Indonesia
NovelToon NovelToon
Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Cewek Bar Bar Milik Tuan CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / CEO / Teen
Popularitas:258
Nilai: 5
Nama Author: lannn_019

Zevanna Lyana Oliver dikenal sebagai gadis bar-bar yang sering bolos, membuat onar, dan gemar balapan liar.

Namun, hidupnya berubah setelah kakaknya, Zoyya Fiorellia Oliver, dikabarkan meninggal dunia di sebuah perusahaan ternama.

Kematian Zoyya dianggap sebagai kecelakaan. Tapi Zevanna menemukan kejanggalan yang membuatnya yakin ada sesuatu yang disembunyikan.

Setelah lulus SMA, Zevanna masuk ke Verion Group, perusahaan tempat kakaknya dulu bekerja.

Tujuannya cuma satu: mencari tahu kebenaran di balik kematian Zoyya.

Tapi semakin jauh Zevanna mencari, semakin banyak rahasia yang terbongkar.

Siapa sebenarnya yang berada di balik kematian Zoyya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lannn_019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Sakit

Suasana di ruang rawat inap itu begitu hening. Hawa dingin dari AC berembus pelan, berpadu dengan aroma antiseptik yang tercium menyengat.

Zevanna terbaring di atas ranjang setelah dilarikan oleh Ravenzo ke rumah sakit. Mata gadis itu masih terpejam rapat, belum sadarkan diri.

Tisha duduk di samping ranjang dengan raut wajah penuh kecemasan.

Sementara itu, Arvin memilih berada di luar ruangan untuk membantu mengurus dokumen administrasi.

Di dekat pintu, Ravenzo berdiri dalam diam. Postur tubuhnya masih tampak begitu tegang menatap Zevanna yang belum terbangun.

"Pak Ravenzo, kondisi Zevanna sudah stabil. Namun, untuk sementara dia harus istirahat total dan menjalani pemeriksaan laboratorium lebih lanjut," kata dokter menjelaskan.

Ravenzo mengangguk singkat. "Baik. Tolong pastikan kondisinya terus dipantau."

"Baik, Pak. Saya permisi dulu." Dokter itu mengangguk hormat, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Keheningan kembali melingkupi kamar rawat inap itu. Ravenzo memutar tubuhnya, kembali menatap lurus ke arah Zevanna yang terbaring lemah.

Beberapa waktu kemudian, jari Zevanna bergerak pelan.

Matanya perlahan terbuka. Pandangannya masih kabur.

"Tis..." Lirihnya pelan.

Tisha tersentak dan langsung berdiri. "Zev! Akhirnya lo sadar juga!" Katanya lega.

Zevanna mengerutkan kening. "Gue... Di mana?"

"Rumah sakit." Jawab Tisha cepat.

Zevanna langsung mencoba mengingat apa yang terjadi.

Ia ingat dirinya merasa lemas di kantor. Lalu semuanya gelap.

Tisha menatap Zevanna sengit. "Tuh kan, gue udah bilang, jangan maksain diri lo, Zev!"

Zevanna menatapnya. "Gue kira cuma kecapean aja." Jawabnya membela diri.

Tisha kemudian mengingat makanan dari Andrew. Ekspresinya berubah serius.

"Zev... Makanan yang dikasih Mas Andrew masih ada di kantor." Kata Tisha.

Zevanna terdiam sejenak. "Iya, terus?"

"Kemarin gue bilang apa? Gue ngerasa aneh dan curiga sama dia, Zev." Ucap Tisha.

"Tapi belum tentu gara-gara makanan itu, Tis." Jawab Zevanna pelan.

"Tapi lo sakit setelah dia ngasih lo makanan."

Zevanna terdiam dan mulai ragu.

Untuk pertama kalinya, kecurigaan terhadap Andrew mulai masuk akal di kepala Zevanna.

Zevanna menggeleng cepat. "Nggak mungkin, Mas Andrew celakain gue."

"Ya bisa aja, dia kasih lo racun di makanannya." Kata Tisha.

Zevanna menoleh. "Motifnya apa dia kasih gue racun di makanannya? Emang gue ada salah sama dia?"

Tisha terdiam sejenak. "Nggak tau sih, tapi gue curiga aja sama dia kenapa dia tiba-tiba kasih lo makanan terus habis itu lo tumbang pas makan makanan dari dia."

Zevanna terdiam, ia menunduk, menatap tangannya yang terpaut jarum infus.

Tisha menatap sahabatnya lalu berdehem pelan. "Eh, Zev. Lo tau nggak siapa yang bawa lo ke sini?"

Zevanna mendongak dan mengerutkan kening. "Siapa?"

"Pak Ravenzo." Jawab Tisha.

Zevanna melebarkan matanya. "Masa sih?"

Tisha mengangguk. "Iya beneran, dia gendong lo terus bawa lo ke rumah sakit."

"Hah? Dia gendong gue?" Kata Zevanna kaget.

"Iya dia terlihat panik pas lo pingsan tadi." Jawab Tisha. "Cieeee yang di gendong sama pak CEO!"

Zevanna mendengus sinis. "Apaan sih lo? Cie, cie mulu dari kemarin. Basi tau!"

Tisha menahan tawa. "Ya soalnya tadi gue liat pak Ravenzo langsung sigap pas liat lo pingsan. Dia gentleman banget!"

Zevanna mendecih. "Dih, gentleman apaan? Cuma gendong doang, gue juga bisa."

"Emang lo mau gendong siapa? Pak Ravenzo?" Tanya Tisha mengernyit.

"Lo! Gue mau gendong lo terus gue lempar ke laut!" Sentak Zevanna.

"Dih, nggak jelas lo!" Dengus Tisha.

"Oh gue tau, lo pasti salting kan, gue cie-ciein lo sama pak Ravenzo?" Goda Tisha menjadi-jadi.

Zevanna menatapnya tajam. "Lo diem ya kampret!"

"Ternyata lo bisa salting juga ya, Zev."

Zevanna mendelik. "Gue nggak salting, ya!" Elaknya.

"Nggak salting tapi pipi lo merah tuh." Tunjuk Tisha.

Zevanna memegang pipinya sendiri. "Ini efek sakit ya, bukan salting."

Tisha manggut-manggut saja. "Iya, deh. Percaya aja, biar seneng."

Zevanna menghembuskan napas dan menyandarkan punggungnya ke ranjang.

Beberapa saat hening.

Zevanna kembali membuka suaranya.

"Tis."

"Hm, apa?" Tanya Tisha menatap layar ponselnya enggan menatap Zevanna.

"Kemarin malem mobil gue rusak." Kata Zevanna mulai bercerita.

"Terus?"

"Pas gue lagi periksa mobil, tiba-tiba ada mobil dateng dari belakang mobil gue." Ucapnya. "Gue bingung siapa itu, pas di buka pintunya ternyata Pak Ravenzo."

Tisha tersentak mendengar kalimat Zevanna. "Hah? Pak Ravenzo? Dia bantuin lo, Zev?"

Zevanna mengangguk. "Iya, terus dia bilang mau anterin gue pulang, awalnya gue nolak. Tapi kata dia udah malem nggak baik kalau gue sendirian malem-malem."

Mulut Tisha terbuka lebar, syok mendengar cerita Zevanna. "OMG! Gue nggak percaya ini, lo dianterin pulang sama Pak Ravenzo?!" Tisha mulai menggoda lagi.

"Cieee cieeee... Di anterin pulang terus sekarang di gendong ke rumah sakit, fix jodoh nih mah."

Zevanna langsung mendelik tajam. "Jodoh apaan? Jodoh matamu! Gue sama dia cuma sebatas bos dan karyawan, nggak ada perasaan sama sekali."

"Ah, masa sih nggak ada perasaan?" Tanya Tisha sambil menaikkan turunkan alis.

Zevanna terdiam sejenak. "Iya lah, nggak ada. Lagian juga dia udah ada calon tunangan, masa gue jadi PHO sih!"

"Kan jodoh nggak ada yang tau, bisa aja lo sama dia ni—"

Bugh!

Zevanna melempar bantal ke muka Tisha. "Berisik lo! Diem nggak mulut lo! Bau tau!"

Tisha mengambil bantal tersebut. "Galak banget sih lo, gue cuma ngomong doang. Malah di lempar bantal."

"Masih mending di lempar bantal, kalau nggak gue udah lempar lo pake—"

Tok. Tok. Tok.

Kalimat Zevanna terpotong saat pintu rawat inapnya diketuk.

"Eh, itu siapa yang ngetuk ya?" Tanya Tisha.

"Nggak tau, mungkin bapak lo." Jawab Zevanna.

"Dih, kenapa jadi bapak gue?"

Pintu rawat inap terbuka, memperlihatkan seorang pria muda masuk ke dalam.

Zevanna melebarkan matanya. "Mas Andrew?"

Tisha langsung menatapnya dengan curiga.

Andrew menatap Tisha. "Aku mau berbicara sama Zevanna."

Tisha menghela napas, lalu berdiri. Tetapi sebelum pergi, ia berbisik kepada Zevanna.

"Kalau dia macam-macam, teriak ya, Zev."

Zevanna mendelik. "Apaan sih?"

Lalu Tisha pergi dan menutup pintu.

Tinggal Andrew dan Zevanna.

Andrew terlihat gelisah. "Zev, aku mau jelasin."

Zevanna menatapnya tajam. "Jelasin apa?"

"Aku mau bilang soal makanan yang aku kasih ke kamu, aku nggak berniat mencelakai kamu, Zev." Kata Andrew pelan.

Zevanna terkekeh kecil. "Nggak berniat? Terus kenapa gue sakit setelah makan makanan dari lo?"

Andrew terdiam dan menelan ludahnya sendiri. "Aku nggak ngelakuin itu, kamu harus percaya sama aku, Zev."

"Apa percaya sama lo? Ngapain gue harus percaya sama orang kayak lo?" Kata Zevanna masih tidak percaya. "Gue kira lo itu orang baik ternyata lo munafik!"

Andrew tertegun mendengar kata-kata dari Zevanna. "Zev, dengerin aku. Aku nggak berniat bikin kamu sakit, aku cuma kasih makanan ke kamu nggak maksud apa-apa."

Zevanna memalingkan mukanya. "Gue nggak mau denger. Sekarang lo pergi, gue benci sama lo!"

"Zev—"

"GUE BILANG PERGI SEKARANG!!!" Teriak Zevanna, menatap Andrew nyalang.

Andrew menghela napas lalu berbalik badan. Sebelum menutup pintu, Andrew sempat menoleh ke Zevanna dengan ekspresi sedih.

"Gws, Zev. Maaf."

Setelah mengatakan itu, Andrew keluar dari rawat inap Zevanna.

Zevanna menyandarkan punggungnya dan menatap langit-langit rawat inapnya.

"Bikin kesel aja tuh orang," gumamnya dengus.

"Tapi katanya dia nggak niat celakain gue, terus siapa yang mau celakain gue?" Ucap Zevanna bingung.

"Tau, ah. Bodo amat pokoknya gue benci sama tuh orang!"

Pintu kembali terbuka.

Ceklek.

Zevanna menoleh dan matanya membelalak.

“Mama, Papa.”

Liona dan Yovandra masuk ke dalam.

Liona duduk di dekat ranjang Zevanna. “Ya ampun, sayang. Kamu kenapa jadi kayak gini sih?” Tanyanya lembut.

Zevanna tersenyum kecil. “Aku cuma kecapean aja, Ma.”

Nggak mungkin gue bilang kalau gue sakit karena makanan.

Wajah Liona terlihat cemas. “Makanya kamu itu istirahat jangan maksain diri kamu.”

“Iya, Ma. Maafin Zevanna udah bikin Mama dan Papa khawatir.” Ucap Zevanna lembut.

Yovandra yang berdiri di sisi ranjang, menatap anak perempuannya. “Yang bawa kamu ke sini siapa?”

Zevanna terdiam sejenak lalu menjawab. “Pak Ravenzo, Pa. Dia yang bawa aku.”

Yovandra tersentak, ia tidak menyangka kalau Ravenzo membawa anaknya ke rumah sakit.

“Bagus kalau gitu, Papa berterima kasih sama dia.” Kata Yovandra lembut.

“Iya, Mama juga. Untung kamu punya bos yang baik seperti dia.” Ucap Liona.

Zevanna hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Oh ya ini, Mama dan Papa bawain makanan buat kamu.”

“Makasih, Ma, Pa.”

Liona meletakkan bungkusan makanan di atas nakas samping ranjang Zevanna.

“Ya udah kalau gitu, Mama sama Papa mau pergi dulu ya. Ada urusan di perusahaan. Kamu jaga diri baik-baik ya.” Kata Liona mengelus kepala Zevanna lembut.

“Iya, Ma, Pa. Makasih udah mau jenguk Zevanna.” Balas Zevanna.

Liona berdiri dan menatap Yovandra. “Ayo, Mas.”

Yovandra menghela napas dan menatap Zevanna. “Kamu di sini baik-baik, kalau Pak Ravenzo dateng, titip salam buat dia.”

“Iya, Pa.”

Liona mencium puncak kepala Zevanna. “Mama, Papa pergi dulu.”

Lalu Liona dan Yovandra keluar dan menutup pintu rawat inap Zevanna dengan rapat.

Zevanna menghela napas dan kembali bersandar.

“Iya sih dia baik tapi mukanya nyebelin banget kalau diingat-ingat.” gerutu Zevanna.

Setelah keluar dari ruang rawat inap Zevanna, Andrew mengeluarkan ponselnya dan menelpon seseorang.

"Dia gimana?" Tanya orang itu dari seberang telpon.

Andrew menarik napasnya. "Dia udah benci sama gue."

"Gue udah bilang sama lo, jangan terlalu deket sama dia."

"Gue cuma mau nebus kesalahan gue." Jawab Andrew dan bersandar ke dinding rumah sakit.

"Tapi lo nggak salah." Ucap orang tersebut pelan.

Andrew terdiam, ia menatap lantai, matanya berkaca-kaca.

Maafin gue, Zevanna, Zoyya.

***

Ravenzo berjalan pelan menuju ruang rawat inap Zevanna, lalu ia masuk.

Tisha sudah kembali dan duduk di sofa dekat ranjang Zevanna.

Zevanna mendongak dan menatap Ravenzo. "Pak Ravenzo?"

Ia teringat dengan ucapan Tisha yang Ravenzo menggendongnya.

Ravenzo membawa makanan untuk Zevanna. "Makan."

Zevanna menatap bubur di tangan Ravenzo. "Saya nggak selera makan, Pak."

"Harus makan."

"Tapi saya nggak mau makan, Pak,” jawab Zevanna keras kepala.

Ravenzo menghela napas panjang dan menatap Zevanna intens. "Makan atau saya suruh dokter buat suntik kamu."

Zevanna tersentak mendengar kata "Suntik".

"Bapak kok malah ngancem saya sih?" Katanya.

"Karena kamu keras kepala. Cepet makan!" Jawab Ravenzo dingin.

Zevanna mendengus kecil. "Iya, Pak. Saya makan nih."

Tisha diam-diam tersenyum melihat Ravenzo yang begitu perhatian dengan Zevanna.

Zevanna mengambil bubur dari Ravenzo dan mulai memakannya dengan pelan.

Tiba-tiba ia tersedak sedikit.

"Uhuk, uhuk."

Ravenzo langsung mengambil segelas air di atas nakas. "Pelan-pelan."

Zevanna terpaku dan menatap Ravenzo, lalu ia mengambil gelas tersebut. "Makasih, Pak."

Ravenzo duduk kembali.

Saat hendak berdiri, tangannya tidak sengaja tersangkut pada selang infus.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan dan ia hampir jatuh ke arah ranjang.

Zevanna terkejut. "Pak!"

Ravenzo berhasil menahan tubuhnya dengan tangan di sisi ranjang.

Jarak mereka menjadi dekat, keduanya terdiam sejenak.

Tisha yang duduk di sofa langsung melongo melihat Zevanna dan Ravenzo. Lalu ia memotretnya diam-diam.

Zevanna menatap mata Ravenzo. "Pak, infus saya."

Ravenzo tersentak lalu segera berdiri. "Maaf."

Zevanna mengangguk kaku. "I-iya, Pak."

Lalu pintu terbuka.

Ceklek!

Arvin masuk dan melihat posisi Ravenzo dan Zevanna yang baru saja berdekatan.

Arvin berhenti sebentar. "Eh..."

Zevanna langsung panik. "Bukan seperti Mas Arvin pikir!"

Arvin mengangkat alis. "Aku belum mikir apa-apa."

Tisha yang mendengar itu langsung tertawa.

"Mas Arvin, tadi Pak Ravenzo nggak sengaja jatuh ke ranjang Zevanna." Timpal Tisha.

Zevanna menoleh ke arah Tisha. "Diem lo!"

Ravenzo hanya diam memperhatikan Zevanna.

Arvin berdehem kecil. "Oh gitu ya, lo. Rav, pantesan tadi lo buru-buru beli makanan buat Zevanna."

Ravenzo menatapnya datar. "Nggak usah berpikir yang aneh-aneh."

Arvin manggut-manggut saja. "Oke, gue nggak mikir yang aneh-aneh." Lalu ia menatap Zevanna.

"Gimana keadaan kamu, Zev?" Tanya Arvin pelan.

Zevanna berdehem pelan dan menatapnya. "Udah mendingan, Mas Arvin."

"Syukurlah kalau udah mendingan, tadi Pak Ravenzo panik pas kamu pingsan." Ucap Arvin membuat Zevanna terdiam.

"Tuh dengerin, Zev. Mas Arvin bilang kayak gitu." Kata Tisha.

Zevanna menoleh ke arah Ravenzo yang diam.

Lalu Ravenzo menatapnya balik dengan datar. "Kenapa? Kamu marah saya gendong kamu?"

Zevanna menggeleng. "Nggak kok, Pak. Saya nggak marah, makasih udah bawa saya ke rumah sakit."

"Hm."

Di koridor rumah sakit, Alika datang membawa sesuatu.

Ia hendak masuk ke ruang Zevanna. Namun dari celah pintu, ia melihat Ravenzo duduk dekat Zevanna.

Alika berhenti. Ekspresinya berubah.

Ia akhirnya tidak jadi masuk.

"Nanti aja."

Alika berbalik dan berjalan ke koridor yang sepi. Ia menelpon seseorang.

"Dia di rumah sakit." Katanya.

"Terus?" Tanya orang itu dari seberang telpon.

"Ravenzo ada di sana. Gue kesel liat dia deket sama Ravenzo." Dengus Alika.

Orang itu terkekeh kecil. "Biarin aja."

"Biarin? Gue nggak bisa biarin dia deket sama calon tunangan gue." Sentak Alika.

"Dengerin gue ya, dia masuk ke Verion Group bukan buat deket sama calon tunangan lo." Jawab orang itu pelan.

Alika terdiam sejenak. "Maksud lo?"

"Dia masuk ke sana bukan tanpa alasan."

"Terus?"

"Biarkan dia mencari. Yang penting dia jangan menemukan bagian yang sebenarnya.” Jawab orang itu serak.

"Kalau dia sampai tau gimana?" Tanya Alika cemas, ia melihat sekeliling koridor.

"Sebelum dia tau, kita harus bikin dia bingung siapa yang melakukannya."

Alika tersenyum miring. "Lo bener."

***

Sore harinya, Zevanna sedang berbaring dan menatap keluar jendela rumah sakit.

“Bosen banget, kapan gue keluar dari rumah sakit sih, Tis?” Tanya Zevanna.

Tisha menatapnya. “Sabar, nanti juga lo bakal balik kok.”

“Tapi gue ngerasa bosen di sini, cuma duduk dan berbaring doang.” Katanya.

Tisha menghela napas. “Terus lo maunya apa? Salto? Kayang? Atau terjun bebas gitu?! Lo lagi sakit, Zev. Masa lo jalan-jalan keluar rumah sakit.”

“Lo mah nggak ngerti perasaan gue.” Decak Zevanna kesal.

Tisha memutar bola matanya lalu ia menatap ponselnya. “Eh, Zev. Si Fiona dan Kanita mau ke sini.”

Zevanna terkejut mendengar itu. “Hah? Mereka mau ke sini? Ngapain?”

“Bersihin WC, ya jenguk lo, pea!” Geram Tisha.

“Ohhh bilang dong.”

“Kan gue udah bilang tadi kalau mereka mau ke sini, otak lo aja kepikiran Pak Ravenzo mulu.” Kata Tisha.

Zevanna mendelik tajam. “Kenapa dia dibawa-bawa sih? Nggak jelas lo!”

“Karena lo udah deket sama dia.”

Zevanna mendecih sinis. “Dihhhh! Gue cuma deket aja sama dia ya sebagai karyawan dan bos doang.”

“Ah, maca cih?”

“Iya.”

“Tapi pipi lo kenapa merah kalau deket atau gue sebut nama Pak Ravenzo?” Kata Tisha mulai menggoda.

“Dih, nggak ya! Pipi gue nggak merah!” Elak Zevanna.

Tiba-tiba pintu terbuka lebar.

Ceklek.

“YA AMPUN ZEVANNA!” teriak Kanita heboh dan memeluk Zevanna erat.

“Eh, gue kaget pas denger kabar kalau lo sakit.”

Zevanna meringis. “Aduh, lepasin gue! Sesek ini!”

Kanita melepaskan pelukannya dan terkekeh. “Hehe, sorry, sorry. Nggak sengaja habisnya gue kangen sama lo, Zev.”

Zevanna mendengus. “Lebay lo.”

Fiona dan Tisha tertawa.

“Tau tuh, si Kanita. Dia di mobil sampai nangis-nangis minta gue ngebut takut kalau lo kumat.” Kata Fiona.

“Kumat apaan sih? Di kira gue mau jadi siluman apa?” ucap Zevanna menatap Fiona.

“Ya lo kan kalau sakit suka tantrum jadi kita ngebut tadi, ya kan. Nit?” tanya Fiona menatap Kanita.

“Betul tuh, makanya gue khawatir sama lo, Zev.”

Zevanna mendengus kecil. “Ye, makasih udah mau jenguk gue.”

“Iya, kita kan sahabat selamanya.” Kata Fiona sambil tersenyum.

“Oh ya, Zev. Kenapa lo bisa sakit kayak gini? Apa lo kesambet penunggu sana?” Tanya Kanita.

Zevanna mendelik tajam. “Kesambet apa sih? Gue sakit karena kecapean aja tau!”

“Bohong itu, dia sakit karena dikasih makanan dari karyawan lain.” Timpal Tisha membuat Zevanna melotot.

“Tisha!”

Fiona dan Kanita tersentak.

“Hah? Yang bener lo, Tis? Masa ada orang yang mau celakain Zevanna sih?” Kata Fiona.

Tisha mengangkat bahu. “Gue juga nggak tau pasti, soalnya si Zevanna sakit habis makan makanan dari karyawan lain.”

“Wah, tuh orang berani banget celakain lo, Zev.” Kata Kanita kesal.

Zevanna menghela napas. “Udah lah, nggak papa. Lagian juga gue nggak kenapa-napa kok.”

“Nggak papa gimana? Lo sakit karena dia! Mukanya kayak apa sih? Gue mau hajar dia!” gerutu Kanita.

“Eh, jangan hajar dia.” Kata Tisha.

“Kenapa, Tis?”

“Ya nggak boleh nanti lo kena masalah lagi.”

“Bodo amat!”

“Tadi gue juga mau hajar dia tapi gue lagi sakit.” Keluh Zevanna.

“Sebenarnya lo lempar apa gitu ke mukanya biar tau rasa tuh orang.” sentak Fiona.

“Udah, udah. Jangan pada ribut, ini di rumah sakit. Nanti di marahin sama dokter tau.” Ucap Tisha mengingatkan ke teman-temannya.

Fiona dan Kanita terdiam. Fiona duduk di sofa bersama Tisha. Sementara Kanita duduk di dekat ranjang Zevanna.

Tiba-tiba pintu rawat inap kembali terbuka.

Ceklek.

“Zevanna.”

Zevanna menoleh dan melebarkan matanya. “Jayden?”

Jayden masuk bersama Reon, Alan dan Kevan.

“Hai, gimana keadaan lo?” Tanya Jayden.

Zevanna mendengus kecil. “Lo bisa liat sendiri kan?”

Jayden mengangguk dan tersenyum. “Gue khawatir sama lo, Zev. Tiba-tiba lo sakit jadi gue langsung dateng ke sini.”

“Thanks, udah dateng ke sini. Tapi gue nggak ngundang lo.” kata Zevanna menatap Jayden.

Jayden terkekeh kecil. “Nggak papa, gue mau dateng kesini karena insiatif!”

“Cieee!”

“Icikiwir!”

“Uhuyyy!”

Heboh Reon, Alan dan Kevan langsung ditabok sama Kanita.

“Bisa diem nggak kalian?” Sentaknya.

Mereka bertiga terdiam.

“Sorry, Nit. Nggak sengaja kita.”

Kanita mendengus dan menatap tajam. “Mending kalian pergi, Zevanna mau istirahat tau. Kalau banyak orang nanti dia tambah sakit.”

Zevanna yang dari tadi diam langsung batuk-batuk. “Uhuk, uhuk! Aduh kepala gue pusing, gue sesek ini. Butuh oksigen.”

“Tuh liat, gara-gara kalian nih!” Ujar Kanita sengit.

Jayden merasa tidak enak lalu ia menatap teman-temannya. “Kalian bertiga keluar!”

“Eh, curut. Lo juga keluar, masa teman-teman lo doang.” Kata Fiona sambil bersedekap dada.

Jayden tersentak. “Lah, kok gue ikutan keluar sih?”

“Karena lo hama, sana kalian berempat keluar. Zevanna butuh istirahat yang cukup. Nanti kalau dia sakit, kalian mau tanggung jawab.” Sentak Fiona.

Jayden terdiam dan menghela napas. “Ya udah deh, gue keluar.” Ia menatap Zevanna. “Zev, kalau lo butuh apa-apa. Telpon gue ya?” katanya membuat Zevanna mendecih sinis.

Lalu Jayden berdiri dan keluar dari rawat inap Zevanna bersama teman-temannya.

Zevanna menghela napas lega. “Akhirnya dia pergi juga, muak gue liat muka dia.”

Tisha terkekeh kecil. “Kan, dia crush-in lo dari SMA, Zev.”

“Tapi gue nggak suka sama dia.” Jawabnya.

***

Malam tiba. Tepat pukul setengah sembilan, Zevanna terbaring di ranjang rawatnya sambil mengecek ponsel.

"Ck, sumpah gue bosen banget! Malah Tisha pergi pulang lagi," decak Zevanna.

Tisha, Fiona, dan Kanita memang sudah pamit sejak jam tujuh malam tadi. Kini Zevanna kembali sendirian dan diserang rasa bosan. Ia memutar tubuhnya menghadap ke kiri.

Ceklek.

Pintu kamar rawat inapnya mendadak terbuka.

Zevanna menoleh cepat. "Akhirnya lo balik juga Tis— lah? Pak Ravenzo?"

Pria itu melangkah masuk tanpa suara, lalu meletakkan sebuah bungkus makanan di atas nakas.

"Nih, makan," kata Ravenzo singkat.

Zevanna mengernyit heran. "Kok, Bapak ke sini sih?"

Ravenzo mengerutkan kening. "Kenapa kalau saya ke sini? Nggak boleh?"

"Ya boleh sih, Pak. Tapi aneh aja, bapak emang nggak sibuk gitu di perusahaan?" tanya Zevanna.

Ravenzo berdehem kecil, membuang pandang. "Nggak, pekerjaan saya sudah selesai."

"Oh gitu. Kirain belum selesai," kata Zevanna.

Ravenzo mengambil kursi lalu duduk di dekat ranjang Zevanna. "Udah kamu cepet makan."

Zevanna mengerucutkan bibirnya. "Saya sudah kenyang, Pak."

Ravenzo mengangkat alis. "Sudah kenyang? Makan apa kamu?"

"Makan nasi lah, Pak. Masa makan beton sih," jawab Zevanna asal.

"Maksud saya, kamu kapan makannya?" katanya pelan.

"Tadi pagi sih, Pak."

"Pagi? Kamu baru makan tadi pagi aja?" kaget Ravenzo.

Zevanna mengangguk polos. "Iya."

Ravenzo menghela napas panjang. "Pantesan."

"Hah? Pantesan apa, Pak?"

"Pantesan kamu gampang sakit," jawab Ravenzo dingin.

Zevanna mendengus. "Saya kan cuma kecapean aja, Pak."

"Udah, makan ini." Ravenzo menyodorkan bungkus makanan itu ke hadapan Zevanna.

Zevanna menggeleng cepat. "Tapi saya masih kenyang, Pak. Tadi saya sudah makan buah kok, Pak."

"Makan buah nggak cukup, Zevanna! Kamu harus makan nasi, emangnya kamu mau sakit terus?" tanya Ravenzo datar.

Zevanna terdiam sejenak. "Bapak jangan galak-galak dong, iya ini saya makan." Dengan helaan napas pasrah, ia mengambil makanan itu dari tangan Ravenzo dan mulai menyuapnya.

"Saya nggak galak kalau kamu nurut."

Zevanna menghentikan suapannya, lalu menatap Ravenzo jahil. "Bapak, perhatian banget sama saya, ya?"

Ravenzo tersentak. Ia berdehem canggung. "Saya nggak mau ada karyawan sakit terus, nanti dia nggak mau kerja lagi."

Kalimat itu membuat Zevanna terdiam sejenak. "Saya nggak kayak gitu, Pak. Saya orangnya konsisten sama pekerjaan. Tapi sekarang saya lagi sakit aja, Pak!"

Zevanna kembali menyuap makanannya.

Ravenzo menatapnya dalam diam.

Merasa diperhatikan, Zevanna mendongak. "Bapak, kenapa liatin saya kayak gitu?"

Ravenzo terkejut, refleks membuang muka. "Nggak apa-apa."

Zevanna tersenyum kecil. "Bapak sama Mbak Alika mau tunangan ya?" tanyanya tiba-tiba.

Ravenzo tersentak, tatapannya kembali tertuju pada Zevanna. "Kenapa kamu tanya itu?"

"Saya cuma nanya aja, Pak," katanya santai. "Bapak suka sama Mbak Alika kah?"

Ravenzo membisu. Bingung harus menjawab apa.

"Pak!"

Ravenzo tersentak dari lamunannya.

"Bapak kenapa? Cieeee... Bapak mikirin Mbak Alika ya?" goda Zevanna.

"Bukan."

"Masa sih Pak?"

Ravenzo menghela napas pasrah. "Iya, Zevanna. Udah kamu habisin makanan kamu itu."

"Siap, Pak." Zevanna kembali menyuap makannya dengan antusias, hingga tiba-tiba ia tersedak.

"Uhuk, uhuk!"

Ravenzo sigap mengambilkan gelas air di nakas. "Makanya pelan-pelan, jangan banyak bicara kalau lagi makan."

Zevanna mengambil gelas itu dan meneguknya cepat. "Maaf, Pak. Soalnya saya emang kayak gini orangnya, hehe."

Ravenzo menatapnya datar. "Jangan dibiasakan."

"Udah dari dulu, Pak. Nggak bisa ilang," jawab Zevanna cepat.

Ravenzo hanya mampu menghela napas dari hidungnya. "Kalau sudah selesai makan, tidur."

Zevanna meletakkan wadah sisa makanannya di atas nakas. "Tapi saya mau nonton TV dulu, Pak."

Ravenzo mengerutkan kening. "Nonton apa?"

"Upin Ipin, Pak."

"Dasar anak kecil."

"Saya emang masih anak kecil, Pak."

"Kenapa kamu kerja?" tanya Ravenzo singkat.

Zevanna terdiam sejenak, memikirkan alasannya. "Ya... Saya mau belajar mandiri tapi jiwa saya masih anak-anak, Pak."

Ravenzo mengembuskan napas panjang. "Enggak boleh."

"Kok gitu sih, Pak? Saya mau nonton TV bentar doang masa nggak boleh sih?" kata Zevanna merenggut masam.

"Kamu lagi sakit, ini udah jam sembilan malam. Tidur!" tegas Ravenzo.

Zevanna menggeleng memprotes. "Nggak mau, Pak. Saya mau nonton TV."

Ravenzo memijit pelipisnya, Frustrasi menghadapi sikap keras kepala karyawannya ini. "Nontonnya nanti aja besok."

"Nggak mau, Pak. Ada episode baru. Tadi saya lupa nonton," jawab Zevanna kekeh.

Ravenzo menggeleng tegas. "Nggak boleh, udah tidur!"

"Pak, saya nggak bisa tidur jam segini tuh," kata Zevanna.

Ravenzo mengerutkan kening. "Emang kamu biasanya tidur jam berapa?"

"Jam 11 sama jam 12 malam, Pak," jawabnya.

"Ngapain kamu tidur jam segitu?"

"Maraton nonton drachin, Pak. Seru banget itu, Pak," ucap Zevanna.

"Tetep nggak boleh, kamu harus tidur dan istirahat," kata Ravenzo dingin.

"Tapi, Pak. Saya belum ngantuk, nih liat mata saya. Masih seger," kata Zevanna sambil melotot lebar ke arah Ravenzo.

Ravenzo menatap mata itu datar. "Mata kamu segar tapi badan kamu enggak."

"Pak—"

"Tidur, Zevanna. Atau saya pecat kamu?!" ancam Ravenzo.

Zevanna tersentak, mencuatkan bibirnya sebal. "Jangan dong, Pak. Iya saya tidur nih."

Dengan bersungut-sungut, Zevanna berbaring dan memejamkan matanya rapat-rapat.

Ravenzo menghela napas perlahan. Matanya memperhatikan wajah Zevanna yang kini terpejam tenang—sangat berbeda dengan sosok keras kepala beberapa detik lalu.

Pandangannya tertuju pada bulu mata lentik gadis itu. Tanpa sadar, tangan Ravenzo terangkat, menyelipkan sehelai anak rambut yang menghalangi wajah Zevanna ke belakang telinga.

Sudut bibir pria itu terangkat tipis, membentuk sebuah senyuman samar.

Namun, di balik kaca pintu kamar rawat, seseorang berdiri membeku. Sepasang mata menatap pemandangan di dalam sana dengan rahang mengeras dan tangan mengepal erat.

"Shit!" umpat orang itu berbisik tajam, sebelum akhirnya berbalik dan pergi meninggalkan lorong rumah sakit.

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!