Indonesia
NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:759
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dikeroyok Dua Penguasa Angkuh

Aroma lilin terapi yang mahal memenuhi ruang kerja pribadi berdinding kayu mahoni itu. Namun, wewangian mewah tersebut sama sekali tidak mampu mengusir hawa mencekam yang mendadak membuat suasana ruangan menjadi sedingin es.

Helena duduk tegak di balik meja marmernya yang estetik. Postur tubuhnya tampak sempurna layaknya seorang ratu yang sedang mengadili rakyat jelata.

Dia melipat kedua tangannya di atas meja. Kuku-kukunya yang di manikur rapi mengetuk-ngetuk permukaan marmer dengan ritme yang konstan, sengaja untuk mengintimidasi. Matanya menatap lurus ke arah Aira yang berdiri tenang.

Brak.

Sebuah map kulit hitam tebal disodorkan oleh Helena hingga menimbulkan dentuman pelan namun sarat akan ancaman.

"Itu adalah daftar aturan protokoler dan etika high society yang wajib kamu pelajari dan patuhi malam hari ini, Aira," ucap Helena dengan suara yang rendah dan berjarak. Nada bicaranya persis seperti sedang menegur pelayan yang baru saja melakukan kesalahan fatal.

"Di rumah ini, seorang menantu Wirasena tidak boleh berkeliaran di dapur bersama pelayan, tertawa keras-keras seperti di pasar malam, apalagi memakai kaos oblong tipis murahan seperti itu. Kamu harus tahu tata krama meja makan kelas atas, cara berjalan di karpet merah tanpa terlihat kikuk, dan bagaimana berbicara dengan para taipan bursa saham tanpa mempermalukan nama keluarga."

Aira menatap map tebal itu, lalu beralih menatap ibu mertuanya tanpa ada rasa minder sedikit pun. Reaksinya begitu santai, bahkan terlalu santai bagi Helena yang mengharapkan ketakutan.

Aira melangkah maju dengan langkah ringan, lalu membuka halaman pertama map tersebut. Alisnya berkerut tipis. Bukan karena takut, melainkan karena ia menganggap isi dokumen di tangannya tidak lebih dari sekadar tumpukan tulisan yang tidak masuk akal.

"Maaf, Mami Helena," sahut Aira.

"Tapi aturan berjalan dengan buku di atas kepala atau menghafal jenis garpu perak ini sama sekali tidak berguna untuk kelangsungan hidup. Buat apa saya belajar tersenyum palsu di depan kamera sosialita kalau tidak ada tindakan nyata? Aturan ini terlalu kaku dan sangat tidak masuk akal. Saya punya hal lebih penting untuk dikerjakan daripada menghafal hal-hal kosong seperti ini."

"Kamu—!" Helena tersentak dari kursinya.

Wajahnya seketika menegang hebat. Ia sama sekali tidak menyangka menantu barunya akan seberani itu memprotes keputusannya langsung di depan wajahnya, dengan nada datar yang terkesan menghina.

"Kamu pikir kamu siapa? Seorang montir jalanan yang kebetulan sedang beruntung?"

CEKLEK.

Pintu ruang kerja mendadak terbuka dengan satu sentakan kasar yang mengejutkan.

Sosok pria bertubuh tegap dengan setelan kemeja putih melangkah masuk. Langkah kakinya terdengar kaku namun memancarkan wibawa yang luar biasa.

Evan melangkah mendekat, menguarkan aura intimidasi yang sedingin es. Sepasang matanya menyala dengan kebencian saat pandangannya terkunci pada sosok Aira.

"Mami benar, Aira. Kau tidak punya hak untuk membantah aturan di rumah ini," potong Evan dengan suara baritonnya yang rendah dan menekan.

Ia langsung mengambil posisi berdiri di sebelah ibunya, membentuk tembok pertahanan yang kokoh untuk menyudutkan posisi Aira. Matanya yang setajam Elang melirik map di atas meja, lalu kembali menatap Aira dengan pandangan yang merendahkan.

"Status sosial ekonomimu yang rendah sudah cukup membuat keluarga ini menjadi bahan taruhan dan cemoohan di lingkaran elite," desis Evan kejam.

Setiap kata sengaja diucapkannya dengan lambat, memastikan agar Aira meresapi setiap hinaan yang keluar dari bibirnya.

"Jangan menambah beban Wirasena Group dengan tingkah kampunganmu yang memalukan di depan publik. Kau hanyalah aset kontrak di rumah ini, bukan anggota keluarga yang sesungguhnya. Jadi, tutup mulutmu dan lakukan apa yang diperintahkan. Jangan coba-coba menggunakan logika jalananmu yang primitif di hadapan kami."

Dua pasang mata penguasa itu kini menatap Aira dengan tajam, mencoba meruntuhkan pertahanan mental sang gadis montir secara telak. Tapi, jantung Aira yang sudah terbiasa menghadapi kerasnya jalanan dan mesin-mesin berat sama sekali tidak bergetar ketakutan.

Aira justru terkekeh sinis. Sebuah suara pendek yang terdengar sangat mengejek di telinga Evan. Ia melipat kedua tangannya di depan dada, menantang tatapan mata ibu dan anak itu sekaligus dengan binar mata yang berani.

"Gila, kompak bener ya ibu sama anak kalau urusan memandang rendah orang lain," ledek Aira tajam.

Kalimatnya menyahut dengan cepat, tanpa memberikan celah sedikit pun bagi Evan untuk memotong ucapannya. Nadanya tetap terdengar datar. Tidak ada amarah yang meledak-ledak, hanya sebuah ketenangan yang justru membuat lawan bicaranya semakin geram.

"Dengar ya, Tuan Evan dan Mami Helena yang terhormat! Saya berada di rumah ini bukan karena sedang mengemis harta atau menginginkan kedudukan di keluarga Wirasena ini. Saya hanya memegang janji pada Kakek Baskara yang sudah menolong bengkel Veloctra Motors! Jadi, stop bersikap seolah-olah saya ini budak yang bisa kalian setir sesuka hati hanya karena uang kalian banyak."

Aira menjeda kalimatnya sejenak. Ia lalu melangkah maju, hingga jaraknya dengan Evan hanya tersisa beberapa senti saja.

Aroma segar dari tubuh Aira yang sangat berbeda dengan bau parfum menyengat yang luar biasa dipakai oleh wanita-wanita sosialita lingkaran mereka—menyergap indra penciuman Evan.

Sang CEO sempat menahan napasnya sesaat. Ia terkejut bukan hanya oleh keberanian istrinya yang berani memangkas jarak, melainkan oleh ketenangannya yang mutlak. Aira tidak gemetar, tidak berteriak marah, ia hanya berdiri tegak menantangnya. Dan hal itu terasa jauh lebih mengganggu bagi Evan daripada teriakan histeris.

"Kalau Anda merasa terbebani dan malu punya istri seorang montir seperti saya, silakan Anda seret saya keluar dari gerbang rumah ini sekarang juga!" tantang Aira keras dan tegas.

Matanya menatap lurus, menembus tepat kedalaman manik mata dingin Evan.

"Saya malah akan sangat berterima kasih! Setidaknya di luar sana, saya dihargai sebagai seorang manusia, bukan sebagai pajangan rusak yang perlu diperbaiki etikanya."

Evan mengepalkan tinjunya dengan erat di balik saku. Rahangnya mengetat sempurna hingga urat-urat di lehernya terlihat jelas menyembul kaku. Napasnya memburu, bukan karena kelelahan fisik, melainkan karena rasa frustrasi luar biasa yang mendadak mengubur egonya.

Keangkuhannya yang setinggi langit baru saja ditampar oleh ketenangan seorang gadis yang seharusnya sudah hancur oleh kata-katanya.

Keheningan yang pekat dan sarat akan ketegangan mendadak mengunci ruang kerja tersebut. Di mana sang CEO arogan dan ibunya yang angkuh benar-benar dibuat terdiam oleh ketangguhan kata-kata dan ketenangan batin seorang gadis oli.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!