Indonesia
NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mulut Balasan Aurelia

Di tengah keheningan yang mencekam itu, Aurelia berjalan dengan langkah yang begitu tenang, seolah setiap pijakan kakinya di atas lantai adalah ketukan takdir yang tak tergoyahkan.

Tidak ada emosi yang berlebihan di wajahnya; parasnya yang seputih salju tampak datar, beku, dan memancarkan aura dingin yang sanggup membungkam kehangatan ruangan.

Di barisan tamu, para Tuan Muda dari berbagai keluarga terpesona, tak mampu mengalihkan pandangan dari kecantikan surgawi yang begitu magis.

Namun, kekaguman itu segera berganti dengan tatapan sinis dan cemoohan terselubung saat mereka mengingat garis darahnya—seorang anak haram yang dianggap sebagai noda hitam dan aib terbesar bagi keagungan Klan Es.

Di sudut lain, para putri bangsawan mengepalkan tangan mereka erat-erat di balik kipas lipatnya, memendam rasa iri yang membakar dada saat melihat bagaimana aura mematikan namun anggun milik Aurelia justru mendominasi seluruh ruangan.

Langkah Aurelia akhirnya terhenti tepat beberapa jengkal di hadapan Tetua Frost, tempat di mana Madam Elena berdiri dengan keangkuhan dan Adrian menanti dengan binar ambisi di matanya.

Sepasang manik mata Aurelia menatap mereka tanpa emosi, sebelum bibirnya terbuka untuk melayangkan sebuah tanya.

"Apa ada salah satu dari kalian yang bisa menjelaskan situasi ini?" tanya Aurelia, suaranya terdengar begitu rendah, dingin, dan mengalun tenang layaknya angin malam di puncak gunung es.

Ia menjeda kalimatnya sejenak, mengedarkan pandangan ke sekeliling aula sebelum melanjutkan, "Dan kenapa kalian membawaku ke tempat sesak ini?"

Pertanyaan yang diucapkan tanpa beban itu seketika memicu bisik-bisik yang lebih riuh di antara para tamu undangan.

Mereka saling pandang dengan mata terbelalak, menyadari satu fakta yang mengejutkan: gadis itu sama sekali tidak tahu bahwa malam ini ia sedang digiring menuju altar pertunangan.

Madam Elena berdehem canggung, mencoba menguasai kembali kendali atmosfer ruangan yang sempat goyah, meski kilat matanya memancarkan ketajaman yang siap menguliti keberanian Aurelia.

"Tentu saja kau harus berada di sini," ujar Madam Elena dengan nada suara yang dipaksakan setenang mungkin, walau setiap kata yang diucapkannya sarat akan penekanan yang menindas. "Karena malam ini dikhususkan untuk merayakan hari pertunanganmu... bersama dengan Tuan Muda Adrian dari keluarga Isward."

Jawaban yang keluar dari bibir Madam Elena seumpama hantaman gada tak kasat mata yang berhasil memicu badai emosi yang bergemuruh hebat di balik dada Aurelia, meski ekspresi wajahnya tetap sekokoh dinding benteng.

Gadis itu mengalihkan tatapannya, kini tertuju lurus pada Adrian yang tengah menyunggingkan senyum penuh kemenangan, seolah-olah ia telah berhasil menjinakkan seekor binatang buas.

"Mulai hari ini, detik ini juga... kau akan sepenuhnya menjadi milikku, Aurelia," bisik Adrian dengan penuh percaya diri, melangkah satu tapak lebih maju demi mengikis jarak di antara mereka. "Katakan padaku, apakah kau menyukai kejutan besar yang telah kami persiapkan dengan sangat baik ini?" tanya Adrian lagi, kali ini dengan senyuman menggoda yang tampak begitu memuakkan di mata Aurelia.

Aurelia tidak membalas senyuman itu, ia hanya mempertahankan wajah datarnya yang sedingin es, sebelum menjawab dengan untaian kata yang sanggup meruntuhkan ego sang tuan muda. "Sebuah kejutan murahan yang sama sekali tidak pernah diharapkan, dan sejujurnya, sangat menjijikkan."

Kata-kata menohok itu seketika membuat senyuman di wajah Adrian membeku dan perlahan luntur, digantikan oleh gurat rahang yang mengeras menahan amarah.

Seluruh tamu di aula menahan napas serentak; mereka tidak menyangka bahwa seorang gadis yang statusnya dianggap sebatas aib berani melontarkan kalimat seberani itu di hadapan pewaris keluarga Isward.

Tetua Frost menatap tajam ke arah Aurelia, memancarkan tekanan magis yang berat ke seluruh penjuru ruangan.

"Jaga bicaramu, Aurelia!" gertak Tetua Frost dengan suara baritonnya yang menggelegar dingin.

Bukannya terintimidasi, Aurelia justru melipat kedua tangannya di depan dada, mencoba menantang.

"Aku hanya bicara jujur," sahutnya dengan nada santai, seolah gertakan sang tetua tak lebih dari embusan angin lalu. "Ini adalah kejutan paling murahan yang pernah kalian rencanakan untukku," lanjut Aurelia, menatap mata mereka satu per satu dengan sorot dingin.

Sebelum ia mengakhiri kalimatnya dengan seringai tipis yang mematikan. "Setidaknya, jika kalian ingin menjodohkan ku... berikan aku pasangan yang setara,"

Rahang Adrian mengeras. Tangan pemuda itu terkepal amat rapat di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih, menahan badai emosi.

"Apa maksudmu, Aurelia?!" bentak Adrian, suaranya bergema egois di langit-langit aula. "Keluargaku adalah salah satu bangsawan besar di wilayah ini. Kami sangat kaya! Jika kau ingin uang, aku bahkan bisa melemparkan sekeranjang emas ke kakimu sekarang juga!"

Aurelia tetap tenang. Wajahnya datar, benar-benar tidak peduli pada kilatan amarah yang membakar mata semua orang yang kini menghakiminya. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis.

"Maksudku? Baiklah, biar ku perjelas agar otak jenius mu itu bisa mencernanya, Tuan Muda Adrian," ucap Aurelia, melangkah satu demi satu mendekat. "Semua orang di sini tahu bahwa kau adalah penyihir es yang sangat hebat, kebanggaan klan, sang jenius yang dipuja-puja. Sementara aku?"

Aurelia menjeda kalimatnya, merentangkan tangan dengan gestur teatrikal. "Aku hanyalah seorang 'sampah' yang gagal. Anak haram yang tidak berguna."

Kata-kata yang diucapkan dengan begitu bangga oleh Aurelia membuat para tamu kembali saling pandang dan berbisik riuh.

"Jadi..." Aurelia mencondongkan tubuhnya ke arah Adrian, matanya berkilat menantang. "...kenapa penyihir sehebat dirimu begitu putus asa sampai memilih 'sampah' ini untuk menjadi pendampingmu? Apakah standarmu memang serendah itu?"

"Karena aku hanya ingin dirimu!" bentak Adrian tajam, napasnya memburu, harga dirinya yang setinggi langit baru saja diinjak-injak di depan umum.

"Tapi aku tidak ingin bersamamu," balas Aurelia tak kalah tajam, memotong ucapan Adrian sebelum pemuda itu sempat menyelesaikan napasnya. Kalimat itu bagai tamparan keras yang mengguncang aula.

Melihat putranya dipermalukan secara brutal, Madam Liliana yang sejak tadi menahan diri dengan wajah merah padam, akhirnya tidak bisa tinggal diam.

Wanita bangsawan itu maju beberapa langkah, gaun mahalnya berdesir menyapu lantai saat ia memposisikan diri demi membela putra kesayangannya.

"Seharusnya kau bersyukur, dasar gadis tidak tahu diri!" kata Madam Liliana. Matanya menyipit penuh penghinaan, menatap Aurelia dari ujung kepala hingga ujung kaki seolah sedang melihat kotoran.

"Putraku sudah berbaik hati untuk menjadikanmu sebagai pasangannya. Lagi pula, sadarlah! Siapa di seluruh wilayah ini yang bersedia sudi menikahi atau menjadi pasanganmu selain putraku? Seharusnya kau tahu di mana tempat dan posisimu yang sebenarnya. Kau tidak lebih dari anak haram yang gagal dan pembawa sial bagi klan ini!" sentak Madam Liliana dengan suara melengking yang dipenuhi racun.

Aula kembali hening, menunggu kehancuran mental Aurelia. Namun, respons gadis itu justru membuat Madam Liliana nyaris terkena serangan jantung. Aurelia hanya menatap wanita paruh baya itu dengan pandangan kosong dan datar, seolah makian tersebut hanyalah angin lalu.

"Aku tidak pernah meminta agar putramu memilihku, Nyonya, " balas Aurelia tenang, suaranya mengalun jernih namun menusuk, membuat mata Madam Liliana melotot sempurna karena syok.

Aurelia maju satu langkah lagi, mengunci tatapan mata wanita itu. "Lagi pula, meskipun aku adalah seorang anak haram di mata kalian semua... setidaknya aku jauh lebih terhormat daripada putramu yang selalu berlutut dan mengemis cinta dariku setiap hari."

Sebuah balasan telak yang menghantam telinga Adrian, Madam Liliana dan ketua Aelo. Mereka merasa sangat di permalukan.

Beberapa tamu pria tidak bisa menyembunyikan senyuman mereka, beberapa di antaranya menahan tawa dengan menutup mulut melihat bagaimana seorang 'gadis sampah' berhasil mempermalukan sang Tuan Muda kaya dan ibunya yang sombong hingga tak bersisa.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!