Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengorbanan Livy 07.
Jarum jam di dinding kamar Livy sudah menunjuk ke angka tiga pagi. Di bawah temaram lampu belajar, kamar itu tampak seperti kapal pecah.
Gulungan benang wol merah tua berhamburan di lantai, beradu dengan bungkus camilan kosong dan cangkir kopi ketiga yang sudah dingin.
Livy meringis saat jarum rajutnya kembali menusuk ujung jari telunjuknya. Tetesan darah kecil muncul. Tanpa peduli, ia mengulum jari itu sebentar untuk menghentikan perih, lalu menempelkan plester luka baru. Itu adalah plester ketujuh di tangannya minggu ini.
Jari-jarinya kaku, pegal, dan kapalan. Namun, matanya yang menghitam karena kurang tidur berhari-hari tetap menatap tajam pada syal wol yang hampir selesai di pangkuannya.
"Sedikit lagi," bisik Livy pada diri sendiri, suaranya parau. "Galang harus pakai ini di ulang tahunnya. Cuma punya saya. Nggak boleh ada yang lain."
Obsesi.
Orang-orang di SMA Wijaya menyebutnya cegil—cewek gila—karena caranya mencintai Galang yang berada di luar batas wajar. Tapi Livy tidak peduli. Baginya, menyelamatkan Galang dari bahaya adalah tugas suci. Terutama sekarang, saat ancaman nyata itu datang dalam wujud Kiara.
Kiara. Murid baru yang baru dua hari kemarin menginjakkan kaki di SMA Wijaya, tapi sudah bertingkah seperti ratu. Livy tidak bodoh. Informasi yang ia dapatkan dari memata-matai rumahnya itu tidak salah: Kiara sengaja dipindahkan ke sekolah ini atas perintah ayahnya. Misi Kiara jelas, masuk ke dalam lingkaran terdalam Galang untuk memanfaatkan posisi keluarga cowok itu.
Livy tahu ia harus bertindak cepat sebelum Galang masuk ke dalam jebakan Kiara. Dan pesta ulang tahun Galang malam minggu adalah medan perangnya.
**
Matahari pagi belum sepenuhnya terik saat Livy tiba di sekolah. Dengan lingkaran hitam di bawah mata yang disamarkan concealer tebal dan plester di sekujur jarinya, ia berjalan tegap menyusuri koridor. Di tangannya, sebuah kotak kado beludru hitam didekap erat.
Langkah Livy terhenti di dekat loker koridor utama. Pemandangan di depannya membuat darahnya mendidih.
Kiara sedang berdiri di depan Galang. Gadis baru itu tersenyum manis, memegang sebuah kotak bekal yang dihias pita merah. Galang, dengan sikap cueknya yang biasa, hanya mendengarkan sambil sesekali mengangguk.
"Galang, ini saya buatin sandwich untuk sarapan. Dimakan, ya?" suara Kiara terdengar manja, cukup keras untuk didengar orang-orang di koridor.
Livy maju beberapa langkah, menyipitkan mata. Jiwa protektifnya langsung mengambil alih. Ia tidak akan membiarkan ular bermuka dua itu menyentuh Galang.
Sebelum Galang sempat menerima kotak itu, Livy sudah menyelinap di antara mereka berdua. Ia merebut kotak bekal dari tangan Kiara dengan gerakan kilat, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah besar di sebelah loker.
BRAK!
Suasana koridor mendadak hening. Beberapa murid yang lewat langsung berhenti untuk menonton.
"Livy! Apa-apaan sih kamu?!" Galang terkejut, alisnya menukik tajam menatap Livy.
Kiara langsung memasang wajah terzalimi, matanya berkaca-kaca dalam hitungan detik. "Livy... kamu kok jahat banget? Saya cuma mau ngasih sarapan ke Galang..."
Livy mendengus remeh, menatap Kiara dari atas ke bawah dengan pandangan menghina. "Sarapan? Atau racun dari bokap kamu?" Sembur Livy langsung, membuat wajah Kiara sempat pias sedetik sebelum kembali ke mode korban.
Livy kemudian berbalik menghadap Galang. Ia meraih tangan cowok itu, tidak peduli pada tatapan risih Galang. "Lang, dengerin saya. Jangan pernah makan apa pun dari dia. Jangan pernah deket-deket dia. Dia itu cuma disuruh ayahnya buat manfaatin kamu!"
Galang menghela napas berat, melepaskan cengkeraman tangan Livy yang dipenuhi plester luka. Mata Galang sempat tertuju pada jari-jari Livy yang rusak, ada kilat rasa aneh dan kasihan di sana, namun ia tutupi dengan kekesalan.
"Liv, stop bikin drama gila di sekolah. Kiara itu anak baru, dia nggak tahu apa-apa," kata Galang dengan nada dingin yang menusuk. "Dan tangan kamu... kenapa lagi itu? Kamu nyiksa diri kamu sendiri lagi?"
"Ini demi kamu, Lang! Cuma saya yang peduli sama keselamatan kamu!" seru Livy, suaranya mulai bergetar karena frustrasi dan lelah yang menumpuk.
"Saya nggak pernah minta, Livy," ucap Galang datar. Ia kemudian menatap Kiara. "Sorry soal bekalnya, Kiara. Nanti saya ganti di kantin." Galang berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Livy yang berdiri mematung di koridor.
Kiara mendekat ke telinga Livy, senyum manisnya berubah menjadi seringai penuh kemenangan yang hanya bisa dilihat oleh Livy. "Udah gila ya kamu? Mau segila apa pun kamu usaha, Galang tetep bakal masuk ke kantong saya," bisik Kiara teramat pelan, lalu berjalan menyusul Galang dengan langkah anggun.
Livy mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga plester di jarinya hampir terlepas. Rasa perih di fisiknya tidak sebanding dengan gemuruh di dadanya.
"Kita lihat malam minggu di pesta ulang tahun nya Galang, Kiara," desis Livy, matanya menatap tajam punggung Kiara yang menjauh. "Saya bakal pastiin kamu hancur sebelum kamu sempat nyentuh Galang lebih jauh."
Livy memeluk kotak beludru hitamnya lebih erat. Di dalamnya, syal wol rajutan tangannya yang penuh darah dan peluh sudah siap. Pesta ulang tahun Galang lusa nanti bukan sekadar perayaan, melainkan awal dari perang yang akan Livy menangkan.
......................
...****************...
To be continue,