Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.
Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.
Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.
Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 31 : Tragedi pulang saat mabuk
Theodore menatapnya beberapa detik sebelum berpaling kembali pada Blair. Tatapan terakhir itu singkat. Dingin. Seolah berkata: ini belum selesai.
“Ada apa, Lucas?” tanya Theodore akhirnya.
Lucas tersentak kecil, langsung fokus.
“A-ah, iya… maaf mengganggu,” katanya cepat. “Rapat darurat sudah dimulai. Semuanya sudah menunggu.”
Theodore menghela napas pelan. Ia meluruskan jasnya, lalu menatap Blair sekali lagi.
“Aku akan melanjutkan ini nanti,” katanya rendah.
Blair hanya mengangguk tipis.
“Silakan.”
Theodore berbalik, berjalan keluar melewati Lucas tanpa menoleh lagi. Begitu langkah pria itu menjauh di lorong.
Baru saat itu Lucas menghembuskan napas panjang.
“…Astaga.”
Ia menutup pintu perlahan, lalu menoleh ke Blair dengan wajah pucat.
“Blair…” gumamnya lirih.
“Barusan itu… aku masuk di waktu yang salah, ya?”
Blair berdiri diam beberapa detik. Lalu ia berjalan ke mejanya, mengambil map berkas, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Tidak,” jawabnya tenang.
“Kau datang di waktu yang tepat.”
...
Ruang sidang itu sunyi seperti kuburan.
Udara terasa berat, seolah setiap napas harus ditarik dengan paksa. Bangku-bangku penonton penuh, namun tak satu pun suara berani keluar. Semua mata tertuju pada satu perkara: pembunuhan satu keluarga dalam satu malam.
Di kursi hakim, Blair duduk di tengah, diapit dua hakim lainnya. Posturnya tegak, wajahnya dingin tanpa emosi berlebih. Sebuah map laporan terbuka di tangannya, lembar-lembar kertas itu sudah ia baca berulang kali, namun kali ini ia mengangkat wajah.
Tatapannya mengarah lurus pada terdakwa.
Pria itu duduk di kursi pesakitan dengan tangan terborgol di depan perutnya. Bahunya bergetar hebat. Keringat membasahi pelipis, air mata jatuh tanpa bisa ia sembunyikan. Dua polisi berdiri di kiri-kanannya, tubuh mereka kaku, waspada.
Jaksa melangkah maju.
Suara sepatunya menggema di lantai marmer.
“Berdasarkan hasil penyelidikan,” ucap jaksa lantang, “pembunuhan terjadi pada pukul 23.50.”
Ia berhenti sejenak, menatap seisi ruangan sebelum melanjutkan.
“Terdakwa pulang ke rumah dalam kondisi mabuk berat setelah pulang kerja.”
Pria itu terisak, kepalanya makin tertunduk. Nafasnya tersengal, seolah paru-parunya menolak bekerja sama.
“Sesampainya di rumah,” lanjut jaksa, “terdakwa mengaku mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari keluarganya. Ia merasa direndahkan oleh istrinya. Bahkan anaknya juga sering membantah saat dia bicara. Dalam keadaan mabuk, emosinya meledak.”
Jaksa menghela napas pelan, lalu menambahkan dengan nada lebih berat,
“Terdakwa mengambil pisau dari dapur… dan menghabisi nyawa istri serta anaknya.”
Ruangan itu semakin dingin.
Beberapa orang di bangku penonton menutup mulut, sebagian lain memalingkan wajah, tak sanggup membayangkan adegan yang tak terucap itu.
Jaksa menoleh ke arah kursi hakim.
“Kami menyerahkan tanggapan kepada Yang Mulia.”
Blair tak langsung menjawab.
Ia menurunkan map di atas meja, jemarinya berhenti di tepi kayu yang dingin. Tatapannya kembali mengarah pada terdakwa.
Pria itu mendongak sedikit, matanya merah, bibirnya bergetar.
“Aku… aku sungguh...tidak bermaksud…mereka...” suaranya pecah sebelum kalimatnya selesai.
Blair mengabaikan gumaman itu. Namun tiba-tiba, matanya bergerak ke sudut ruangan.
Di sana, berdiri seorang pria.
Tubuhnya bersandar santai di dinding, seolah ia hanya penonton biasa. Namun tatapannya tajam, dingin, penuh perhitungan.
Tatapan mereka bertemu.
Sekilas ingatan Blair melintas, perkataan Theodore tentang kasus sebelumnya, tentang bagaimana orang tersebut akan menganggap Blair terlibat sejak insiden di gudang.
Detik itu juga, jantung Blair berdetak lebih berat. Jarinya mengetuk meja pelan
tok, tok, tok
irama kecil yang mengkhianati ketegangan di balik wajah tenangnya. Ia menarik napas dalam, lalu menegakkan punggung. Tatapannya kembali menekan terdakwa.
Dengan suara datar, dingin, nyaris tanpa empati, Blair bertanya,
“Jadi menurutmu… semua itu terjadi hanya karena kau mabuk?”