Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:531
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 009

Bekal Cinta

Sebelum Laras sempat menutup pintu mobil, Bram memanggilnya.

“Tunggu.”

Laras membungkuk di samping pintu penumpang. “Apa?”

Tatapan Bram turun pada blus hitam yang berhenti tepat di pinggang rok. Ketika Laras bergerak, sepotong kecil kulit perutnya terlihat.

“Kamu mau ketemu siapa pakai baju begitu?”

“Bu Ratna.”

“Perempuan?”

Laras menahan tawa. “Dosenku. Ibu-ibu.”

“Tetap terlalu cantik.”

“Aku masuk dulu.”

Bram menarik pintu hingga terbuka lagi. “Duduk.”

“Bram, aku bisa terlambat.”

Laras baru saja duduk ketika Bram membungkuk melewati tubuhnya. Sabuk pengaman yang tadi sudah dilepas ditarik kembali dan dikunci. Wajah laki-laki itu berada begitu dekat hingga Laras bisa melihat titik keringat di pelipisnya.

“Simpan nomor pribadiku,” katanya.

“Aku sudah punya.”

“Yang kemarin nomor kedua. Ini yang selalu aktif.” Bram mengetikkan nomor lain ke ponsel Laras. “Butuh apa pun, telepon aku.”

“Aku cuma mau menerjemahkan dokumen.”

“Tetap telepon.”

Laras memandang sabuk yang kembali mengikat tubuhnya. “Sekarang boleh turun?”

Bram membuka pengunci. “Boleh.”

Sebelum pergi, Laras menunjuk kotak makan di jok belakang. “Bekalnya jangan lupa.”

“Mana mungkin lupa? Ada wajah senyum di telurnya.”

Laras menutup pintu dengan pipi hangat, lalu berjalan masuk ke kampus.

Bu Ratna menunggu di ruang kerja yang dipenuhi buku dan map. Perempuan itu memeluk Laras, menyuruhnya duduk, lalu langsung membuka dokumen proyek.

“Ibu senang akhirnya kamu datang.”

“Maaf baru bisa sekarang, Bu.”

“Kamu pernah bilang sulit cari tempat tinggal dan tidak berani sendirian di Jakarta.” Bu Ratna mendorong setumpuk dokumen kepadanya. “Sekarang sudah ada tempat?”

“Untuk sementara menginap di rumah teman.”

Tiga bulan sebelumnya, Bu Ratna sudah menawarkan proyek yang sama. Laras menolaknya karena bayaran awal akan habis untuk deposit kos, ongkos, dan makan sebelum pekerjaan selesai. Wahyu tidak bisa meninggalkan Kebumen, sementara Laras tidak berani tinggal sendiri di kota yang sudah lama ia tinggalkan.

“Kalau proyek ini cocok, saya punya beberapa kenalan di biro penerjemahan,” kata Bu Ratna. “Tapi saya nggak mau kamu mengambil keputusan karena terdesak. Kamu pikirkan tempat tinggal dan keamanan dulu.”

“Dulu saya pikir dua hal itu nggak mungkin saya punya.”

“Sekarang?”

Laras teringat saldo seratus juta, lalu suara Bram yang menyuruhnya mengambil keberanian.

“Sekarang saya ingin mencoba.”

Bu Ratna mengangguk puas. “Bagus. Karena saya memanggilmu bukan untuk menolong mantan mahasiswa. Saya memanggilmu karena kualitas kerjamu.”

Bu Ratna menjelaskan pekerjaan itu: terjemahan artikel, beberapa wawancara, tenggat dua minggu, dan bayaran yang jauh lebih tinggi daripada pekerjaan lepas yang biasa Laras ambil di Kebumen. Semua data harus dijaga, dan jika proyek berkembang mereka akan menandatangani perjanjian kerahasiaan.

Laras membaca dua halaman pertama. Tangannya yang semula kaku mulai bergerak cepat memberi catatan. Saat menemukan istilah yang tidak tepat, ia menawarkan padanan dan menjelaskan konteksnya.

Bu Ratna tersenyum. “Kemampuanmu nggak hilang.”

“Saya kira sudah berkarat, Bu.”

“Yang berkarat cuma kepercayaan dirimu.”

Ia memberikan satu rekaman wawancara percobaan. Laras memasang earphone, mengetik transkrip, lalu langsung menerjemahkan bagian tersulit. Bu Ratna membandingkan hasilnya dengan versi lama dan mencoret dua istilah yang ternyata lebih tepat dalam pilihan Laras.

“Ini yang saya butuhkan,” katanya. “Orang yang bukan cuma mengganti bahasa, tapi mengerti maksud.”

Kalimat itu menempel sampai siang.

Laras bekerja tanpa melihat jam. Ia menikmati bunyi keyboard, diskusi soal pilihan kata, dan rasa puas ketika satu paragraf akhirnya terdengar tepat. Di Kebumen, pekerjaannya sering terasa seperti menunggu hari gajian. Di ruangan itu, ia kembali merasa berguna.

Ponselnya bergetar saat istirahat. Bram mengirim foto kotak bekal yang sudah kosong.

`Teman-teman iri. Aku bilang istriku yang masak.`

Laras segera membalas.

`Hapus kata istri.`

Jawaban datang beberapa detik kemudian.

`Nanti kalau sudah jadi istri, nggak perlu dihapus.`

Laras mengunci layar, tetapi senyumnya telanjur muncul. Bu Ratna yang melihat hanya mengangkat alis tanpa bertanya.

Menjelang sore, Laras menerima pembayaran muka proyek. Angkanya tidak sebanding dengan uang Bram, tetapi justru uang itulah yang membuat dadanya terasa lapang. Uang hasil kemampuannya sendiri.

Ketika kembali ke apartemen, Tiara sudah pulang dari spa. Wajahnya berkilau dan jubah tipis membungkus tubuhnya.

“Sini, gue lihat.” Tiara menarik Laras ke sofa dan menyentuh pipinya. “Kulit lo bagus banget padahal nggak pernah treatment. Pakai skincare apa?”

Laras mengeluarkan pouch kecil dari tas. Isinya sabun wajah, pelembap, dan tabir surya lokal.

“Cuma ini.”

Tiara mengambil salah satu botol dan membaca label harga yang masih tertempel. “Dua ratus ribu satu set?”

“Kurang lebih.”

“Ya ampun. Gue sih nggak bisa pakai yang murahan begini. Kulit gue langsung alergi.” Tiara meletakkan botol itu seolah takut isinya menempel. “Tapi kulit lo memang tahan banting.”

Laras tertawa kecil agar Tiara tidak melihat luka yang muncul. Ia memasukkan kembali botol-botol tersebut dengan rapi.

“Yang penting cocok.”

“Besok ikut gue ke klinik. Nanti gue cariin yang bagus.”

“Nggak usah. Ini cukup.”

Laras menutup resleting pouch dan menyimpannya paling bawah di dalam tas.

Bayaran pertama dari Bu Ratna masih terasa hangat di rekeningnya. Laras lebih ingin menggunakannya untuk sewa tempat dan ongkos kerja daripada membeli wajah baru agar pantas berada di dunia Tiara.

Ia tidak melihat Bram berdiri di pintu dapur. Laki-laki itu tidak ikut bicara, tetapi matanya mengikuti pouch murah tersebut sampai benar-benar hilang dari pandangan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!