James tertawa begitu merasakan air yang dingin.
"Seru, Pa! Airnya dingin, tapi menyenangkan!"
Arthur tersenyum, lalu mulai mengajari James teknik dasar berenang. James belajar dengan cepat, meskipun beberapa kali dia menelan air dan batuk-batuk.
Helena tertawa melihat mereka berdua. "Kalian berdua seperti anak kecil."
Arthur menatap Helena. "Ayo, Hel. Bergabunglah dengan kami."
Helena akhirnya melompat ke dalam air. Arthur menangkapnya, dan mereka berdua tertawa bersama. James melihat orang tuanya yang bahagia, dan dia tersenyum.
"Ini adalah hari yang paling bahagia," bisik James.
Sore itu, setelah selesai berenang, mereka duduk di teras belakang sambil minum es kelapa. Arthur menatap Helena dan James, dan dia merasa sangat bersyukur.
"Hel, aku ingin memberitahu kamu sesuatu," kata Arthur.
Helena menatap Arthur. "Apa itu?"
Arthur tersenyum. "Aku ingin kita menikah lagi."
Helena membelalak. "Apa? Arthur, kita baru saja mulai membangun hubungan ini."
Arthur menggeleng. "Aku tidak ingin menunggu lebih lama, Hel. Kita sudah kehilangan lima belas tahun. Aku tidak ingin kehilangan satu hari pun lagi. Aku ingin kita menjadi keluarga yang resmi, bukan hanya keluarga de facto."
James yang mendengar percakapan itu langsung bersemangat. "Ma! Ayo terima lamaran Papa!"
Helena menatap Arthur, lalu menatap James, dan air matanya mulai mengalir. "Kamu yakin, Arthur? Kamu benar-benar yakin?"
Arthur mengangguk. "Aku lebih yakin daripada apa pun yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu dan James."
Helena tersenyum sambil menangis. "Kalau begitu, aku menerima. Dengan senang hati."
James melompat kegirangan. "Aku akan menjadi anak laki-laki paling bahagia di dunia!"
Arthur memeluk Helena, lalu mencium keningnya. "Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang lebih baik. Tidak akan ada lagi rahasia, tidak akan ada lagi ketakutan."
Helena memeluk Arthur erat. "Aku juga berjanji, Arthur. Aku tidak akan pernah lari lagi."
Malam itu, di bawah bintang-bintang yang bersinar, keluarga kecil mereka semakin kuat. Arthur dan Helena bertekad untuk membangun masa depan yang cerah, sedangkan James, yang telah lama kehilangan kehadiran seorang ayah, kini merasa bahwa hidupnya benar-benar lengkap.