Bagaimana jika hidupmu seperti di neraka hanya karena sebuah kesalahpahaman yang sulit untuk dibuktikan?
Sienna Breezie Sinclair seorang wanita malang yang dituduh membunuh seorang konglomerat terpandang, harus menerima perlakuan tak adil sepanjang hidupnya. Bak angin lalu suaranya tak pernah didengar, ia justru dituntut untuk mengakui perbuatan bejat yang tidak pernah ia lakukan.
Bisakah Sienna membuktikan bahwa bukanlah dia pelaku pembunuhan itu? atau Selamanya namanya akan tercatat dan dikenang sebagai seorang pembunuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 9
Derit halus dari alat pengukur denyut jantung dan hembusan angin dingin air conditioner mengisi seluruh sudut kamar utama di lantai dua.
Dokter Leo melepaskan stetoskop dari telinganya seraya merapikan kembali peralatan medis di atas meja. Pria paruh baya itu menoleh ke arah Nico yang berdiri membisu di dekat dinding kaca, membelakangi tempat tidur dengan kedua tangan terkepung kaku di dalam saku celananya.
"Bagaimana?" suara Nico terdengar kaku dan dingin, memotong kesunyian tanpa menoleh sedikit pun.
Dokter Leo mendesah pelan. "Demamnya diakibat oleh infeksi pada luka lecet di jemarinya yang terpapar air detergen keras, ditambah memar parah di rusuk kiri dan kelelahan fisik. Saya sudah menyuntikkan antibiotik dan antipiretik. Tapi, Tuan Nicolas... jika kondisi fisiknya terus ditekan tanpa istirahat, tubuhnya tidak akan sanggup bertahan."
Nico tidak bergerak. Tatapan matanya yang berwarna kelabu tetap menancap lurus ke arah gemerlap lampu kota di luar jendela.
"Aku tidak memanggilmu untuk memberikan analisis moral, Leo," desis Nico seraya memutar tubuhnya perlahan. Matanya menatap Dokter Leo tanpa sedikit pun celah kehangatan. "Obati dia agar dia bisa berdiri dan bekerja lagi. Hanya itu tugasmu."
Dokter Leo mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia tahu betul batas wilayahnya dan paham betapa keras kepalanya seorang Nicolas Vance jika sudah menyangkut dendam masa lalunya. "Obat-obatannya sudah saya letakkan di meja. Saya permisi, Tuan."
Dokter Leo melangkah keluar dari kamar utama. Di luar pintu, Matteo dan James, dua pengawal pribadi kepercayaan Nico yang bertubuh kekar dan selalu berwajah dingin itu berdiri tegak menjaga area koridor lantai dua.
Nico melangkah mendekati tepi tempat tidur king-size beralaskan sutra hitam miliknya. Di sana, Sienna terbaring pingsan dengan pakaian tidur katun putih yang longgar. Pipi pucatnya berhias memar kusam, dan jemarinya yang terbalut perban tampak begitu kontras dengan tempat tidur mewah di bawahnya.
Nico menatap tubuh rapuh itu dengan alis menyatu tajam.
Tidak ada rasa kasihan sedikit pun di dalam dadanya. Yang ada hanyalah rasa amarah dan amuk keputusasaan yang makin membara. Bagi Nico, pingsannya Sienna di balkon pagi tadi bukanlah tanda penderitaan yang cukup, melainkan sebuah bentuk kelemahan menakutkan yang menghambat proses pembalasan dendamnya.
Gadis ini adalah wadah melampiaskan seluruh kebencian belasan tahunnya, jika gadis ini mati terlalu cepat, maka seluruh tatanan dendam yang dibangunnya akan runtuh.
"Kau pikir dengan pingsan kau bisa melarikan diri dariku, Sienna?" desis Nico pelan, suaranya dipenuhi amarah terendam saat menatap wajah lelap Sienna. "Jangan pernah bermimpi."
Satu hari berlalu dalam bayang-bayang ketidakberdayaan, saat mata Sienna perlahan terbuka, pendar pudar dari lampu gantung kristal menimpa pandangannya. Rusuk kirinya berdenyut amat nyeri saat ia mencoba bergerak, dan kepalanya masih terasa pusing.
Sienna menyadari dirinya berada di dalam kamar yang teramat luas dan asing, bukan di kamar penyimpanan linen tanpa jendela di koridor bawah. Kasur yang didudukinya begitu empuk dan bersih, menyebarkan aroma kayu cedar dan tembakau mahal yang menusuk. Ini adalah kamar Nico.
Pintu kamar mandi yang terbuat dari kaca mendadak terbuka.
Nico melangkah keluar seraya merapikan kancing kemeja hitamnya. Langkah kakinya kaku saat melihat Sienna sudah terduduk kaku di atas tempat tidur, menatapnya dengan sepasang mata cokelat yang dipenuhi ketakutan murni.
Sienna dengan cepat menarik kakinya, memeluk lututnya di bawah selimut tebal seraya menundukkan kepala rapat-rapat. "T-Tuan Vance... maafkan saya, saya tidak tahu kenapa bisa berada di sini..."
Nico melangkah mendekati kaki tempat tidur, menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Tatapannya menatap Sienna dengan tajam.
"Tempat penyimpanan linen di bawah sedang diperbaiki saluran udaranya," kata Nico kaku, menyembunyikan alasan sebenarnya mengapa ia membiarkan Sienna berada di kamarnya. "Begitu tanganmu tidak lagi berdarah dan bisa memegang sikat, kau akan kembali ke bawah dan menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga yang tertunda."
Sienna menelan ludah yang terasa pahit di tenggorokannya. Tidak ada kelembutan, tidak ada pengampunan. Harapan tipis yang sempat terbesit sekilas di benaknya sirna tak berbekas.
"Saya paham, Tuan Vance..." bisik Sienna serak.
Nico memicingkan matanya. "Bagus. Matteo dan James akan mengawasimu di lantai ini. Jangan pernah berpikir untuk mencoba menyentuh pintu lift atau melangkah keluar dari kamar ini tanpa perintah dariku."
Sebelum Nico sempat berbalik, suara ketukan kaku terdengar di pintu kamar.
Matteo melangkah masuk dengan raut wajah kaku. "Tuan Nicolas, ada berkas transaksi darurat dari kantor pusat yang membutuhkan verifikasi Anda. Dan... Nyonya Claudia kembali menelepon ke saluran privat."
Nico memotong pandangannya dari Sienna, kembali rahang mengeras. "Abaikan Claudia. Bawa berkasnya ke ruang kerja bawah."
"Baik, Tuan," jawab Matteo kaku, lalu mundur bersama James yang berdiri menjaga di ambang pintu.
Nico menatap Sienna untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang dingin, keras, dan penuh penegakan kekuasaan, sebelum melangkah keluar dan membanting pintu kamar hingga tertutup rapat.
...****************...
Malam harinya, hujan deras kembali mengguyur kaca-kaca penthouse.
Sienna duduk kaku di tepi tempat tidur utama. Tubuhnya memang sudah sedikit lebih bertenaga setelah diberikan obat oleh Dokter Leo, namun kesendirian di dalam sangkar emas ini justru meremas jiwanya dengan ketakutan yang makin pekat.
Pintu kamar mendadak terdorong terbuka dengan keras.
Nico melangkah masuk. Pria itu telah melepaskan jasnya, kemeja putihnya tergulung kaku dan kancing atasnya terbuka. Di tangannya, terpegang sebotol wiski pekat yang sudah berkurang banyak dan sebuah gelas kristal.
Aroma alkohol yang menyengat langsung membanjiri ruangan saat Nico melangkah mendekati tempat tidur. Matanya yang biasanya kaku kini berkilat penuh dengan dendam yang liar dan pengaruh alkohol yang pekat.
Sienna tersentak, cepat-cepat berdiri dari ranjang dan mundur beberapa langkah hingga punggungnya menabrak dinding kaca. "T-Tuan Vance..."
Nico menghentakkan botol wiskinya ke atas meja samping tempat tidur hingga terdengar benturan keras. Ia melangkah mendekati Sienna, mengepung tubuh gadis itu di sudut dinding kaca.
"Kenapa kau selalu mundur setiap kali aku mendekat, Sienna?" suara Nico terdengar serak, dipenuhi intimidasi yang pekat.
Sienna menahan napasnya, dadanya naik-turun cepat oleh ketakutan yang membakar. "Tuan... Anda sedang mabuk..."
Nico terkekeh sinis, menyandarkan sebelah tangannya yang kekar ke dinding kaca tepat di samping kepala Sienna, mengurungnya tanpa ada celah melarikan diri. Hawa panas bercampur aroma wiski dari napas Nico menerpa kulit leher Sienna.
"Mabuk?" gumam Nico, merendahkan kepalanya hingga tatapan mata kelabunya memaku lurus ke dalam sepasang mata Sienna. "Selama belasan tahun aku terbangun setiap malam dengan bayangan darah ibuku... dan kau berdiri di sini, berani menatapku seolah-olah ayahmu tidak bersalah!"
Sienna memejamkan matanya rapat-rapat, memeluk dirinya sendiri seraya menahan isak tangis yang hendak pecah. "Jika Tuan begitu membenci saya. .. kenapa Tuan tidak menghabisi saya sekalian? Kenapa Tuan menyiksa saya seperti ini?!"
Cetusan balik dari bibir Sienna justru makin menyulut amarah Nico yang terdistorsi oleh alkohol dan obsesi dendamnya.
Nico mencengkeram kedua bahu Sienna dengan jemarinya yang kuat, menekan tubuh gadis itu ke dinding kaca yang dingin tanpa belas kasihan sedikit pun.
"Menghabisimu?" desis Nico tepat di depan wajah Sienna, suaranya dingin dan penuh penegakan kekuasaan yang kejam. "Mati terlalu mudah untuk anak seorang pembunuh, Sienna! Kau akan tetap tinggal di sini, di bawah telapak kakiku, merasakan setiap detik penderitaan yang dirasakan ibuku!"
Nico mencengkeram rahang Sienna secara kasar dengan satu tangan, memaksa wajah gadis itu menatapnya, menegaskan batas kekuasaannya tanpa ada ruang kompromi.
Sienna tersentak, menahan sakit saat jemari tegap Nico menekan rahangnya. Air mata Sienna meledak melintasi pipinya, merembes basah di jemari Nico. Rasa sakit di rusuknya dan rasa terbakar di jemarinya menyatu dengan keputusasaan jiwanya yang hancur.
Saat Sienna mulai kehilangan tenaga untuk melawan dan tubuhnya terkulai pasrah di dalam cengkeramannya, Nico menghempaskan pegangannya.
Nico mundur satu langkah, bernapas terengah-engah seraya menyapu wajahnya dengan punggung tangan. Matanya menatap Sienna yang tersungkur jatuh di lantai marmer dingin, memegangi dadanya yang sesak dengan isakan tangis yang pecah tanpa suara.
Tidak ada kata maaf, tidak ada penyesalan di wajah Nico.
Nico menatap Sienna yang tergeletak di bawah kakinya dengan tatapan dingin yang tak tergoyahkan, tatapan seorang algojo yang baru saja menegaskan kembali siapa penguasa di atas tempat tersebut.
"Ingat posisi dan tempatmu di rumah ini," desis Nico kaku seraya membalikkan badan, menyambar jasnya dari kursi, dan melangkah keluar dari kamar utama tanpa menoleh lagi.
Di luar pintu, Matteo dan James berdiri kaku saat Nico melangkah melewati mereka dengan wajah yang penuh amarah.
Sementara di dalam kamar yang kembali sunyi, Sienna merapatkan tubuhnya di lantai marmer yang dingin, ia menyadari bahwa di dalam sangkar kaca di atas awan ini, tidak ada kehangatan yang menunggu, hanya ada rantai dendam yang kian menjerat fisiknya tanpa batas.
...Bersambung......