Ada rasa yang tak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik nama yang enggan kita sebut lagi.
Sera percaya bahwa pergi adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan sisa jiwanya yang hancur karena Adrian. Ia telah meruntuhkan harapannya dan mengunci rapat pintu perasaannya.
Tetapi benang merah tak pernah bisa dipatahkan.
Ketika waktu membawa Adrian kembali, pria itu tak lagi menawarkan duri. Ia hadir bagai sudut paling aman di tengah bisingnya dunia, menawarkan pulih di atas luka yang pernah ia goreskan sendiri.
Di antara bayang-bayang ragu, riuh penyesalan dari masa lalu, dan kehangatan yang kembali merekah... bisakah Sera mempertaruhkan hatinya sekali lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MIKHACINTA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia di Pergelangan Tangan
Malam makin melarut, namun hangatnya perbincangan bersama Ayah seolah enggan menyudahi kebersamaan kami. Kami mengobrolkan banyak hal, mulai dari kenangan masa kecilku hingga rentetan impian yang ingin kugapai di masa depan.
Jarum jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul sepuluh malam ketika suara deru mobil terdengar berhenti di halaman depan. Tak lama kemudian, pintu depan terbuka. Ibu melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak lelah setelah seharian mengurus toko.
"Assalamu’alaikum," sapa Ibu pelan seraya melepas sepatu ketsnya.
"Wa’alaikumsalam," sahutku dan Ayah hampir serempak.
Ayah menegakkan posisi duduknya, menyunggingkan senyum hangat ke arah Ibu. Namun, reaksi Ibu masih sama seperti biasanya, dingin dan tampak acuh. Ibu hanya menatap Ayah sekilas, lalu bertanya dengan nada datar yang teramat formal.
"Kapan sampai, Ibrahim? Gimana kabarmu?" tanya Ibu singkat, menyebut nama asli Ayah tanpa kehangatan sapaan suami-istri.
"Tadi sore, Sekar. Alhamdulillah kabar baik," jawab Ayah sabar, memanggil nama Ibu dengan lembut.
Belum sempat Ayah menanyakan harinya, Ibu sudah mengangguk pelan seraya mengibaskan tangan. "Baguslah. Saya ke kamar dulu, mau bersih-bersih. Capek banget hari ini."
Ibu berlalu begitu saja menuju kamar utama, meninggalkan keheningan tipis yang mendadak memotong kehangatan di ruang tamu. Aku menatap punggung Ibu dengan perasaan prihatin, sementara Ayah menghembuskan napas panjang seraya tersenyum menguatkan padaku.
"Sera, Ayah masuk ke kamar dulu ya. Mau ngobrol sama Ibu," pamit Ayah lembut seraya mengusap pundakku.
"Iya, Yah," sahutku pelan.
Aku berdiri memandangi pintu kamar utama yang tertutup rapat. Sejak kecil, aku tak pernah benar-benar paham apa yang sebenarnya terjadi di antara Ibrahim dan Sekar, kedua orang tuaku. Mereka jarang terlibat pertengkaran hebat di depanku, namun panggilan nama yang kaku, sikap dingin, dan benteng jarak yang dipasang Ibu selalu berhasil menciptakan suasana canggung tiap kali Ayah pulang. Apa yang sebenarnya selalu mereka permasalahkan? Mengapa ikatan di antara mereka terasa begitu renggang?
Dengan pikiran yang berkecamuk, aku melangkah menuju kamarku sendiri. Kurebahkan tubuh di atas tempat tidur, memandangi gelang tali hitam berinisial SL yang terlingkar di pergelangan tangan kiriku di bawah remang lampu kamar. Rasa lelah akhirnya menguasai, membuai badanku hingga terlelap dalam mimpi.
Keesokan harinya, suasana hatiku membaik drastis. Pagi yang cerah disambut oleh tawaran Ayah yang ingin mengantarku ke sekolah menggunakan mobil.
"Yuk, Sera! Hari ini Ayah yang antar sampai gerbang," seru Ayah antusias seraya memanaskan mesin mobil di halaman.
Rasa senang yang luar biasa seketika membuncah di dalam dadaku. Momen diantar Ayah ke sekolah adalah hal teramat langka yang sangat kukeduhkan. Sepanjang perjalanan, kami bernyanyi kecil mengikuti lagu-lagu di radio mobil, mengikis sisa-sisa kegelisahan yang sempat menghantuiku semalam. Begitu mobil berhenti di depan gerbang sekolah, aku mencium tangan Ayah seraya mengulas senyum paling lebar.
"Belajar yang rajin ya, Calon Mahasiswi ITB," goda Ayah seraya tertawa renyah.
"Siap, Ayah! Duit jajan tambahan jangan lupa ya!" sahutku tertawa seraya melambaikan tangan sebelum melangkah masuk ke koridor sekolah.
Aku berjalan menuju kelas dengan langkah ringan. Namun, begitu melangkah memasuki ruang kelas, suasana ceria itu mendadak menguap. Kania sudah berdiri di dekat mejaku. Raut wajahnya tampak teramat serius, tak ada binar antusias yang biasanya terpancar dari matanya.
"Sera, ikut Nia sebentar yuk..." bisik Kania pelan dengan nada lembut namun menuntut.
Ia menarik lenganku menuju sudut ruang kelas yang masih sepi, jauh dari jangkauan teman-teman lain yang belum banyak berdatangan.
"Ada apa, Nia?" tanyaku bingung melihat perubahan sikapnya.
Kania tidak langsung menjawab. Matanya tertuju lurus pada pergelangan tangan kiriku, mengunci pandangannya pada gelang tali hitam dengan pelat perak berukir huruf SL. Matanya bergetar pelan, seolah mengonfirmasi sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
"Nia mau tanya jujur sama kamu, empat mata," ucap Kania dengan suara yang amat pelan. "Kamu sebenarnya udah berapa lama dekat sama Mas Iyan?"
Deg.
Jantungku serasa berhenti berdetak seketika. "Nia... maksud kamu gimana?"
"dua hri lalu Nia enggak sengaja nemu kotak pesanan gelang tali hitam dengan ukiran inisial SL di meja kamar Mas Iyan," tutur Kania seraya menunjuk gelang di tanganku. "Nia bingung dan bertanya-tanya siapa sosok 'SL' yang dibeliin gelang manis itu sama Mas Iyan. Tapi begitu pagi ini Nia liat gelang itu di tangan kamu... Nia langsung yakin kalau 'SL' itu Seraphine Luna. Kamu, Sera."
Aku membisu, tak sanggup menyusun kata. Rahasia yang kusimpan rapat-rapat di belakang Kania kini terbelah sepenuhnya di depan matanya.
Kania menatap mataku lekat-lekat, raut wajahnya tampak begitu sedih. "Jawab jujur, Sera. Sejak kapan kalian dekat?"
Aku menarik napas panjang, menunduk tak berani menatap sorot matanya yang terluka. "Sejak... sejak kita pertama kali kerja kelompok di rumah kamu, Nia. Waktu kelas sepuluh."
"Hampir setahun?!" suara Kania menahan letupan emosi yang membuncah. Airmata samar mulai menggenang di sudut matanya.
"Nia, aku bisa jelaskan—"
"Nia marah bukan karena Nia enggak setuju kamu dekat sama Mas Iyan, Sera..." potong
Kania dengan napas tersengal pelan. Suaranya bergetar menahan kecewa. "Nia marah karena kamu enggak pernah cerita sama Nia... Nia kan udah anggap Sera sebagai sahabat Nia sendiri. Tiap hari kita bareng-bareng di kelas, tapi kamu sembunyiin hal sebesar ini dari Nia? Kenapa kamu harus rahasia-rahasiaan sama Nia?"
Rasa bersalah menghantam dadaku tanpa ampun. Melihat kekecewaan di mata sahabatku sendiri rasanya jauh lebih menyakitkan daripada teguran mana pun. Aku memegang kedua lengan Kania dengan jemari yang gemetar.
"Maaf... maafin aku, Nia," bisikku lirih, menahan panas yang menjalar di mataku. "Aku bingung harus cerita dari mana. Suasananya rumit banget, dan aku takut hubungan kita malah jadi canggung kalau aku cerita."
Kania memalingkan wajahnya, menyapu air mata yang nyaris menetes di pipinya.
"Tolong, Nia..." pintaku seraya menatapnya penuh permohonan. "Aku mohon banget... jangan cerita soal ini ke siapa-siapa. Jangan ke Dea, Celine, Dini, Irma, atau siapa pun. Cuma Nia yang tahu soal ini. Tolong jaga rahasia ini buat aku ya?"
Kania menghela napas panjang, mengusap sisa air mata di sudut matanya dengan jemari lentiknya. Pandangannya yang tadinya merajuk dan terluka perlahan melembut saat menatap wajahku yang dipenuhi rasa bersalah.
"Nia janji enggak akan cerita ke siapa-siapa..." ucap Kania pelan, menepati permohonanku. "Tapi ada syaratnya."
"Syarat apa, Nia?" tanyaku cepat, siap menuruti apa saja asal rahasia ini aman darinya.
"Kamu harus janji sama Nia, mulai sekarang kamu enggak boleh ngerahasiain apa pun lagi dari Nia. Kalau ada hal sekecil apa pun soal kamu atau soal Mas Iyan, kamu wajib cerita sama Nia," tegas Kania seraya memegang erat kedua tanganku.
Aku mengangguk cepat tanpa ragu. "Aku janji, Nia. Aku janji enggak bakal sembunyiin apa-apa lagi dari kamu."
Kania menghembuskan napas lega, namun raut wajahnya mendadak berubah cemas dan teramat serius. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap pergelangan tanganku yang melingkar gelang SL itu sebelum kembali mengunci tatapannya pada mataku.
"Tapi, Sera..." panggil Kania pelan, suaranya nyaris berbisik. "Nia mau tanya satu hal lagi..."
"Tanya apa, Nia?"
"Kamu... sama Mas Iyan sebenarnya berpacaran?"
Pertanyaan yang meluncur polos dari bibir Kania itu menohok langsung ke sudut terdalam dadaku. Aku membisu seketika, tenggorokanku serasa tercekat tanpa sanggup menyusun kata untuk menjawabnya.
Melihatku bergeming, raut cemas di wajah Kania makin memuncak. "Soalnya... setahu Nia, Mas Iyan itu kan udah punya pacar dari dulu. Kak Sabrina. Mereka bahkan udah bertahun-tahun bareng. kadang Nia juga kiat dia sama cewek lain,"
Kania meremas jemariku lebih erat, menyalurkan rasa khawatir yang amat tulus dari dalam dirinya.
"Nia emang sayang banget sama Mas Iyan karena dia abang Nia sendiri," tutur Kania lembut dengan binar mata yang berkaca-kaca. "Tapi Nia juga sayang banget sama kamu, Sera. Kamu itu sahabat Nia sendiri di sekolah. Nia cuma enggak mau... Nia benar-benar enggak mau kalau Mas Iyan sampai nyakitin hati kamu."
Mendengar perhatian tulus dari sahabatku, rasa bersalah dan sesak di dadaku mendadak meluap. Di balik rasa cemburu dan keraguanku selama ini pada Adrian, ternyata ada Kania yang begitu menyayangiku dan tak ingin melihatku berdiri di posisi yang salah ataupun terluka oleh abangnya sendiri.