Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 — Bukti yang Berbicara
Sepanjang sisa malam, bengkel tua berubah menjadi ruang analisis dadakan. Wulan duduk dikelilingi tiga layar sekaligus, menyusun ribuan halaman dokumen digital yang berhasil mereka salin dari Cendana Data Nusantara, sementara Raka dan Bara membantu memilah berkas berdasarkan tanggal dan jenis transaksi.
"Ini dia," gumam Wulan menjelang subuh, matanya membesar menatap satu rangkaian dokumen yang akhirnya tersusun jelas di layarnya. "Struktur kepemilikan Cendana ternyata melewati empat lapis perusahaan cangkang berbeda — satu di Singapura, satu di Kepulauan Virgin Britania, dua lainnya terdaftar di Indonesia dengan nama direktur yang sama sekali tidak dikenal publik."
"Bisa dilacak ke Wirawan?" tanya Raka, mendekat ke layar.
"Lebih dari bisa," jawab Wulan, memperbesar satu dokumen transfer dana. "Salah satu perusahaan cangkang di Kepulauan Virgin Britania menggunakan nama 'Kusnandar Legacy Holdings' sebagai penerima dividen tahunan. Bukan penyamaran yang halus — sepertinya dia terlalu yakin tidak akan pernah ada yang menggali sedalam ini."
Bara bersandar ke kursi, menghela napas panjang. "Kesombongan orang yang sudah lama merasa tak tersentuh."
Tapi penemuan yang lebih mengkhawatirkan muncul satu jam kemudian, ketika Wulan membuka salinan draf lengkap kontrak merger yang belum pernah mereka lihat sebelumnya secara utuh.
"Ini," katanya, suaranya berubah tegang, "ada klausul tersembunyi di halaman ke-47, ditulis dalam bahasa hukum yang sangat teknis. Begitu penandatanganan selesai, hak pengelolaan operasional Cendana Data Nusantara — termasuk seluruh kontrak pusat data pemerintah yang mereka pegang — otomatis berpindah tangan ke entitas gabungan baru, tanpa perlu menunggu proses tinjauan ulang dari regulator."
"Artinya begitu tanda tangan dibubuhkan," Raka menyimpulkan, dadanya dingin, "mereka langsung mendapat kendali penuh, bahkan sebelum ada pihak berwenang yang sempat meninjau ulang perubahan kepemilikan strategis seperti ini."
"Proses hukum normal untuk membatalkan atau meninjau ulang kesepakatan semacam itu setelah ditandatangani," Wulan menambahkan, "bisa memakan waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun di pengadilan. Sementara itu, akses mereka ke data pusat keamanan negara sudah berjalan penuh sejak hari pertama."
Keheningan berat menggantung di bengkel tua itu. Yang mereka hadapi bukan lagi sekadar mengumpulkan bukti untuk penyelidikan di masa depan — waktu nyata yang mereka miliki untuk menghentikan sesuatu yang jauh lebih besar, kini terhitung dalam hari, bukan bulan.
Pagi itu, Raka dan Ridwan kembali menemui Komisioner Satya, membawa salinan bukti lengkap yang sudah mereka susun rapi.
Satya membaca dalam diam yang jauh lebih lama dari pertemuan pertama mereka, wajahnya semakin pucat di setiap halaman baru yang ia balik.
"Ini cukup untuk membuka penyelidikan resmi," katanya akhirnya, menutup folder itu perlahan. "Struktur kepemilikan cangkang, aliran dana ke Wirawan, semuanya bisa jadi dasar kuat. Tapi—" ia menghela napas berat, "—penyelidikan resmi butuh proses. Surat perintah, koordinasi antar lembaga, persetujuan dari atasan yang harus kuyakinkan tanpa membocorkan detail sensitif ini terlalu cepat. Itu tidak bisa selesai dalam hitungan hari."
"Penandatanganan ulang dijadwalkan enam hari lagi, Pak," kata Raka, tegang. "Begitu itu selesai, klausul tersembunyi soal Cendana langsung berlaku."
Satya menatap mereka lama, mempertimbangkan pilihan yang semakin menyempit. "Ada satu cara yang lebih cepat, meski jauh lebih riskan secara politik," katanya akhirnya. "Regulator pasar modal punya kewenangan menunda sementara transaksi korporasi besar, kalau ada indikasi kuat pelanggaran tata kelola atau ancaman terhadap kepentingan strategis nasional — tanpa perlu menunggu proses penyelidikan pidana penuh selesai lebih dulu."
"Bisakah Anda mengajukan itu?" tanya Ridwan.
"Aku bisa mendorongnya, lewat kontak yang kupercaya di sana," jawab Satya. "Tapi mereka akan butuh bukti yang sangat spesifik, terutama soal klausul tersembunyi itu, dan mereka akan bergerak lebih cepat kalau ada tekanan publik juga — media, bukan cuma laporan internal yang bisa ditekan atau ditunda diam-diam oleh pihak yang berkepentingan."
Raka dan Ridwan bertukar pandang, memahami arah yang baru terbuka di hadapan mereka — jalan yang lebih cepat, tapi juga jauh lebih terbuka terhadap risiko, karena melibatkan lebih banyak pihak yang bisa saja, tanpa mereka sadari, sudah tersentuh jaringan Wirawan sejak lama.
"Kita butuh jurnalis," gumam Raka akhirnya, mengingat satu nama yang belum pernah mereka pertimbangkan serius sampai saat ini. "Seseorang yang cukup berani untuk memublikasikan ini tanpa gentar, tepat sebelum penandatanganan, cukup untuk memaksa regulator bergerak tanpa bisa ditunda diam-diam."
"Itu pedang bermata dua," Satya memperingatkan. "Begitu ini jadi berita publik, Wirawan dan Setiawan akan tahu persis siapa yang mengancam mereka, dan mereka tidak akan lagi bermain halus seperti sebelumnya."
Raka menatap keluar jendela, memikirkan Cinta, Handoko, dan seluruh keluarga yang selama ini ia coba lindungi diam-diam. "Mereka sudah mencoba meracuni Handoko sekali, Pak. Aku rasa waktu 'bermain halus' itu sudah lama berakhir, sejak malam penandatanganan pertama gagal."