Indonesia
NovelToon NovelToon
Lilin Terakhir EMEI

Lilin Terakhir EMEI

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: Chandra Arbara

Di malam terakhir, kepala biara wafat di aula yang kosong dan dingin.

Tidak ada murit, tidak ada upacara, hanya Jingyue yang menemani sampai fajar.

Sebelum menghembus kan nafas terakhir nya, sang guru berbisik:
"selama masih ada satu orang yang menyapu pelataran ini.... Emei belum mati"

Bukan untuk mencari ketenaran.
Bukan karena dia kuat.
Tapi karena kalau dia juga pergi, maka emei akan benar-benar hilang dari dunia.

Di Jianghu yang berisik, seorang gadis paling tenang berjalan....

Untuk membuktikan bahwa sekte nya belum padam.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19. Pintu Yang Tertutup

..."Pintu yang tertutup karena takut tidak akan terbuka oleh bentakan, tapi akan terbuka oleh kesabaran yang tinggal cukup lama di depan ambang."...

Jalan menuju Desa Majia lebih panjang dan lebih sunyi dari yang dibayangkan Jing yue, karena setelah tiga jam berjalan menyusuri tepi Sungai Min yang airnya masih keruh dan meninggalkan garis lumpur setinggi dada di batang pohon, dia tidak melihat satu pun perahu nelayan, tidak mendengar satu pun suara ayam, dan yang ada hanya angin yang menggerakkan bambu kering dan burung gagak yang terbang rendah seakan sedang mengawasi dari atas.

Lei Feng dari Sekte Pedang Langit berjalan di sampingnya membawa dua karung obat di punggung kuda, dan meskipun mereka sudah beberapa hari tidak bertengkar lagi, suasana di antara mereka tetap canggung karena keduanya tahu bahwa kepercayaan itu dibangun pelan-pelan seperti tanggul, satu karung pasir demi satu karung pasir.

Ketika akhirnya gerbang bambu Desa Majia muncul di kejauhan, yang menyambut mereka bukanlah warga dengan wajah lega seperti di Qinghe, melainkan dua orang pemuda bersenjatakan bambu runcing yang berdiri di tengah jalan dengan dada dibusungkan dan mata menatap curiga seakan Jing yue dan Lei Feng adalah perampok yang datang bukan untuk memberi melainkan untuk mengambil.

"Berhenti," bentak pemuda yang lebih tinggi, "Desa Majia tidak menerima siapa-siapa, apalagi orang dari gunung yang katanya mau membantu tapi ujung-ujungnya minta tanah."

Jing yue langsung menghentikan langkah, meletakkan sapu bambunya di tanah, dan mengangkat kedua tangannya agar terlihat tidak membawa senjata, lalu dia berkata dengan suara setenang mungkin bahwa dia adalah Jing yue dari Sekte Emei yang dikirim atas perintah istana untuk membantu korban banjir, bukan untuk menuntut apa-apa.

Pemuda itu meludah ke tanah dan menjawab bahwa mereka sudah dengar cerita tentang Qinghe, katanya Emei datang membawa beras lalu setelah itu minta warga menandatangani surat agar tanah mereka jadi milik negara, dan karena itu kepala desa sudah memerintahkan agar semua pintu ditutup dan tidak ada orang luar yang boleh masuk.

Mendengar tuduhan itu, dada Jing yue terasa ditusuk, karena dia tahu rumor seperti ini bisa membunuh lebih cepat daripada banjir, dan kalau dia memaksa masuk maka yang terjadi bukan bantuan melainkan perkelahian, tetapi kalau dia mundur maka dua ratus orang di dalam desa itu akan tetap kelaparan dan sakit.

Lei Feng maju setengah langkah dan hendak membentak, tetapi Jing yue menahannya dengan satu pandangan, lalu dia berjongkok di tanah lumpur, mengeluarkan selembar kertas kosong dan sebatang arang dari tasnya, dan mulai menulis dengan huruf besar agar bisa dibaca dari kejauhan.

Dia menulis: "Kami datang membawa obat dan tenaga, tidak membawa kontrak, tidak membawa segel, dan kami bersedia menunggu di luar gerbang sampai kepala desa mau bicara," lalu dia berdiri, menancapkan kertas itu di ujung sapu bambu, dan menancapkannya ke tanah di depan gerbang sebagai tanda bahwa dia tidak akan pergi.

Hari itu mereka tidak masuk, mereka hanya duduk di bawah pohon besar di luar desa, memasak air dari sungai dan merebus jahe yang tersisa, dan setiap kali ada warga yang mengintip dari celah bambu Jing yue akan mengangkat tangannya sebagai salam dan tidak pernah berteriak atau memaksa.

Malam turun dengan dingin, kabut naik dari sungai dan membuat baju mereka basah, dan Lei Feng yang biasanya sombong akhirnya berkata pelan bahwa ini pertama kalinya dia melihat seseorang mau menunggu di depan pintu tertutup tanpa marah.

Jing yue hanya menjawab bahwa pintu yang tertutup karena takut tidak bisa dibuka dengan tendangan, tapi bisa dibuka dengan waktu dan dengan bukti, dan dia lalu mengeluarkan bukunya dan menulis tentang bagaimana di Qinghe orang awalnya juga takut tapi akhirnya percaya setelah melihat dapur umum dan obat gratis.

Keesokan harinya, ketika matahari baru naik, terdengar suara tangis dari dalam desa, dan tidak lama kemudian gerbang sedikit terbuka dan seorang perempuan tua keluar sambil menggendong bayi yang tubuhnya panas dan bibirnya pecah-pecah.

Perempuan itu berhenti tiga langkah dari Jing yue, menatapnya dengan mata penuh curiga, lalu dengan suara gemetar dia bertanya apakah benar orang Emei tidak minta bayaran, dan Jing yue menggeleng sambil membuka karung obat dan menunjukkan bubuk yang diajarkan Nenek Gui beberapa hari lalu.

Dengan tangan gemetar Jing yue meracik obat itu di depan perempuan itu, meniupnya sampai hangat, lalu menyerahkannya dan berkata bahwa kalau bayi itu tidak membaik dalam sehari maka mereka boleh mengusirnya dengan batu, tapi kalau membaik maka tolong beri mereka kesempatan bicara dengan kepala desa.

Perempuan itu mengambil obat, masuk lagi, dan gerbang kembali tertutup, dan sepanjang hari itu tidak ada kabar, sampai menjelang senja ketika gerbang terbuka lagi dan kali ini yang keluar adalah kepala desa, seorang pria berusia lima puluh tahun dengan janggut tidak terurus dan mata merah karena kurang tidur.

Kepala desa bernama Paman Chen, dan dia tidak memberi hormat, dia hanya berdiri dan bertanya langsung apa maunya Emei, dan Jing yue menjawab bahwa maunya hanya satu, agar tidak ada orang di Majia yang mati karena demam atau kelaparan sementara mereka punya tangan dan punya obat.

Paman Chen menatap Lei Feng lalu menatap Jing yue, lalu dia bertanya tentang rumor tanah, dan Jing yue mengeluarkan surat perintah dari istana, membacanya keras-keras di depan beberapa warga yang mulai berkerumun, dan menekankan bagian yang mengatakan bahwa tugas Emei adalah membantu bukan memiliki.

Setelah itu Jing yue menambahkan bahwa kalau setelah tiga bulan mereka masih tinggal di Majia tanpa diundang maka warga boleh membakar tenda mereka sendiri, dan janji itu membuat beberapa orang mengangguk pelan karena mereka tahu tidak ada pejabat yang berani berkata seperti itu.

Akhirnya Paman Chen menghela napas panjang dan berkata bahwa mereka boleh masuk, tapi hanya dua puluh orang, dan semua pekerjaan harus diawasi, dan tidak boleh ada satu pun murid Emei yang masuk ke rumah warga tanpa izin.

Malam itu juga, dua puluh murid Emei yang menunggu di luar hutan masuk membawa alat, dan mereka langsung bekerja tanpa istirahat, ada yang memperbaiki tanggul kecil di sisi desa, ada yang membersihkan sumur yang tertutup lumpur, ada yang mendirikan dapur umum di lapangan, dan Jingyue sendiri pergi dari rumah ke rumah membawa obat dan menanyakan siapa yang sakit.

Rumor tidak hilang dalam sehari, masih ada bisik-bisik bahwa ini jebakan, masih ada yang menolak makan dari dapur Emei, tetapi ketika hari kedua bayi dari perempuan tadi sudah bisa membuka mata dan tertawa, dan ketika hari ketiga tidak ada lagi orang yang demam tinggi, perlahan pintu-pintu mulai terbuka.

Di hari keempat, seorang kakek datang membawa dua ekor ayam dan meletakkannya di depan dapur tanpa berkata apa-apa, dan di hari kelima, anak-anak mulai berani mendekati murid Emei untuk minta diajari menulis di atas tanah dengan ranting.

Jing yue tidak pernah memaksa siapa pun untuk percaya, dia hanya bekerja, menyapu, mengangkat, memasak, dan setiap malam dia duduk di bawah lampu menulis laporan untuk dikirim ke kabupaten, dan di sela-sela itu dia juga menulis di buku pribadinya bahwa hari ini dia belajar bahwa pintu yang paling sulit dibuka bukan pintu kayu, tapi pintu hati yang sudah dikunci oleh kecewa.

Lei Feng membantu banyak, dia yang awalnya hanya mengawasi kini ikut mengangkat batu, dan ketika ada warga yang bertanya kenapa Pedang Langit mau membantu, dia menjawab dengan jujur bahwa dia malu kalau hanya bisa menuduh sementara orang lain mau kotor.

Di hari ketujuh, Paman Chen memanggil Jing yue ke balai desa dan menyerahkan secarik kertas yang isinya tanda tangan warga yang menyatakan bahwa mereka menerima bantuan Emei dan tidak akan menuntut apa-apa di kemudian hari, dan kertas itu bukan untuk Emei, tapi untuk melindungi Emei kalau nanti ada pejabat yang menuduh mereka macam-macam.

Jing yue menerima kertas itu dengan dua tangan dan berlutut, bukan karena dia lemah, tapi karena dia menghormati keberanian warga yang mau percaya lagi setelah dikecewakan berkali-kali.

Malam itu diadakan makan bersama pertama sejak banjir, tidak mewah, hanya bubur, sayur, dan ikan kecil, tapi semua orang duduk melingkar, dan anak-anak berlari-lari membawa obor kecil.

Sebelum tidur, Jing yue berjalan ke tepi sungai, menatap air yang sudah jauh lebih tenang, dan dia teringat kata-katanya di Qinghe bahwa tanah tidak akan pernah rata kalau tidak ada yang mau berjalan di atasnya.

Dia menulis di bukunya bahwa di Majia dia belajar bahwa kepercayaan itu seperti menanam, tidak bisa dipetik di hari yang sama, harus disiram setiap hari dengan tindakan kecil.

Dia juga menulis bahwa hari ini dia hampir pulang karena pintu tertutup, tapi dia memilih menunggu, dan ternyata menunggu itu juga bagian dari pertolongan.

Ketika dia kembali ke tenda, Lei Feng sudah tertidur dengan punggung bersandar di karung, dan di luar terdengar suara jangkrik dan suara air yang tidak lagi menggeram.

Jing yue memadamkan lilin, menutup mata, dan untuk pertama kalinya sejak menerima surat kedua dia merasa bahwa lima desa itu mungkin, mungkin sekali, bisa diselesaikan satu per satu, bukan dengan cepat, tapi dengan benar.

Dan di dalam gelap, dia berbisik bahwa besok mereka akan mulai membangun rumah pertama di Majia, dan setelah itu akan ada rumah kedua, ketiga, sampai semua orang punya atap lagi, karena seorang Penjaga Gerbang tidak hanya menjaga agar orang tidak masuk, tapi juga menjaga agar orang punya tempat untuk pulang.

1
Oppojaya
👍👍
Oppojaya
👍👍👍
Oppojaya
ditunggu karya selanjutnya
Oppojaya
🤗
Pena Quality
👍
Oppojaya
Keren... ditunggu lagi lanjutan episode berikutnya 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!