“Paman, kenapa ini besar sekali?” tanya Lucia bingung.
“Kau menyukainya?”
“Memangnya itu apa?”
“Jadi kau tidak tahu ini apa? Kau yang membangkitkannya dan kau tidak tahu cara menidurkannya?!”
Lucia polos hanya menggeleng lugu, membuat sang mafia paling ditakuti di seluruh Italia itu menepuk jidatnya kuat-kuat.
****
Disiksa kemiskinan di desa terpencil Calabria dan dijual oleh pamannya sendiri ke sebuah klub malam, Lucia pasrah menunggu takdir kelamnya.
Namun, sebuah penggerebekan menyelamatkannya dan membawanya bekerja sebagai pelayan di mansion megah milik Alessandro Frederick–bos mafia dingin berdarah dingin yang menderita alergi parah terhadap sentuhan manusia.
Satu sentuhan dari orang lain bisa membunuh Alessandro. Tetapi, saat jemari Lucia tak sengaja menyentuhnya, tidak ada rasa terbakar.
Bagaimana bisa seorang mafia kejam menaklukkan hati gadis lugu hingga mengira elusan in-tim adalah usapan rasa kasihan dan ciuman adalah penyembuh rasa sakit?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 18
Alessandro melangkah masuk ke ruang utama mansion. Wajah kakunya amat dingin, tak memberi ruang sedikit pun untuk prasangka tak pasti.
Pria itu adalah seorang mafia yang terbiasa bertindak berdasarkan fakta, bukan asumsi murahan. Jika ingin jawaban, ia akan mencarinya langsung dari sumbernya.
Di ruang tengah yang remang oleh lampu hias, Lucia tampak duduk gelisah di atas sofa. Sebuah teko porselen dan dua cangkir susu hangat tergeletak di atas meja di hadapannya.
Derap langkah sepatu kulit yang beradu dengan lantai membuat Lucia menoleh.
“Paman Tampan? Paman akhirnya pulang.”
Alessandro tidak membalas sapaan itu. Pria tegap itu memangkas jarak, lalu berlutut di satu kaki tepat di hadapan Lucia.
Jemari tangannya yang kekar bergerak menangkup dan mencengkeram lembut dagu gadis itu, memaksa mata bulat Lucia menatap lurus ke dalam sepasang manik birunya yang tajam.
“Katakan padaku yang jujur, Lucia, apa yang kau lakukan di klub malam Marco sebelum Vincent membawamu?”
Lucia mengedipkan matanya bingung. Alisnya saling bertaut, sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh gertakan mafia tersebut.
“Aku dikurung di ruangan gelap, Paman," jawab Lucia jujur dengan bibir mengerucut cemberut.
“Lalu, ada pria bertato galak yang mau memaksaku makan daging amis. Karena bau dan geli, aku gigit tangannya sampai berdarah. Setelah itu aku menangis di pojokan sampai paman Vincent datang menendang pintu dan membawaku pergi dari sana.”
Alessandro tertegun. Pandangan matanya yang semula menuntut penjelasan mendadak melunak.
Tidak ada kebohongan di sana. Mata Lucia yang jernih, napasnya yang stabil dan kejujuran tanpa beban dari mulut gadis desa itu menyapu bersih seluruh keraguan yang sempat membakar pikirannya.
Lucia sama sekali tidak tersentuh. Kepolosannya murni, bukan bentukan akting murahan.
Rasa tegang dan cemas yang membelenggu dada Alessandro seketika mencair, berganti menjadi gelombang rasa posesif yang teramat kuat.
Gadis ini miliknya. Ya, milik Alessandro seutuhnya!
“Sudah ah, jangan bahas pria bertato itu lagi! Paman cepat minum susu hangat ini dulu, terus tiduran di sofa,” omel Lucia seraya menepis pelan tangan Alessandro.
Alessandro menaikkan sebelah alisnya, beralih menatap teko porselen di atas meja. “Untuk apa susu ini?”
Lucia berdiri dengan bangga, lalu meletakkan kedua tangannya di pinggang.
“Mila bilang, kalau di desa ada ular berurat di celana pria yang membengkak dan mengamuk, obatnya harus diminumkan susu madu hangat.”
Alessandro yang baru saja hendak menegakkan tubuhnya seketika membeku.
“Apa?” gumam sang mafia, merasa pendengarannya mendadak bermasalah.
“Cepat minum, Paman” desak Lucia seraya menyodorkan cangkir porselen itu ke depan wajah Alessandro. “Setelah Paman minum sampai habis, Paman harus tiduran telentang.”
“Tiduran?”
“Ya, aku mau elus-elus perut bawah Paman sambil menyanyikan lagu pengantar tidur, supaya batu bengkak dan ular celana Paman bisa tidur nyenyak sampai pagi.”
Vincent yang baru saja hendak menyerahkan laporan tambahan seketika membeku di tempat mendengar ucapan Lucia.
Asisten kepercayaan itu membekap mulutnya sendiri kuat-kuat, bahunya berguncang hebat menahan tawa yang siap Meledak saat melihat bos besarnya yang sangar kini disodori cangkir susu racikan desa.
Alessandro memejamkan mata rapat-rapat, mengurut pangkal hidungnya yang mulai berdenyut nyeri.
Sisi intimidatif dan ketegasannya runtuh tak berbekas berganti kepasrahan mutlak di hadapan logika ajaib gadis di depannya.
“Lucia,” panggil Alessandro dengan suara serak, menatap cangkir susu di tangannya dengan raut wajah sangat konyol.
“Ya, Paman Tampanku?”
“Siapa yang mengajarimu omong kosong lagu pengantar tidur ini?”
“Mila,” sahut Lucia polos tanpa dosa dari atas sofa.
“Dia bilang apalagi, hum?”
“Katanya hewan galak apa pun pasti langsung lemas kalau dielus-elus. Ayo minum susunya Paman, ularnya belum tidur kan?”
Alessandro menatap langit-langit mansion dengan pandangan kosong.
Jantungnya berdebar gila, napasnya tercekat, sementara gairah nakal yang mematikan mulai kembali berpusat di bawah sana hanya karena mendengar ucapan kelewat polos dari bibir Lucia.
Sang mafia yang kejam itu menghela napas panjang, pasrah.
“Ya Tuhan! Bunuh saja aku sekarang,” batin Alessandro merintih tak berdaya menghadapi keluguan mematikan gadis desa yang kini sudah menjadi candunya.
“Paman, cepatlah. Aku sudah mengantuk,” rengek Lucia dengan wajah memelas.
“Aku tidak sudi minum susu itu,” ucap Alessandro dengan tegas dan langsung berbalik membelakangi Lucia.
Melihat niat baiknya ditolak mentah-mentah, bibir Lucia makin mengerucut maju. Gadis itu menghentakkan kakinya ke lantai dengan kesal.
“Paman Tampan jahat. Biarkan saja ularnya bengkak sampai meletus!”
Lucia berbalik dan berlari menuju kamarnya, yang kini sudah dipindahkan tepat di sebelah kamar Alessandro.
Brak! Pintu kamar tertutup rapat.
Alessandro menghela napas kasar, hendak melangkah ke ruang kerjanya. Namun, Vincent yang masih berdiri di sana langsung menggeleng-gelengkan kepala dengan raut prihatin.
“Tuan, anda benar-benar keterlaluan,” bisik Vincent seraya mendekat.
“Apa maksud ucapanmu,” bentak Alessandro dingin.
“Lucia cuma minta anda minum susu hangat dan madu itu. Kenapa harus ditolak begitu keras?”
“Aku memang tidak suka susu. Untuk apa aku meminumnya?” balas Alessandro dengan rahang mengeras.
“Ya, tapi setidaknya hargailah usahanya untuk menidurkan ular anda, Tuan,” sahut Vincent santai.
Alessandro seketika melotot tajam. “Vincent!”
“Saya cuma bicara fakta, Tuan. Terserah anda saja kalau mau Lucia ngambek dan tidak mau mengajak anda bicara seminggu. Tapi ingat, cuma gadis itu yang sentuhannya tidak membuat kulit anda gatal-gatal. Kalau dia mengunci pintu kamar dan menolak memegang anda lagi, ya, jangan salahkan saya,” ucap Vincent tanpa rasa takut, sengaja membuat panas bosnya.
Alessandro membeku di tempat. Ucapan tajam dan konyol dari asistennya itu tepat mengenai sasaran.
“Dasar susu sialan!”
makanya sekolahkan dia
biarkan dia cerdas
dia pasti akan memilihmu ,, dalam keadaan apapun
jd aku rasa perlu belajar deh dia biar pinter 🤭
bnr2 saling melengkapi ni si Lucia dg Ale Ale rasa 🍌 ,, 🤭🤭🤭
kasihan Vincent yg trus nahan ketawa ,, takut kembung Dy tuh ,,
semoga Lucia selalu aman dsna jgn sampai ini cuma jebakan biar si ale2 keluar mansion sdang kn target sebenarnya Lucia ,,