Dante Herrera adalah bos organisasi kriminal paling ditakuti—seorang pria yang tumbuh di dunia penuh timah panas, perintah, dan darah. Namun ketika sebuah bom menghancurkan helikopternya, takdir menjatuhkannya ke tempat yang paling mustahil: halaman sebuah biara yang sunyi.
Mary Mendez baru delapan belas tahun. Seorang yatim piatu yang dibesarkan di balik tembok biara, hidupnya adalah doa, ketenangan, dan kasih tanpa syarat untuk anak-anak panti asuhan. Sampai ia menemukan pria berlumuran darah itu di halaman—dan sesuatu dalam hatinya berbisik bahwa kedatangannya akan mengubah segalanya.
Dua dunia yang seharusnya tak pernah bersinggungan kini saling bertaut. Sang mafia yang tak percaya cinta, dan sang suster yang terikat sumpah pada Tuhan. Setiap tatapan adalah dosa. Setiap detak jantung adalah pertaruhan. Dan semakin keras mereka berusaha menjauh, semakin dalam mereka terjerat.
Namun cinta terlarang bukan satu-satunya bahaya. Rahasia masa lalu, sebuah keluarga yang mengubah gairah menjadi setia, dan musuh lama yang haus balas dendam—semua bersiap menyeret mereka ke dalam badai yang belum pernah mereka bayangkan.
Bisakah kemurnian menyelamatkan seorang pria yang tangannya berlumur dosa? Dan sanggupkah cinta bertahan ketika seluruh dunia menuntut mereka berpisah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gizelly Ladislau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
POV Dante Herrera
Kalau beberapa bulan lalu ada yang bilang bahwa aku akan berdiri di depan altar, dikelilingi keluargaku, menyaksikan saudara-saudaraku menikah di saat yang sama denganku, mungkin aku akan menganggapnya mustahil.
Namun di situlah aku sekarang.
Aula besar itu bermandikan cahaya ratusan lampu keemasan. Anggota mafia, para sekutu, sahabat, dan keluarga duduk di tempat masing-masing dalam keheningan sempurna saat musik mulai mengalun.
Jantungku berdegup lebih cepat.
Lalu aku melihatnya.
Mary muncul di pintu masuk gereja dengan gaun putih, menggenggam buket yang indah, mengenakan kerudung tipis yang semakin mempercantik dirinya. Untuk sesaat, segala hal lain lenyap.
Hanya ada dia.
Di sisiku, Pietro menatap Natália dengan mata berkaca-kaca. Giovanni tak mampu menyembunyikan senyumnya saat melihat Bárbara mendekat. Kevin tampak sepenuhnya terpesona oleh Graziela.
Keempat wanita itu melangkah ke arah kami seolah sebuah hadiah yang dikirim langsung oleh takdir.
Ketika Mary sampai di hadapanku, kugenggam kedua tangannya.
Ia gugup.
Aku pun begitu.
Namun pada saat itu aku menyadari tak ada lagi keraguan.
Dialah orangnya.
Selamanya akan dia.
Upacara dimulai di bawah tatapan penuh haru semua yang hadir.
Kata-kata sang pemimpin upacara bergema di seluruh ruangan saat kami saling mengucapkan janji yang tulus.
Janji cinta.
Janji hormat.
Janji kesetiaan.
Janji untuk tetap bersama dalam saat-saat bahagia maupun dalam kesulitan yang tak terelakkan akan datang.
Lalu tibalah saat yang paling dinanti.
"Apakah kau menerima Mary Mendez sebagai istrimu?" tanya sang pemimpin upacara.
"Aku menerimanya."
Jawabanku keluar dengan mantap.
Tanpa ragu.
Tanpa takut.
Karena aku benar-benar yakin.
Mary tersenyum di sela air matanya.
Ketika ia menjawab bahwa ia juga menerimaku sebagai suami, kurasakan hatiku dipenuhi kebahagiaan yang belum pernah kualami.
Pada saat yang sama, Pietro dan Natália, Giovanni dan Bárbara, Kevin dan Graziela juga saling mengucapkan janji mereka.
Empat pasangan.
Empat kisah.
Empat cinta yang lahir lewat cara-cara yang paling tak terduga.
Ketika cincin-cincin disematkan, tepuk tangan bergemuruh bahkan sebelum pengumuman resmi dibacakan.
Namun masih ada satu tradisi penting.
Upacara resmi keluarga Herrera.
Upacara yang melambangkan persatuan kami di hadapan organisasi.
Para tetua mafia bangkit berdiri.
Satu per satu.
Menunjukkan rasa hormat kepada para wanita baru yang kini menjadi bagian dari keluarga.
Bukan sebagai milik.
Bukan sebagai kewajiban.
Melainkan sebagai istri yang kami pilih sendiri.
Sebagai pasangan hidup.
Sebagai ratu di rumah masing-masing.
Persetujuan itu bulat.
Dan pada saat itu, kegembiraan memenuhi seluruh ruangan.
Tepuk tangan menggema di aula.
Senyuman merekah di mana-mana.
Rômulo Herrera menyaksikan semuanya dengan kebanggaan yang jelas terpancar.
Di sisinya, Consuelo diam-diam menyeka air mata.
Ia telah menampung keempat gadis muda itu ketika mereka membutuhkan pertolongan.
Kini ia melihat mereka membangun keluarga mereka sendiri.
Mustahil untuk tidak ikut terharu.
Resepsi berlangsung persis seperti yang layak kami dapatkan.
Penuh kebahagiaan.
Musik.
Tawa.
Pelukan.
Para pengantin membuka lantai dansa.
Kupeluk pinggang Mary saat melodi lembut memenuhi aula.
Ia menyandarkan kepala di bahuku.
Dan kami berdansa.
Seolah hanya ada kami berdua.
Di sekeliling kami, Giovanni memutar Bárbara di lantai dansa hingga membuatnya tergelak.
Kevin membimbing Graziela dengan segenap kesabaran dan kasih sayang yang hanya bisa ditunjukkan oleh seseorang yang benar-benar jatuh cinta.
Pietro tak sanggup mengalihkan pandangan dari Natália, bahkan sedetik pun.
Dan Natália tersenyum kepadanya dengan cara yang bisa membuat pria mana pun melupakan seluruh dunia.
Ketika dansa pertama usai, seluruh tamu bergabung bersama kami.
Pesta berlangsung hingga larut.
Ada bersulang.
Pidato-pidato penuh haru.
Foto-foto.
Banyak hidangan.
Banyak perayaan.
Dan, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, keluarga Herrera benar-benar bahagia.
Tanpa perang.
Tanpa kehilangan.
Tanpa luka.
Hanya kebahagiaan.
Kami tahu tanggung jawab kami takkan lenyap begitu saja.
Pekerjaan akan segera memanggil kami kembali.
Kewajiban kami akan tetap ada.
Namun pada saat itu, semua itu tidak penting.
Karena akhirnya kami menemukan sesuatu yang benar-benar layak diperjuangkan.
Keluarga kami.
Istri-istri kami.
Masa depan kami.
Ketika malam mendekati akhirnya, setiap pasangan berangkat menuju tujuan bulan madu masing-masing.
Mary dan aku naik ke pesawat, diliputi harapan dan mimpi.
Kevin dan Graziela berangkat dengan wajah berseri.
Giovanni dan Bárbara pergi di antara tawa dan saling menggoda.
Pietro dan Natália tampak tak bisa berhenti tersenyum.
Saat kami saling berpamitan, kupandangi saudara-saudaraku.
Mereka semua bahagia.
Benar-benar bahagia.
Dan itu sesuatu yang langka.
Sesuatu yang berharga.
Sesuatu yang akan kulindungi dengan nyawaku sendiri.
Karena setelah begitu banyak pertempuran, akhirnya kami menemukan kedamaian.
Dan saat kugenggam tangan Mary sepanjang perjalanan kami, aku yakin akan satu hal.
Bagian terbaik dari kisah kami belum berakhir.
Ia baru saja dimulai.