Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.
Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.
Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.
Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Arthur
Udara di aula megah itu terasa semakin mencekam, membekukan setiap tarikan napas para bangsawan yang hadir.
Pesta yang seharusnya menjadi panggung awal ketundukan Aurelia di hadapan sang pewaris keluarga Isward—sebuah paksaan untuk menerima pertunangan yang mengikat kebebasannya—kini telah hancur berantakan.
Aula itu berubah menjadi medan laga berdarah tempat dua bilah saling menghunus, membelah keangkuhan malam.
"Kau terlalu berani, Aurelia... dan aku sendiri yang akan membungkam mulut lancang mu itu selamanya!" desis Adrian tajam, matanya berkilat penuh amarah yang dingin.
Trang!
Logam bertemu logam, menciptakan dentingan memekakkan telinga yang menggema di langit-langit aula.
Adrian menggerakkan pedangnya dengan presisi mematikan; bilah bajanya berkilau aneh, dialiri oleh sihir es murni yang memancarkan uap sedingin kutub.
Sebaliknya, pedang di tangan Aurelia tampak begitu biasa dan meredup. Gadis itu tidak memiliki sihir es, sekalipun pedang yang ia genggam dengan urat-urat tangan menegang itu adalah milik Enzo.
Melihat pertarungan dua orang itu, semua tamu spontan mundur teratur ke belakang. Mereka berbisik semangat, seolah sedang memberikan ruang yang lebih luas untuk tontonan gratis itu.
Di sisi lain, mata Tetua Frost melotot sempurna, seluruh tubuhnya menegang kaku. Rahangnya mengeras. Jika Aurelia mati malam ini di tangan Adrian, maka tamat sudah; ia akan kehilangan satu-satunya kunci yang bisa membuka segel kekuatan artefak kuno Klan Es.
Namun, sebelum Tetua Frost sempat melangkah maju, sebuah tangan dengan kuku-kuku tajam mencengkeram pergelangan tangannya dengan amat kuat.
Madam Elena menatapnya dengan mata melotot, sebuah peringatan bisu namun mematikan yang menyiratkan satu pesan jelas: Jangan berani-berani ikut campur.
Sementara itu, di tengah aula yang megah, pertarungan adu pedang masih terus berlanjut dengan sengit.
Adrian mundur beberapa langkah, melompat mundur dengan anggun sebelum sepasang bola matanya berubah sepenuhnya menjadi biru safir yang berpendar.
Ia mengangkat tinggi-tinggi ujung pedangnya ke udara. Pusaran cahaya biru laut yang pekat mendadak tercipta, mengelilingi bilah pedang Adrian saat pemuda itu melakukan gerakan memutar yang cepat di udara.
"Datanglah, gelombang es pembawa kutukan! Tenggelam lah dalam keabadian!" teriak Adrian menggema.
Aurelia tertegun, tubuhnya membeku beberapa langkah di depan Adrian saat pemuda itu mengarahkan ujung pedangnya tepat ke dada Aurelia.
Seketika, pandangan Aurelia mengabur. Dunia di sekitar gadis itu berputar hebat, runtuh, dan bertransformasi menjadi lautan terdalam yang gelap gulita.
Tubuh Aurelia limbung, merasa dirinya mengambang tak berdaya di dasar samudra yang sunyi. Ia mulai kehilangan napas, dadanya terasa menyempit dan terbakar.
Itu adalah ilusi mematikan yang diciptakan oleh sihir es Adrian untuk menghancurkan mental musuhnya.
Di mata semua tamu yang menonton dengan ngeri, Aurelia hanya berdiri mematung dengan mata terbelalak, sementara kedua tangannya bergerak naik, mencekik lehernya sendiri dengan wajah yang perlahan membiru.
"Kau terlalu bodoh berpikir bisa melawan ku," cemooh Adrian dengan senyum sinis yang mendinginkan suasana, "Menyerah lah, Aurelia. Kau hanya seonggok sampah tanpa sihir yang mencoba menantang takdir!"
Namun, di dalam alam bawah sadar Aurelia yang gelap dan beku, sebuah keajaiban yang mengerikan sedang terjadi.
Saat paru-parunya terasa kehabisan oksigen dan kesadarannya mulai menipis di ujung maut, sesuatu yang sangat asing di dalam dada Aurelia bergejolak hebat. Sesuatu yang berwujud seperti jaringan akar emas yang membakar.
Segel itu... Segel kuno yang dipasang oleh Kamelia bertahun-tahun lalu kini memberontak, retak, dan memaksa ingin keluar akibat tekanan sihir Adrian yang mengancam nyawa inangnya.
Tanpa ada satu pun yang menyadarinya—Aurelia bukannya terlahir sebagai penyihir cacat tanpa inti roh murni. Kegelapan dan ketiadaan sihir yang selama ini dideritanya adalah sebuah keputusan.
Keputusan paling menyakitkan yang sengaja diambil oleh Kamelia, sang ibu, demi menyembunyikan identitas asli putrinya dari mata dunia. Dan kini, segel sang ibu mulai melawan di dalam dirinya.
Sementara itu, di dunia nyata yang dingin dan bising, Adrian berdiri dengan angkuh sembari tertawa terbahak-bahak, gema suaranya memantul di dinding-dinding aula yang megah.
"Ini adalah hukuman yang setimpal karena kau telah berani mempermalukan ku di hadapan semua orang, Aurelia!" teriak Adrian dengan wajah yang dipenuhi oleh kemarahan yang membara.
Kontras dengan ketegangan itu, Madam Elena dan Enzo justru saling melempar tatapan penuh kemenangan, menyunggingkan senyum puas melihat penderitaan gadis yang mereka benci.
Kembali ke dalam sisa-sisa kesadaran Aurelia yang kian meredup, napasnya terasa semakin pendek dan tercekat di tenggorokan.
Di ambang kegelapan itu, bayangan wajah lembut ibunya tiba-tiba terlintas dengan sangat jelas, membawa kehangatan di tengah dinginnya ilusi mematikan ini.
Sebutir air mata yang bening jatuh perlahan di pelupuk matanya yang mulai sayu. "Apa... apa aku akan mati di tempat ini?" gumam Aurelia, nyaris tak terdengar, menyerah pada takdir yang mencekiknya.
Namun, tepat pada detik krusial saat Aurelia sudah benar-benar berada di batas kemampuannya untuk bertahan, sebuah dentuman keras mengejutkan seisi ruangan.
BRAK!
Pintu Aula utama itu terbuka dengan sangat kasar, membuat semua orang yang berada di dalam aula tersebut tersentak dan menoleh serentak.
Di ambang pintu yang megah, Arthur berdiri dengan aura yang sangat mengintimidasi dan wajah yang diselimuti kemarahan luar biasa.
Ia tidak datang sendiri; Kamelia berdiri di sampingnya dengan napas terengah-engah. Wanita itu, yang sempat dikurung, berhasil melarikan diri dengan sisa kekuatannya dan tanpa sengaja bertemu dengan Arthur di koridor luar.
"Aurelia!" jerit Kamelia histeris, menyuarakan kepedihan seorang ibu saat melihat tubuh putrinya yang terkulai lemas di tengah-tengah lingkaran sihir.
Tiba-tiba, sebelum sempat ada yang menyadari pergerakannya, Arthur menghilang bagai asap dari samping Kamelia. Menggunakan kecepatan magis yang tak masuk akal, ia menerobos masuk tanpa rasa takut ke dalam pusaran ilusi mematikan ciptaan Adrian.
Di dalam dimensi ilusi yang gelap, mata Aurelia yang terpejam perlahan-lahan merasakan adanya sebuah sentuhan yang luar biasa lembut dan hangat di pipinya yang pucat.
Kehadiran seseorang yang begitu familiar membuat Aurelia memaksakan kelopak matanya yang berat untuk terbuka.
Secara ajaib, oksigen yang sempat hilang dari paru-parunya kini kembali mengalir dengan teratur, membawa kelegaan yang luar biasa.
"Maafkan aku, aku terlambat datang untuk melindungimu," gumam Arthur dengan suara rendah yang sarat akan rasa bersalah namun penuh dengan ketegasan yang menenangkan.
Mendengar suara itu, Aurelia memaksakan sebuah senyum tipis di bibirnya yang kering, merasa aman sepenuhnya di bawah perlindungan pria itu.
Arthur membalas tatapan itu, lalu perlahan mengalihkan pandangannya ke arah luar dengan mata yang menyala penuh amarah. Ia mengepalkan tangannya yang diselimuti oleh energi murni, dan—
DUAR!
Ledakan energi yang besar menghancurkan seluruh dimensi ilusi ciptaan Adrian hingga berkeping-keping seperti kaca.
Akibat hantaman balik yang begitu dahsyat, tubuh Adrian terlempar mundur beberapa meter, menabrak pilar aula dengan keras hingga ia memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Semua tamu pun terdorong kebelakang tanpa bisa menahan berat tubuh mereka---- mereka bisa merasakan adanya tekanan yang luar biasa dari pemuda yang berdiri di hadapan mereka itu.
Tanpa memedulikan kekacauan di sekitarnya, Arthur langsung menarik tubuh Aurelia ke dalam pelukan eratnya, menyembunyikan gadis itu di dadanya yang bidang.
Semua orang yang menyaksikan pemandangan tak masuk akal itu terbelalak syok, tak percaya bahwa ada seseorang yang mampu menghancurkan sihir tingkat tinggi Adrian hanya dengan satu serangan tunggal.
Dan yang lebih parahnya lagi---- serangan itu menghancurkan mental dan keberanian semua orang disana. Tanpa sadar, tubuh mereka bergetar melihat aura yang keluar dari tubuh Arthur.