Annisa menerima perjodohan kedua orang tuanya setelah mengetahui jika calon suaminya adalah cinta pertamanya.
Anissa yang awalnya bahagia berubah sedih ketika mengetahui bahwa suaminya sama sekali tidak mencintainya pada malam pertama mereka.
"Aku menikahimu hanya karena terpaksa. Aku telah memiliki seorang kekasih. Kami telah menjalin hubungan lebih dari 6 tahun. Jadi aku ingatkan, jangan berharap aku akan memberikan hak kamu sebagai istri."
Annisa memegang dadanya yang terasa sesak mendengar ucapan Farhan yang menusuk hatinya. Annisa mengira dia akan bahagia karena menikah dengan cinta pertamanya, tapi semua itu berubah setelah pernyataan yang membuat Anissa sadar. Bahwa dirinya tidaklah dicintai.
"Aku akan terus bersabar, bahkan sampai kesabaran itu sendiri merasa lelah dengan diriku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Dua Puluh Dua.
Annisa bangun pagi seperti biasanya. Setelah solat subuh, Annisa memasak untuk sarapan. Semua masakan telah Annisa hidang. Wanita itu membuatkan sarapan nasi lemak, ayam goreng, sambal terasi, lalapan dan telur rebus. Annisa juga membuatkan balado kacang teri.
Setelah selesai masak, Annisa mandi dan berpakaian. Saat keluar dari kamar, dia tidak juga melihat Farhan. Biasanya Farhan telah siap berangkat kerja.
Annisa bertanya dengan bibi, apakah melihat Farhan?. Apa suaminya itu telah berangkat kerja?. Bibi menjawab tidak melihatnya.
Annisa dengan sedikit takut mengetuk pintu kamar Farhan, setelah beberapa kali ketukan baru terdengar sahutan.
"Masuk, Nissa," ucap Farhan lemah. Mendengar suara Farhan yang tidak seperti biasanya itu, Annisa mencoba membuka pintu.
Annisa melihat Farhan yang masih terbaring bergulung selimut. Annisa jadi merasa heran.
"Kak Farhan nggak kerja?" tanya Annisa.
"Badanku sepertinya demam,Nissa. Dingin rasanya," ucap Farhan.
Annisa lalu mendekati Farhan, duduk di tepi ranjang dan memegang dahi suaminya. Annisa merasakan suhu tubuh yang tinggi.
"Kak Farhan demam. Biar aku ambil hangat buat kompres." Annisa berdiri dan menuju dapur.
Annisa datang dengan membawa sebaskom air hangat dan handuk kecil. Annisa juga membawa obat penurun panas.
"Kak Farhan minum obat ini dulu." Annisa membantu Farhan bangun dan meminum obat.
Setelah itu Farhan kembali membaringkan tubuhnya. Annisa mengompres Farhan. Hingga beberapa kali menggantikan airnya.
Annisa terpaksa minta izin tidak masuk kerja. Wanita itu menghubungi Atha.
Setelah memastikan Farhan terlelap, Annisa bangun dari duduknya. Namun, tangannya ditahan.
"Temani aku di sini," ucap Farhan pelan. Ternyata pria itu belum terlelap. Annisa tersenyum dan mengangguk.
"Duduknya di sini saja," ucap Farhan menepuk kasur di sebelah dirinya tidur.
"Aku ambil laptop dulu. Aku bekerja dari rumah aja," ucap Annisa.
Annisa lalu naik ke ranjang setelah mengambil laptopnya. Duduk dengan bersandar kepala ranjang. Wanita itu membuka laptop dan mengerjakan laporan yang belum selesai.
Tanpa Annisa duga, Farhan memiringkan tubuhnya menghadap Nissa dan memeluk paha wanita itu. Annisa melihat ke samping, tampak Farhan memejamkan matanya.
Setengah jam berlalu, Annisa merasa lapar. Wanita itu menutup laptop dan bangun perlahan. Tangan Farhan diletakkan perlahan ke kasur.
Setelah menyantap sarapannya. Annisa membawa sepiring nasi lemak dan lauknya ke kamar Farhan.
Annisa melihat Farhan yang membuka matanya. Wanita tersenyum.
"Aku tadi buat nasi uduk. Kak Farhan sarapan dulu biar nggak makin bertambah penyakitnya."
"Bantu aku ke kamar mandi dulu. Aku mau basuh wajah dan gosok gigi."
Annisa membantu Farhan dengan memeluk lengan pria itu. Setelah sampai di kamar mandi, Annisa segera keluar. Walau mereka telah sah menjadi suami istri tapi Annisa masih ada kecanggungan jika harus berdua di kamar mandi.
Farhan keluar dari kamar mandi dengan berjalan perlahan. Annisa yang melihatnya langsung membantu.
Setelah duduk di ranjang, Annisa mengambil baju kaos Farhan dan membuka baju uang melekat di tubuh pria itu. Annisa mengelap tubuh Farhan dengan air hangat sebelum mengganti bajunya.
Farhan hanya diam memperhatikan semua yang Annisa lakukan. Tampak sekali wajah penyesalan di hati Farhan.
"Maaf, aku jadi merepotkan kamu. Kamu juga jadi libur kerja."
"Ini sudah menjadi kewajibanku sebagai istrimu,Kak," ucap Annisa sambil tersenyum.
Ucapan Annisa menusuk hingga ke hatinya. Farhan sadar selama ini tidak pernah memberikan kewajibannya sebagai suami. Farhan hanya terdiam.
"Aku sebagai suami belum melakukan kewajibanku," gumam Farhan namun masih dapat didengar.
"Jika aku memperlakukan kak Farhan seperti halnya kakak memperlakukanku, kak Farhan pasti akan sangat membenciku."
Kembali ucapan Annisa menusuk hati Farhan. Pria itu hanya bisa menarik napasnya, menyadari kesalahan yang selama ini telah dilakukan pada istrinya itu.
...****************...
Bersambung