Indonesia
NovelToon NovelToon
Tahta Kaisar Iblis

Tahta Kaisar Iblis

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​Di dunia di mana yang kuat memangsa yang lemah, kebenaran tidak ditentukan oleh siapa yang benar, melainkan oleh siapa yang masih hidup.

​Xuan Chen, seorang pemuda yang dikhianati dan dipandang sebelah mata, memilih melangkah di Jalan Demonic yang penuh darah. Berbekal rahasia Mata Dewa Iblis yang sanggup menembus segala hukum alam dan menaklukkan Qi Demonic yang liar, dia menginjak-injak aturan moralitas palsu dunia kultivasi.

​Dari murid luar yang diburu hingga menjadi sosok yang ditakuti seluruh sekte, ini adalah kisah perjalanan dingin Xuan Chen menginjak setiap penentangnya, merebut kembali takdirnya, dan meniti jalan berdarah menuju puncak lima kaisar agung penguasa alam semesta.

​"Qi Demonic ataupun Qi murni hanyalah kekuatan. Seberapa jauh kekuatan itu membawamu bergantung pada seberapa bijak kau mengendalikannya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: RUANG RAHASIA KUNO

​Setelah meluncur deras di dalam kegelapan cukup lama, sudut mata Xuan Chen mendadak menangkap dasar lubang yang kian mendekat.

​Brakkk!

​Dengan refleks fisiknya di Lapisan Tiga, Xuan Chen memutar tubuhnya di udara dan mendarat dengan tumpuan dua kaki yang menekuk. Hentakan keras itu menggetarkan permukaan lantai batu di bawahnya, memercikkan sedikit debu ke udara.

​Xuan Chen berdiri tegak, merapikan jubah hitamnya seraya memasang kewaspadaan penuh. Matanya menyapu sekeliling, bersiap menghadapi ancaman atau sarang binatang buas bawah tanah.

​Namun, yang ia temukan bukanlah gua kotor yang lembap atau tempat berbahaya lainnya. Dinding-dinding di sekitarnya terbuat dari bongkahan batu pahatan raksasa yang tertata rapi, dihiasi ukiran simbol-simbol memudar yang memancarkan pendaran cahaya temaram.

​"Sepertinya ini ruang rahasia..." gumam Xuan Chen pelan.

​Ia melangkah menelusuri lorong batu yang tenang tersebut. Setiap pijakan kakinya bergaung halus di sepanjang dinding. Setelah menempuh jarak sekitar lima puluh tapak, sebuah pintu batu berukir kuno berdiri tegak di ujung lorong.

​Wuuuuushhh!

​Belum sempat Xuan Chen menyentuh permukaannya, pintu batu raksasa itu bergeser dan terbuka sendiri, menyibakkan sebuah ruangan luas di dalamnya.

​Xuan Chen melangkah masuk. Pandangannya seketika tertuju pada tiga figur yang sudah lebih dulu berada di dalam ruangan tersebut.

​Tiga orang murid—masing-masing berasal dari tiga sekte aliran suci yang berbeda—duduk tersebar di atas lantai batu. Dua laki-laki dan satu perempuan.

​Begitu pintu terbuka, tatapan mata ketiga orang itu langsung menelisik tajam ke arah Xuan Chen.

​"Ternyata orang terakhir hanya sampah dari sekte iblis di Lapisan Tiga..." ucap salah seorang lelaki berpakaian jubah biru dari Sekte Pedang Guntur dengan suara tenang.

​Kultivator tersebut berada di Ranah Penempaan Tubuh Lapisan Lima Puncak. Tidak ada pendaran niat membunuh yang meluap dari tubuhnya; ia hanya melirik Xuan Chen sekilas dengan pandangan meremehkan, sebelum akhirnya memalingkan wajahnya kembali, berfokus menatap sebuah altar batu di tengah ruangan.

​Xuan Chen tidak mempedulikan ejekan tersebut. Ia melangkah tenang menuju salah satu sudut kosong yang tersisa di ruangan itu.

​Sembari melangkah, sepasang matanya yang tajam terus menelisik setiap detail struktur ruangan. Pilar-pilar batu berukir, atmosfer kuno yang kental, dan pola formasi di atas lantai mempertegas dugaannya bahwa tempat ini adalah sebuah ruangan peninggalan kuno.

​Namun, baru saja Xuan Chen hendak mendaratkan kakinya—

​"Bocah! Lebih baik kau cepat duduk di tempatmu, atau aku sendiri yang akan menguliti iblis sepertimu!" bentak lelaki kedua yang mengenakan jubah putih bersulam benang hijau dari Sekte Awan Hijau.

​Xuan Chen menghentikan langkahnya, menoleh dan menatap lurus mata lelaki tersebut tanpa ada setitik pun raut gentar.

​"Hak apa kau menyuruhku?" sahut Xuan Chen datar, suaranya tenang namun sarat akan kejanggalan. "Aku bahkan tidak tahu ini ruangan apa."

​"Apa kau bilang...?!" bentak lelaki itu murka, matanya mendelik lebar seraya jemarinya mencengkeram gagang senjata di pinggangnya.

​"Cheng Yun... Sudah, hentikan!" sebuah suara lembut namun tegas mendadak menyela.

​Murid wanita yang duduk di sudut ruangan berdiri, mengibaskan gaun abu-abu keemasannya yang anggun.

​"Kalau kalian terus berdebat di sini, kita tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini," lanjut wanita itu seraya menatap tajam ke arah Cheng Yun.

​"Cih..." Cheng Yun mendesis, lalu memalingkan wajahnya kembali dengan gusar.

​Wanita itu melangkah pelan mendekati Xuan Chen, menyunggingkan senyum tipis yang ramah namun tetap menjaga jarak aman.

​"Maafkan sikapnya," ucap wanita itu lembut. "Aku Xia Hua, dari Sekte Teratai Suci. Siapa namamu?"

​"Xuan Chen, Sekte Jurang Jiwa," sahut Xuan Chen singkat dan padat.

​"Salam kenal, Junior Xuan," balas Xia Hua seraya mengangguk pelan.

​Di dunia kultivasi, usia fana tidak pernah menentukan senioritas. Siapa pun yang memiliki ranah kekuatan atau lapisan yang lebih tinggi selalu dipanggil sebagai senior. Di mata Xia Hua yang berada di Lapisan Empat, Xuan Chen yang berdiri di Lapisan Tiga adalah seorang junior.

​"Kau pasti terperosok dan terjebak jatuh ke ruangan ini, bukan?" tanya Xia Hua menebak.

​Xuan Chen mengangguk pelan.

​"Lalu apa maksudmu dengan keluar?" tanya Xuan Chen.

​Xia Hua melanjutkan penjelasannya, "Sebenarnya ini hanya dugaanku. Di ruangan ini tersedia empat tempat duduk batu."

​Ia mengarahkan pandangannya ke sekeliling tempat tersebut.

​"Kami sudah mencoba sejak awal, tetapi tidak ada hal apa pun yang terjadi," lanjut Xia Hua. "Hingga akhirnya kami menyimpulkan bahwa syarat utama memicu formasi di sini mungkin membutuhkan empat orang."

​Xuan Chen beralih melihat batu-batu yang berjejer di sekeliling area tersebut. Memang benar ada empat buah dudukan batu yang semuanya terpasang melingkar menghadap ke sebuah altar batu di bagian tengah.

​"Baiklah kalau begitu. Aku ikut kata-katamu," ucap Xuan Chen tenang.

​"Sudah cukup basa-basinya, Xia Hua," potong lelaki dari Sekte Pedang Guntur yang sejak awal tampak tenang.

​Tanpa menunda waktu lebih lama lagi, Xia Hua berbalik dan kembali duduk di atas batu miliknya.

​Xuan Chen melangkah pelan dan mendudukkan tubuhnya di atas batu kosong tepat di sebelah Xia Hua.

​"Mari kita mulai," ucap Xia Hua.

​Begitu keempat dudukan batu tersebut terisi penuh oleh empat tubuh kultivator fana, seluruh ruangan batu mendadak bergetar halus.

​Bzzzzzzt!

​Ukiran simbol-simbol kuno di sepanjang pilar dan dinding batu menyala terang secara bersamaan, memancarkan pendaran cahaya keemasan yang hangat. Pola formasi melingkar di atas lantai bawah tanah itu berputar pelan, memicu denyut energi spiritual purba yang terlelap selama ribuan tahun.

​Altar batu di pusat ruangan perlahan terangkat beberapa inci dari tumpuannya, menyibakkan sebuah kotak kayu hitam berukir naga di bagian tengahnya.

​Namun, di saat yang sama, sebuah hambatan tak kasat mata mendadak menyelimuti keempat dudukan batu tersebut. Gelombang tekanan fisik yang sangat berat merosot turun dari langit-langit ruangan, menekan bahu Xuan Chen, Xia Hua, Cheng Yun, dan lelaki Sekte Pedang Guntur secara bersamaan!

​"Ugh...!" Xia Hua merintih pelan, bahunya sedikit merosot menahan beban berat tersebut.

​"Tekanan formasi...!" desis Cheng Yun seraya mengepalkan tangannya di atas paha.

​Xuan Chen menyipitkan matanya, merasakan kerapatan tulang Lapisan Tiga miliknya bekerja keras meredam tekanan fisik misterius tersebut. Ia bisa melihat dengan sangat jelas bahwa untuk mempertahankan pendaran formasi dan membuka kotak kayu di atas altar, keempat orang di tempat itu dipaksa tetap duduk dan menahan tekanan berat ini dalam durasi tertentu.

​Siapa pun yang menyerah atau terhempas dari dudukan batu lebih dulu, formasi tersebut dipastikan akan kembali gagal dan terkunci rapat.

​Di antara dominasi tekanan fisik dan pendaran cahaya formasi kuno tersebut, empat murid dari faksi bertolak belakang itu saling mengunci pandangan dalam keheningan yang tegang—menanti apa yang sebenarnya tersimpan di balik kotak kayu raksasa di atas altar.

1
Day Chuk
Xuan Chen punya Cheat di mata 🤣
Kausafiksi: Hehehe benar
total 1 replies
Septiana Athorid
makin seru
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Day Chuk
lanjut 🙏
Kausafiksi: 👍 siap
total 1 replies
Day Chuk
aku pikir su ling yang akan jafi rekan nya thour
Day Chuk: Hahahha sibuk ngapain thor
total 2 replies
:P @.Ar.world(づ ̄ ³ ̄)づ
mampir ya bro ke buku novel gua (。・ω・。) btw novel mu enak juga ya ceritanya tapi sayangnya fotonya hanya ia mau aku bantu kasih karakter laki laki untuk mu gratis
Kausafiksi: terimakasih sudah mampir 🙏😁

novel mu juga bagus,

semangat😁
total 1 replies
Septiana Athorid
saran thor kamar 405 harus nya pakai nama sajah, kesan fantasi timur nya kurang

tapi so cerita nya menarik.
Kausafiksi: terimakasih saran nya, akan aku pertimbangkan 🙏
total 1 replies
Septiana Athorid
naggung thor, 10 bab langsung biar puas 😁
Septiana Athorid: sehari 2 kali thor
total 2 replies
Day Chuk
lanjut thor di tunggu🙏
Kausafiksi: update satu hari sekali ya jam 19:00 di tunggu sajah 😁🙏
total 1 replies
Day Chuk
bagus cerita nya, anti hero, gue suka yang langsung yanpa bertele tele thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!