"Menikahlah dengan saya, utang studio ibumu sudah pasti saya lunaskan"
"Siapa yang sedang Anda lamar, Tuan?"
"Tidak ada perempuan lain di ruangan ini."
"Apa Anda sedang mengajukan pernikahan transaksional?"
"Itu hakmu untuk menyimpulkan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7. NALURI BERKATA LAIN
BAB 7. Naluri Berkata Lain
Sesekali, Kalandra mengalihkan pandangan ke kantong kertas yang terletak di kursi sebelah. Sebelum kembali ke kantor, ia sempat mampir membeli makan siang dari restoran langganannya. Karena jadwal hari itu masih padat, setelah membahas hasil rancangan Hagia nanti, ia harus mengikuti rapat dengan divisi hukum dan keuangan yang telah dijadwalkan sejak pagi.
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil memasuki pelataran gedung Arshaka Group. Kalandra turun sambil membawa kantong makanan di tangan kirinya.
Begitu memasuki lantai eksekutif, Kalandra tidak langsung menuju ruangannya. Langkahnya berhenti sejenak ketika melewati pantry yang pintunya terbuka. Dari dalam terdengar suara percakapan ringan. Dia mendengar suara Hagia di sana.
Wanita itu duduk di salah satu meja dekat jendela bersama Vanessa. Di hadapan mereka masih tersisa beberapa piring makan siang, sementara dua cangkir teh hangat memenuhi meja kecil itu. Vanessa tampak sedang bercerita tentang sesuatu hingga membuat Hagia tersenyum tipis. Senyum yang selama ini hampir tidak pernah Kalandra lihat ketika wanita itu berada di dalam ruang kerjanya.
Baru beberapa detik memperhatikan dari ambang pintu, kehadiran Kalandra sudah lebih dulu disadari Vanessa. Perempuan itu segera berdiri.
"Selamat siang, Pak Kalandra."
Hagia spontan menoleh. Begitu melihat pria itu berdiri di depan pantry, ia ikut bangkit dari kursinya.
"Tuan."
Kalandra membalas sapaan mereka dengan anggukan singkat. Tatapannya kemudian beralih ke piring makan di hadapan Hagia.
"Kalian sudah makan?"
Hagia melirik piringnya sekilas sebelum menjawab.
"Ini sedang makan siang sama Bu Vanessa."
Nada bicaranya terdengar biasa saja. Baginya, tidak ada yang perlu dijelaskan lebih jauh. Kalandra mengangguk pelan. Pandangannya turun ke kantong makanan yang masih berada di tangannya, lalu kembali menatap Hagia.
"Lalu tugasmu?"
"Sudah selesai."
"Hasilnya?"
"Sudah saya simpan di meja kerja. Saya juga sudah mencetak gambar utama beserta analisis revisinya."
Kalandra mengangguk. "Bagus."
Jawaban singkat itu diikuti keheningan beberapa detik. Vanessa yang berdiri di samping Hagia memperhatikan keduanya secara diam-diam. Entah mengapa, percakapan mereka selalu terasa berbeda. Tidak banyak basa-basi, tetapi seolah masing-masing sudah memahami apa yang harus dilakukan.
Kalandra kembali membuka suara.
"Kalau kamu sudah selesai, kita bahas sekarang."
Hagia mengangguk tanpa ragu.
"Baik, Tuan."
"Presentasinya beberapa hari lagi. Kalau masih ada yang perlu diperbaiki, kita selesaikan hari ini."
"Saya mengerti."
Hagia mengambil ponsel dan kartu identitasnya dari atas meja. Setelah itu, ia menoleh kepada Vanessa dengan senyum meminta maaf.
"Maaf, Bu Vanessa. Ngobrolnya kita lanjut lain kali."
"Tidak apa-apa," jawab Vanessa ramah. "Pekerjaan tetap yang utama."
Hagia mengangguk kecil sebelum melangkah keluar dari pantry mengikuti Kalandra. Baru beberapa langkah berjalan, Hagia memperhatikan kantong makanan yang masih dibawa pria itu.
"Tuan."
Kalandra menoleh singkat.
"Anda belum makan siang?"
"Kita makan di dalam."
Jawaban itu membuat Hagia sedikit terdiam. "Saya tadi sudah makan sama Bu Vanessa."
Kalandra terus berjalan tanpa menghentikan langkahnya.
"Kenalan di mana?"
"Kebetulan ketemu di sana. Beliau nyapa saya duluan. Ternyata, orangnya baik dan ramah, Tuan." Ucapan Hagia begitu bersemangat. Dan tentu disertai senyum tipis di bibirnya.
Hagia mempercepat langkah agar kembali sejajar dengan Kalandra, sementara di belakang mereka Vanessa masih berdiri di depan pantry, memandangi punggung keduanya yang perlahan menghilang di balik koridor lantai eksekutif.
Senyum kecil, masih menghiasi wajahnya, tetapi kini pikirannya dipenuhi rasa penasaran.
Selama bertahun-tahun bekerja di Arshaka Group, ia mengenal Kalandra sebagai pemimpin yang disiplin, menjaga jarak, dan hampir tidak pernah memberi perhatian khusus kepada siapa pun. Bahkan makan siang sering kali dilewatkannya begitu saja demi menyelesaikan pekerjaan.
Namun, hari ini ia melihat sesuatu yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kalandra sengaja kembali membawa makan siang, lalu mengajak Hagia masuk ke ruangannya untuk membahas pekerjaan sambil makan bersama. Semua itu masih bisa dianggap wajar.
Setidaknya, begitulah yang ingin diyakini Vanessa. Karena jika ia mulai memikirkan kemungkinan lain, pertanyaan-pertanyaan yang muncul justru akan semakin sulit menemukan jawabannya.
Sesampainya di ruang CEO, Kalandra lebih dulu meletakkan kantong makanan di atas meja kecil yang berada di dekat dinding kaca. Sementara itu, Hagia langsung menuju meja kerjanya untuk mengambil map berisi hasil revisi rancangan Arshaka Mall yang telah diselesaikannya sebelum jam istirahat tiba. Beberapa lembar gambar kerja, laporan analisis, serta visualisasi tiga dimensi sudah tersusun rapi di dalamnya.
"Silakan duduk," ujar Kalandra sambil membuka isi kantong makanan. Hagia menghampiri meja kecil itu, lalu menyerahkan map yang dibawanya.
"Ini hasil revisinya, Tuan."
Kalandra tidak langsung membuka map tersebut. Ia justru lebih dulu menggeser salah satu kotak makan ke hadapan Hagia.
"Makan dulu."
Hagia menggeleng pelan.
"Anda lihat sendiri saya tadi sudah makan."
"Sisa makananmu tadi masih banyak, artinya kamu baru makan sedikit."
Hagia sedikit terkejut. "Anda memperhatikannya?"
"Ayo makan. Pekerjaan kita masih banyak."
Jawaban itu membuat Hagia tidak lagi mencari alasan. Ia tahu percuma berdebat dengan pria yang sudah mengambil keputusan. Dengan patuh ia duduk, lalu membuka kotak makan di hadapannya.
Kalandra baru mulai membuka map setelah memastikan Hagia benar-benar mengambil sendoknya.
Ruangan kembali sunyi. Hanya suara lembaran kertas yang dibalik sesekali bercampur dengan denting pelan sendok yang menyentuh piring.
Semakin lama Kalandra membaca, sorot matanya berubah semakin serius. Ia tidak menemukan solusi yang sekadar mempercantik tampilan bangunan. Hagia justru membongkar cara berpikir tim arsitek sebelumnya, lalu menyusun pendekatan baru yang jauh lebih efisien. Jalur sirkulasi pengunjung dibuat lebih lapang tanpa mengurangi luas area komersial. Pilar-pilar utama yang semula dianggap mengganggu kini menjadi bagian dari elemen estetika bangunan. Bahkan pencahayaan alami dimanfaatkan untuk mengurangi konsumsi energi tanpa mengubah struktur utama gedung.
Kalandra menutup halaman terakhir, lalu mengangkat pandangannya. Ia memilih menghabiskan makanannya terlebih dahulu sebelum bertanya lebih jauh tentang kecurigaannya.
Baru setelah Hagia selesai merapikan sisa makanan dari atas meja, ia kembali duduk siap membahas hasil kerjanya itu.
"Kamu mengerjakan ini sendirian?"
"Ya, tentu."
"Tidak mencari referensi dari tim lain?"
"Tidak."
Kalandra menatap sambil berpikir. Mana mungkin ide sebrilian ini muncul begitu saja di kepalanya. Bahkan dalam waktu yang jauh dari perkiraan.
"Saya hanya mencoba melihat persoalannya dari sudut yang berbeda."
Kalandra kembali membuka salah satu gambar kerja. Jemarinya berhenti pada sebuah detail kecil di sudut denah.
Teknik itu... entah mengapa terasa sangat familier. Sejak pagi, perasaan itu selalu muncul setiap kali melihat Hagia menyelesaikan persoalan desain. Cara wanita itu membangun logika ruang, menyusun struktur, hingga menentukan arah pencahayaan memiliki pola yang sulit dijelaskan.
Bukan sama persis. Namun, cukup mirip untuk membuat nalurinya terusik.
"Kamu pernah memakai pendekatan seperti ini sebelumnya?" Kalandra mengetuk permukaan kertas di atas meja.
Hagia ikut memperhatikan gambar yang sedang ditunjuk Kalandra.
"Pernah."
"Di proyek mana?"
"Beberapa proyek studio ibu saya."
Jawaban itu terdengar tenang, seolah tidak ada sedikit pun yang perlu disembunyikan. Kalandra tidak segera menanggapi. Ia hanya mengangguk kecil sebelum kembali membalik beberapa halaman. Namun, bagi Hagia itu terdengar seperti sebuah interogasi.
"Secara keseluruhan saya puas."
Hagia mengembuskan napas lega tanpa disadari.
"Namun..."
Mata Kalandra memicing tajam. Seperti menyimpan sedikit kecurigaan di mana ia semakin sering melihat hasil kerja Hagia, ia semakin sulit untuk percaya bahwa asisten pribadinya memiliki kemapuan lebih dari tim arsitek yang sudah lama bekerja di perusahaannya.
Hagia menyadari hal itu. Bagaimana sikap Kalandra tiba-tiba berubah. Sorot mata yang lebih tajam dari biasanya.
Next--->
semoga bukunya sukses
semoga saja ada yang menolong 😔🤲
pada penasaran dengan sosoknya, tapi dia ada didepan orang² yang penasaran padanya 🤭
enak dibaca.. ❤️❤️❤️❤️❤️
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻