Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Sesuatu yang Berubah

Beberapa hari terakhir, Pratiwi mulai menyadari satu hal. Handoko berubah.

Tidak banyak. Tidak sampai membuat orang lain menyadarinya. Bahkan mungkin, kalau bukan dirinya yang setiap hari hidup bersama laki-laki itu, perubahan kecil tersebut tidak akan berarti apa-apa. Tetapi Pratiwi mengenal suaminya terlalu baik.

Pagi itu, mereka sedang sarapan bersama. Handoko tampak sibuk dengan ponselnya. Sesekali jemarinya bergerak cepat di atas layar, kemudian berhenti. Lalu tersenyum. Senyum kecil. Bukan senyum karena membaca berita atau melihat sesuatu yang lucu. Senyum yang berbeda.

Pratiwi memperhatikannya dari seberang meja.

"Pi."

"Hmm"

Handoko masih menatap ponselnya. "Kok senyum-senyum?"

Handoko seketika mengangkat wajah. "Hah?"

"Papi dari tadi senyum sendiri."

Handoko tertawa kecil, kemudian meletakkan ponselnya di samping piring. "Nggak ada apa-apa."

Pratiwi hanya tersenyum. "Siapa?"

"Siapa apanya?"

"Yang bikin Papi senyum."

Handoko menggeleng. "Teman."

"Teman?"

"Iya."

Pratiwi tidak bertanya lagi. Ia hanya mengangguk sambil melanjutkan sarapannya. Tetapi diam-diam, pikirannya mulai bekerja. Ada perubahan kecil dalam diri Handoko yang tidak bisa ia abaikan.

Beberapa minggu terakhir, laki-laki itu memang terlihat lebih bersemangat. Lebih sering memperhatikan penampilannya. Bahkan beberapa kali, Handoko pulang dengan ekspresi yang begitu ringan, seolah baru saja mendapatkan kabar baik.

Dan yang paling membuat Pratiwi bertanya-tanya adalah ponsel itu. Dulu Handoko tidak pernah terlalu peduli dengan ponselnya. Sekarang, benda itu hampir selalu berada di dekatnya. Ketika mandi, ponsel diletakkan di meja dekat kamar mandi. Ketika bekerja, ponsel selalu dalam keadaan layar menghadap ke bawah. Ketika ada pesan masuk, Handoko hampir selalu langsung mengambilnya. Dan terkadang...tersenyum.

Pratiwi menarik napas pelan. Sebagai seorang psikolog, ia tahu betul bahwa perubahan perilaku tidak selalu berarti sesuatu yang buruk. Seseorang bisa saja sedang mendapatkan proyek baru. Mendapat kabar baik. Atau sekadar sedang berada dalam fase kehidupan yang membuatnya lebih bahagia.

Tetapi sebagai seorang istri...ada bagian kecil dalam hatinya yang mulai merasa tidak nyaman.

Bukan cemburu. Belum. Lebih tepatnya, rasa penasaran yang perlahan berubah menjadi kegelisahan.

"Pi."

"Hmm"

"Belakangan ini Papi kelihatannya bahagia banget."

Handoko tersenyum. "Memangnya nggak boleh?"

"Boleh."

Pratiwi ikut tersenyum. "Malah bagus."

Ia mengambil gelas, meneguk air putih, kemudian bertanya santai. "Memangnya ada sesuatu yang bikin Papi bahagia?"

Handoko terdiam sebentar. "Nggak ada."

Jawaban itu terlalu cepat. Pratiwi menatap wajah suaminya beberapa detik. Kemudian tersenyum kecil.

"Ya sudah."

Ia tidak mengejar. Tidak bertanya lagi. Namun ketika Handoko kembali sibuk dengan ponselnya, pandangan Pratiwi diam-diam tertuju pada laki-laki itu. Ada sesuatu. Ia belum tahu apa.

Belum tahu siapa. Tetapi instingnya mengatakan, ada bagian dari kehidupan Handoko yang akhir-akhir ini tidak lagi ia ketahui.

Kini, Pratiwi merasa seperti sedang menjadi orang luar dalam kehidupan suaminya sendiri. Ia menundukkan wajah, menyembunyikan kegelisahan yang mulai tumbuh.

Sebagai psikolog, ia terbiasa membaca perubahan emosi orang lain. Namun kali ini, orang yang sedang ia coba pahami adalah suaminya sendiri.

Dan itu membuat semuanya terasa jauh lebih sulit.

***

Hari itu Pratiwi datang ke kampus hanya untuk membimbing salah satu mahasiswa yang sedang menyelesaikan skripsinya. Setelah sesi bimbingan selesai, ia masih memiliki cukup banyak waktu sebelum ke tempat praktik.

Ia pun teringat pada Handoko. Sudah beberapa hari terakhir mereka jarang makan siang bersama. Bukan karena sedang ada masalah, tetapi kesibukan masing-masing membuat waktu mereka semakin sulit disamakan.

Pratiwi kemudian mengambil ponselnya dan menghubungi suaminya. "Papi lagi di mana?"

"Di kantor, Mi."

"Lagi sibuk?"

"Nggak terlalu."

"Kalau begitu makan siang bareng, yuk. Mami kebetulan hari ini cuma ke kampus buat bimbingan mahasiswa. Sekarang sudah selesai."

Terdengar jeda singkat dari seberang.

"Siang ini?"

"Iya."

"Kayaknya nggak bisa, Mi."

Pratiwi mengernyit.

"Kenapa?"

"Papi sudah ada janji makan siang dengan seseorang."

Pratiwi terdiam sebentar.

"Minggu lalu Papi makan di luar, sekarang dengan orang yang sama juga?"

"Iya."

Jawabannya terlalu cepat. Pratiwi tersenyum tipis. "Kalau nggak keberatan, boleh nggak Mami ikut gabung?"

"Jangan, Mi."

Sekali lagi, jawaban itu meluncur begitu cepat.

Pratiwi terdiam. Handoko pun seperti sadar bahwa jawabannya terdengar terlalu keras.

"Maksud Papi... bukan begitu. Ini cuma urusan kerjaan."

"Sejak kapan Papi menolak permintaan Mami soal makan siang?"

"Bukan menolak."

"Lalu?"

"Papi sudah ada janji."

"Mami cuma mau ikut makan. Nggak akan ikut campur urusan kerjaan Papi."

"Memang bukan begitu, Mi."

"Terus kenapa Mami nggak boleh ikut?"

Handoko terdiam. "Karena..."

Ia menggantung kalimatnya. Pratiwi menunggu.

"Karena ini lebih enak dibicarakan berdua."

Pratiwi mulai memperhatikan pilihan kata suaminya.

"Berdua?"

"Iya."

"Teman kerja Papi?"

"Iya."

"Perempuan atau laki-laki?"

Handoko kembali terdiam. "Perempuan."

Jawaban itu akhirnya keluar. Pratiwi mengangguk pelan. "Oh."

Hanya itu. Tidak ada nada marah ataupun curiga.

"Teman kerja baru?"

"Sudah lama kenal."

"Teman lama?"

"Kurang lebih."

Pratiwi tersenyum kecil. "Sepertinya Mami kenal?"

"Nggak tahu."

Jawaban Handoko membuat Pratiwi kembali diam.

"Nggak tahu?"

"Iya."

"Kalau Mami tanya namanya, Papi keberatan?"

Handoko tertawa kecil, terdengar canggung.

"Ngapain sih, Mi, ditanya segala?"

Pratiwi ikut tertawa. "Ya cuma penasaran."

"Nanti juga kalau memang ada kesempatan, Papi kenalkan."

"Berarti sekarang belum boleh kenal?"

"Bukan begitu."

Handoko terdengar semakin salah tingkah.

"Pokoknya ini cuma urusan kerja."

Pratiwi terdiam beberapa saat. Kemudian ia berkata dengan nada ringan, "Ya sudah. Mami nggak ikut."

"Jangan salah paham, ya!"

"Mami nggak salah paham."

"Mami marah?"##

"Enggak."

Pratiwi tersenyum. "Cuma agak heran."

"Heran kenapa?"

"Belakangan ini Papi kelihatannya punya banyak hal yang Mami nggak tahu."

Handoko tidak langsung menjawab. Pratiwi melanjutkan, "Tapi nggak apa-apa. Mungkin memang ada hal-hal yang nggak perlu Mami tahu."

"Mi..."

"Iya."

"Nggak ada apa-apa."

Pratiwi tersenyum. "Kalau memang nggak ada apa-apa, berarti Mami nggak perlu khawatir."

"Betul."

"Ya sudah. Selamat makan siang!"

"Mami juga."

Telepon berakhir. #Pratiwi masih memegang ponselnya beberapa saat. Tidak ada nama. Tidak ada bukti. Tidak ada alasan untuk menuduh.

#Tetapi justru itu yang membuatnya semakin tidak nyaman.

Bukan karena Handoko makan siang dengan seorang perempuan. Melainkan karena suaminya **terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.**

Pratiwi memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Ia tidak akan bertanya lagi. Setidaknya untuk sekarang.

Sebagai seorang psikolog, ia tahu bahwa semakin seseorang merasa sedang diperiksa, semakin besar kemungkinan ia menutup diri. Jadi Pratiwi memilih diam. Namun diam bukan berarti tidak memperhatikan.

Mulai hari itu, ia akan memperhatikan Handoko lebih saksama. Cara laki-laki itu memegang ponsel.

Cara ia tersenyum ketika membaca pesan. Cara ia menjawab pertanyaan. Dan terutama...

siapa yang belakangan ini begitu sering membuat suaminya terlihat bahagia?

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!