Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Kena Getahnya

Algojo memegang pergelangan tangan Alena dengan kuat, menekan jari manisnya ke permukaan altar batu. Pisau diangkat. Alena mencoba memberontak, tapi ikatan di belakang punggungnya terlalu kuat. Napasnya tersengal. Keringat dingin mengalir di pelipis. Pisau mulai turun perlahan. Tepat saat bilah dingin itu hampir menyentuh kulit—

Suara dentuman keras pecah dari arah tangga. Pintu ruang segel terbanting terbuka. Raka berdiri di ambang pintu. Tubuhnya masih terbungkus jubah gelap, wajahnya pucat, tapi matanya menyala keemasan dengan amarah yang mengerikan. Di belakangnya, Kael dan beberapa prajurit setia berdiri dengan pedang terhunus. Darah mengalir dari luka lama Raka yang terbuka lagi karena dia memaksakan diri bangkit, tapi dia tidak goyah.

Suasana membeku. Raka melangkah masuk, setiap langkahnya membuat lantai bergetar. Pandangannya langsung tertuju pada pisau di tangan algojo, lalu ke jari Alena yang hampir dipotong, lalu ke wajah Ibu Suri, Seana, dan Lilina.

Suara Raka keluar rendah, serak, tapi penuh kekuasaan yang selama ini tertidur. “Siapa…” katanya, mata menyipit, “yang berani menyentuh istriku?”

Algojo langsung mundur, pisau jatuh berdenting ke lantai. Seana memucat. Lilina untuk pertama kalinya kehilangan senyum lembutnya. Ibu Suri tetap berdiri tegak, tapi jari-jarinya menegang.

Raka terus melangkah mendekat hingga berdiri tepat di depan Alena. Dia berlutut sejenak, memotong tali yang mengikat tangan gadis itu dengan belati, lalu berdiri lagi sambil menahan Alena di belakang tubuhnya.

Darah menetes dari lengannya yang terbuka, tapi dia tidak peduli. “Ritual ini… dibatalkan,” katanya datar, menatap Ibu Suri. “Siapa pun yang masih berani mencoba… akan kuanggap pengkhianat.”

Seana mencoba berbicara, “Kakak, kau masih lemah! Ini demi istana—”

“Diam.” Raka memotong tanpa menoleh. Aura keemasan mulai merambat di sekitar tubuhnya, membuat obor-obor bergoyang. “Kalian berani memakai darahnya untuk menutup jembatan? Aku masih hidup… dan aku masih Raja di istana ini.”

Dia menatap Lilina yang sudah mundur beberapa langkah. “Dan kau… senyummu sudah tidak bisa menyembunyikan racun lagi.”

Lilina menunduk dengan bibir gemetar. Raka memegang tangan Alena yang masih gemetar, ibu jarinya menyentuh cincin yang tetap melekat. Lalu dia menatap seluruh ruangan dengan pandangan yang membuat siapa pun tidak berani bergerak. “Siapa pun yang masih ingin mencoba ritual ini… silakan melangkah maju sekarang.”

Tidak ada satu orang pun yang bergerak. Di luar, kabut abadi seolah menahan napas. Bulan yang hampir mencapai puncak… terhalang oleh amarah seorang raja yang akhirnya bangkit. Dan di ruang segel yang dingin itu, Alena tidak lagi bertarung sendirian.

Raka akhirnya mengambil keputusan untuk membuat para pelaku jera. Dia tidak memberi kesempatan siapa pun untuk membantah. Dia berdiri tegak di tengah ruang segel, meski luka-lukanya kembali terbuka dan darah menetes di lantai batu. Aura keemasan di sekitar tubuhnya semakin kuat, membuat siapa pun yang berdiri di dekatnya merasa tertekan.

“Dengar perintahku, karena ketiga wanita itu mengancam keselamatan ratu... maka mereka akan dihukum sesuai hukum istana yang berlaku.” suaranya rendah namun menggema ke seluruh ruangan. “Ibu Suri… dikurung di Paviliun Utara. Tidak boleh keluar, tidak boleh menerima tamu, tidak boleh mengirim perintah apa pun tanpa sepengetahuanku. Pengawal pribadi yang kutunjuk akan berjaga siang malam.”

Ibu Suri membelalak. “Raka, aku ibumu—”

“Dan aku adalah Raja,” potong Raka tanpa belas kasihan. “Keputusan final.”

Dia menoleh ke Seana yang sudah pucat pasi. “Putri Seana… dikurung di paviliunmu sendiri. Hak-hak sebagai putri kerajaan ditangguhkan sampai aku memutuskan lain. Dayang-dayangmu diganti. Tidak ada komunikasi keluar.”

Seana membuka mulut, ingin memprotes, tapi tidak ada suara yang keluar. Lututnya melemas hingga ia terduduk di lantai.

Raka akhirnya menatap Lilina. Gadis yang selama ini selalu tersenyum lembut itu kini gemetar. “Putri Lilina… keluar dari Istana Bulan Emas sebelum matahari terbit. Bawa seluruh orang-orangmu. Jika kau masih berada di dalam tembok istana setelah fajar… aku anggap sebagai penyusup.”

Lilina terduduk lemas, wajahnya kehilangan seluruh warna. “Yang Mulia… saya hanya—”

“Pergi,” kata Raka datar.

Seluruh orang di ruang segel terduduk atau berdiri kaku. Tidak ada yang berani melawan. Mereka semua tahu… raja yang berdiri di depan mereka sekarang bukan lagi pria lemah yang terbaring di tempat tidur. Ini adalah Raja Bulan Emas yang sesungguhnya. Tidak ada yang bisa menghentikan hukuman yang sudah dijatuhkan.

Kael segera memberi isyarat pada prajurit setia. Ibu Suri dan Seana digiring keluar dengan wajah kosong. Lilina bangkit dengan kaki gemetar, diantar keluar ruang segel tanpa suara.

Setelah ruangan hampir kosong, Raka akhirnya berbalik pada Alena. Gadis itu masih berdiri di tempat, tubuhnya lelah, pergelangan tangannya memerah bekas ikatan, tapi matanya tidak pernah meninggalkan Raka.

Raka mendekat. Tanpa bilang apa-apa, dia membungkuk dan mengangkat tubuh Alena ke dalam gendongannya. Alena terkejut, refleks memegang bahu Raka.

“Raka, lukamu—”

“Diam,” bisiknya serak di dekat telinga Alena. “Biarkan aku melakukan ini.”

Dia melangkah keluar ruang segel dengan Alena dalam gendongan, diikuti Kael dan beberapa prajurit. Sepanjang koridor, para dayang dan prajurit yang berjaga menunduk hormat dalam. Tidak ada yang berani mengangkat wajah terlalu tinggi.

Raka terus berjalan menuju istananya—kamar yang selama ini menjadi saksi segalanya. Setiap langkahnya stabil, meski Alena bisa merasakan tubuh pria itu sedikit gemetar karena menahan rasa sakit.

Saat akhirnya tiba di depan pintu kamar, Raka menendang pelan daun pintu hingga terbuka. Ia masuk, lalu dengan sangat hati-hati merebahkan Alena di atas tempat tidur yang besar. Baru setelah itu ia duduk di tepi tempat tidur, napasnya sedikit memberat.

Alena bangkit setengah, menyentuh lengan Raka yang masih berdarah. “Kau memaksakan diri…”

Raka menatapnya, mata keemasan itu melembut untuk pertama kalinya malam ini. Dia mengangkat tangan, menyentuh pipi Alena dengan ibu jari. “Aku hampir kehilanganmu,” katanya pelan. “Aku tidak akan biarkan itu terjadi lagi.”

Alena memegang tangan itu, menempelkannya lebih erat ke pipinya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan.

Di luar, fajar belum sepenuhnya datang. Tapi di dalam kamar itu, mereka berdua benar-benar aman. Raka menyandarkan dahi di dahi Alena, suaranya tinggal bisikan. “Tidurlah. Aku di sini. Tidak akan ada siapa pun yang berani menyentuhmu lagi.”

Di Paviliun Putri Seana, suasana langsung berubah menjadi neraka kecil. Begitu pintu ditutup oleh prajurit yang ditunjuk Raka, Seana berdiri diam di tengah ruangan selama beberapa detik. Napasnya naik-turun kasar. Wajahnya memerah, urat di pelipisnya menonjol.

Lalu amarahnya meledak. “AAAAARGH!”

Dia meraih vas kristal di meja dan membantingnya sekuat tenaga ke lantai. Pecahan kaca berhamburan. Menyusul cermin besar di dinding—ditonjoknya dengan candlestick perak hingga retak berkeping-keping. Meja rias digulingkan. Botol-botol wewangian mahal dilempar satu per satu ke dinding hingga cairan harum berceceran di lantai marmer.

“Tidak mungkin… tidak mungkin aku dikurung seperti binatang!” teriaknya histeris.

Dayang-dayang yang masih berada di dalam kamar ketakutan, menempel di dinding. Seana berbalik, mata merah menyala. “Keluar! Semua keluar dari sini!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!