"Sayang, aku ke toilet sebentar ya," ucap Sean halus, sambil menepuk pelan jemari Aura yang berada di atas pangkuan.
Aura mengangguk pelan, memberikan senyuman terbaiknya. "Jangan lama-lama ya, Sean."
Sean berdiri dan melangkah menjauhi meja makan melingkar itu, menghilang di antara kerumunan alumni yang sedang asyik mengobrol. Aura kembali menyesap minuman dinginnya, mencoba menikmati suasana. Namun, jarum jam seolah berputar lambat. Lima menit berlalu, lalu sepuluh menit, hingga tak terasa hampir 15 menit Sean tak kunjung kembali ke meja mereka.
Rasa khawatir dan curiga mulai merayapi pikiran Aura. Dengan menghela nafas panjang, ia berpamitan singkat pada teman-teman seangkatannya lalu berdiri untuk menyusul kekasihnya. Langkah kakinya yang beralaskan gaun anggun dan sepatu hak tinggi mengayun perlahan menyusuri lorong katering yang agak remang-remang menuju area toilet.
Namun, sebelum langkahnya benar-benar sampai di depan pintu toilet pria, langkah Aura terhenti seketika.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-bayang Penyesalan Di Pagi Hari
Sinar matahari pagi yang hangat dan keemasan perlahan menerobos masuk melalui celah-celah gorden tipis di kamar tamu mansion Arsen. Cahaya itu menyapu lantai kayu yang dingin dan jatuh tepat di atas ranjang berukuran besar. Keheningan pagi di dalam mansion yang megah itu terasa begitu mencekam, hanya dihiasi oleh deru halus pendingin ruangan dan hembusan nafas gundah dari dua insan di dalamnya.
Di sudut kamar, Arsen sudah duduk tegap di atas sofa kulit berwarna hitam. Pria itu telah mengenakan kemeja putih bersih tanpa dasi dengan lengan yang dilipat rapi hingga ke siku. Jemari tangannya menggenggam cangkir kopi hitam yang masih menggepulkan uap tipis. Paras tampannya tampak begitu tenang dan datar, namun tatapan matanya yang tajam dan pekat menatap lurus ke arah ranjang tanpa berkedip sedikit pun.
Di atas tempat tidur, Aura perlahan mengerjapkan matanya. Kepala gadis itu terasa sangat berat, seolah dipukul oleh godam besar akibat pengaruh alkohol pekat semalam. Rasa pening yang menusuk membuat Aura meringis pelan sembari memegangi pelipisnya.
Namun, saat ia berusaha mengubah posisi duduknya, sensasi dingin menyapa kulit tubuhnya. Aura tersentak. Rasa asing dan lengket yang merayapi kesadarannya membuat matanya seketika membelalak lebar. Ia menyibak selimut tebal yang menutupi tubuhnya dan menyadari bahwa ia tak lagi mengenakan gaun marunnya.
Kesadaran Aura terlempar kembali pada bayangan-bayangan kejadian semalam. Potongan memori hadir bertubi-tubi di benaknya: pengkhianatan Sean dan Lyona di lorong kafe, rasa pahit alkohol yang ia teguk, sosok pria tampan yang menahannya di depan pintu, hingga sentuhan-sentuhan panas yang memenuhi malam panjang mereka.
Dengan jantung yang berdegup kencang bak ditabuh drum, Aura menolehkan kepalanya perlahan ke arah sudut ruangan.
Matanya bertabrakan langsung dengan pandangan mata Arsen yang dingin dan berwibawa. Pria itu menyilangkan kaki cantiknya, menyesap kopi hitamnya tenang tanpa mengucapkan sepatah kata pun, membiarkan Aura mencerna sendiri situasi mengejutkan yang kini mengurung mereka berdua.
Rasa malu, takut, dan penyesalan yang luar biasa seketika menyergap dada Aura, membuatnya menarik selimut rapat-rapat hingga menutup dadanya yang bergetar hebat.
"Akhirnya kau bangun juga," ucap Arsen datar, menghentikan ketegangan yang menggantung di udara. Suaranya yang berat dan tenang terdengar menggema samar di dalam kamar yang luas itu. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas meja kaca kecil di samping sofa, menyilangkan dada, lalu tetap menatap Aura dengan pandangan yang sulit diartikan.
Aura makin mempererat cengkeramannya pada selimut tebal yang membalut tubuhnya. Matanya yang membulat penuh ketakutan kini bergerak liar ke sekeliling ruangan—kamar mewah berpintu jati, gorden sutra tinggi, dan suasana asing yang makin mempertegas kenyataan pahit bahwa ia sedang berada di tempat yang tidak seharusnya.
"T-tuan... siapa?" bisik Aura dengan suara bergetar dan parau. Tenggorokannya terasa kering, dan tiap kata yang keluar dari bibirnya serasa menghantam dadanya sendiri. "Kenapa... kenapa aku ada di sini? Dan kita..."
Arsen tidak langsung menjawab. Pria itu berdiri dari sofanya, membetulkan letak lengan kemejanya yang tergulung rapi, lalu melangkah perlahan mendekati sisi tempat tidur. Postur tubuhnya yang tinggi kokoh memancarkan dominasi yang membuat Aura spontan menyusutkan tubuhnya ke belakang.
"Nama saya Arsen," ujar pria itu pelan namun berwibawa, berdiri tepat di samping ranjang sembari menatap Aura dari atas. "Dan kau yang memohon padaku semalam untuk membawamu keluar dari kafe itu."
Aura menahan nafasnya saat nama itu terngiang di ingatan kaburnya. Arsen... Nama itu terasa tidak asing, namun pikirannya yang masih dipenuhi sisa alkohol dan rasa pening tak mampu menghubungkan benang merahnya dengan cepat.
"Semalam kau mabuk berat," lanjut Arsen dingin, tanpa ada nada tuduhan atau penghakiman, hanya menyampaikan fakta yang membuat pipi Aura makin membara oleh rasa malu. "Dan mengenai apa yang terjadi di antara kita... kau yang memulainya, Aura."
Mendengar pria itu menyebut namanya dengan begitu fasih, tenggorokan Aura serasa tercekat total. Potongan ingatan semalam kembali berputar seperti mimpi buruk—bagaimana ia menarik tangan pria ini, bagaimana ia mencium bibir Arsen dengan keputusasaan akibat rasa sakit atas pengkhianatan Sean.
Air mata menetes tanpa bisa ditahan, melintasi pipi mulus Aura. Rasa bersalah, hina, dan penyesalan berbaur menjadi satu. Ia telah menyerahkan dirinya pada pria asing hanya demi melampiaskan amarah dan kepedihan hatinya pada Sean.
Melihat lelehan air mata itu, Arsen menghela nafas pendek. Ia tidak menunjukkan rasa bersalah, namun jemari tangannya bergerak mengambil jubah mandi bersih berdinding sutra yang terletak di ujung ranjang, lalu meletakkannya tepat di samping Aura.
"Mandilah. Pakai itu," kata Arsen, nadanya sedikit mengendur walau tetap terikat ketegasan seorang pemimpin. "Pakaian bersihmu sudah disiapkan oleh pelayan di luar. Setelah ini turunlah ke lantai bawah untuk sarapan. Ada hal penting yang harus kita bicarakan."
Arsen membalikkan badan dan melangkah menuju pintu keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Aura. Namun tepat di depan pintu, langkah kaki pria itu terhenti sejenak. Tanpa menoleh ke belakang, Arsen kembali bersuara.
"Dan satu hal lagi yang perlu kau tahu," ujar Arsen pelan. "Sean adalah keponakanku."
Brak.
Pintu kamar tertutup rapat bersamaan dengan melayotnya pertahanan diri Aura. Pernyataan terakhir dari pria itu menghantam kesadaran Aura bagai petir di siang bolong. Pria yang menghabiskan malam panjang bersamanya... adalah paman dari mantan kekasihnya sendiri.
Aura menyembunyikan wajahnya di balik kedua tangannya, membiarkan tangisnya pecah di tengah keheningan pagi mansion yang megah itu.