Kurosawa Kaito adalah pria paling sial di seluruh Jepang bukan kiasan, itu fakta yang bisa dibuktikan lewat statistik. Payung selalu ketinggalan pas hujan deras, promosi kerja direbut orang lain di detik terakhir, bahkan mesin ATM pernah menelan kartunya di hari gajian.
Semua berubah saat sahabatnya memaksanya mencoba Aeon Requiem, VRMMORPG full-dive terbaru yang sedang jadi fenomena dunia. Saat membuat karakter, Kaito yang selama ini terlalu sial untuk berharap apa pun asal memasukkan seluruh poin stat awal ke satu parameter yang paling sering diabaikan pemain lain: Luck (Keberuntungan).
Yang tidak ia sangka: sistem game ini menghitung keberuntungan bukan sebagai angka kosmetik, tapi sebagai variabel nyata yang memengaruhi drop rate, critical hit, event tersembunyi, bahkan takdir NPC. Seorang pemain yang di dunia nyata tidak pernah menang undian apa pun, kini menjadi satu-satunya orang yang ditakdirkan untuk selalu beruntung di dunia yang bukan dunia nyata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon webnakama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25 — Panggilan dari Balik Layar
Dua hari setelah World Event, forum komunitas masih heboh banget ngebahas "Retakan Fortuna" video rekaman momen inti retakan berubah biru dan suara misterius yang kedengeran seluruh dataran udah beredar ke mana-mana, di-clip ulang, dianalisis frame demi frame sama ribuan pemain yang penasaran.
Beberapa thread bahkan udah nyusun teori-teori aneh, mulai dari "ini emang bagian dari lore rahasia yang udah direncanain developer dari awal" sampe yang lebih liar kayak "ini bukti ada AI sadar diri di dalam game." Salah satu video analisis yang paling banyak ditonton nyoba masangin suara misterius itu sama profil suara-suara NPC yang udah ada, tapi nggak nemu kecocokan sama sekali.
Kaito yang biasanya cuma ngintip forum sekilas, sekarang jadi susah berhenti scroll, namanya disebut di hampir setiap thread yang ngebahas event itu, meski nggak semua orang yang komen tau persis siapa dia sebenarnya di balik nama karakter itu.
Tapi yang bikin dia berhenti scroll total adalah satu notifikasi yang masuk ke inbox pribadinya, beda banget formatnya dari notifikasi sistem biasa yang selama ini dia terima.
Dari: Divisi Riset & Pengembangan Aeon Requiem Kepada: Kaito
"Terima kasih atas partisipasi Anda dalam World Event 'Retakan Fortuna'. Tim kami tertarik mempelajari lebih lanjut pola statistik unik pada akun Anda, dan ingin mengundang Anda untuk sesi wawancara riset singkat, secara sukarela, guna membantu kami memahami fenomena ini dengan lebih baik. Sesi dapat dilakukan secara virtual di dalam game, pada waktu yang Anda tentukan sendiri."
Kaito baca pesan itu berkali-kali, ngerasa beda banget nadanya dibanding notifikasi investigasi yang bikin dia parno beberapa minggu lalu. Ini lebih formal, lebih personal, dan entah kenapa, kerasa kayak ditulis langsung sama orang, bukan template otomatis. Dia bahkan sempet baca ulang tanda tangannya di bawah pesan itu, "Divisi Riset & Pengembangan," dua kali, mastiin dia nggak salah baca nama divisinya.
Dia langsung forward pesan itu ke grup guild, jarinya sedikit gemeteran pas ngetik.
Kaito: Guys, ini legit atau enggak ya?
Balasan Rin dateng nggak lama kemudian.
Rin: Coba jangan langsung dibales dulu. Gue mau cek sesuatu.
Malemnya mereka ngumpul di markas buat bahas pesan itu bareng-bareng.
"Gue udah cek header pesan itu, ini beneran dikirim dari server internal developer, bukan dari akun pemain biasa yang nyamar. Secara teknis, ini legit." kata Amagi sambil nunjukin analisis teknis di panelnya.
"Tapi kenapa mereka mau wawancara langsung? Kalo emang cuma riset data kan mereka bisa aja ambil dari log sistem tanpa perlu ngobrol langsung sama Kaito." tanya Souma.
"Itu yang bikin gue curiga, developer game gede biasanya nggak repot-repot ngundang wawancara personal ke satu pemain doang, kecuali emang ada sesuatu yang menurut mereka penting banget buat digali langsung." kata Rin dengan ekspresi serius.
Kaito ngerasa perutnya mules lagi, ngerasa déjà vu sama perasaan waswas yang dia rasain pas investigasi kemarin. Bedanya, kali ini nggak ada ancaman jelas kayak "akun dibekukan" cuma ketidakpastian yang entah kenapa, kerasa lebih berat justru karena nggak ada bentuknya yang jelas. "Menurut kalian, gue harus terima apa enggak?"
"Ada plus minusnya, kalo kita terima, kita bisa dapet informasi langsung dari sumber yang mungkin tau lebih banyak soal sistem LUK ini daripada kita semua. Tapi resikonya, kita nggak tau apa maksud sebenarnya di balik ajakan ini, dan kita bakal masuk ke wilayah yang sepenuhnya di luar kendali kita." kata Amagi, mikir sistematis kayak biasa.
"Kalo kita tolak?" tanya Mei.
"Kalo kita tolak, kita kehilangan kesempatan buat dapet jawaban langsung, tapi kita juga tetep aman di posisi kita sekarang." kata Rin.
"Menurut gue, ini kayak dua pilihan yang sama-sama beresiko. Diem aja nggak jamin aman juga kan? Kalo developer emang niat 'ngawasin' Kaito, mereka bisa aja tetep ngelakuin itu diem-diem tanpa kita tau, terlepas dari kita terima undangan ini atau enggak." Souma nyeletuk.
"Poin bagus, minimal kalo kita terima, kita tau kapan dan gimana interaksinya. Itu lebih baik daripada nggak tau sama sekali." kata Amagi, ngangguk.
Mereka semua diem, ngebiarin beratnya keputusan itu ngendep di udara.
"Gue rasa, gue mau terima. Tapi bukan sendirian." kata Kaito akhirnya, suaranya lebih mantap dari yang dia sangka.
Rin natap dia. "Maksud lo?"
"Gue mau minta kalian semua ikut, atau minimal standby deket-deket, kalo emang bisa. Kalo emang ini beneran cuma wawancara riset biasa, ya nggak ada ruginya kalian ada di sana. Tapi kalo ada sesuatu yang aneh, gue nggak mau ngadepinnya sendirian."
Rin mikir sebentar, terus ngangguk. "Masuk akal. Gue bakal coba cari tau juga apa ada cara buat kita 'ikut' meski secara teknis undangannya cuma buat lo doang."
"Aku bisa siapin rencana darurat, kalo-kalo emang ada yang nggak beres. Semacam sinyal darurat yang bisa lo kirim diem-diem kalo situasinya berubah jadi berbahaya." tambah Amagi.
"Itu ide bagus, kita bisa pake kode sederhana, kayak kata kunci tertentu yang keliatan biasa aja kalo didengerin orang lain, tapi kita semua ngerti maksudnya." kata Rin.
Souma nepuk pundak Kaito, mantap. "Kita di belakang lo, apa pun yang kejadian."
Mei ngangguk semangat. "Aku juga bawa potion ekstra kayak biasa, dan kalo perlu aku bisa siap logistik cadangan di deket lokasi."
"Kalian nggak harus segitunya, ini kan cuma wawancara." kata Kaito, agak terharu.
"Mendingan siap berlebihan daripada nyesel kurang siap, apalagi buat sesuatu yang belum pernah kita alamin sebelumnya." kata Rin tegas.
Kaito ngerasa hangat ngeliat semua orang siap dukung dia tanpa ragu, walau situasinya masih penuh ketidakpastian.
Besoknya Kaito bales pesan itu, milih waktu wawancara buat dua hari lagi, malem biar dia punya waktu nyiapin diri sekaligus koordinasi sama tim.
Balasan dateng cepat, cuma satu kalimat singkat:
"Baik. Kami akan menghubungi Anda pada waktu yang ditentukan. Terima kasih atas kesediaannya."
Kaito natap pesan itu, ngerasa ada sesuatu yang aneh dari kesederhanaan balasan itu terlalu rapi, terlalu terkontrol, kayak ditulis sama seseorang yang sangat hati-hati milih tiap kata. Nggak ada emoji, nggak ada basa-basi tambahan, cuma inti pesan yang efisien banget sampe kerasa hampir dingin.
Malemnya sebelum logout, dia sempet cerita ke Souma lewat panggilan pribadi, di luar grup guild.
"Lo takut?" tanya Souma, langsung.
"Dikit, tapi lebih ke penasaran sih. Selama ini gue selalu ngerasa ada yang 'ngawasin' dari jauh, tapi nggak pernah tau siapa. Mungkin ini kesempatan buat akhirnya tau." kata Kaito jujur.
"Lo inget nggak, waktu pertama kali gue ngajak lo main? Lo bilang toh nggak ada ruginya juga. Sekarang keliatannya udah jauh banget dari kalimat sesimpel itu." kata Souma, nadanya jadi lebih reflektif.
"Ya... gue juga nggak nyangka bakal sejauh ini." Kaito ketawa kecil.
"Yaudah, asal lo inget, apa pun yang bakal kejadian, lo nggak sendirian. Kita semua di belakang lo." kata Souma.
"Thankss Souma."
"Nggak usah makasih-makasihan, kita kan tim."
Kaito ketawa kecil, ngerasa sedikit lebih ringan denger itu.
Malam itu sebelum tidur di dunia nyata, dia sempet mikir lama, natap langit-langit kamarnya. Dua hari lagi, dia bakal ketemu entah secara langsung atau lewat panel virtual sama seseorang atau sesuatu yang selama ini cuma jadi bayangan di balik semua kejadian aneh yang dia alamin sejak hari pertama dia main.
Dia nggak tau apa yang bakal dia temuin. Tapi entah kenapa dia punya firasat, jawaban yang bakal dia dapetin nanti bakal ngubah banyak hal, baik buat dirinya sendiri, buat Rin, buat seluruh tim yang udah dia bangun dari nol.
Dia natap panel resonansi yang masih nempel di sudut matanya, angka 78% yang belum berubah sejak World Event. Entah kenapa dia punya firasat, angka itu bakal berubah lagi, tidak lama lagi setelah pertemuan yang bakal dia hadapin lusa.
Dia ngecek HP-nya sekali lagi, natap pesan singkat dari divisi riset itu, terus ngetik pesan pendek ke Rin sebelum bener-bener merem.
Kaito: Makasih udah bantu mikirin ini bareng-bareng. Apa pun yang kejadian lusa, gue seneng nggak ngadepinnya sendirian.
Balasan Rin dateng nggak lama kemudian, singkat tapi cukup buat bikin dia senyum sebelum tidur.
Rin: Selalu. Tidur yang cukup oke? Lusa kita butuh kepala yang jernih.
Kaito naro HP-nya di meja, natap langit-langit kamar sekali lagi, dan buat pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, dia berhasil tidur tanpa mikirin skenario terburuk yang mungkin kejadian. Besok masih ada satu hari kerja biasa yang harus dia lewatin sebelum pertemuan itu, dan entah kenapa, dia berharap harinya berjalan senormal mungkin.