Indonesia
NovelToon NovelToon
Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Dulu Diabaikan, Kini Tak Tergantikan

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Penyesalan Suami
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Aisyah Khumairah

"Aku minta maaf, Diandra. Aku benar-benar menyesal."

"Penyesalanmu datang terlambat, Bastian. Aku sudah terlalu lelah."

Dulu, Bastian menganggap Diandra akan selalu berada di sisinya. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sendiri hingga tidak menyadari betapa seringnya sang istri terluka oleh sikapnya.

Diandra bertahan selama bertahun-tahun, berharap suaminya suatu hari akan menghargai keberadaannya. Namun ketika kesabarannya habis, Diandra memilih berhenti berharap.

Barulah saat itu Bastian menyadari satu hal yang selama ini tidak pernah ia hargai.

Ia hampir kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya.

Seandainya waktu dapat diputar kembali, Bastian ingin memperbaiki semua kesalahannya. Ia ingin mengganti setiap air mata Diandra dengan kebahagiaan, setiap luka dengan kasih sayang, dan setiap hari yang dipenuhi kesepian dengan kehadirannya.

Namun Diandra sudah terlanjur terluka.

Hatinya masih mencintai Bastian, tetapi rasa sakit membuatnya takut untuk kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aisyah Khumairah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelindung Kecil Mommy

"Kalau kamu tetap tinggal di sini dan memilih melanjutkan rumah tangga kita, aku akan mencabut gugatan cerai itu."

Bastian terdiam.

Kalimat Diandra seolah membuat langkahnya tertahan. Untuk beberapa detik, pria itu hanya berdiri membelakanginya, seakan sedang mempertimbangkan pilihan yang paling sulit dalam hidupnya.

Diandra menatap punggung suaminya dengan mata berkaca-kaca. Ada sedikit harapan yang masih tersisa. Kali ini dia hanya ingin Bastian memilihnya. Bukan untuk sesaat, bukan karena kasihan, melainkan karena memang masih menginginkannya sebagai seorang istri.

Bastian akhirnya berbalik.

"Jangan paksa aku berada di posisi seperti ini, Diandra."

"Aku cuma minta kamu memilih."

"Serly sedang dirawat di rumah sakit. Dia membutuhkan aku."

"Memangnya aku nggak membutuhkan kamu?"

Suara Diandra bergetar.

Bastian terdiam.

"Aku juga istrimu, Mas. Selama ini aku selalu berusaha memahami keadaanmu. Tapi kapan kamu mencoba memahami perasaanku?"

"Diandra..."

"Aku nggak sedang meminta kamu melakukan apa pun denganku."

Bastian mengernyit.

"Aku cuma ingin kamu tinggal. Temani aku malam ini. Itu saja."

Keheningan memenuhi kamar.

Namun Bastian tetap terlihat bimbang.

"Serly sendirian di rumah sakit."

"Kalau begitu pergilah."

Nada suara Diandra mendadak melemah.

"Kamu benar. Serly lebih membutuhkan kamu."

Diandra membalikkan tubuhnya. Dia berbaring membelakangi Bastian, lalu menarik selimut sampai menutupi sebagian wajahnya.

Bastian menatap istrinya cukup lama.

Sebenarnya dia tidak ingin pergi.

Ada sesuatu dalam suara Diandra yang membuat dadanya terasa sesak. Tetapi bayangan Serly yang sedang terbaring di rumah sakit membuat langkahnya kembali berat.

Dokter sudah mengatakan bahwa kondisi Serly semakin memburuk. Waktu yang dimilikinya mungkin tidak banyak.

Bastian ingin berada di sana.

Dia ingin memastikan sahabat yang sudah menemaninya sejak kecil itu tidak merasa sendirian.

"Aku akan segera kembali."

Tidak ada jawaban.

Bastian akhirnya melangkah keluar.

Pintu kamar tertutup perlahan.

Begitu mendengar suara pintu itu, pertahanan Diandra runtuh.

Tangis yang sejak tadi ditahannya pecah begitu saja.

Dia menggigit bibir, berusaha meredam isakannya, tetapi air matanya terus mengalir.

"Kenapa selalu aku yang harus mengalah?"

Selama dua tahun pernikahan mereka, sudah terlalu banyak hal yang Diandra pendam seorang diri.

Dulu dia bukan perempuan yang mudah menangis. Seberat apa pun masalah yang dihadapinya, dia selalu bisa berdiri sendiri.

Namun setelah menikah dengan Bastian, hatinya seolah menjadi jauh lebih rapuh.

Mungkin karena untuk pertama kalinya dia memiliki seseorang yang sangat dia cintai.

Dan justru orang itu pula yang paling sering membuatnya terluka.

"Aku capek..."

Diandra mencengkeram ujung selimut.

"Aku benar-benar capek, Mas."

Isakannya kembali pecah.

---

Bastian tiba di rumah sakit beberapa saat kemudian.

Dia langsung menuju kamar Serly.

"Bagaimana keadaan Serly, Om?"

Pria paruh baya yang berdiri di depan kamar itu segera menoleh.

"Untungnya lukanya tidak terlalu parah. Dokter masih mengawasinya."

Bastian mengembuskan napas lega.

"Syukurlah."

Namun jauh di dalam hatinya, wajah Diandra masih terus terbayang.

Untuk pertama kalinya, Bastian mulai menyadari bahwa mungkin selama ini bukan hanya Serly yang membutuhkan dirinya.

Ada seorang istri di rumah yang juga sedang menunggunya.

Dan mungkin, jika dia terus terlambat menyadarinya, suatu hari nanti Diandra benar-benar tidak akan menunggunya lagi.

Abian mengangguk pelan.

"Terima kasih sudah datang menjenguk Serly, Bastian," ucap Aretha dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bastian tersenyum tipis. "Tante nggak perlu berterima kasih. Bagaimanapun, Serly pernah menjadi bagian penting dalam hidup saya."

Aretha menarik napas panjang.

"Kalau saja kamu masih menjadi suaminya..."

Kalimat itu terhenti karena tangisnya sendiri.

Abian segera merangkul bahu istrinya.

"Sudahlah, Ma. Jangan menangis."

Aretha menggeleng.

"Bagaimana Mama bisa tenang? Anak kita selama ini menanggung semuanya sendirian."

Bastian terdiam.

Aretha menatapnya dengan tatapan penuh kesedihan.

"Serly sebenarnya masih sangat mencintai kamu. Dia sengaja membuatmu membencinya agar kamu mau menceraikannya."

Bastian mengangkat wajah.

"Maksud Tante?"

"Dia pura-pura dekat dengan pria lain. Semua itu hanya supaya kamu punya alasan untuk meninggalkannya."

Bastian membeku.

"Dia bilang, kalau tetap bersamamu, hidupmu akan semakin sulit. Jadi dia memilih menghancurkan dirinya sendiri."

Dada Bastian terasa sesak.

Selama ini dia mengira Serly telah mengkhianatinya.

Ternyata perempuan itu justru menyimpan alasan yang sama sekali tidak pernah dia ketahui.

"Serly memang keras kepala," lanjut Aretha dengan suara bergetar. "Dia selalu berpikir kebahagiaan orang lain lebih penting daripada dirinya sendiri."

Abian menatap Bastian.

"Karena itu, Om berharap kamu mau melakukan satu hal."

"Apa, Om?"

"Temani Serly."

Bastian terdiam.

"Dokter bilang kondisinya tidak banyak berubah. Dia mungkin tidak punya waktu sebanyak yang kita harapkan."

Aretha menggenggam tangan Bastian.

"Serly cuma ingin menghabiskan waktu bersama orang-orang yang dia sayangi. Dan salah satu orang yang paling ingin dia temui adalah kamu."

Bastian menundukkan kepala.

"Aku akan menjaganya."

"Benarkah?"

"Iya, Tante."

Aretha mengusap air matanya.

"Terima kasih."

Abian kemudian menepuk bahu Bastian.

"Masuklah. Dari tadi Serly menunggu."

Bastian mengangguk.

Sebelum masuk, dia sempat menatap kedua orang tua Serly.

Ada rasa bersalah yang perlahan tumbuh di dalam dirinya.

Selama ini dia terlalu sibuk merasa dikhianati sampai tidak pernah mencoba mencari tahu alasan di balik semuanya.

Kini dia mulai bertanya-tanya...

Bagaimana jika keputusan mereka untuk bercerai dulu adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya?

Bastian membuka pintu ruang rawat.

Serly yang sejak tadi berbaring langsung menoleh.

Wajahnya seketika berubah cerah.

"Mas Bastian..."

Senyum kecil muncul di bibirnya.

Bastian berjalan mendekat dan duduk di kursi samping ranjang.

"Hai, Serly."

Serly menatapnya lama, seolah ingin memastikan pria yang dirindukannya itu benar-benar berada di hadapannya.

"Kamu datang."

"Iya."

"Aku kira kamu nggak mau datang lagi."

Bastian terdiam sejenak.

"Selama kamu masih membutuhkanku, aku akan datang."

Serly tersenyum, meski matanya perlahan berkaca-kaca.

Sementara di tempat lain, Diandra masih menunggu suaminya pulang tanpa tahu bahwa malam itu Bastian sedang mendengar sebuah kebenaran yang selama ini sengaja disembunyikan darinya.

"Bagaimana keadaanmu sekarang?"

Serly mencoba mengubah posisi tubuhnya. Melihat itu, Bastian segera bangkit dan membantunya duduk. Dia mengambil dua bantal, kemudian menyelipkannya di belakang punggung Serly agar perempuan itu bisa bersandar dengan nyaman.

"Tangan aku masih sakit."

Serly mengangkat tangannya yang terbalut perban.

Bastian memperhatikannya dengan cemas.

"Kok bisa sampai kecelakaan begini? Kamu harus lebih hati-hati."

"Aku mau menyeberang. Aku nggak sadar ada kendaraan dari arah sana."

"Kendaraan?"

Bastian mengernyit.

"Tadi Om Abian bilang kamu tertabrak mobil."

Serly terlihat gugup sesaat.

"Iya... ada motor yang menabrakku. Mobil di belakangnya malah kehilangan kendali."

Bastian masih menatapnya seolah ada sesuatu yang terasa janggal.

"Pokoknya mulai sekarang jangan ceroboh. Kalau mau menyeberang, lihat keadaan sekitar dulu."

Serly mengangguk.

"Iya, Mas."

Senyum kecil muncul di wajahnya.

Melihat Bastian duduk di sampingnya saja sudah membuat hatinya terasa hangat.

Dia memang sengaja mengambil risiko itu. Bukan karena ingin benar-benar terluka, tetapi karena dia ingin Bastian datang.

Untungnya kecelakaan tersebut tidak menyebabkan cedera serius.

Serly tahu tindakannya salah.

Namun rasa takut kehilangan Bastian jauh lebih besar daripada rasa bersalah yang dia rasakan.

Dia masih ingin mendapatkan kesempatan kedua.

"Mas..."

"Hm?"

"Kamu bisa temenin aku pulang nanti?"

Bastian terdiam.

"Dokter bilang aku boleh pulang sore ini. Katanya setelah infus selesai aku bisa pulang, tapi aku harus banyak istirahat."

Serly menatapnya penuh harap.

"Kamu yang antar aku, ya?"

Bastian tidak langsung menjawab.

Pikirannya kembali tertuju kepada Diandra.

Dia ingin segera pulang. Entah kenapa sejak meninggalkan rumah tadi, ada perasaan tidak nyaman yang terus mengganggunya.

Dia takut Diandra benar-benar mengambil keputusan untuk pergi.

Namun di sisi lain, dia sudah berjanji kepada Abian dan Aretha untuk menjaga Serly.

Bastian mengusap wajahnya pelan.

"Mas Bastian..."

Serly tiba-tiba meraih tangannya.

Bastian menatap jemari Serly yang menggenggam tangannya erat.

"Aku nggak akan meminta kamu tinggal lama."

Mata Serly mulai berkaca-kaca.

"Aku juga nggak akan meminta kamu menginap. Aku tahu kamu punya istri."

Dia menarik napas dengan susah payah.

"Aku tahu sekarang aku bukan siapa-siapa buat kamu."

"Serly..."

"Aku cuma ingin sekali saja merasa ada seseorang yang masih peduli sama aku."

Air mata Serly akhirnya jatuh.

"Aku tahu aku sudah nggak punya hak untuk meminta apa pun dari kamu. Tapi... tolong jangan pergi sekarang."

Bastian terdiam.

Melihat Serly menangis, hatinya kembali diliputi rasa iba.

"Sst..."

Bastian mengusap air mata di pipinya.

"Jangan menangis."

Serly justru semakin terisak.

Tanpa banyak berpikir, Bastian menarik tubuh Serly ke dalam pelukannya.

Di dalam pelukan itu, Serly memejamkan mata.

Dia tahu Bastian mungkin hanya merasa kasihan.

Namun untuk saat ini, dia memilih menikmati kehangatan itu.

Sementara jauh di dalam pikirannya, satu pertanyaan terus berputar di benak Bastian.

Bagaimana jika Diandra mengetahui dirinya sedang memeluk Serly sekarang?

Dan untuk pertama kalinya, Bastian merasa takut kehilangan seseorang yang selama ini dia anggap akan selalu menunggunya.

"Maaf ya, Mas. Aku malah merepotkanmu."

Bastian menggeleng.

"Kamu nggak merepotkan siapa-siapa. Jangan terlalu banyak berpikir. Kamu harus menjaga pikiran tetap tenang kalau ingin cepat pulih."

Serly menatapnya dengan mata berkaca-kaca.

"Dokter bilang aku harus bahagia."

Bastian mengangguk.

"Iya. Jadi jangan memikirkan hal-hal yang bikin kamu sedih."

Serly tersenyum tipis.

"Kalau begitu, kebahagiaanku memang kamu."

Bastian terdiam.

"Aku ingin selalu dekat denganmu. Kalau boleh, aku ingin kamu menemaniku setiap waktu. Aku juga ingin menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersama anak-anak."

Dia menunduk.

"Tapi aku sadar aku nggak bisa memaksamu."

"Serly..."

"Aku tahu kamu sudah punya istri. Karena itu aku nggak pernah benar-benar menuntut apa pun darimu."

Air mata kembali menggenang di matanya.

"Tapi kenapa Diandra begitu membenciku?"

Bastian menghela napas.

"Dia mungkin sedang emosi."

"Dia tahu waktuku nggak banyak."

Suara Serly bergetar.

"Tapi dia tetap menuduhku sebagai perempuan yang merebut suaminya."

Bastian menatapnya.

"Kamu bukan perempuan seperti itu."

Serly terdiam.

"Jangan terlalu memikirkan perkataan Diandra. Dia sebenarnya orang yang baik. Mungkin emosinya sedang tidak stabil."

Ada rasa kesal yang melintas di wajah Serly.

Namun dia segera menyembunyikannya.

Dia tidak boleh terburu-buru.

Kalau Bastian masih membela Diandra, berarti hatinya belum sepenuhnya berpihak kepadanya.

Serly yakin, selama dia masih memiliki waktu, dia bisa membuat Bastian kembali mencintainya.

Dan jika saat itu tiba, Diandra tidak akan lagi menjadi bagian dari kehidupan Bastian.

---

Pukul sebelas siang.

Diandra menghentikan mobilnya di depan sekolah.

Selama beberapa bulan terakhir, setelah Serly kembali hadir dalam kehidupan Bastian, perempuan itu memang lebih sering menjemput anak-anak.

Namun hari ini Diandra datang sendiri.

Serly sedang berada di rumah sakit karena kecelakaan yang membuat semua orang panik.

Diandra mematikan mesin mobil.

"Semoga kecelakaannya benar-benar bikin dia kapok."

Kalimat itu keluar begitu saja dari bibirnya.

Diandra masih tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Serly.

Seolah-olah apa pun akan dilakukan perempuan itu demi mendapatkan kembali Bastian.

Mulai dari membuat dirinya terlihat tidak berdaya sampai memainkan perasaan semua orang di sekitarnya.

Diandra menghela napas.

Dia tidak tahu bagaimana akhir dari semua ini.

Namun satu hal yang dia yakini, setiap kebohongan pasti memiliki waktunya sendiri untuk terbongkar.

Dan saat kebenaran itu muncul, semua orang akan menerima akibat dari pilihan masing-masing.

Diandra keluar dari mobil dan berdiri di depan gerbang sekolah.

Tak lama kemudian, anak-anak mulai keluar dari kelas.

Dua sosok kecil langsung terlihat olehnya.

"Mommy!"

Azzura berlari menghampiri Diandra.

Di belakangnya, Azzam ikut berlari kecil dengan tas yang bergoyang-goyang di punggungnya.

Diandra tersenyum dan membuka kedua tangannya.

"Sini, Sayang."

Azzura langsung memeluknya.

Azzam menyusul, berdiri di sisi ibunya sambil tersenyum lebar.

Untuk sesaat, semua masalah tentang Bastian dan Serly terasa jauh.

Diandra hanya ingin menikmati waktu bersama kedua anaknya.

Tanpa dia sadari, dari kejauhan seseorang memperhatikan mereka dengan tatapan penuh perhatian.

"Hai, Sayang."

"Ayo ke rumah sakit."

Diandra mengernyit. "Kenapa?"

"Tadi Mama Serly telepon Azzura . Katanya Mama nggak bisa jemput karena kecelakaan. Azzura mau lihat Mama."

Diandra menarik napas panjang.

Entah kenapa, setiap kali Serly membutuhkan sesuatu, selalu saja anak-anak ikut terseret ke dalamnya.

Namun Diandra tidak ingin memperdebatkan hal itu di depan Azzura. Dia sudah berkali-kali mengingatkan putrinya agar tidak ikut campur dalam urusan orang dewasa.

Sayangnya, Azzura masih terlalu polos untuk memahami semuanya.

"Mommy, ayo ke rumah sakit."

"Kalau Azzura mau melihat Mama, nanti kita pergi bersama."

Azzam yang sejak tadi diam tiba-tiba menyahut.

"Azzam nggak mau."

Azzura langsung menoleh.

"Kamu nggak mau ketemu Mama?"

"Nggak."

"Kenapa?"

Azzam mengerucutkan bibir.

"Karena Mama bikin Mommy sedih."

Diandra terdiam.

Azzura menggeleng cepat.

"Mama nggak jahat. Mama itu ibu kandung kita."

"Aku tahu."

"Kalau begitu jangan ngomong begitu."

Azzam hendak membalas, tetapi Diandra segera menyentuh bahunya.

"Sudah. Jangan bertengkar."

"Tapi Azzam yang mulai, Mommy," kata Azzura.

"Iya, Mommy tahu. Sekarang sudah cukup."

Diandra mengusap rambut keduanya.

"Kalau Azzura ingin menjenguk Mama, kita pergi bersama."

"Yeay!"

Azzura langsung berlari kecil menuju mobil.

Sementara itu, Azzam masih berdiri di samping Diandra.

"Sayang, ayo masuk."

Diandra menggenggam tangannya.

Namun Azzam tidak bergerak.

"Kenapa?"

"Azzam nggak mau Mommy pergi ke rumah sakit."

Diandra berjongkok di hadapannya.

"Kenapa, hm?"

Azzam menunduk.

"Azzam nggak mau Mommy lihat Daddy sama Mama Serly."

Hati Diandra langsung terasa nyeri.

Dia tidak pernah menyangka anak seusia Azzam bisa memahami keadaan sekelilingnya sedalam itu.

Bahkan ketika orang dewasa memilih diam, anak kecil ini justru bisa merasakan kesedihannya.

"Jangan pergi, Mommy."

Diandra tersenyum lembut meskipun matanya mulai berkaca-kaca.

"Mommy nggak apa-apa."

"Tapi..."

"Kita ke sana bukan untuk bertengkar. Azzam juga bisa menjenguk Mama Serly. Doakan supaya dia cepat sembuh."

Azzam masih terlihat ragu.

"Azzam nggak mau Mommy sedih."

"Mommy janji akan baik-baik saja."

Diandra menggenggam kedua tangan putranya.

"Kalau Azzam tetap di samping Mommy, Mommy pasti kuat."

Azzam terdiam cukup lama.

Akhirnya dia mengangguk kecil.

"Ya sudah."

Diandra tersenyum.

"Tapi Mommy jangan jauh-jauh dari Azzam."

"Kenapa?"

"Azzam mau melindungi Mommy."

Mata Diandra langsung memanas.

"Nanti kalau Mommy sedih, genggam tangan Azzam. Jangan nangis sendirian."

Diandra memeluk putranya erat.

"Terima kasih, Sayang."

Di tengah permasalahan rumah tangganya yang terasa semakin rumit, Diandra bersyukur masih memiliki kedua anak yang menjadi alasan dirinya terus bertahan.

Azzam mungkin masih kecil.

Namun caranya melindungi sang ibu membuat Diandra merasa tidak benar-benar sendirian.

"Mommy! Azzam! Ayo!"

Teriakan Azzura dari dalam mobil membuat keduanya menoleh.

"Azzura sudah nggak sabar ketemu Mama," keluh Azzam.

Diandra terkekeh kecil.

"Ayo."

Azzam menggenggam tangan ibunya erat.

"Pegang terus ya, Mommy."

"Iya."

Mereka bertiga kemudian masuk ke mobil.

Diandra menyalakan mesin dan melajukan kendaraan menuju Rumah Sakit Pelita, sementara tangan kecil Azzam masih menggenggam tangannya dari kursi belakang.

Kali ini, Diandra tidak tahu apa yang akan menunggunya di rumah sakit.

Namun setidaknya dia tidak menghadapinya sendirian.

Diandra akhirnya sampai di rumah orang tua Serly.

Dalam perjalanan, Bastian sempat menelepon dan mengatakan bahwa Serly sudah diperbolehkan pulang. Dia meminta Diandra mengantar anak-anak langsung ke rumah orang tua Serly.

Sejujurnya, Diandra ingin berbalik arah.

Dia tidak ingin bertemu Serly, apalagi harus berhadapan dengan kedua orang tua perempuan itu. Namun sebagai seorang ibu, Diandra tidak mungkin membiarkan urusan orang dewasa membuat anak-anaknya terlantar.

Dia harus memastikan mereka tiba dengan selamat.

Begitu mobil berhenti, Azzura langsung membuka pintu.

"Yeeey, sudah sampai!"

"Azzura, hati-hati!"

Pesan Diandra terlambat. Putrinya sudah berlari menuju halaman.

Diandra menghela napas.

Sejak Serly kembali hadir dalam kehidupan mereka, entah kenapa ucapan Diandra seolah tidak lagi didengar Azzura.

Dia berusaha tidak mengambil hati.

Di depan rumah, Aretha dan Abian sudah berdiri menyambut cucu mereka.

"Oma! Opa!"

Azzura berlari ke arah mereka.

"Halo, cucu Oma."

Aretha langsung memeluk Azzura. Abian tersenyum sambil mengusap kepala cucunya.

Diandra kemudian turun dari mobil bersama Azzam.

Berbeda dengan kakaknya, Azzam tidak langsung berlari.

Dia justru menunggu ibunya.

"Mommy, sini tangannya."

Azzam mengulurkan tangan kecilnya.

Diandra tersenyum haru.

"Terima kasih, Pangerannya Mommy."

Dia menyambut tangan itu dan menggenggamnya erat.

Azzam kemudian berjalan di samping ibunya sambil mengayunkan tangan mereka perlahan.

Pemandangan sederhana itu justru membuat Aretha dan Abian saling berpandangan.

Keduanya tidak menyukai kedekatan Azzam dengan Diandra.

Bagi mereka, Diandra hanyalah ibu sambung.

Mereka merasa seharusnya Azzam lebih dekat dengan keluarga Serly.

Aretha akhirnya berjalan menghampiri.

"Halo, Azzam."

Azzam menatapnya.

Belum sempat anak itu menjawab, Aretha langsung meraih tubuhnya dan memeluknya.

Genggaman tangan Azzam terlepas dari tangan Diandra.

Diandra spontan menatap tangan kosongnya.

Sementara Azzam justru terlihat tidak nyaman.

Matanya segera mencari Diandra.

"Mommy..."

Diandra tersenyum tipis.

"Mommy di sini."

Mendengar itu, Azzam sedikit tenang.

Namun Diandra bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda dari sambutan keluarga Serly hari ini.

Dan firasatnya mengatakan, kedatangannya ke rumah ini tidak akan sesederhana mengantar anak-anak saja.

Secara spontan, Azzam menarik tubuhnya menjauh dari Aretha.

Dia tidak suka dipeluk paksa.

Begitu terbebas, tangan kecilnya langsung mencari tangan Diandra dan menggenggamnya erat.

Diandra sendiri sampai terkejut melihat keberanian putranya.

Sementara Aretha terdiam dengan wajah tidak percaya. Dia tidak menyangka cucu kesayangannya berani menolak dirinya seperti itu.

"Azzam, kenapa kamu bersikap begitu kepada Oma?" tegur Abian.

Pria itu maju beberapa langkah sambil tetap menggandeng Azzura.

Kemudian tatapannya beralih kepada Diandra.

"Diandra, kamu yang mengajari Azzam bersikap seperti itu?"

Diandra membuka mulut hendak menjawab.

Namun Azzam lebih dulu menyela.

"Bukan Mommy!"

Suaranya tegas.

"Mommy nggak nyuruh Azzam apa-apa. Azzam sendiri yang nggak suka dipeluk."

Diandra menatap putranya.

Hatinya terasa sesak sekaligus hangat.

Anak sekecil itu bahkan berusaha melindunginya dari tuduhan orang dewasa.

Dia ingin sekali membawa Azzam pergi dari tempat ini.

Azzam masih terlalu kecil untuk berada di tengah konflik keluarga seperti ini.

"Sudahlah, Pa."

Aretha segera menyentuh lengan suaminya.

"Jangan diperpanjang."

Abian mendengus.

"Ayo, cucu Opa. Kita masuk. Mama dan Daddy kamu sudah menunggu di kamar."

Kata kamar sengaja ditekankannya.

Dulu mungkin kalimat seperti itu akan membuat Diandra merasa sakit.

Namun sekarang tidak lagi.

Dia sudah terlalu lelah untuk cemburu pada sesuatu yang bahkan tidak lagi ingin dia pertahankan.

"Ayo, Opa."

Azzura langsung mengikuti Abian masuk ke rumah.

Aretha kemudian kembali mendekati Azzam.

"Azzam, sini sama Oma."

Dia mengulurkan tangan.

Azzam langsung menggeleng.

"Nggak mau."

Aretha terdiam.

"Azzam mau sama Mommy."

Genggaman tangannya pada Diandra semakin erat.

"Ayo, Mommy."

Dia bahkan menarik tangan Diandra agar ikut masuk.

Diandra mengikuti langkah kecil putranya.

Begitu mereka melewati pintu, Azzam mendongak.

"Mommy jangan takut."

Diandra tersenyum.

"Kenapa?"

"Kan ada Azzam."

Mata Diandra langsung terasa panas.

"Iya, Sayang. Terima kasih."

"Sama-sama, Mommy."

Diandra menarik napas panjang.

Dia harus tetap tenang.

Ini bukan pertama kalinya dia datang ke rumah keluarga Serly. Selama ini dia memang sering mengantar anak-anak kemari.

Dan selama itu pula, berbagai sindiran sudah terlalu sering dia dengar.

Kalau semua ucapan mereka dimasukkan ke hati, mungkin sejak lama Diandra sudah kehilangan kewarasannya.

Karena itu, kali ini dia memilih tidak peduli.

Tidak lama lagi semuanya akan selesai.

Perceraian itu akan membuatnya bebas.

Sebentar lagi kamu bebas, Diandra.

Bertahan sedikit lagi.

Diandra menguatkan dirinya sendiri.

Tiba-tiba Azzura menunjuk ke arah ruang tengah.

"Itu Azzam!"

Serly yang sedang duduk langsung menoleh.

Wajahnya berubah cerah.

"Azzam..."

Serly membuka kedua tangannya.

"Sini, Sayang. Mama mau peluk."

Azzam tidak menjawab.

Dia hanya berdiri di samping Diandra dan semakin mengeratkan genggaman tangannya.

Tatapan kecilnya tertuju kepada Serly tanpa sedikit pun keinginan untuk mendekat.

Diandra menatap putranya.

Untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa mungkin dirinya tidak benar-benar sendirian dalam menghadapi keluarga ini.

Azzam masih kecil.

Namun dia tahu dengan jelas, siapa yang ingin dia lindungi.

1
sunaryati jarum
Sherly yang bukan anak Abian,tapi anak Artha dari pria lain
sunaryati jarum
Tak sabar menunggu terjawabnya banyak teka- teki
sunaryati jarum
Mana upnya Thoor
sunaryati jarum
Padahal itu hanya untuk membuktikan, tidak benar ingin membunuhnya
sunaryati jarum
Itu karena salahmu membiarkan Sherly meracuni pikiran Azura.Amibat leluasa masuk rumahmu.Ksmu itu goblok jika benar sakit kanker kamu pernah lihat rekam medisnya atau tanya dokternya? Yang benar itu kantongnya kering karey selingkuhannya tidak royal lagi.
sunaryati jarum
Kamu suami dan lelaki tidak tegas dan mudah dimanipulasi akting wanita tidak tahu malu,Sherly.Kamu juga tidak punya hati dan tidak tahu malu Bastian,masih memberikan perhatian pada mantanmu.Jika tahu tujuannya kamu bakalan menyesal
sunaryati jarum
Baru mampir
Ariany Sudjana
ini Bastian yang bodoh, mengabaikan Diandra demi pelacur murahan seperti Serly 🤣🤣😂😂 dan bodohnya Bastian percaya semua omongan si pelacur murahan itu. dan bodohnya Azura percaya sekali kalau si pelacur murahan itu sayang sama dia dan membenci Azzam. katanya ibu kandungnya, dan mereka kembar, tapi kenapa Serly membenci Azzam ?
Ariany Sudjana
kamu suami yang bodoh, sudah punya istri seperti Diandra, lebih memilih memperhatikan si pelacur murahan, yang hanya bisa playing victim 🤣🤣😂😂
Protocetus
mampir ya ke novelku Remontada
Eneng Farida
mending cerai aja biar kmu bastian menyesal biar diandra punya suami baru yg akan membahagiakan nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!