Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Yang Ditinggalkannya

Rahasia Yang Ditinggalkannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikah Kontrak / Diam-Diam Cinta
Popularitas:385
Nilai: 5
Nama Author: Momowen

Dia kehilangan segalanya dalam sekejap.
Kecelakaan merenggut nyawa pria yang paling mencintainya, meninggalkan hanya rekaman suara terakhir...yang tiba-tiba menghilang.

Di balik air mata dan luka, Silvia Pliis menemukan rahasia besar yang tidak pernah dia ketahui dari pria yang mencintainya.

Antara cinta yang tak sempat tersampaikan, persahabatan yang setia, dan intrik keluarga penuh ambisi...ia harus memilih:
Tetap jadi gadis polos yang dilindungi, atau membuka pintu menuju kebenaran yang akan menghancurkan segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Momowen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Permintaan Terakhir

“Nelia Si anjing.”

Suara Chris terdengar dari rekaman, masih dengan nada usil yang begitu dikenali Nelia.

Sorot mata Nelia yang semula redup kembali memantulkan cahaya dari layar ponselnya.

“Nelia...aku ingin minta tolong padamu.”

Nada suara Chris kali ini jauh lebih berat.

“Aku tahu setelah aku pergi, keluarga Pollis dan keluarga Sillus akan tetap melanjutkan rencana pertunangan itu.”

“Maaf...aku tidak bisa berhasil membatalkan perjodohan tersebut.”

“Tapi anggap saja aku memohon padamu...demi Silvia.”

“Aku akan membalas budi ini.”

“Kalau suatu hari nanti kamu menghadapi masalah yang tidak bisa kamu selesaikan, pergilah ke Devil Tech dan temui seseorang yang bernama Adrian Vale.”

“Dia akan membantumu tanpa syarat.”

“Aku hanya ingin kau membujuk keluarga Pollis agar menyetujui Silvia ke luar negeri.”

“Sejujurnya…”

“Aku benar-benar ingin pulang saat ini…ingin melihat Silvia sekali lagi dengan mataku sendiri.”

“Tapi…”

“Aku tidak bisa.”

“Nelia…anggap saja aku berutang padamu.”

“Kalau masih ada kehidupan berikutnya, aku akan membalas semuanya.”

Rekaman itu pun berakhir.

Layar ponsel kembali meredup.

Nelia menatap langit malam yang kembali sunyi.

Air matanya kembali jatuh.

“Sialan…”

“Siapa bilang kau tidak bisa pulang?”

“Kau ini Chris Devallion loh.”

“Sejak kapan kau punya begitu banyak alasan untuk menyerah?!”

Ia mendongakkan kepala memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit.

Tubuhnya bersandar lemah pada bangku.

“Sudahlah…”

“Semuanya demi Silvia.”

Lorong rumah sakit kembali dipenuhi keheningan.

Nelia berjalan menuju ruang rawat.

Melalui kaca kecil di pintu, ia melihat Silvia kembali duduk membelakanginya dengan tenang seperti biasa.

Barulah hari Nelia perlahan merasa lega.

Ia mengembuskan napas panjang.

Pelan-pelan ia membuka pintu kamar, lalu berjalan tanpa suara menuju sofa di dekat jendela.

Matanya mulai membengkak akibat terlalu banyak menangis.

Ia mengambil es loli yang baru dibelinya tadi dan menempelkannya di kedua matanya yang sudah hamper sembap.

Malam itu Silvia juga tidak benar-benar bisa tidur.

Ia terus terbangun dan berganti posisi sepanjang malam.

Keesokan paginya.

Begitu membuka mata, Nelia langsung duduk tegak.

Ranjang pasien…

Kosong.

Wajah Nelia langsung memucat.

“Sil…”

Belum sempat ia menyelesaikan panggilannya—

Klik.

Pintu kamar mandi tiba-tiba terbuka.

Cahaya hangat dari dalam langsung menerpa wajah Nelia.

“Ada apa?”

 Silvia memandang sandal Nelia yang dipakai tidak beraturan sambil mengernyit bingung.

Tanpa berpikir panjang, Nelia langsung memeluknya erat.

“Sil.”

“Kamu benar-benar membuatku takut.”

Silvia terpaku.

Ia sama sekali tidak menyangka akan disergap seperti itu.

Kedua tangannya menggantung kikuk di udara.

Tatapannya perlahan jatuh pada bahu Nelia yang masih bergetar pelan.

Dengan lembut ia menepuk bahu sahabatnya.

“Sudahlah.”

“Aku baik-baik saja, kan?”

Suara Nelia mulai bergetar.

“Sil…”

“Kamu tidak boleh kenapa-kenapa lagi.”

Air mata kembali mengalir.

“Chris sudah pergi…”

“Aku tidak bisa kehilanganmu juga.”

“Ehm…”

“Sepertinya aku datang di waktu yang kurang tepat.”

Suara seorang laki-laki tiba-tiba terdengar dari arah pintu.

Nelia refleks berdiri di depan Silvia sambil memasang tatapan penuh kewaspadaan.

Sesaat kemudian…

Ia melihat jas dokter berwarna putih.

Barulah ia mengembuskan napas lega.

“Oh, Dok…”

Nelia buru-buru menyeka air matanya dengan lengan baju.

“Dokter sudah datang.”

“Bagaimana tidurmu semalam?”

Dokter mulai memeriksa kondisi Silvia.

Stetoskop yang dingin bergeraj perlahan di atas dadanya.

“Lumayan.” Jawaban Silvia tetap terdengar datar.

Dokter hanya melirik sekilas mata Nelia dan Silvia yang sudah sama-sama bengkak seperti habis menangis semalaman.

Ia menyelipkan pena ke saku jas putihnya sambil tersenyum tipis.

“Di kantin hari ini ada es loli gratis.”

“Nanti saya minta perawat mengambilkan beberapa untuk kalian.”

“Bisa dipakai mengompres mata.”

“Terima kasih, Dok.”

Nelia menjawab sambil bersandar santai di sofa.

Kakinya bergoyang pelan.

Sinar matahari sore menyelimuti kamar rawat dengan warna keemasan yang hangat.

Kini hanya suara Nelia dan Silvia yang terdengar di dalam ruangan.

Tidak seramai biasanya.

Juga tidak seceria dulu.

Nelia mulai bercerita tentang salah satu kerabat jauhnya yang sedang kuliah di luar negeri.

Ia terus menceritakan betapa menyenangkan kehidupan di sana.

Betapa banyak kesempatan yang bisa didapatkan jika belajar di luar negeri.

Tok..Tok...

“Silakan masuk.”

Nelia segera duduk tegak.

Pintu perlahan terbuka.

Aroma parfum kayu yang elegan langsung memenuhi ruangan.

Silvia mengangkat kepalanya.

“Tante...”

Rosie Zevation masuk sambil membawa sekeranjang buah.

Senyuman hangat menghiasi wajahnya.

“Silvia, bagaimana keadaanmu sekarang sayang?”

Lingkaran hitam di bawah mata Rosie tampak begitu jelas, bahkan riasan tipis di wajahnya pun tidak mampu menyembunyikannya.

“Aku sudah jauh lebih baik, Tante.”

Nelia segera mengambil keranjang buah dari tangan Rosie.

Tanpa sungkan ia langsung mengambil sebuah pir dan menggigitnya.

Melihat tingkah Nelia yang begitu santai, Rosie terkekeh pelan.

“Nelia...”

“Sebentar lagi kau benar-benar akan menjadi bagian dari keluarga Silvia.”

“Sudah saatnya sedikit mengurangi sifat keras kepalamu, Nak...”

Nelia mendengus pelan.

“Aku tidak akan berubah.”

“Kalau dia suka yah, silakan lihat.”

“Kalau tidak suka...yah pergi saja.”

“Aku tidak bakal larang kok.”

Rosie hanya menggeleng sambil tersenyum pasrah.

Kemudian ia menggenggam erat tangan Silvia.

“Silvia...”

“Kalau ada kesempatan...”

“Maukah kamu pergi ke luar negeri?”

Ruangan seketika menjadi sunyi.

Nelia langsung menoleh.

Nada bicara Rosie membuatnya ikut terdiam.

Silvia tidak langsung menjawab.

Tatapannya beralih ke jendela.

Butiran salju terus turun perlahan.

Di balik kaca hanya terlihat hamparan putih yang seolah tak berujung.

Beberapa saat kemudian...

Barulah ia membuka suara.

“Tante...”

“Kenapa menyuruhku pergi?”

Mata Rosie mulai memerah, namun ia tetap memaksakan senyum.

“Karena...”

“Kau akan jauh lebih bahagia di sana.”

Silvia perlahan menoleh ke arah Nelia.

“Menurutmu begitu juga?”

Nelia mengangguk mantap.

“Sil.”

“Setidaknya hidup di luar negeri akan lebih baik daripada tetap tinggal di sini.”

“Bukankah beberapa waktu lalu kau juga pernah bilang pada Ch...kalau kalian ingin pergi ke luar negeri bersama?”

“Anggap saja kali ini kamu pergi lebih dulu.”

“Lanjutkan kuliah di sana.”

“Tinggallah beberapa waktu.”

Silvia kembali terdiam.

Tatapannya kosong.

Beberapa saat kemudian ia berkata lirih, “Aku akan memikirkannya.”

Mendengar jawaban itu, Nelia akhirnya mengembuskan napas lega.

Selama Silvia tidak langsung menolak...berarti masih ada harapan.

Rosie pun perlahan berdiri.

Apa pun keputusan keluarga Pollis nanti...

Keluarga Devallion masih akan berusaha melindungi Silvia selama mereka mampu.

Tatapan Nelia mengikuti langkah Rosie yang berjalan menuju pintu ruang rawat.

Sebuah pikiran tiba-tiba muncul di benaknya.

Apa mungkin...

Tante Rosie juga menerima email dari Chris?

“Sil...”

“Ayok kita pulang.”

Nelia mengangkat tas Silvia ke bahunya sambil memaksakan sebuah senyum.

Silvia berdiri diam di belakangnya.

Tatapannya perlahan beralih ke sisi lorong yang kosong.

Tidak ada siapa pun di sana.

Namun kedua matanya kembali memerah.

Napasnya perlahan menjadi semakin cepat.

Nelia yang sudah mengenal Silvia sejak kecil langsung menyadari ada yang tidak beres.

Silvia memang jarang berbicara.

Tetapi ia tidak pernah mengabaikan orang yang sedang berbicara dengannya.

Melihat Silvia hanya menatap kosong ke satu titik, Nelia sama sekali tidak tahu bagaimana cara menghiburnya.

Brumm...

Sebuah Mercedes-Benz G-Class hitam berhenti tepat di depan pintu utama rumah sakit.

Jendela kursi pengemudi perlahan terbuka.

Seorang pria berwajah dingin mengalihkan pandangannya ke arah mereka.

“Naik mobil.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!