Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Jebakan yang Rusak dan Dendam Berdarah
Lantai dasar gedung pencakar langit milik Wijaya Corp diselimuti ketegangan yang pekat. Di dalam ruang rapat privat berlantai marmer hitam, asap cerutu tebal membumi di udara. Bramantyo Wijaya—yang oleh jaringan intelijen bisnis sering dijuluki sebagai Surya Wijaya akibat kelicikannya dalam memimpin aliansi bisnis gelap—duduk dengan menyilangkan kaki tegapnya.
Di seberangnya, Clara berdiri menghentakkan sepatu hak tingginya kencang. Riasan wajahnya yang sempurna tak mampu menutupi kemurkaan yang memancar dari manik matanya.
"Bagaimana bisa laporan keuangan palsu itu mentah begitu saja di tangan pers?!" bentak Clara, suara tingginya memecah keheningan ruangan. "Bramantyo! Kamu bilang tim peretas dan analis perusahanmu bisa menghancurkan reputasi Dirgantara Group dalam hitungan jam!"
Bramantyo menghembuskan asap cerutu dari bibirnya, wajah paruh bayanya mengetat kaku. "Jangan berteriak padaku, Clara! Kamu pikir Exel Dirgantara dan Achmad itu bodoh? Mereka sudah mengantisipasi serangan ini sejak seminggu lalu!"
Rencana besar aliansi gelap mereka untuk menjebak Exel dan merusak nama baik keluarga besar Dirgantara mengalami kegagalan total.
Tadi pagi, Bramantyo dan Clara berniat menyebarkan dokumen manipulasi pajak dan laporan kebangkrutan palsu atas anak perusahaan manufaktur milik Exel ke berbagai media massa serta Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Rencana jahat itu disusun untuk memicu kepanikan investor, meruntuhkan harga saham Dirgantara Group, dan memaksa Exel berlutut memohon bantuan jaringan bisnis keluarga Clara di Eropa.
Namun, Exel dan Achmad bergerak jauh lebih cepat dan mematikan.
Sebelum rumor tersebut sempat tayang di berita utama, tim peretas eksekutif Dirgantara Group di bawah komando Achmad berhasil melacak balik alamat IP penyebar dokumen. Achmad menggelar konferensi pers mendadak di gedung bursa efek, membeberkan bukti rekaman aliran dana ilegal dari Wijaya Corp kepada oknum media, serta menyerahkan Siska—mantan Office Girl yang direkrut Clara—ke pihak kepolisian atas tuduhan pencurian dokumen perusahaan dan pencemaran nama baik.
Dalam waktu kurang dari tiga jam, skenario jebakan itu berbalik menghantam muka Bramantyo dan Clara. Saham Wijaya Corp justru anjlok delapan persen karena terancam investigasi kepolisian, sementara nama baik Exel dan keluarga Dirgantara justru makin melambung tinggi di mata publik karena ketegasan dan transparansi perusahaannya.
"Siska sudah ditahan polisi!" pangkas Bramantyo kaku, mematikan cerutunya di asbak kristal. "Jika Siska membuka mulut dan menyeret namaku, aku bisa kehilangan lisensi bisnisku! Kamu harus bertanggung jawab, Clara!"
Clara tertawa sinis, menyunggingkan senyum miring yang penuh dengki. "Jangan panik seperti orang bodoh, Bramantyo! Siska tidak punya bukti langsung yang mengarah pada kita berdua. Aku sudah membayar pengacaranya untuk bungkam."
Clara melangkah mendekati kaca jendela besar, memandangi pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Jemari rampingnya meremas pegangan tas mewahnya kencang. Obsesi gila dan rasa gengsinya yang hancur membuat wanita itu makin kehilangan akal sehat.
"Aku tidak peduli soal saham atau media lagi," bisik Clara dengan nada suara yang perlahan berubah sangat dingin, pekat, dan dipenuhi kebencian yang mendalam. "Exel sudah menutup pintu bisnisnya padaku. Dia tidak akan pernah kembali padaku selama gadis SMA bantet itu masih bernapas di sisinya."
Bramantyo mengangkat alisnya, menatap Clara dari belakang. "Kamu masih mau berurusan dengan Exel?"
Tiba-tiba, pintu ruangan rapat diketuk pelan. Seorang pria bertubuh kurus mengenakan jas hitam—informan rahasia yang disewa Clara—melangkah masuk secara terburu-buru. Pria itu menunduk kaku seraya menyerahkan sebuah amplop cokelat tebal ke tangan Clara.
"Nona Clara," ujar informan itu berbisik. "Ini hasil pemantauan terbaru dari area Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) yang dikunjungi keluarga Dirgantara kemarin sore."
Clara menyambar amplop tersebut dengan cepat. Jemari mewahnya melepaskan perekat amplop, mengeluarkan beberapa lembar foto serta salinan ringkas rekam medis rahasia yang didapat secara ilegal dari oknum petugas rumah sakit.
Mata Clara menyipit tajam membaca setiap baris kalimat di lembaran kertas tersebut. Namun, begitu pandangan matanya terhenti pada baris diagnosa utama:
Diagnosa Pasien: Nyonya Alexa Dirgantara
Usia Kehamilan: 5 Minggu (Positif Hamil)
Srettt!
Kertas di tangan Clara teremas kaku! Seluruh aliran darah di wajah wanita cantik itu seketika surut, digantikan oleh pucat pasi yang mengerikan. Mata cokelatnya membelalak sempurna, berkilat dipenuhi rasa syok, ketakutan, dan iri dengki yang teramat sangat besar.
"H-Hamil...?" cicit Clara, suaranya bergetar hebat. "Gadis kecil bantet itu... mengandung anak Exel?!"
Bramantyo yang mendengar hal itu langsung berdiri dari sofanya, melangkah mendekat. "Apa kamu bilang? Istri rahasia Exel hamil?"
Brak!
Clara membanting dokumen itu ke atas meja mahoni kencang-kencang! Riasan wajah anggunnya seketika hancur oleh ekspresi dendam dan obsesi gila yang meledak hebat.
"Nggak mungkin! Nggak boleh!" jerit Clara histeris, napasnya memburu kencang bagaikan kesurupan. "Exel tidak boleh punya keturunan dari wanita lain! Anak itu tidak boleh lahir ke dunia ini! Tidak boleh!"
Bramantyo menyipitkan matanya, menangkap bahaya yang amat besar dari ekspresi Clara. "Clara, tenang! Jangan bertindak gila! Menyerang keluarga Dirgantara di ranah bisnis adalah satu hal, tapi kalau kamu menyentuh anak dan istrinya, Exel akan berubah menjadi iblis yang akan memburu kita sampai ke ujung dunia!"
Clara berbalik cepat, menatap Bramantyo dengan binar mata yang sepenuhnya gelap—tak ada lagi pertimbangan rasional atau rasa takut di dalam jiwanya.
"Exel sudah menjadi iblis sejak dia menolakku!" seru Clara dengan senyuman miring yang sangat mengerikan. "Justru kehamilan ini adalah kesempatan emas kita, Bramantyo! Gadis itu sedang lemah karena hamil muda. Exel pasti akan makin protektif dan fokusnya terpecah seratus persen untuk menjaga istrinya!"
Clara mencondongkan tubuhnya, berbisik kencang di depan muka Bramantyo: "Jika kita menyingkirkan Alexa dan calon anaknya sekaligus... Exel akan hancur secara mental! Dia akan frustrasi, patah hati, dan kehilangan seluruh arah hidupnya! Saat itulah kamu bisa merebut seluruh aset perusahaannya, dan aku akan hadir sebagai satu-satunya wanita yang menenangkan jiwanya yang hancur!"
Bramantyo membeku kaku. Meski ia seorang pengusaha licik, tingkat kegilaan dan kebengisan rencana Clara untuk menghabisi nyawa seorang ibu hamil dan janinnya sempat membuat bulu kuduk pria paruh baya itu meremang.
"Kamu mau membunuh mereka?" bisik Bramantyo kaku.
"Bukan aku yang mengotori tanganku," sahut Clara dingin seraya merogoh ponsel mewahnya. "Kita sewa jaringan preman eksekutor profesional dari luar kota. Kita buat insiden penculikan dan kecelakaan kerja saat hari terakhir Ujian Nasional sekolahnya. Kita lenyapkan Alexa dan janin di perutnya tanpa meninggalkan jejak sedikit pun!"
Sebuah aliansi dendam berdarah yang jauh lebih kelam dan berbahaya kini resmi tercipta di dalam ruangan remang-remang tersebut.
Sementara itu, di kediaman utama keluarga Dirgantara...
Atmosfer sore hari di ruang keluarga lantai dua terasa sangat kontras dengan kegelapan di luar sana. Cahaya matahari terbenam memantul hangat lewat jendela kaca, memayungi kebahagiaan keluarga besar yang sedang berkumpul.
Alexa duduk di sofa tengah, bersandar nyaman di bantalan empuk seraya menikmati mangkuk berisi potongan buah melon segar yang disiapkan oleh Mama Sarah dan Mama Maria. Pipi tembamnya menampakkan rona merah muda yang alami, dan tangannya tak pernah lepas mengelus pelan perut ratanya yang kini menyimpan benih cinta sucinya bersama Exel.
Di sofa seberang yang berjarak tiga meter...
Exel duduk kaku dengan kaus kasual polosnya. Pria bertubuh tegap setinggi 185 cm itu masih harus mematuhi "hukuman jarak aman" akibat efek maternal rejection to partner scent yang dialami Alexa. Sang CEO berdarah dingin itu menatap istri mungilnya dari jauh dengan pandangan mata yang dipenuhi oleh rasa rindu yang amat sangat mendalam, namun bercampur oleh binar kebahagiaan dan rasa protektif yang tak terhingga.
Achmad melangkah masuk ke ruang keluarga membawa tablet laporan pekerjaan. Pria yang biasanya bertingkah konyol itu berdeham pelan seraya melirik Exel yang tampak sangat kasihan karena tidak boleh mendekati istrinya.
"Ekhm... Selamat sore, Nyonya Muda... Selamat sore Bapak CEO yang diasingkan," goda Achmad seraya menyeringai santai.
Exel memberikan tatapan membunuh pada Achmad. "Achmad. Laporan."
Achmad merapikan raut wajahnya, melangkah mendekati Exel dan berbisik sangat rendah agar tidak terdengar oleh Alexa dan para ibu: "Soal jebakan laporan keuangan palsu dari Wijaya Corp tadi pagi sudah bersih seratus persen, Cel. Media nasional memihak kita, dan saham Dirgantara Group justru naik dua persen sore ini."
Exel mengangguk pelan, raut wajah kakunya sedikit melunak. "Bramantyo dan Clara ada pergerakan lain?"
Achmad menggeleng pelan, meski keningnya menyipit curiga. "Tim intel pelacak kita bilang Clara sempat mendatangi kantor Wijaya Corp tadi siang. Tapi setelah itu kendaraan mereka terputus di area perbatasan kota. Gua punya firasat mereka gak bakal diam gitu aja setelah malu di depan publik."
Exel menyandarkan punggung tegapnya, tatapan cokelat gelapnya seketika meredup sangat tajam dan dingin. Urat-urat di lehernya menegang. Sebagai seorang pria dan calon Ayah, insting protektif di dalam dadanya bergelora sangat kuat.
"Perketat seluruh tim keamanan rahasia di sekitar Alexa," perintah Exel dengan suara sangat rendah dan berat yang menusuk tulang. "Jarak pengawalan dari lima puluh meter perpendek menjadi dua puluh meter. Pastikan tidak ada satu pun orang asing yang bisa mendekati area sekolah atau rumah ini."
"Siap, Bos. Pengawalan kelas satu sudah siaga seratus persen," sahut Achmad mantap.
Tiba-tiba, suara cempreng Alexa melengking manis dari sofa seberang, memecah ketegangan dua pria dewasa tersebut.
"Mas Exel!" panggil Alexa memayunkan bibirnya polos.
Exel seketika menegakkan posisinya, matanya berbinar hangat mendengarkan panggilan istrinya. "Iya, Sayang? Ada apa?"
Alexa mengedip-kedipkan mata bulatnya seraya menunjuk mangkuk buahnya. "Aca mendadak pengen makan melonnya... tapi pengen disuapin pakai sumpit kayu yang warnanya merah dari toko suvenir Jepang!"
Exel berkedip heran, namun senyuman paling manis dan penuh kepasrahan seketika terbit di bibirnya. "Iya, Sayang. Mas suruh pengawal belikan sumpit kayunya sekarang juga."
"Tapi Mas Exel tetep gak boleh dekat-dekat ya! Dari jarak dua meter aja melempar sumpitnya!" racau Alexa polos seraya menutupi hidungnya, menolak aroma tubuh suaminya yang menurut hormon kehamilannya masih berbau aneh.
Achmad menutupi mulutnya kencang-kencang, menahan gelak tawa yang hampir meledak melihat sang CEO raksasa bisnis terpaksa harus bersiap menyuapi istrinya dari jarak dua meter pakai sumpit.
Exel menghembuskan napas panjang, memandangi istri mungilnya yang sedang tertawa ceria di atas sofa. Di balik kekonyolan dan ujian kehamilan ini, Exel mengepalkan tangan tegapnya di balik saku kausnya.
Sang CEO bersumpah di dalam hatinya yang paling dalam: tak peduli seberapa kelam dan kejam aliansi dendam yang sedang disusun oleh Clara dan musuh-musuhnya di luar sana, ia akan mempertaruhkan seluruh harta, kekuasaan, dan nyawanya sendiri untuk melindungi Alexa serta calon buah hati mereka dari marabahaya apa pun yang siap menerjang.