Indonesia
NovelToon NovelToon
Pada Akhirnya, Kamu

Pada Akhirnya, Kamu

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / CEO / Romansa
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: arrasy

Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.

Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.

Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.

Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.

Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.

Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.

Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17. Terlalu Dekat

Hari-hari berlalu dengan cepat. Setiap pagi Naira datang ke kantor, dan hampir selalu menemukan Mikael sudah ada di sana.

Setiap makan siang mereka bersama. Setiap kali ada rapat, mereka duduk berdampingan. Dan setiap kali pulang, Mikael sering kali menawarkan diri untuk mengantar Naira pulang, alasan yang selalu sama, demi meyakinkan semua orang bahwa hubungan mereka nyata.

Namun semakin lama, alasan itu terdengar semakin tipis. Bahkan bagi mereka sendiri.

Pagi itu, hujan turun deras sekali. Naira berdiri di depan pintu gedung, menatap tetesan air yang menutupi pemandangan di depannya. Ia tidak membawa payung, dan kendaraan yang dipesannya belum juga datang.

"Naira.."

Suara rendah itu terdengar dari belakangnya. Naira menoleh dan melihat Mikael berdiri di sana, mengenakan jas yang tetap rapi meskipun cuaca buruk. Di tangannya ada sebuah payung besar.

"Pulang bersamaku saja." Mikael membuka payung dan melangkah mendekat. "Aku mengantarmu. Lagipula, bukankah seharusnya pacar yang saling menjaga?"

Naira memutar mata, namun sudut bibirnya terangkat. "Kamu selalu punya alasan yang bagus."

"Aku orang yang bijaksana." Mikael tersenyum dan memberi isyarat agar Naira berjalan bersamanya di bawah payung.

Mereka berjalan berdampingan. Payung itu cukup besar untuk menampung mereka berdua, namun jarak di antara mereka tetap sangat dekat. Bahu mereka sesekali bersentuhan. Naira bisa mencium aroma parfum Mikael, wangian kayu cendana yang sudah begitu ia kenal, begitu menenangkan.

Di dalam mobil, suasana terasa hangat dan nyaman. Hujan di luar menciptakan suara ketukan yang lembut di atas kaca, seolah-olah memisahkan mereka dari dunia luar.

"Kamu sering melamun akhir-akhir ini," kata Mikael tiba-tiba sambil menyetir. Matanya tetap menatap jalanan, namun perhatiannya jelas tertuju pada Naira.

Naira tersentak. "Benarkah?"

"Ya. Sepertinya kamu sedang memikirkan sesuatu yang berat."

Naira menatap jendela di sebelahnya. "Banyak hal yang dipikirkan. Pekerjaan. Ravian. Selena. Dan... kita."

Mikael meliriknya sekilas. "Kita?"

"Semua ini." Naira melambaikan tangan samar. "Sandiwara ini. Semakin lama, semakin sulit untuk membedakan mana yang pura-pura dan mana yang bukan."

Mikael diam sejenak. Hanya suara hujan dan deru mesin mobil yang terdengar.

"Apakah itu hal yang buruk?" tanyanya pelan akhirnya.

Naira menoleh menatapnya. "Apa maksudmu?"

"Maksudku..." Mikael terdengar ragu, seolah-olah memilih kata-kata dengan sangat hati-hati. "Apakah merasa nyaman bersama seseorang itu hal yang buruk? Meskipun awalnya itu pura-pura?"

Naira menatap wajah sampingnya. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. "Mungkin tidak buruk. Tapi bisa menyakitkan. Saat semuanya berakhir. Saat sandiwara ini selesai."

"Siapa yang bilang semuanya harus berakhir menyakitkan?"

Naira tidak menjawab. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Pertanyaan itu terlalu berat. Terlalu banyak makna tersembunyi di baliknya.

**********

Beberapa hari kemudian, mereka bekerja lembur bersama di ruang desain. Malam sudah sangat larut. Hujan masih turun, meski tidak sehebat pagi tadi. Di ruangan itu hanya ada suara gesekan pensil di atas kertas dan suara napas mereka berdua.

Naira sedang menatap sebuah sketsa dengan dahi berkerut. Ada sesuatu yang tidak pas. Sesuatu yang belum bisa ia temukan.

Mikael berdiri di belakangnya. Ia tidak menyela, tidak memberi tekanan. Ia hanya berdiri di sana, menunggu. Dan kehadirannya saja sudah cukup untuk membuat Naira merasa tenang.

"Apa ada yang salah?" tanyanya pelan setelah beberapa saat.

Naira menunjuk bagian leher gaun di sketsa itu. "Ini. Terlalu kaku. Tidak mengalun. Tapi kalau aku ubah, keseimbangannya akan hilang."

Mikael mendekat. Ia berdiri tepat di samping Naira, bahunya menyentuh bahu perempuan itu. Tangannya terulur perlahan, menunjuk sebuah titik di atas kertas.

"Bagaimana kalau di sini dibuat melengkung sedikit?" jarinya hampir menyentuh kertas, tapi tidak benar-benar menyentuhnya. "Tidak terlalu dalam. Cukup untuk memberi kesan lembut. Dan di bagian bawahnya tetap seperti semula. Keseimbangannya tidak akan hilang."

Naira menatap sketsa itu. Lalu menatap wajah Mikael. Cahaya lampu ruangan yang remang-remang menyinari sisi wajahnya, menonjolkan garis rahang dan matanya yang menatap tajam ke arah kertas. Tatapan yang begitu fokus, begitu cerdas.

"Kamu benar," bisik Naira. "Itu akan terlihat jauh lebih baik."

Mikael menoleh. Matanya bertemu dengan mata Naira. Jarak di antara mereka begitu dekat hingga Naira bisa melihat bayangan dirinya di dalam manik mata Mikael.

Napas mereka seakan berhenti pada saat yang sama. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara. Hanya detak jantung yang berpacu semakin cepat.

Mikael perlahan mengangkat tangannya. Ujung jarinya menyentuh pipi Naira dengan sentuhan yang begitu lembut, seolah-olah ia sedang menyentuh sesuatu yang paling rapuh dan berharga di dunia ini.

"Naira..." suaranya bergetar pelan. "Kamu tahu... kadang aku lupa."

"Lupa apa?" bisik Naira, tidak mampu mengalihkan pandangannya.

"Lupa bahwa ini semua hanya sandiwara."

Kalimat itu menggantung di udara. Naira menelan ludah. Ia merasakan hal yang sama persis. Setiap kali Mikael menatapnya seperti itu.

Setiap kali dia menyentuhnya dengan begitu lembut. Setiap kali dia memperlakukannya seolah-olah dia adalah hal paling berharga yang pernah dimilikinya... Naira juga lupa. Lupa bahwa ini semua hanyalah sandiwara.

"Jangan katakan begitu," bisiknya. "Kalau kamu terus begitu, aku akan benar-benar jatuh cinta padamu."

Mikael tersenyum tipis, senyuman yang penuh kerinduan dan sesuatu yang lain, sesuatu yang sudah tidak bisa lagi disembunyikan.

"Dan kalau itu terjadi..." suaranya semakin pelan, hampir berbisik di bibir Naira "...apa yang salah dengan itu?"

Naira tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab. Karena di dalam hatinya, ia sudah tidak tahu lagi mana yang pura-pura dan mana yang nyata.

Yang ia tahu hanyalah bahwa saat ini, di sini, di dekat Mikael, ia merasa lebih aman, lebih dihargai, dan lebih bahagia daripada saat ia pernah berada di dekat Ravian selama sepuluh tahun.

Mikael perlahan mendekatkan wajahnya. Bibirnya hampir menyentuh bibir Naira. Naira menutup matanya secara tidak sadar, mencondongkan tubuh sedikit ke depan, menunggu...

Tiba-tiba suara guntur menggelegar keras di luar.

DUUAARR!!

 Naira tersentak dan mundur selangkah. Kembali ke kesadaran. Kembali ke kenyataan.

"Maaf..." bisiknya, wajahnya memerah padam. "Aku... aku tidak seharusnya..."

Mikael juga menarik tangannya perlahan. Ia menatap Naira dengan tatapan yang penuh penyesalan sekaligus pengertian.

"Tidak perlu minta maaf," katanya pelan. "Aku juga salah. Aku terlalu jauh melangkah."

Naira memegang dadanya, berusaha menenangkan jantungnya yang masih berpacu liar. "Kita harus berhati-hati. Semakin lama kita bersama, semakin kita lupa diri."

"Kamu takut, Nai?" tanya Mikael lembut.

"Aku takut semuanya menjadi terlalu nyata," jawab Naira jujur. "Dan saat semuanya berakhir, aku yang akan terluka."

Mikael menatapnya lama. Kemudian ia tersenyum, senyuman yang menenangkan namun juga menyembunyikan rasa sakit.

"Aku tidak akan membiarkanmu terluka," katanya. "Aku berjanji."

********

Malam itu setelah pulang, Naira duduk di tepi tempat tidur sambil memegang kedua pipinya yang masih terasa panas. Bayangan wajah Mikael terus muncul di kepalanya. Cara dia menatapnya. Cara dia menyentuhnya. Cara dia berbicara dengan nada yang begitu lembut dan penuh perasaan.

"Apa yang sedang terjadi padaku?" bisiknya sendiri.

Selama bertahun-tahun, hatinya hanya milik Ravian. Selama bertahun-tahun, ia menunggu dan berharap. Dan sekarang, dalam waktu yang sangat singkat, Mikael seolah-olah menyapu semua perasaan itu dan menggantinya dengan sesuatu yang baru, lebih hangat, dan lebih hidup.

Apakah mungkin ia sudah tidak lagi mencintai Ravian? Apakah mungkin ia sudah jatuh cinta pada pria yang seharusnya hanya pura-pura ia cintai?

*********

Sementara itu, di mobilnya, Mikael juga tidak bisa tenang. Ia memegang setir dengan erat, menatap jalanan yang basah karena hujan.

Di dalam hatinya, ada perasaan yang tumbuh semakin kuat setiap harinya. Ia tahu ia seharusnya tidak boleh begini.

Ia tahu ini semua dimulai sebagai kebohongan. Tapi perasaan itu tidak pernah peduli pada bagaimana semuanya dimulai. Perasaan itu hanya peduli pada bagaimana rasanya saat berada di dekat seseorang.

"Maaf, Naira," gumamnya pelan ke ruang kosong mobil. "Aku berusaha sekuat tenaga untuk tetap sekadar berpura-pura. Tapi aku takut, aku sudah gagal sejak pertama kali melihatmu."

Mikael tahu ia sedang memainkan api. Semakin mereka dekat, semakin besar kemungkinan mereka berdua akan terbakar.

Tapi entah kenapa... ia tidak lagi peduli. Ia siap mengambil risiko itu. Karena berada jauh dari Naira ternyata jauh lebih menyakitkan daripada kemungkinan terluka di dekatnya.

1
Evi Anggorowati
kasian naira.. takutnya mikail goyah stlh cinta masa lalunya kembali.. berharap naira bahagia ma mikail, g mengalami patah hati lagi
Evi Anggorowati
penasaran bgt ntar ada rahasia apa yg bikin naira jd galau lg pdhal sptnya mikail beneran tulus mencintai naira
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: karena sebelumnya mempunyai cinta yg besar tetapi dipendam ke Ravian selama bertahun2 kak😊
total 1 replies
Evi Anggorowati
suka ma novelnya gaya bahasanya jg suka semoga happy end ceritanya
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
𓆩♡🍒Mochi🍒♡𓆪
Suka banget sama alurnya, ringan tapi tetap bikin penasaran dan bikin pengen terus baca!”❤
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya😊💖
total 1 replies
mak mak doyan novel
mulai menyimak..
mudah2an cocok 💪
❥␠⃝ ͭ🍁Hs' Arrasy🍒: terimakasih ya. semoga suka💖😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!