Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Di Balik Kebohongan yang Mulai Retak
Cynthia melangkah keluar dari gerbang megah Keluarga Hutapea dengan hati yang remuk redam namun kepala tetap tegak. Di belakangnya, pintu besar itu tertutup rapat seakan menutup segala harapan yang sempat menyala sebentar di dadanya. Namun di tengah keputusasaannya, suara lembut wanita tua itu kembali bergema di telinganya: "Jangan menyerah. Kebohongan tak akan pernah bisa menyembunyikan kebenaran selamanya." Kata-kata itu menjadi kekuatan yang tak kasat mata, menopang langkahnya yang terasa berat seketika.
Sementara itu, di dalam ruang tamu yang luas itu, suasana masih dipenuhi keheningan yang berat. Karen masih terisak di pelukan Nyonya Hutapea, sesekali melirik ke arah pintu dengan senyum kemenangan yang tak sempat tersembunyi sepenuhnya. Ibu kandung Karen tampak bernapas lega, merasa rencananya kembali berjalan mulus tanpa hambatan. Namun di sudut ruangan yang sepi, YB masih berdiri mematung di tempatnya. Pandangannya tak lepas dari pintu besar tempat sosok Cynthia menghilang tadi. Dadanya masih terasa sesak, kuku-kukunya masih menancap erat ke telapak tangannya, seakan rasa sakit yang ia tahan belum sepenuhnya hilang.
Tanpa sadar, langkah kakinya perlahan bergerak mundur, menjauh dari keramaian itu. Ia tak sanggup lagi berdiri di sana, mendengar pujian yang dialirkan kepada Karen, melihat senyum bahagia yang seharusnya tak pantas diterima wanita itu. Setiap tawa bahagia yang terdengar di telinganya justru terasa seperti hinaan tajam yang menusuk ke dalam dadanya. YB berjalan tergesa-gesa keluar lewat pintu samping, menyusuri lorong belakang yang sepi, hingga akhirnya ia berdiri di tempat yang tak jauh dari gerbang depan. Matanya mencari sosok itu. Dan di sanalah... ia melihat Cynthia berjalan perlahan menjauh, bahunya terguncang menahan tangis yang tak lagi mampu dibendung.
Pria itu berhenti di balik rimbunnya pepohonan, tak berani melangkah lebih mendekat. Ia hanya memandangi punggung wanita itu yang tampak begitu rapuh namun tetap berusaha tegak menghadapi dunia yang tak bersahabat padanya. Di saat itu, kenangan lama kembali menyeruak membanjiri pikirannya. Ingatannya melayang kembali ke masa-masa saat Cynthia selalu menyambutnya dengan senyum bahagia tanpa pernah memandang siapa dirinya dan apa yang ia miliki. Wanita itu tak pernah menuntut kemewahan, tak pernah memandang rendah siapa pun. Namun ia... justru meninggalkan wanita tulus itu demi bayang-bayang kemewahan yang ternyata pun bukan milik Karen.
Rasa bersalah kembali meremukkan hatinya. Andai saja ia tak buta oleh gengsi... andai saja ia tak meninggalkan Cynthia hanya karena statusnya... mungkin wanita itu tak akan pernah menderita seperti saat ini. Andai saja ia berani membela Cynthia tadi... mungkin tak akan ada air mata yang jatuh dari mata indah itu. Namun lidahnya tetap kelu. Kakinya tetap terpaku di tempat. Ego dan gengsinya kembali memenjarakannya dalam keheningan yang penuh kepahitan.
Di saat YB masih terhanyut dalam keputusasaannya, sesosok pria lain melangkah tenang mendekati Cynthia yang berjalan tertatih menjauh. Pria itu berdiri tegak di hadapan Cynthia, lalu tanpa banyak bicara, menyodorkan selembar sapu tangan bersih. Cahaya matahari sore menyinari wajah pria itu, memperlihatkan sepasang mata yang teduh dan penuh kasih sayang tanpa syarat. Itu adalah Aloy. Pria yang selalu hadir di saat-saat tergelap dalam hidup Cynthia.
Cynthia mendongak perlahan, menatap wajah pria itu dengan pandangan yang masih kabur oleh air mata. Di hadapan Aloy, pertahanan hatinya yang selama ini ia bangun dengan susah payah akhirnya runtuh seketika. Ia tak lagi sanggup menahan tangisnya. Dengan gemetar, Cynthia menerima sapu tangan itu, lalu menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya di hadapan pria yang tulus mencintainya itu.
Aloy tak berkata banyak. Ia hanya berdiri di sana, menatap Cynthia dengan pandangan lembut dan penuh pengertian. Tak ada hinaan, tak ada keraguan, tak ada tuduhan. Hanya ketulusan yang memancar jelas dari sepasang matanya. Saat Cynthia perlahan mulai tenang, barulah suara lembut Aloy terdengar menembus tangisnya yang mereda pelan.
"Jangan menyerah, Cynthia," ucapnya tenang namun tegas. "Kebenaran memang seringkali terlambat datangnya, namun ia tak akan pernah lari selamanya. Kalung yang kau ceritakan... ukiran nama dan tanggal lahirmu di baliknya... itu bukanlah kebohongan. Dan suatu hari nanti... saat kedua kalung itu akhirnya disandingkan... semua orang akan tahu siapa yang sebenarnya berbohong."
Cynthia menatap pria itu dengan mata yang masih basah. "Tapi bagaimana caranya? Mereka tak percaya padaku. Mereka hanya percaya pada kilauan berlian di leher Karen..."
"Karena mereka belum melihat apa yang tersembunyi di balik kilauan itu," jawab Aloy tenang. "Tunggu waktu yang tepat. Saat hati mereka terbuka dan keraguan mulai tumbuh... barulah kau minta untuk membalikkan kedua kalung itu. Saat ukiran namamu terbaca jelas... tak ada satu pun kebohongan yang mampu menutupinya lagi."
Dari balik pepohonan tak jauh dari sana, YB menyaksikan segala sesuatu itu dengan pandangan yang tak mampu ia alihkan. Ia melihat bagaimana Cynthia bersandar lemas pada kekuatan yang diberikan oleh pria lain. Ia melihat bagaimana Aloy menatap Cynthia dengan pandangan yang penuh cinta dan penghargaan — pandangan yang seharusnya ia berikan sejak dulu namun tak pernah ia berikan. Hati YB terasa perih kembali. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: Aloy percaya pada Cynthia tanpa membutuhkan bukti apa pun. Sementara dirinya... justru yang pertama kali meninggalkan wanita itu di saat ia paling membutuhkan dukungan.
YB mengepalkan tangannya erat sekali lagi. Kali ini bukan karena marah kepada siapa pun, melainkan karena marah kepada dirinya sendiri. Ia menyadari bahwa di saat ia masih terjebak dalam keraguan dan gengsinya yang tinggi, pria lain justru telah berdiri tegak melindungi wanita yang dicintainya. Dan kesadaran itu... membuatnya merasa semakin kecil dan tak berharga.
Malam itu, setelah Cynthia pulang dengan hati yang sedikit lebih tenang berkat dukungan Aloy, sesuatu yang tak terduga justru terjadi di kediaman Keluarga Hutapea. Saat semua orang telah pulang ke kamarnya masing-masing, Nyonya Hutapea duduk termenung di depan cermin besar di kamarnya. Jari-jemarinya perlahan menyentuh kalung yang melingkar di lehernya sejak belasan tahun silam. Tanpa sadar, ibu itu perlahan membalikkan liontin kalungnya. Di sana, terukir jelas nama dan tanggal lahir putri yang hilang itu. Dan seketika... keraguan yang selama ini ia coba abaikan perlahan mulai tumbuh.
Nyonya Hutapea teringat perkataan Cynthia tadi siang. Wanita itu berkata ada ukiran nama di balik kalung. Dan ternyata... benar adanya. Lalu... mengapa kalung yang dipakai Karen tidak diperlihatkan bagian belakangnya? Mengapa wanita itu selalu membiarkan liontinnya menghadap ke depan seakan tak ingin diperhatikan bagian belakangnya? Sebuah tanda tanya besar perlahan mulai membentuk di hati Nyonya Hutapea. Kebohongan itu... ternyata mulai retak dari dalam.