Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan di Ujung Lorong
Raka berdiri diam di dekat pagar rumah Bu Wiyati, menatap kepergian Bu Isma yang perlahan memudar di balik kabut tipis yang merendah perlahan di antara pepohonan. Suaranya yang memanggil nama putrinya masih terdengar samar-samar, seakan datang dari kejauhan namun tak pernah benar-benar hilang, terus bergaung di udara yang sejuk dan sunyi itu. Hatinya terasa berat, seakan tertimpa beban yang bukan miliknya namun harus ia pikul. Namun ia tahu ia belum selesai. Masih ada Arlan, dan Ardita. Ia harus menemukan mereka, menyampaikan pesan itu, dan mencoba sekali lagi. Siapa tahu, mungkin ada cara yang belum ia lihat.
Ia berbalik perlahan dan berjalan kembali menuju rumah kedelapan. Langkah kakinya di atas tanah berumput terasa ringan, seakan ia tidak menapak sepenuhnya di bumi. Pintu depan rumah itu terbuka sendiri saat ia mendekat, berderit pelan seakan menyambut kedatangannya, seakan rumah itu tahu ia kembali. Di dalam, ruang tamu yang tadi ditempati Pak Candra kini kosong. Tidak ada siapa-siapa. Lemari kayu tua di sudut ruangan berdiri diam, meja panjang di tengah ruangan masih sama seperti sebelumnya. Namun dari arah lorong belakang, terdengar suara langkah kaki teratur, berulang-ulang, mondar-mandir, maju beberapa langkah lalu berbalik, maju lagi, seakan seseorang terus berjalan tanpa henti, menjaga tempat itu tanpa lelah, tanpa istirahat, tanpa jeda.
Raka berjalan perlahan menyusuri lorong itu. Dinding tembok di sisinya terasa kokoh dan dingin, namun tidak menusuk. Lantai semen tetap keras dan rata di bawah kakinya. Semakin ke belakang, cahaya keperakan yang menyinari ruangan tadi semakin redup, digantikan oleh bayangan lembut yang menempel di setiap sudut, di setiap celah dinding. Di ujung lorong, di depan pintu kayu yang tertutup rapat dan terlihat kokoh, berdiri seorang pemuda. Ia tegap, berdiri lurus tanpa bergerak sedikit pun, tangannya mengepal erat di sisi tubuh, menatap pintu itu dengan tatapan yang penuh keteguhan namun juga kelelahan yang mendalam kelelahan yang terlihat jelas di matanya, meskipun wajahnya masih muda. Saat mendengar langkah Raka, ia berbalik perlahan, gerakannya tenang dan penuh kewaspadaan.
Ia masih muda, wajahnya tampak sekitar dua puluh tahun belum terlihat seperti orang tua, namun matanya menyimpan beban yang jauh lebih berat dari usianya. Garis rahangnya tegas, bibirnya terkatup rapat seakan menahan kata-kata yang tak boleh diucapkan. Tatapannya tajam namun bukan karena marah melainkan karena terus berjaga terlalu lama, terus menanggung tanggung jawab yang seharusnya belum menjadi bagian dari hidupnya.
"Siapa kamu?" tanya Raka pelan, berhenti beberapa langkah di depannya, takut terlalu dekat.
Pemuda itu menatapnya lekat-lekat, meneliti setiap inci wajah Raka, seakan memastikan sesuatu yang sangat penting. Lalu ia menghela napas panjang napas yang tak benar-benar berupa udara, namun terasa seperti beban yang turun sedikit dari dadanya. "Kau bukan dari sini. Dan kau bukan milik tempat ini juga. Kau... orang dari dunia luar. Bagaimana kau bisa masuk ke sini?"
"Kak Arlan?" tanya Raka hati-hati, lembut, takut salah menyebut.
Pemuda itu mengangguk pelan, kepalanya bergerak pelan seakan setiap gerakan membutuhkan usaha. "Arlan Wijaya. Putra sulung dari keluarga Candra Wijaya. Dan ini..." ia menunjuk pintu kayu di belakangnya dengan dagu, "pintu yang tidak boleh dibuka. Pintu yang menghubungkan tempat ini dengan... sesuatu yang lebih dalam, sesuatu yang bahkan kami pun tidak berani menyebutnya dengan nama."
"Saya bertemu Bapak di ruang tamu tadi," kata Raka, berusaha tetap tenang. "Beliau menunggu di sana. Dan Ibu... saya bertemu Ibu di dekat pagar rumah Bu Wiyati. Beliau sedang berjalan mondar-mandir, memanggil nama Ardita terus-menerus. Beliau terlihat sangat cemas, sangat rindu."
Wajah Arlan langsung melembut seketika, tatapan tajamnya luntur digantikan kesedihan yang terlihat begitu jelas di wajah mudanya. Bahu tegapnya perlahan merosot sedikit, seakan nama ibunya saja sudah cukup untuk membuat pertahanannya runtuh. "Ibu... masih mencari. Sudah berapa lama ia berjalan tanpa henti? Di sini waktu terasa berhenti, tidak ada pagi tidak ada malam. Tapi hatinya terus berjalan, terus merindukan, terus berharap. Dan Ayah... beliau tetap di ruang tamu, duduk di kursi yang dulu selalu ia duduki, menunggu. Menunggu kami pulang, menunggu kami berkumpul kembali seperti dulu. Tapi kami tidak bisa. Kami tidak bisa pergi ke mana pun."
"Kenapa kalian terpisah?" tanya Raka, semakin bingung dan semakin sedih. "Kalian kan tinggal di rumah yang sama. Hanya terpisah lorong dan tangga. Kenapa tidak bisa saja berjalan menemui satu sama lain?"
"Karena tempat ini memisahkan kami," jawab Arlan pelan namun tegas, suaranya terdengar seperti seorang kakak yang sudah lama memikul tanggung jawab berat untuk seluruh keluarga. "Sejak kami membangun rumah kedelapan, sejak kami melanggar aturan tujuh rumah yang sudah ada sejak lama di sini, kami diikat satu per satu di bagian yang berbeda dari rumah ini. Ayah terikat di ruang tamu tempat kami dulu sering berkumpul, makan malam bersama, bercanda. Ibu terikat di jalan setapak antara rumah kami dan rumah Bu Wiyati tempat Ardita dulu sering bermain sore hari, tempat kami dulu sering berjalan-jalan. Dan aku... aku terikat di sini, menjaga pintu ini, memastikan tidak ada yang membukanya, memastikan tidak ada yang keluar maupun masuk tanpa izin. Sedangkan Ardita..." Arlan menunduk, suaranya melembut, penuh kasih sayang sekaligus kesedihan yang dalam. "Dia berada di lantai atas, di kamar tidurnya. Tempat yang paling dalam, tempat yang paling sepi. Dia yang paling muda di antara kami. Dia baru saja tumbuh menjadi gadis remaja saat semuanya terjadi. Dan dia yang paling kesepian di antara kami semua."
"Kakak bisa membawanya ke sini?" tanya Raka segera, berusaha mencari celah. "Atau aku yang menjemputnya, lalu kita kembali ke ruang tamu, lalu —"
"Tidak bisa," potong Arlan lembut namun tegas, dengan nada kakak yang sudah berkali-kali memikirkan hal itu sampai lelah. "Kami bisa berjalan di dalam bagian masing-masing aku bisa berjalan di lorong ini bolak-balik, Ibu bisa berjalan di jalan setapak itu, Ardita bisa berjalan di lantai atas. Tapi kami tidak bisa meninggalkan bagian itu. Aku tidak bisa melangkah keluar dari lorong ini menuju ruang tamu. Ibu tidak bisa melangkah masuk ke rumah Bu Wiyati. Ardita tidak bisa turun tangga ke bawah. Kami satu keluarga, kami hanya berjarak beberapa langkah tapi tempat ini membuat kami seakan berada di rumah yang berbeda, di dunia yang berbeda. Sejak dulu, kami hanya berjarak tangga dan lorong tapi kami tidak pernah bisa bersatu kembali. Sudah berapa lama kami seperti ini? Aku sendiri sudah lupa."
Raka terdiam, hatinya terasa sesak, seakan ada sesuatu yang menekan dadanya perlahan namun tak berhenti. "Tapi... aku bisa membawa kalian pulang. Ke duniku. Ke tempat di mana kalian bisa bersama lagi, tanpa dinding yang memisahkan, tanpa lorong yang menjadi batas. Kalian bisa hidup seperti dulu lagi. Bisa makan bersama, bercanda, berjalan-jalan di luar."
Arlan menatapnya lama, menatapnya seakan melihat sesuatu yang lain di balik wajah Raka. Lalu ia tersenyum tipis senyum seorang pemuda yang sudah lama berdamai dengan takdirnya, namun tetap tidak berhenti berharap di sudut hatinya yang paling dalam. "Kebaikan hatimu itu mulia. Terima kasih sudah peduli pada kami, terima kasih bahkan mau memikirkan hal itu untuk orang asing sepertiku. Tapi kami sudah tidak bisa pergi. Kami sudah menjadi bagian dari rumah ini. Dinding tembok ini, lantai semen ini, atap di atas kepala kami semuanya sudah terikat dengan kami, dan kami pun sudah terikat dengan rumah ini. Kalau kami pergi, rumah ini akan runtuh, dan kami pun akan lenyap sepenuhnya, tanpa sisa. Tidak ada tempat untuk kami di duniamu, dan tidak ada jalan untuk kami ke alam sana. Kami terjebak di sini, selamanya. Itu takdir yang kami pilih sendiri saat kami memutuskan membangun rumah kedelapan."
"Tapi Ibu terus mencari Ardita," kata Raka, tak menyerah. "Beliau menyuruhku menyampaikan pesan bahwa beliau tidak pernah berhenti merindukannya, tidak pernah berhenti mencarinya, dan bahwa beliau selalu menunggunya."
Mata Arlan berkaca-kaca, namun air matanya tidak jatuh, hanya berkilau di sudut matanya. "Ibu... terima kasih sudah menyampaikannya. Tolong sampaikan padanya aku di sini, menjaga pintu ini. Aku baik-baik saja. Dan aku juga merindukannya, merindukan Ayah, merindukan Ardita. Setiap langkah yang kuambil di lorong ini, setiap detik yang berlalu, aku selalu memikirkan mereka. Semoga pesan ini bisa sampai ke dia, meskipun aku tidak bisa mengucapkannya sendiri."
"Baik," janji Raka tulus. "Dan sekarang... aku mau menemui Ardita. Di lantai atas. Aku akan menyampaikan pesan Ibu dan Kakak padanya."
Arlan mengangguk pelan, menunjuk tangga di samping lorong yang tadi tak disadari Raka ada di sana — tangga semen yang sederhana, naik ke atas, menuju tempat yang lebih gelap. "Naiklah. Di ujung tangga, belok kanan, kamar paling ujung. Tapi berhati-hatilah di sana cahayanya paling redup, dan kesedihannya paling dalam. Ardita... dia masih sangat muda. Dia belum sempat menikmati hidupnya saat semuanya berakhir. Dia sering duduk sendirian di dekat jendela, berharap bisa melihat langit luar, berharap bisa melihat orang-orang yang lewat. Tapi dia tidak bisa keluar, dan tidak ada yang bisa masuk."
Raka mengangguk dan berjalan menuju tangga itu. Setiap langkahnya di atas anak tangga semen terasa berat, seakan naik ke tempat yang semakin jauh dari dunia yang ia kenal, semakin jauh dari cahaya matahari yang dulu ia kenal. Semakin ke atas, semakin hening, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang bergema pelan di dinding tembok. Di ujung lorong lantai atas, di depan pintu kamar yang tertutup rapat, ia melihat sosok seorang gadis remaja berdiri di dekat jendela yang tertutup tirai tebal berwarna gelap. Ia berdiri diam, punggung menghadap pintu, menatap ke luar seakan melihat sesuatu yang tidak bisa dilihat orang lain. Tangan kanannya memegang sebuah buku kecil bersampul cokelat tua, buku yang selalu ia pegang erat seakan itu adalah harta paling berharga yang ia miliki.
"Ardita..." panggil Raka pelan, lembut, takut mengejutkannya.
Gadis itu berbalik perlahan, gerakannya lambat dan lembut. Wajahnya masih sangat muda, cantik dengan rambut panjang yang terurai jatuh ke bahu. Matanya jernih dan besar, namun penuh kesedihan yang tak terhingga kesedihan yang terlalu berat untuk usianya. Ia menatap Raka tanpa terkejut, tanpa takut, seakan sudah menunggunya sejak lama, seakan ia tahu seseorang akan datang.
"Kau datang," katanya pelan, suaranya lembut seperti angin yang berhembus pelan di antara daun-daun. "Ibu mengirimkanmu, kan? Aku mendengar suaranya tadi, dari bawah. Dia terus memanggil namaku."
"Kau tahu?" tanya Raka, melangkah mendekat pelan, berhenti beberapa langkah di depannya.
"Ibu selalu mencari," jawab Ardita, menunduk menatap buku di tangannya, jari-jarinya menyentuh sampul buku itu pelan-pelan seakan mengenang sesuatu. "Setiap detik, setiap saat. Aku mendengar suaranya dari bawah, naik sampai ke sini. Aku ingin turun, ingin berlari ke arahnya, ingin memeluknya dan bilang aku di sini, aku baik-baik saja. Tapi aku tidak bisa. Kakinya terasa berat, seakan ada sesuatu yang menahanku di tempat ini, tidak membiarkanku melangkah turun tangga. Aku sudah mencoba berkali-kali, tapi selalu berakhir kembali di tempat yang sama. Dan Kak Arlan juga di bawah, kan? Aku mendengar langkah kakinya. Dia selalu berjalan mondar-mandir. Seakan menjaga kami semua, tapi sebenarnya dia juga sendirian."
"Ardita..." Raka menatapnya dengan hati yang terasa perih. "Ibu menyuruhku menyampaikan pesan. Beliau tidak pernah berhenti merindukanmu. Beliau terus mencarimu, berharap bisa menemukanmu, berharap suatu hari nanti kalian bisa berkumpul kembali. Dan Kak Arlan... dia juga merindukanmu. Dia menyuruhku bilang bahwa dia baik-baik saja, dan dia selalu menjaga kalian dari bawah."
Air mata mengalir di pipi Ardita, namun seperti Bu Isma, air matanya tidak jatuh ke lantai melayang sebentar di udara di dekat pipinya, lalu perlahan menghilang seakan terserap oleh udara di ruangan itu. "Aku juga merindukan mereka. Merindukan Ayah, Ibu, Kak Arlan. Dulu kami sering duduk bersama di ruang tamu, makan bersama, tertawa bersama, Ayah sering bercerita, Ibu tersenyum melihat kami. Rumah ini dulu penuh tawa dan cerita. Tapi sejak kami membangunnya... sejak kami melanggar batas yang tidak boleh dilanggar... semuanya berubah. Rumah ini menjadi penjara kami, bukan rumah kami. Dan kami tidak bisa keluar, tidak bisa pulang, tidak bisa pergi ke mana pun."
"Ardita, ikut aku," ajak Raka tulus, tangannya terulur pelan ke arahnya. "Kita pergi dari sini. Ke tempat di mana kalian bisa bersama lagi. Aku akan membawamu ke ruang tamu, lalu kita jemput Kak Arlan dan Ibu, lalu kita pergi ke tempat di mana tidak ada dinding yang memisahkan kalian. Aku janji akan menjaga kalian."
Ardita menatap tangannya yang terulur, lalu menatap mata Raka. Ada keinginan besar di matanya keinginan untuk pergi, untuk bebas, untuk hidup seperti gadis remaja lainnya, untuk melihat matahari terbit dan terbenam tanpa rasa terikat. Bibirnya bergerak pelan, seakan ingin berkata "iya". Namun ia perlahan menggeleng, air mata kembali menggenang di matanya.
"Aku ingin sekali. Sangat ingin. Lebih dari apa pun di dunia ini. Tapi aku tidak bisa. Aku sudah terikat di sini. Kalau aku pergi... aku akan lenyap. Sebagian dari diriku sudah menjadi bagian dari dinding kamar ini, dari lantai ini, dari udara di sini. Dan buku harian ini..." ia mengangkat buku kecil itu pelan, memeluknya erat di dada. "Isinya sudah tertulis di dinding, di lantai, di udara di sini. Cerita kami sudah menjadi bagian dari rumah ini. Tidak bisa dibawa pergi begitu saja. Kalau aku membawanya pergi, mungkin aku pun akan ikut lenyap."
"Tapi setidaknya... biarkan aku membawamu ke ruang tamu sebentar," kata Raka, tak menyerah. "Biar kalian berkumpul sebentar. Sekali saja. Biar Ibu dan Ayah bisa melihatmu, biar Kak Arlan bisa melihatmu. Hanya sebentar."
Ardita tersenyum sedih senyum gadis muda yang sudah terlalu lama berpisah dari orang-orang yang dicintainya, senyum yang penuh kepasrahan namun juga penuh terima kasih. "Terima kasih. Terima kasih sudah ingin membantu kami, terima kasih sudah peduli. Tapi itu tidak bisa. Ikatan kami bukan pada tempat, tapi pada rumah ini secara keseluruhan. Semakin kami berusaha berkumpul, semakin kuat tarikannya memisahkan kami. Lebih baik kami tetap di tempat masing-masing setidaknya kami tahu kami masih ada, masih ada di rumah yang sama, meski tidak bisa bersama. Setidaknya kami tahu kami tidak sendirian."
Ia melangkah mendekat pelan, berhenti tepat di depan Raka, lalu menyodorkan buku kecil itu kepada Raka dengan kedua tangannya, seakan menyerahkan sesuatu yang paling berharga yang ia miliki, sesuatu yang mewakili seluruh hidupnya. "Kalau kau benar-benar ingin membantu... bawalah ini. Buku harianku. Di dalamnya tertulis semuanya hari-hari kami membangun rumah ini, harapan kami, kebahagiaan kami, mimpi-mimpi kami, dan hari di mana semuanya berubah. Semua yang terjadi, semua yang kami rasakan, semuanya tertulis di sini. Ceritakanlah kepada orang lain. Biarkan mereka tahu siapa kami, biarkan mereka tahu apa yang terjadi di sini. Agar tidak ada orang lain yang melakukan kesalahan yang sama seperti kami. Agar tidak ada keluarga lain yang harus berpisah seperti kami."
Raka menerima buku itu dengan kedua tangannya, hati-hati seakan menerima sesuatu yang rapuh dan suci. Tangannya bisa memegangnya terasa nyata, terasa berat, terasa hangat seakan masih menyimpan kehangatan tangan Ardita. "Aku akan menyampaikannya. Aku janji akan menceritakan semuanya kepada orang lain. Kalian tidak akan dilupakan."
"Dan sekarang... kau harus pergi," kata Ardita pelan, matanya menatapnya dengan tatapan perpisahan yang tulus dan lembut. "Cahaya yang menghubungkan duniamu dan tempat ini mulai menipis. Segera ia akan tertutup. Pergilah sebelum kau terjebak di sini selamanya, seperti kami. Jangan biarkan kesalahan kami menjadi kesalahanmu juga."
"Ardita..." Raka ingin berkata sesuatu lagi, ingin menahannya, ingin membawa mereka semua pergi. Namun tiba-tiba tarikan yang lembut namun tak bisa ditolak menarik tubuhnya — menjauh dari Ardita, menjauh dari lantai atas, menjauh dari rumah itu, turun perlahan melewati lorong, melewati ruang tamu, melewati pintu depan. Ia melihat sosok Ardita perlahan memudar di balik cahaya yang memudar, dan senyum terakhirnya yang penuh kesedihan namun damai sebelum semuanya menjadi gelap sejenak, gelap yang pekat dan sunyi.
Kemudian cahaya kembali bukan cahaya keperakan, melainkan cahaya lampu senter yang menyilaukan mata, cahaya yang terlalu terang dan kasar. Raka terhuyung jatuh berlutut di lantai semen yang dingin dan keras, napasnya tersengal-sengal seakan baru berlari sejauh ribuan kilometer, jantungnya berdegup kencang seakan hendak meledak dari dadanya. Tangan kanannya masih menggenggam erat buku harian itu bukti nyata, benda fisik yang ia bawa kembali, bukti bahwa apa yang ia alami bukan mimpi, bukan khayalan.
"Raka!" suara Laras terdengar pecah dan penuh tangis di dekat telinganya. "Kau... kau kembali! Astaga... kau kembali!"
Tangan-tangan menyentuhnya tangan yang hangat, tangan orang hidup memeluknya, menepuk punggungnya, menangis bahagia. Raka mendongak perlahan, matanya berkedip-kedip menyesuaikan diri dengan cahaya lampu senter yang menyilaukan. Ia melihat wajah-wajah yang penuh syukur dan tak percaya Laras yang menangis tak henti-hentinya, Dimas yang menatapnya dengan mulut ternganga, dan kru lainnya yang tampak tak percaya melihatnya kembali. Namun saat Raka menatap mereka satu per satu, ia sadar satu hal yang mengubah seluruh hidupnya mulai detik itu. Ia kembali. Ia selamat. Ia membawa buku harian itu. Tapi ia tidak berhasil membawa keluarga Candra Wijaya pulang. Karena mereka bukan hilang — mereka terperangkap. Dan di dalam dirinya, kini ada sesuatu yang berubah. Sesuatu yang ia bawa kembali dari antara dua dunia, sesuatu yang kini menjadi bagian dari dirinya sendiri.