Tiyas adalah seorang istri yang setia dan penuh cinta, namun dunianya hancur seketika saat ia mendapati suaminya, Gio, berselingkuh dengan Mia—yang tak lain adalah saudara sepupunya sendiri. Pengkhianatan berlapis ini meremukkan hatinya, memaksa Tiyas untuk menelan kepahitan dan mengumpulkan serpihan harga dirinya yang tersisa.
Di tengah badai kekecewaan tersebut, takdir mempertemukannya dengan Narendra, yang bernasib serupa sebagai suami Mia yang juga dikhianati. Berawal dari rasa sakit dan luka yang sama, Tiyas dan Narendra perlahan menemukan ruang aman untuk saling menguatkan, menumbuhkan kenyamanan, serta merajut harapan baru di atas reruntuhan masa lalu mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Jam menunjukkan pukul satu malam. Keheningan merayap di setiap sudut rumah megah yang sepi itu.
Narendra yang tertidur di sofa ruang tengah lantai bawah perlahan membuka matanya.
Samar-samar, pendengarannya menangkap suara isakan dan tangisan lirih yang memecah malam.
Ia langsung bangkit dari tempat tidur sementara itu dan bergegas melangkah menuju ke atas.
Ceklek!
Ia membuka pintu kamar utama yang sedikit terbuka dan melihat Tiyas yang sedang menangis tersedu-sedu.
Wanita itu meringkuk di sudut ranjang, menyembunyikan wajahnya di balik lipatan lutut.
"Tiyas," panggil Narendra lembut.
Tiyas menoleh ke arah Narendra. Matanya sembap, wajahnya memerah, dan pandangannya tampak begitu rapuh serta putus asa.
"Narendra, aku capek. Aku capek, Narendra," bisik Tiyas dengan suara terputus-putus di sela tangisnya.
"Kenapa, Gio tega melakukan semua ini padaku? Apa salahku, Naren?"
Melihat pertahanan emosional Tiyas yang akhirnya runtuh total setelah sekian lama berpura-pura kuat, hati Narendra serasa disayat.
Tanpa ragu, Narendra langsung mendekat dan memeluk tubuh Tiyas yang sedang sakit itu.
Ia membiarkan Tiyas menumpahkan seluruh air mata dan rasa sakit yang selama ini terpendam rapat di dadanya.
Namun saat jemarinya mengusap punggung Tiyas, Narendra tersentak.
Kulit wanita itu terasa teramat panas menembus pakaian tipisnya.
"Kamu demam, Tiyas," ucap Narendra cemas, mengusap pelipis Tiyas yang dibasahi peluh hangat.
"Tunggu sebentar, jangan ke mana-mana," bisik Narendra menenangkan.
Narendra segera bergegas menuju ke dapur di lantai bawah.
Ia menyalakan kompor dan memasak air hangat, lalu menyiapkan mangkuk kecil serta kain bersih untuk mengompres Tiyas.
Sambil menunggu air hangat siap, Narendra mengepalkan tangannya di atas meja dapur.
Rasa iba mendalam pada Tiyas berbaur dengan kemarahan yang kian membakar dada terhadap Gio—pria tak tahu diri yang tega menghancurkan wanita se-tulus dan se-hebat Tiyas.
Setelah air siap, Narendra membawa mangkuk dan kain kompres kembali ke kamar lantai atas untuk merawat wanita yang kini menjadi fokus utamanya.
Narendra duduk di tepi ranjang, meremas pelan kain bersih yang telah direndam air hangat, lalu mengompres kening Tiyas dengan penuh kehati-hatian. Senyap malam hanya diisi oleh helaan napas mereka berdua.
"Maaf ya, Naren. Aku merepotkan kamu lagi," bisik Tiyas pelan, menatap Narendra dengan tatapan bersalah.
Narendra menghentikan gerakannya sejenak. Ia menghela napas panjang, lalu menatap Tiyas lurus-lurus.
"Untuk apa kamu minta maaf, Tiyas? Kamu ini sedang sakit," ucap Narendra dengan suara berat.
Ia membuang pandangannya ke samping sebelum kembali menatap Tiyas, kali ini dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Lagipula, bukan cuma kamu yang terluka. Di sini, aku juga sakit, Tiyas."
Tiyas tertegun, menatap Narendra yang selama ini selalu tampil sebagai pelindung yang kokoh dan tak tersentuh.
"Melihat kamu hancur seperti ini karena Gio, itu bikin hatiku seperti diiris-iris," lanjut Narendra, suara tegasnya mulai bergetar hebat saat rahasia perasaannya tak lagi sanggup ia bendung.
"Aku juga dikhianati oleh Mia, Tiyas. Wanita yang selama ini aku percaya, aku perjuangkan, ternyata tega menusukku dari belakang bersama suamimu. Aku merasa bodoh, aku merasa gagal menjaga keluargaku sendiri. Sakit sekali rasanya harus pura-pura kuat di hadapan semua orang, seolah aku tidak hancur saat tahu orang yang paling kita cintai malah merencanakan kehancuran kita."
Setetes air mata akhirnya menetas dan jatuh membasahi pipi Narendra.
Pria itu menunduk, tak sanggup lagi menahan runtuhnya pertahanan emosional yang selama ini ia bangun rapat-rapat.
Tiyas melupakan rasa sakit di tubuhnya sendiri. Tanpa ragu, ia bangkit menyandarkan tubuhnya dan merengkuh bahu Narendra, memeluk pria itu dengan erat.
Narendra pun membalas pelukan Tiyas, menyandarkan kepalanya di bahu Tiyas.
Di dalam kamar yang hening itu, mereka berdua menangis sesenggukan.
Dua jiwa yang sama-sama dikhianati dan hancur, kini saling menyalurkan luka dan kekuatan dalam pelukan hangat.
"Ini tangisan kita yang terakhir, Tiyas. Sebelum mereka pulang," bisik Narendra di sela isakannya, menegaskan bahwa tidak akan ada lagi air mata kesedihan setelah ini—hanya ada keberanian dan pembalasan.
Tiyas menganggukkan kepalanya pelan. "Iya, Naren. Ini yang terakhir."
Tiyas melepaskan pelukannya perlahan, lalu mengangkat kedua tangannya untuk menghapus air mata di pipi Narendra.
Namun, karena gerakan tangan Tiyas yang masih agak lemas, kain kompres basah yang tadi bertengger di keningnya tersenggol dan...
PLAK!
Kain kompres hangat itu jatuh tepat menimpa seluruh wajah Narendra.
Narendra tertegun seketika di balik kain basah itu, sementara Tiyas yang kaget langsung membeku sebelum akhirnya meledak dalam tawa kecil.
Narendra menarik kain itu dari wajahnya, menatap Tiyas dengan alis bertaut yang kocak, lalu ia pun tak sanggup menahan tawanya sendiri.
Di tengah pipi yang masih basah oleh air mata, mereka berdua akhirnya tertawa terbahak-bahak di atas peraduan.
Suara tawa yang lepas dan tulus itu perlahan mengusir seluruh pekat dan dukacita yang sempat memenuhi ruangan, menyisakan tekad baru yang jauh lebih kuat untuk menghadapi hari esok.
Setelah sisa-sisa tawa mereka mereda, Narendra mengambil kembali kain kompres yang jatuh tadi dan memerasnya ulang di dalam mangkuk air hangat. Ia menatap Tiyas dengan sorot mata yang penuh kelembutan.
"Sudah, sekarang rebahkan tubuhmu lagi," pinta Narendra pelan namun penuh perhatian. "Demammu masih belum turun."
Tiyas menurut. Ia menyandarkan kembali kepalanya di atas bantal empuk.
Narendra dengan perlahan melekatkan kain hangat itu di kening Tiyas, memastikan letaknya pas agar rasa hangatnya meresap dan meredakan pusing di kepala wanita itu.
Saat tangan Narendra hendak ditarik kembali, Tiyas secara refleks menggerakkan jemarinya dan menggenggam erat tangan Narendra.
Tatapan mata Tiyas yang masih agak redup karena pengaruh demam menatap lurus ke dalam manik mata pria di sampingnya.
"Temani aku, Naren." bisik Tiyas lirih. Ada nada kepasrahan dan rasa aman yang besar dalam permintaan singkat itu.
Narendra tertegun sejenak, merasakan hangat jemari Tiyas yang melingkari tangannya.
Ia menganggukkan kepalanya tanpa ragu. "Iya, aku di sini. Aku tidak akan ke mana-mana."
Narendra kemudian bergerak pelan, melepas sepatu kasualnya, lalu naik ke atas peraduan luas itu.
Tanpa diminta, ia mengambil sebuah guling tebal dan membentangkannya persis di tengah-tengah tempat tidur sebagai batas penghalang yang tegas di antara mereka berdua.
Tindakan spontan Narendra yang begitu menjaga kehormatan dan kenyamanannya membuat dada Tiyas berdesir hangat.
Di tengah badai pengkhianatan yang dilakukan suaminya sendiri, pria di sampingnya ini justru hadir membawa ketulusan dan ketegasan moral yang tak tergoyahkan.
Narendra berbaring di sisinya, dipisahkan oleh guling.
Ia membiarkan tangan Tiyas tetap menggenggam jemarinya di atas guling tersebut.
"Tidurlah, Tiyas. Pejamkan matamu. Lima hari lagi, ketika kamu bangun dan pulih sepenuhnya, kita akan hadapi mereka bersama-sama," gumam Narendra berbisik halus di kegelapan malam.
Tiyas mengangguk pelan, menghembuskan napas lega, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memejamkan mata dengan perasaan tenang yang utuh.
udh jgain tiyas,posesif bgt smp ga bleh ngpa2in slain istrhat...sm clon mrtua pun ga pelit.....😀😀😀
sokooorrr.....😛😛😛
udh dpt rstu dr shbt n ortumu...mga kali ni klian bhgia,ga ada pngkhianatan lg sprti msa lalu....
aku udh mmpir...slm knal.....
crtanya seru,suka sm tiyas yg tegas dn tngguh....mga bhgia trs sm naren....😘😘😘