Indonesia
NovelToon NovelToon
Setelah Aku Memilih Bercerai

Setelah Aku Memilih Bercerai

Status: tamat
Genre:Penyesalan Suami / Selingkuh / Tamat
Popularitas:1.8M
Nilai: 5
Nama Author: Mutzaquarius

Dengan wajah tenang, Mela tiba-tiba mengajukan perceraian pada suaminya, Rahman. Tentu saja, hal itu membuat Rahman dan ibunya terkejut, karena mereka merasa selama ini semua baik-baik saja.
Tapi, Mela sudah mengetahui semuanya, perselingkuhan Rahman dengan mantan kekasihnya yang sudah berjalan selama sepuluh tahun.
Hati Mela hancur, apalagi, saat ibu mertuanya dan putrinya sendiri justru membela selingkuhan suaminya yang bernama Camila.
"Ingat umur. Kau itu sudah tua, sudah mempunyai anak. Harusnya, kau bisa lebih fleksibel. Camila bisa membantu perkembangan bisnis keluarga. Sedangkan kau? Sudah bagus kami menampungmu."
"Kau bisa apa tanpa kami, hah?"
Ucapan ibu mertua dan suaminya, membuat Mela semakin mantap untuk bercerai.
Baginya, perceraian bukan pelarian, melainkan pintu keluar dari kebohongan panjang yang nyaris mematikan jiwanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23 Kesempurnaan Yang Dibayar Mahal

Camila benar-benar menjadi menantu idaman, nyaris tidak memberi celah untuk dikritik.

Ia bangun lebih pagi dari semua orang di rumah itu. Menyiapkan sarapan sebelum para pelayan sempat bergerak. Memastikan meja makan tertata rapi. Menaruh obat Dyah sesuai jadwal. Bahkan sesekali memeriksa tekanan darah wanita tua itu dengan wajah penuh perhatian.

"Ma, obatnya diminum dulu, ya." Nada suaranya lembut, tangannya bergerak dengan telaten.

Dyah yang dulu keras kepala pun perlahan luluh. "Kalau kamu begini terus, Mama bisa cepat sembuh," ucapnya sambil tersenyum puas.

Camila tertawa kecil. "Kalau Mama sehat, aku juga tenang."

Di mata Dyah, Camila jauh lebih menyenangkan daripada Mela.

Camila tahu cara bicara, tahu cara mengambil hatinya. Dan yang paling penting, wanita itu tahu cara membuat seseorang merasa dibutuhkan.

Lina pun tak kalah dimanjakan.

Jika anak itu menginginkan sesuatu, Camila akan membelikannya. Jika ingin makan di restoran terkenal, Camila akan mengajaknya. Dan, jika Lina sedang kesal, Camila akan menjadi tempat curhat, mendengarkan cerita anak itu dengan sabar.

"Mama Camila paling ngerti aku," ujar Lina suatu malam.

Dyah langsung menimpali, "Makanya, belajar dari Mama Camila. Perempuan itu harus pintar, bukan hanya tahu menjadi ibu rumah tangga."

Camila hanya tersenyum malu-malu. Namun, matanya berkilat tipis.

Sementara bagi Rahman, Camila menjelma menjadi istri sempurna.

Tidak hanya menyiapkan kebutuhannya, Camila juga pandai mengatur jadwal dan selalu mengingatkan pada hal-hal penting.

Terkadang, wanita itu akan memesankan makanan favoritnya dan melakukan apapun hanya untuk menyenangkannya. Bahkan, ketika pria itu pulang larut malam, Camila masih menunggunya dengan secangkir kopi hangat.

Menemaninya, mendengarkan ceritanya dan tentu saja dengan penampilan yang cantik dan anggun, sehingga Rahman merasa nyaman memandangnya.

"Kamu belum tidur?" tanya Rahman.

Camila menggeleng. "Aku nunggu kamu pulang, mas."

Kalimat sederhana itu cukup membuat hati Rahman menghangat.

Sesuatu yang dulu tidak pernah ia sadari, bahwa ia pernah memiliki perhatian itu dari Mela. Hanya saja, Mela menunjukkan dengan cara berbeda, terkesan apa adanya. Sering kali dalam keadaan lelah, bahkan terkesan kusut setelah seharian mengurus rumah.

Di kantor pun Camila ikut membantu. Ia duduk dalam beberapa rapat, memberi saran, membaca proposal investasi, bahkan menemani makan siang klien penting.

Penampilannya anggun. Cara bicaranya meyakinkan. Dan bagi Rahman, kehadiran Camila seperti angin segar.

"Kamu memang pasangan yang tepat buatku," ujar Rahman suatu malam.

Camila menatapnya sambil tersenyum manis. "Karena aku selalu ingin yang terbaik untuk kamu, mas."

Kalimat itu terdengar tulus, setidaknya begitu yang Rahman pikirkan.

Namun, tidak ada yang benar-benar gratis di dunia ini. Termasuk kesempurnaan.

Dua minggu berlalu begitu cepat. Mereka berada di ruang kerja pribadi Rahman, Camila membawa satu map tipis berisi brosur dan laporan angka.

"Aku mau tunjukkan sesuatu ke kamu, mas."

Rahman yang sedang menandatangani dokumen mengangkat kepala. "Apa?" tanyanya.

Camila meletakkan map itu di depannya. "Investasi."

Rahman mengernyit. "Tidak," jawab Rahman cepat. "Aku tidak tertarik dengan hal semacam itu."

"Dengar dulu, mas." Camila duduk di sisi meja, membuka lembar demi lembar dengan gerakan tenang sambil menjelaskan.

"Ini bukan investasi biasa. Keuntungannya tinggi. Banyak pengusaha besar masuk ke sini."

Rahman membaca sekilas. Angkanya memang menggiurkan, bahkan terlalu menggiurkan. Tapi, Rahman masih tetap pada pendiriannya.

"Keuntungannya memang besar, tapi risikonya juga tinggi," jawabnya singkat.

Camila tersenyum. "Semua bisnis pasti punya risiko." Ia sedikit mendekat. "Tapi, orang besar tidak maju karena takut risiko, Mas."

Rahman diam.

Camila melanjutkan dengan suara lembut dan meyakinkan. "Bayangkan kalau dana kita diputar di sini. Dalam satu tahun, hasilnya bisa berkali-kali lipat. Kita bisa ekspansi lebih cepat. Bisa buka cabang baru. Bisa jauh meninggalkan pesaing."

Rahman menggeleng, tetap tidak tertarik. "Aku sudah cukup nyaman dengan kondisi sekarang."

Camila menatapnya lama lalu, tertawa kecil. "Itu masalahnya. Kamu terlalu cepat puas, mas."

Kalimat itu membuat ego Rahman terusik.

Camila segera meredakannya. Ia menyentuh lengan pria itu perlahan. "Aku bukan meremehkan mu, mas. Aku justru percaya, kamu bisa lebih besar dari sekarang."

Rahman terdiam. Ia mengenal permainan kata-kata seperti itu. Namun entah mengapa, dari mulut Camila, semuanya terdengar masuk akal.

"Aku tidak bilang harus sekarang," lanjut Camila. "Jadi, kamu bisa pikirkan dulu." Ia menutup map itu perlahan. "Tapi, kesempatan besar tidak datang dua kali."

Camila berdiri, merapikan gaunnya lalu, mengecup singkat pipi Rahman sebelum keluar ruangan.

"Aku tunggu keputusanmu, sayang."

Pintu tertutup, membuat ruangan kembali sunyi.

Rahman menatap map di depannya. Tangannya mengetuk meja pelan.

Ia tahu, ia harus berhati-hati. Keuntungan yang di tawarkan memang sangat besar tapi, semua itu selalu datang bersama jebakan.

Namun angka-angka itu, terus menari di kepalanya. Keuntungan cepat, Ekspansi besar, dan nama yang semakin tinggi.

Rahman menyandarkan punggungnya, tangannya menarik dasi yang sejak tadi terasa mencekiknya.

Tangannya meraih map tersebut, menatapnya dengan tatapan yang mulai goyah.

Sedangkan di luar ruangan, Camila berjalan menyusuri koridor dengan langkah tenang.

Senyum manis masih tersungging di bibirnya. Namun, saat tidak ada yang melihat, sudut bibirnya perlahan terangkat.

Karena ia tahu satu hal, orang seperti Rahman bisa menolak nasihat. Tapi, sulit menolak ambisi dirinya sendiri.

1
Anik Setyowati
aku tahu dino adalahbos yg selama ini,mbantu perusahaannya Rahman dan setelah Rahman menikah dengan Camila maka dia mencabut kerja samanya dengan perusahaan rahman👍
Aisyah Suyuti
good
Ratni Heryati
ada ajaniat jah
at orang yng serakah
Sri Yekti
Endingnya bagys.
Nereka semua bahagia.
Ditunggu karya yg lain thor....
Sri Yekti
😄😄😄 sifat org kaya mmg begitu.
Sri Yekti
seorang kakak biasanya mmg begitu, ktk mendengar ia akn punya adik.
ia akn takut kasih sayang org tuanya akn terbagi
Sri Yekti
d
slmt tuk pasangan Dino Mela.
Akhirnya Allah kabulkan keinginan mereka.
meskikehamilan diusia 49 th itu beresiko tinggi.
Sri Yekti
Mungkin kamu hamil Mel....sge periksa ke dr.
Sri Yekti
mg kebahagias sll menyertaimu Mela
Sri Yekti
Ternysta benar, Camila orangnya
Dasar p💪er💪empuan syirik.
Kerjanya cuma bikin kisruh
Sri Yekti
gak usah didengerin ocehan meteka Mel. Biarkab sj anjing menggonggong, kafilah ttp berlalu
Sri Yekti
untung Mela sdh tdk pernah membuka akunnya.
Jangan main² dgn tuan Dino.
kalian skn digilas habis
😄😄😄
Sri Yekti
siapa perempuan itu? Camilakah?
atau perempuan lain yg menyukai Dino?
Sri Yekti
kwk..kwk...kwk...bahagianya mereka...
slmt ya Mel....slmt tinggal luka, slmt tinggal derita.,.👍👍👍
Sri Yekti
Lanjut thor.....tambah penasaran ni..
Sri Yekti
😄😄😄 sadar jg kamu Rahman..
Sri Yekti
lolah....emang kamu mau dipecat Dino ya Man.....ayo ngomong, kl mau hidupmu majin menderita
Sri Yekti
lah...Kamu mau ngacau kehidupan mela lagi ya man?
emang kamu g tau, siapa yg ngasi kerjaan pd mu?
Yuyun Zampiet
akhir yg bahagia, cerita yg bagus keren thor 👍
Yuyun Zampiet
pasti dah hamidun mela nya 😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!