Indonesia
NovelToon NovelToon
MENIKAHI MANTANKU

MENIKAHI MANTANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cintapertama
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Skyline Scribe

Satu Atap Bersama Mantan

Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.

Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.

Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.

Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.

Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25 : Bentakan di Tengah Malam

Sejak malam di mana kalimat itu terucap dari mulut Devan, suasana di penthouse berubah drastis.

Mereka berdua seperti sepakat untuk memicu perang dingin, memilih saling menganggap satu sama lain sebagai makhluk tak kasat mata.

Namun, di tengah aksi aksi saling bungkam itu, Devan tetap memelihara kebiasaan lamanya. Pagi-pagi sekali sebelum berangkat ke kantor, Devan selalu sibuk di dapur. Ia tetap memasakkan sarapan dan menyiapkan makan malam untuk Aira.

Sayangnya, Aira tak sudi lagi menyentuh satu pun makanan buatannya.

Luka di dadanya belum mengering. Rasa terhina gara-gara salah mengira gelang itu membuat Aira membangun dinding pembatas. Ia sengaja mengacuhkan makanan buatan Devan dan memilih mencari sarapan di luar.

Untuk menghindari Devan, Aira sengaja mengubah pola hidupnya.

Begitu jam kantor usai, Aira tidak pernah langsung pulang. Ia menelepon Sandy, menyusuri jalanan sampai toko-toko tutup, atau sekadar nongkrong di coffee shop sampai larut malam.

Aira baru pulang saat jarum jam sudah merangkak melewati angka dua belas malam—waktu di mana ia yakin Devan sudah terlelap di kamarnya.

Pola penuh aksi menghindar ini bergulir terus tanpa henti... selama lebih dari seminggu.

Hari kesembilan perang dingin.

Jam dinding di ruang tengah sudah berdetik menunjukkan pukul satu malam lewat lima belas menit.

Suasana ruangan gelap gulita. Dari arah pintu ganda penthouse terdengar berbunyi bip-bip-bip pelan, disusul ketukan sepatu heels Aira yang terdengar lelah.

Aira menghela napas panjang, meraba-raba dinding untuk menyalakan sakelar lampu.

Tubuhnya lelah, kepalanya pusing.

Namun, baru dua langkah Aira memasuki area ruang tengah...

Cklek.

Lampu utama ruang tengah menyala terang.

Aira mengerjapkan matanya yang silau, dan saat pandangannya fokus... dadanya seketika berdesir hebat.

Devan sudah duduk di atas sofa. Pria itu masih mengenakan kemeja kerjanya, dua kancing atasnya terbuka, dan kacamata bertangkai tipis bertengger di hidungnya. Di atas meja di depannya, tergeletak laptop serta cangkir kopi yang sudah dingin.

Raut wajah Devan sangat buruk. Matanya merah, berhias lingkaran hitam, menunjukkan bahwa pria itu sama sekali tidak tidur dan menunggunya berjam-jam di sana.

Aira berusaha menghilangkan rasa kagetnya. Lalu berjalan melintasi sofa untuk pergi ke kamarnya.

"Dari mana kamu?" suara Devan meluncur rendah, berat, dan dipenuhi getaran emosi yang ditahan.

Aira menghentikan langkahnya sejenak, tanpa berbalik. "Bukan urusan kamu."

Devan berdiri dari sofanya dengan gerakan tak sabar. Langkah kakinya yang lebar mempersempit jarak di antara mereka, lalu menyambar pergelangan tangan Aira sebelum cewek itu sempat melangkah menuju koridor kamar.

"Gue tanya baik-baik, Aira! Dari mana kamu jam segini baru pulang?!" cecar Devan, suaranya mulai meninggi. Cengkeramannya di tangan Aira terasa sangat menuntut.

Aira menghentakkan tangannya kasar, berusaha melepaskan diri. "Lepasin! Gue capek, mau tidur!"

"Seminggu lebih, Ra! Seminggu lebih kamu jalanin pola hidup gila kayak gini!" napas Devan mulai naik-turun menahan frustrasi. Pria itu menyapu rambutnya ke belakang dengan kasar. "Kamu gak pernah makan masakan di rumah, kamu sengaja keluyuran gak jelas di luar rumah, dan kamu baru pulang pas tengah malam! Kamu pikir gue gak punya mata?! Kamu pikir gue batu yang gak bisa khawatir?!"

Aira membalikkan badannya, menatap Devan dengan tatapan paling dingin yang ia punya. Ia memilih tidak memberikan jawaban sepatah kata pun.

Taktik bungkam Aira ini... justru bagaikan menyiram minyak tanah ke dalam kobaran api amarah Devan yang sudah tertahan selama seminggu penuh.

Devan melangkah makin maju, menatap Aira dengan mata yang berkilat frustrasi luar biasa. Kesabarannya habis malam ini.

"AIRA! BISA NGGAK SEKALI AJA KAMU HARGAI AKU?!" bentak Devan, suaranya menggema membelah keheningan malam.

Aira tersentak pelan di tempatnya. Itu adalah pertama kalinya Devan membentaknya.

"AKU KAYAK GINI KARENA KHAWATIR SAMA KAMU!" lanjut Devan dengan napas memburu, dadanya naik-turun menahan rasa sesak. "Tiap malam aku gak bisa tidur nyenyak, nunggu pesan dari kamu! Aku mikirin kamu udah makan apa belum, kamu aman atau enggak di jalanan malam-malam! KALAU ADA APA-APA SAMA KAMU DI LUAR SANA, AKU YANG HARUS TANGGUNG JAWAB KE PAPI KAMU! AKU SUAMI KAMU, AIRA!"

Bentakan Devan perlahan surut, menyisakan deru napas tegang di antara mereka berdua.

Aira menatap raut wajah Devan di depannya.

Gusar. Khawatir. Frustrasi. Semuanya bercampur di wajah tampan pria itu.

Aira menatap Devan tanpa berkedip. Dadanya naik turun karena kaget mendengar bentakan Devan.

Satu kalimat pelan, dingin, namun menohok keluar dari bibir Aira di luar dugaan Devan.

"Ayo kita cerai," ucap Aira datar.

Tiga kata sederhana itu... seketika meruntuhkan seluruh emosi Devan.

Devan membeku di tempatnya. Tangan pria itu yang tadinya melayang di udara terkulai lelah. Matanya membelalak lebar, tak percaya pada apa yang baru saja ditangkap oleh indra pendengarannya.

Dunia Devan seolah berhenti berputar.

"K-kamu... bilang apa?" bisik Devan, suaranya bergetar.

"Ayo kita cerai," ulang Aira lagi, suaranya begitu tenang. "Pernikahan ini dari awal cuma paksaan Papi sama kamu. Gue capek, Devan. Gue capek harus pura-pura kuat, capek harus adu mulut tiap hari, dan gue capek ada di sekitar kamu."

Devan melangkah maju, menatap wajah Aira dengan tatapan nanar.

"Segitu... gak sukanya kamu sama aku, Ra?" tanya Devan sangat pelan.

Aira menatap mata Devan yang menyiratkan luka itu. Dadanya sebenarnya berdenyut nyeri melihat ekspresi hancur Devan, tapi Aira memaksa kepalanya untuk tetap bertahan pada keputusan ini.

Aira mengangguk pelan. "Iya."

Jawaban singkat itu bagaikan pukulan besar yang menghancurkan pertahanan mental Devan. Pria itu berdiri mematung, kehilangan kata-kata untuk membalas.

Aira membuang pandangannya, tidak sanggup menatap raut wajah Devan yang berubah pucat lebih lama lagi.

"Gue capek," gumam Aira pelan sambil membalikkan badannya. "Kita bahas lagi besok."

Tanpa menunggu balasan dari Devan, Aira melangkah pergi menyusuri koridor, melangkah masuk ke dalam kamarnya, lalu menutup pintu itu pelan-pelan.

Di tengah ruang tengah yang sunyi, Devan tetap berdiri terdiam di tempatnya. Pria itu menatap ke arah lorong kosong di depannya.

1
Fazira
lucu mereka 🤭
Fazira
🤣🤣
Fazira
semangat upnya kak😍😍
Fazira
😍
Fazira
Nadia istrinya marah loo
Skyline Scribe
cemburu niee🤭
Fazira
sepertinya love language nya mereka ini bertengkar yaa
karena 8 tahun itu bukan waktu yang sebentar untuk bisa membenci orang
gak sabar liat Devan bucin😍
Reni Anjarwani
kapan damainya bertengkar terus
Ael
semangat kak👍👍
Fazira
Devan yang jujur kamu
Skyline Scribe: cowok gengsi tinggi dia kak😄
total 1 replies
Fazira
jangan tengkar/Sob//Sob/
Fazira
lanjut 💪
Fazira
🤣
Ael
seru👍
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
lanjut 💪
Ael
/Heart//Heart//Heart/
Reni Anjarwani
lanjut thor
Fazira
😍😍😍
Fazira
lanjut 💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!