Indonesia
NovelToon NovelToon
CINTA YANG DULU KAU TOLAK

CINTA YANG DULU KAU TOLAK

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kayla Rane

Wulan akhirnya terbebas dari pernikahan penuh luka setelah menceraikan Handi, suami yang kerap melakukan KDRT dan berselingkuh.

Demi menghidupi Delon dan Astrid, ia pergi ke kota dan menerima pekerjaan sebagai pengasuh sekaligus ART di sebuah rumah mewah.

Namun, Wulan tidak pernah menyangka pemilik rumah itu adalah Rian—lelaki yang pernah ia cintai saat kuliah, tetapi menolaknya karena menganggap Wulan bukan perempuan yang sesuai kriterianya.

Bertahun-tahun kemudian, keadaan justru berbalik. Rian mulai melihat ketulusan, ketegaran, dan kasih sayang Wulan kepada anak-anaknya. Di saat yang sama, Rian mulai menyesali pernikahannya dengan Nita, wanita karier yang lebih sibuk mengejar dunia model dan iklan daripada memperhatikan keluarga.

Rian yang dulu menolak Wulan kini perlahan jatuh cinta kepadanya. Tetapi Wulan bukan lagi gadis yang sama. Setelah melewati begitu banyak luka, mampukah ia membuka kembali hatinya untuk lelaki yang dulu pernah membuatnya merasa tidak cukup baik?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kayla Rane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22 : SEBUAH PELUKAN KECIL

...BAB 22 ...

...SEBUAH PELUKAN KECIL...

“Sudah selesai!” seru Delon beberapa menit kemudian.

Rian memeriksa seluruh jawabannya. “Bagus. Semuanya benar.”

Delon tersenyum lebar. “Kalau belajar sama Papa, Delon jadi ngerti.”

Kalimat itu membuat Rian terdiam sesaat. Ia menatap wajah polos Delon. “Memangnya biasanya siapa yang mengajarimu?”

Delon menunduk sambil memainkan ujung pensil. “Dulu… Delon sering minta diajari sama Papa yang dulu.”

Rian tidak langsung menanggapi.

Ia tahu Wulan memiliki masa lalu yang tidak menyenangkan bersama mantan suaminya. Namun, ia belum pernah bertanya terlalu jauh tentang bagaimana hubungan Handi dengan kedua anak itu.

“Lalu?” tanyanya lembut.

Delon mengangkat bahu. “Papa yang dulu nggak pernah mau.”

Senyum di wajah Rian perlahan menghilang. “Kenapa?”

“Katanya Delon berisik. Kalau Delon tanya terus, Papa marah.”

Delon mengatakannya begitu saja, seolah sedang menceritakan kejadian biasa. Namun, bagi Rian, kalimat itu terasa berbeda.

Anak sekecil ini seharusnya tidak perlu takut meminta bantuan kepada ayahnya sendiri. “Kalau begitu, siapa yang membantu kamu mengerjakan PR?”

“Mama.” Delon mengusap hidungnya. “Tapi Mama juga banyak kerjaan. Kadang Delon nggak tega ganggu Mama.”

Rian menatap anak itu beberapa saat. “Kamu nggak mengganggu siapa-siapa kalau bertanya tentang pelajaran, Delon. Anak-anak memang perlu dibantu saat belajar.”

Delon mengangguk kecil. Kemudian, tanpa disadari, kalimat lain meluncur dari mulutnya. “Papa yang dulu juga nggak peduli sama kami.” ucapnya lagi yang membuat Rian kembali tertegun mendengarnya.

Delon masih menatap buku tulisnya. “Setiap hari Papa bikin Mama nangis.”

Suasana ruang keluarga seketika berubah.

Rian tidak segera menjawab. Ia hanya memandang Delon, berusaha mencerna pengakuan yang keluar begitu polos dari mulut anak itu.

“Delon…” panggilnya pelan.

Anak itu mendongak. “Papa yang dulu sering marahin Mama. Kadang Mama nangis diam-diam di kamar. Delon sama Astrid dengar, tapi kami nggak bisa apa-apa.”

Rian mengepalkan tangannya di atas lutut. Ia teringat cerita Wulan tentang perlakuan Handi. Tentang luka-luka yang pernah dilihatnya sendiri. Namun, mendengar dampaknya dari mulut Delon membuat kemarahannya terasa berbeda.

Bukan hanya Wulan yang terluka. Kedua anak itu juga menyimpan kenangan yang seharusnya tidak perlu mereka alami.

“Sekarang Mama sudah nggak tinggal bersama Papa yang dulu, kan?” tanya Rian hati-hati.

Delon mengangguk. “Iya. Sekarang kami tinggal di sini.”

“Dan kamu merasa lebih tenang?”

“Iya.”

Delon memandang Rian dengan mata berbinar. “Apalagi kalau ada Papa Rian.”

Rian kembali terdiam.

Anak itu tersenyum kecil. “Papa mau ngajarin Delon. Papa juga mau main sama Delon dan Astrid. Papa nggak marah kalau Delon banyak tanya.”

Rian mengusap rambutnya. “Kalau soal pelajaran, kamu boleh bertanya. Tapi jangan lupa, kamu juga harus berusaha sendiri, ya.”

“Iya, Pa!” Delon kembali memeluk lengannya.

Kali ini Rian membalas dengan mengusap punggung kecil anak itu. Ia tidak tahu harus mengatakan apa.

Ada rasa sesak yang sulit dijelaskan ketika membayangkan Delon tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya hanya menjadi gangguan bagi ayah kandungnya sendiri.

“Delon,” ucap Rian akhirnya, “kamu anak yang pintar. Jangan pernah merasa kamu merepotkan hanya karena butuh bantuan.”

Delon mengangguk. “Kalau Delon sedih, boleh cerita sama Papa?”

Pertanyaan itu membuat Rian menatapnya lebih lama. “Boleh.”

“Kalau Delon takut?”

“Juga boleh.”

“Kalau Delon kangen Mama?”

Rian tersenyum tipis. “Ya, tentu saja. Mama kamu ada di sini. Kamu bisa memeluknya kapan pun kamu mau.”

Delon tertawa kecil. “Kalau begitu, Delon mau peluk Mama juga!”

Ia beranjak dari sofa dan berlari ke arah Wulan yang sejak tadi berdiri tak jauh dari mereka menemani Rana dan Astrid.

“Mama!”

Wulan segera membungkuk, menyambut pelukan putranya.

“Kenapa, Sayang?”

“PR Delon sudah selesai. Papa yang ngajarin!”

Wulan tersenyum sambil melirik Rian. “Terima kasih. Maaf merepotkan.”

“Tidak merepotkan,” jawab Rian santai. “Lagipula, dia cepat mengerti. Cuma tadi sempat panik duluan.”

Delon menggeleng..“Enggak, Pa. Soalnya susah!”

Rian tertawa. “Nah, itu namanya mencari alasan.” katanya yang langsung mencubit pelan hidung Delon gemas.

Delon ikut tertawa, membuat Wulan tak kuasa menahan senyumnya. Untuk beberapa saat, ruang keluarga dipenuhi suara tawa mereka.

Namun, di balik senyum itu, Wulan menyimpan perasaan yang sulit ia ungkapkan.

Ia bersyukur Rian memperlakukan anak-anaknya dengan baik. Tetapi semakin dekat Delon dengan pria itu, semakin besar pula kekhawatirannya.

Ia tidak ingin putranya menggantungkan seluruh harapan kepada seseorang yang suatu hari mungkin akan pergi dari kehidupan mereka.

Sementara itu, Rian kembali menatap Delon yang kini sibuk menunjukkan hasil PR-nya kepada Astrid.

Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya sore itu.

Selama ini, ia menganggap kedekatannya dengan anak-anak Wulan sebagai hal yang wajar. Mereka tinggal serumah, dan ia hanya ingin membuat mereka merasa nyaman.

Namun, setelah mendengar cerita Delon, ia menyadari bahwa perhatian kecil yang selama ini ia berikan ternyata berarti jauh lebih besar bagi anak itu.

Rian menghela napas pelan. Ia belum tahu bagaimana masa depan hubungan mereka.

Tetapi satu hal terasa jelas baginya. Ia tidak ingin Delon kembali merasa bahwa dirinya adalah anak yang tidak layak diperhatikan.

*****

Di tempat lain, Handi masih duduk di meja kerjanya. Ia mengeluarkan sebatang rokok, menyalakannya, lalu mengisapnya dalam-dalam sambil memikirkan pertemuannya dengan Rian tadi.

Laporan yang harus diperiksanya belum selesai. Namun, pikirannya terus melayang pada sosok Rian.

Pria itu bukan hanya seorang direktur utama. Ia juga pria yang pernah dilihatnya bersama Wulan dan kedua anaknya.

Handi menyandarkan punggung ke kursi. “Jadi, Wulan sekarang dekat dengan bos besar…” gumamnya.

Ia mengingat cara Delon dan Astrid menyambut Rian di taman hiburan.

Waktu itu, ia mengira Wulan hanya sedang bersama seorang pria kaya yang kebetulan mengajaknya jalan-jalan.

Sekarang, semuanya terasa berbeda. Handi tidak tahu apa hubungan sebenarnya antara Wulan dan Rian. Ia juga tidak tahu mengapa kedua anaknya terlihat begitu nyaman dengan pria itu.

Namun, satu hal mulai mengusik pikirannya. Jangan-jangan kehidupan Wulan sekarang jauh lebih baik daripada yang pernah kubayangkan.

Rahang Handi mengeras. Ia tidak menyukai kenyataan bahwa mantan istrinya mungkin telah menemukan tempat yang lebih baik setelah meninggalkannya.

Dan tanpa ia sadari, rasa penasaran itu perlahan berubah menjadi keinginan untuk mengetahui lebih banyak tentang kehidupan baru Wulan.

****

Sementara di rumah Rian, Delon kembali duduk di samping pria itu, menunjukkan soal matematika berikutnya.

“Pa, besok kalau ada PR lagi, Papa ajarin Delon, ya?”

Rian meliriknya. “Kalau Papa tidak sedang sibuk, tentu.”

Delon tersenyum puas. “Janji?”

Rian mengulurkan kelingkingnya. “Janji.”

Delon segera mengaitkan kelingking kecilnya pada jari Rian.

Dan dari kejauhan, Wulan menyaksikan pemandangan itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

Bukan karena sedih. Melainkan karena untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia melihat Delon tersenyum tanpa rasa takut.

Senyum yang sederhana. Senyum seorang anak yang akhirnya merasa didengarkan.

Bersambung...

1
Lisa
Rian harus tegas..milih Wulan atau Clarisa..
falea sezi
laki g punya pendirian klo.mau ma. Clarisa jauhin wulan😒 serakah jd. laki. jangan php
falea sezi
cari krja di tempat lain aja rian aja plin plan🤣
araaself
lanjutt
Lisa
Clarisa ini ganggu suasana rumah aj..tiap hari dtg ke rmhnya Rian..moga aj Rian g tertarik pd Clarisa 🤭
Lisa
Aduh Bu Ranti dtg lg..ganggu aj nih
Lisa
Pasti Rian g mau menerima perjodohan itu
Lisa
Bu Ranti ini cerewet banget..
falea sezi
cari krja di tempat lain wulan😒
falea sezi
pergi aja wulan cari krja lain 😒 ngapain di injak2 gt meski cm. pembokat 😒
Lisa
Bu Ranti aj yg pergi dr rumahnya Rian..benar Rian kmu harus tegas terhadap ibumu..Wulan ga salah..
falea sezi
klo ikut ngatur krja g nyaman keluar aja cari krja lain😒 bawel amat lampir
Lisa
Ranti ini ikut campur aj dlm RT nya Rian..udh mending balik ke rmhmu sana Bu 🤭😊
Lisa: 😊😊 ya Kak
total 2 replies
Lisa
Ibunya Rian ini mengganggu ketenangan aja..udh biarkan Rian mengatur hidupnya sendiri.
Lisa
Ngapain juga Handi peduli sama Wulan..toh mrk udh bercerai dan dari dulu Handi terpaksa nikah dgn Wulan
Lisa
Rian mulai jatuh cinta lg nih 😊
falea sezi
🤣🤣mampus sok cari yg modern makan itu cwek. modern😒😒😒 sukurin dapet istri spek jalang
✨Kayla Rane✨: hahaaa😂 bener k
total 1 replies
Lisa
Handi emg kejam bgt..cpt sembuh y Wulan dr luka fisik & luka batinnya..skrg kmu punya Rian yg selalu ada utkmu..
Lisa
Udh Handi g usah ngawasi Wulan terus..urus aj hidupmu sendiri.
✨Kayla Rane✨
Terimakasih atas dukungannya ♥️♥️♥️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!