Indonesia
NovelToon NovelToon
The Promish Hyung

The Promish Hyung

Status: sedang berlangsung
Genre:BTS / CEO
Popularitas:47
Nilai: 5
Nama Author: Dewi_BtsOt7

Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.

Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.

8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.

Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.

Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.

"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

20

Tiga hari telah berlalu sejak insiden penembakan di kafe "The Old Oak". Lee Soo-hyuk masih dalam kondisi kritis di ruang ICU, dijaga ketat oleh polisi karena statusnya sebagai saksi kunci. Kim Seokjin telah sadar, namun ia memilih untuk tetap dirawat di rumah sakit dengan alasan "pemulihan pasca-syok", padahal itu adalah strategi untuk menghindari perhatian musuh sambil memulihkan tenaganya yang semakin menipis.

Di sisi lain kota, tiga saudara dari keluarga Park-Xiumin, Chen, dan Jihoon-sedang bekerja dalam keheningan yang tegang di ruang kerja pribadi Xiumin di gedung pencakar langit mereka. Meja besar itu dipenuhi dengan dokumen fotokopi, peta Seoul tua, dan laptop yang menampilkan berbagai database terenkripsi.

"Aku berhasil menghubungi mantan rekan Detektif Han," kata Jihoon, memecah keheningan. Matanya lelah, lingkaran hitam terlihat jelas di bawah kelopak matanya, tanda bahwa ia hampir tidak tidur selama tiga hari terakhir. "Detektif Han tidak menghilang. Dia dipindahkan paksa ke divisi administrasi di daerah terpencil di Gangwon-do setelah kasus orang tua kita ditutup. Dia pensiun dini dua tahun lalu."

Chen mengetik sesuatu di laptopnya, alisnya berkerut. "Aku menemukan aliran dana mencurigakan dari perusahaan cangkang bernama Blue Horizon Corp ke rekening pengacara yang menangani kasus kecelakaan kita sepuluh tahun lalu. Jumlahnya besar. Sangat besar."

Xiumin menatap layar Chen. "Blue Horizon Corp... Nama itu terdengar familier." Ia berjalan ke lemari arsip lamanya, mengambil sebuah folder berdebu. "Ini adalah daftar klien ayah kita sebelum dia meninggal. Ada satu nama yang sering muncul dalam transaksi gelap tapi tidak pernah tercatat resmi: Kwon Tae-woo."

Jihoon segera mencari nama itu di mesin pencari internalnya. Hasilnya membuat ketiganya terdiam.

Kwon Tae-woo. Mantan mitra bisnis ayah Jin dan ayah mereka. Seorang pengusaha konstruksi yang bangkrut drastis tepat setelah kematian kedua pasangan orang tua tersebut. Kini, dia hidup mewah di Singapura, menjalankan jaringan logistik internasional yang menjadi tulang punggung bagi banyak perusahaan besar di Korea, termasuk beberapa vendor utama Kim Corp.

"Dia punya motif," gumam Chen dingin. "Dendam karena bangkrut? Atau mungkin... dia ingin menguasai aset mereka?"

"Lebih dari itu," kata Jihoon, menunjuk grafik koneksi yang ia buat. "Lihat ini. Blue Horizon Corp ternyata adalah anak perusahaan dari konglomerat yang dipimpin oleh Kwon Tae-woo. Dan tebak siapa yang menjadi direktur operasional Blue Horizon saat dana suap itu dikirim?"

Xiumin dan Chen mencondongkan tubuh untuk melihat lebih dekat. Nama yang tertera di sana membuat darah mereka mendesis: Min Seokhun (Xiumin) sendiri, tapi dengan nama samaran yang digunakan saat ia masih kuliah dulu untuk proyek ilegal kecil-kecilan yang ia kira sudah terlupakan.

"Aku..." Xiumin tertegun. "Aku tidak ingat ini. Aku dulu pernah diminta membantu teman kampus untuk mengurus dokumen pengiriman. Aku tidak tahu itu terkait dengan pembunuhan orang tua kita."

"Kau dimanfaatkan, Hyung," kata Jihoon pelan, tanpa nada menghakimi. "Kwon Tae-woo memainkan kita semua. Dia menggunakan kebodohan masa mudamu untuk menutupi jejaknya, dan menggunakan kematian orang tua kita untuk mengambil alih pasar konstruksi yang sebelumnya dikuasai ayah kita dan ayah Jin."

Ruangan hening. Realitas itu pahit. Mereka bukan hanya korban, tapi juga alat yang tidak sadar dalam rencana jahat seseorang.

"Sekarang apa?" tanya Chen, mengepalkan tinjunya. "Kita konfrontasi dia?"

"Tidak," potong Jihoon tegas. "Jika kita menyerangnya sekarang, dia akan menghancurkan bukti-bukti sisa. Kita butuh bukti fisik yang menghubungkan dia langsung dengan sabotase rem mobil. Kita butuh akses ke bengkel tempat mobil orang tua kita diperbaiki terakhir kali sebelum 'kecelakaan'."

"Bengkel itu sudah tutup sepuluh tahun lalu," kata Xiumin.

"Tapi pemiliknya masih hidup," sambung Jihoon. "Pak Choi. Dia tinggal di Incheon. Aku sudah melacak alamatnya."

Xiumin menatap adik bungsunya dengan rasa hormat baru. Jihoon, yang dulu selalu ia anggap terlalu idealis dan lemah, kini menunjukkan ketajaman strategis yang mengerikan.

"Baik," kata Xiumin, berdiri dan mengambil jaketnya. "Kita pergi ke Incheon malam ini. Chen, siapkan tim keamanan diam-diam. Jangan beri tahu siapa pun, bahkan staf terdekat kita. Jika Kwon Tae-woo punya mata-mata di dalam perusahaan kita, kita harus berasumsi bahwa setiap gerakan kita diawasi."

Chen mengangguk, wajahnya serius. "Aku akan mengurus transportasi. Mobil biasa, plat nomor palsu."

Jihoon menyimpan semua dokumen ke dalam tasnya. Jantungnya berdegup kencang. Ini adalah pertama kalinya ia bekerja sama dengan kedua kakaknya sejak ia pindah keluar. Ada rasa canggung, tapi juga solidaritas yang kuat karena tujuan yang sama: Kebenaran.

Sementara itu, di kamar rumah sakit VIP, Kim Seokjin duduk di tepi tempat tidur, menatap hujan di luar jendela. Taehyung sedang tertidur pulas di sofa samping, kelelahan karena menjaga kakaknya siang dan malam.

Jin memegang ponselnya. Ia baru saja menerima pesan terenkripsi dari Yoongi.

"Hyung, ada aktivitas aneh di server lama Kim Corp. Seseorang mencoba mengakses arsip bengkel mobil tahun 2016. Jejak digitalnya mengarah ke IP address yang terdaftar atas nama perusahaan cangkang milik Kwon Tae-woo. Tapi yang menarik... ada login kedua dari lokasi yang sama, menggunakan kredensial administratif tingkat tinggi milik keluarga Park (Xiumin)."

Jin mengerutkan kening. Keluarga Park? Mengapa Xiumin dan Chen menyelidiki hal yang sama dengannya? Apakah mereka juga menerima surat anonim itu?

Jin merasa bingung. Apakah ini jebakan? Atau apakah Xiumin dan Chen juga mulai curiga pada pihak ketiga?

Tiba-tiba, pintu kamar terbuka pelan. Dokter Wang Do masuk, membawa hasil tes darah terbaru Jin. Wajah dokter tua itu sangat serius.

"Tuan Kim," kata Dokter Wang pelan, memastikan Taehyung masih tidur. "Kita perlu bicara. Sekarang."

Jin menelan ludah, merasakan firasat buruk. "Apa hasilnya, Dokter?"

Dokter Wang menyerahkan selembar kertas. Bukan hasil tes darah biasa. Itu adalah hasil biopsi sumsum tulang yang dilakukan secara rahasia kemarin saat Jin pingsan.

"Kondisimu memburuk lebih cepat dari prediksi, Jin-ah," kata Dokter Wang, suaranya berat. "Sel-sel darah putihmu menurun drastis. Infeksi bisa datang kapan saja. Dan pendarahan... itu bukan sekadar efek samping obat. Itu tanda bahwa sistem pembekuan darahmu hampir gagal total."

Jin menatap kertas itu, tangannya gemetar. "Berapa lama waktu yang aku miliki, Dokter? Dengan pengobatan intensif?"

Dokter Wang menghela napas panjang. "Jika kau berhenti bekerja total, menghindari stres, dan menjalani transplantasi sumsum tulang segera... mungkin enam bulan hingga satu tahun. Tapi jika kau terus memaksakan diri seperti sekarang... mungkin hanya beberapa minggu lagi sebelum tubuhmu menyerah sepenuhnya."

Dunia Jin seolah berhenti berputar. Beberapa minggu.

Ia menatap Taehyung yang tidur damai. Ia memikirkan Jihoon yang baru saja menemukan jalannya sendiri. Ia memikirkan Xiumin dan Chen yang mungkin sedang bergerak menuju kebenaran yang sama.

Aku tidak punya waktu, pikir Jin pahit. Aku harus menyelesaikan ini sebelum aku mati.

"Jangan beri tahu siapa pun," bisik Jin, suaranya pecah. "Terutama Taehyung. Simpan rahasia ini sampai aku meminta izin untuk membocorkannya."

Dokter Wang menatap Jin dengan sedih, lalu mengangguk perlahan. "Seperti permintaanmu, Tuan Kim. Tapi ingat... tubuhmu tidak bisa berbohong selamanya."

Jin menutup matanya, menahan air mata yang ingin tumpah. Di luar, petir menyambar, menerangi kegelapan malam yang semakin pekat. Perang melawan waktu telah dimulai, dan musuh terbesarnya bukanlah Xiumin, Chen, atau Kwon Tae-woo.

Melainkan kematian itu sendiri.

1
aytysz
Semangat yaa kak! kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku. Di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka...
Dewi_BtsOt7: siap ka nanti aku mampir kalo lagi luang..

aku lagi ngejar up di 3 platfrom🤭
total 1 replies
AntyKa
penasaran😄
Dewi_BtsOt7: di tunggu kelanjutannya ya ka
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!