JUDUL: BERANDAL
GENRE: Romantis / Aksi / Posesif
TAG: #Badboy #GengMotor #Protective #DarkRomance #EksanPrasetya
***
"Kenapa kau menolongku? Kau tahu aku ini berandal jalanan, kan?"
"Nasya cuma tidak mau melihatmu mati di depan rumah..."
"Kau sudah menyelamatkan nyawaku, Nasya. Di duniaku, sekali kau terlibat dengan seorang berandal, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Mulai hari ini, kau adalah milikku."
***
Eksan tidak pernah memilih untuk menjadi berandal. Namun, kerasnya kehidupan jalanan menempanya menjadi pemimpin faksi pemuda yang paling ditakuti di dalam gang kota. Di balik seragam sekolahnya yang koyak dan jaket hitam berlambang mawar berdarah di lengannya, Eksan adalah definisi nyata dari kata berandal—dingin, ugal-ugalan, dan tak tersentuh hukum. Bagi Eksan, hidup di jalanan hanya tentang satu prinsip: "Dalam gang, hidup berani, mati berarti."
Hingga suatu malam, setelah pertempuran berdarah yang nyaris merenggut nyawanya, Eksan yang terluka
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Denis Suhendar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 21: BELENGGU SANG PENGUASA
Klaim kepemilikan yang diucapkan Eksan beberapa saat lalu seolah membeku di udara, menjadi sebuah sumpah tak kasatmata yang mengunci kebebasan Nasya. Genggaman tangan Eksan di pergelangan tangan gadis itu tidak juga mengendur, bahkan ketika deru napas pemuda itu kembali memberat akibat menahan perih yang luar biasa di perut kirinya.
Nasya hanya bisa terpaku di kursinya. Detak jantungnya bertalu-talu di dalam rongga dada, berpacu dengan rasa lelah yang amat sangat setelah melewati malam yang begitu panjang dan mengerikan. Bau antiseptik klinik yang menyengat bercampur dengan aroma besi dari darah kering di pakaian mereka, menciptakan atmosfer yang menyesakkan.
"Eksan, lepaskan dulu... tanganmu bisa terluka jika memegang sekuat ini," bisik Nasya dengan suara yang nyaris habis. Ia mencoba menggerakkan jemarinya yang mulai kesemutan, namun setiap kali ia mencoba menarik diri, jemari kokoh Eksan justru semakin mengunci posisinya dengan kedegilan yang absolut.
Eksan tidak menjawab. Sepasang mata elangnya yang pekat tetap menatap Nasya tanpa berkedip, seolah-olah jika ia memalingkan wajahnya sedetik saja, gadis sekolah di hadapannya ini akan lenyap menguap ditelan kegelapan malam. Di balik tatapan dingin itu, ada sebuah ketakutan purba yang tersimpan rapat ketakutan akan kehilangan satu-satunya jangkar yang menahan jiwanya agar tidak sepenuhnya jatuh menjadi iblis jalanan yang buta.
"Kau berjanji tidak akan pergi, Nasya," suara Eksan terdengar sangat rendah, parau, dan bergetar di ujung kalimatnya. "Jangan pernah berpikir untuk membohongiku. Orang yang mengkhianati seorang Eksan... tidak akan pernah menemukan jalan pulang mereka."
"Aku tidak bohong, Eksan. Aku di sini," sahut Nasya, kali ini dengan nada yang lebih tenang. Ia menggunakan tangan kirinya yang bebas untuk mengusap punggung tangan Eksan yang dipenuhi bekas luka perkelahian baru. Tindakan kecil itu entah bagaimana memberikan efek magis. Perlahan, ketegangan di urat-urat tangan Eksan mulai mengendur, meskipun ia tetap menolak untuk melepaskan genggamannya sepenuhnya.
Pintu klinik tiba-tiba terketuk pelan sebelum akhirnya terbuka, menampilkan sosok Rangga yang masuk membawa sebuah baskom berisi air hangat dan selembar kain bersih. Di belakangnya, Dokter Surya tampak sedang sibuk merapikan peralatan medis di meja seberang ruangan tanpa berniat mencampuri urusan emosional kedua remaja tersebut.
Rangga berjalan mendekat, lalu meletakkan baskom tersebut di atas meja kecil di samping ranjang Eksan. Ia menatap sang pemimpin yang tampak jauh lebih hidup setelah sadar, lalu beralih pada Nasya yang kondisinya sangat berantakan dengan seragam sekolah yang dipenuhi noda darah kering.
"Bos, pasukan luar sudah dibersihkan. Anak-anak Black Cobra berjaga dalam radius satu kilometer dari bengkel ini. Sisa-sisa bajingan White Tiger tidak akan tahu kita menyembunyikan di sini," lapor Rangga dengan suara baritonnya yang tegas namun penuh rasa hormat.
Eksan mengangguk samar, sebuah gestur minimalis yang menuntut otoritas mutlak. "Bagaimana dengan kondisi di luar? Apakah faksi utara benar-benar runtuh?"
"Hancur total, Bos. Setelah kau menumbangkan Tua Bangka itu secara brutal, nyali mereka habis. Beberapa sub-faksi White Tiger di bagian barat bahkan langsung mengirimkan pesan menyerah malam ini juga. Mereka tahu, tanpa ketua mereka, mereka hanya akan menjadi santapan empuk bagi Black Cobra jika berani mengusik wilayah kita lagi," jawab Rangga, ada kilat kepuasan di matanya. Namun, pandangannya kemudian melunak saat melihat pakaian Nasya. "Nasya, bersihkan dulu dirimu. Seragam... tidak bisa dipakai lagi."
Nasya menatap pakaiannya sendiri dan refleks bergidik ngeri. Merah tua yang mengering dan mengeras di kain putih seragamnya adalah bukti nyata betapa dekatnya ia dengan maut malam ini.
Eksan yang menyadari tatapan ketakutan Nasya langsung bersuara, memotong sebelum Nasya sempat menjawab Rangga. "Rangga, pergi ke markas utama sekarang. Ambil beberapa pakaian bersih di loker pribadiku. Bawa ke sini."
Rangga sempat tertegun sejenak. Loker pribadi Eksan di markas adalah area sakral yang tidak boleh disentuh oleh siapa pun. Pakaian-pakaian di sana adalah jaket dan kaus cadangan milik Eksan yang biasanya berukuran sangat besar. "Pakaianmu, Bos? Untuk Nasya?"
"Lakukan saja, jangan banyak bertanya," potong Eksan dingin, membuat Rangga langsung mengangguk patuh dan segera berbalik meninggalkan ruangan tanpa membantah sepatah kata pun. Keamanan dan kenyamanan gadis itu kini tampaknya telah menggeser seluruh aturan lama di dalam hierarki Black Cobra.
Setelah pintu kembali tertutup, keheningan kembali menguasai ruangan. Nasya menatap baskom air hangat yang dibawa Rangga tadi. Dengan inisiatif sendiri, ia meraih kain bersih di samping baskom, mencelupkannya ke dalam air hangat, lalu memerasnya perlahan. Ia tahu Eksan tidak akan membiarkannya pergi ke kamar mandi sendirian dalam kondisi posesif yang kumat seperti ini.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Nasya mulai menyeka noda darah kering dan debu jalanan yang menempel di wajah Eksan. Ia membersihkan dahi pemuda itu, melewati pelipisnya yang memar kebiruan, lalu turun ke rahang tegas yang beberapa jam lalu berguncang hebat saat melepaskan pukulan mematikan kepada ketua musuh.
Eksan membiarkan setiap sentuhan tangan mungil Nasya di wajahnya. Matanya terpejam menikmati kehangatan kain dan kelembutan jemari gadis itu yang terasa begitu kontras dengan kerasnya dunia luar. Baginya, sentuhan Nasya adalah satu-satunya penawar rasa sakit yang paling mujarab, jauh lebih ampuh daripada dosis morfin yang disuntikkan Dokter Surya ke dalam pembuluh darahnya.
"Kenapa kau tidak membiarkan Rangga membawaku pulang ke rumah, Eksan?" tanya Nasya pelan sambil terus menyeka pipi Eksan. "Ibu pasti sangat mencari... Aku sudah menghilang sejak sore."
Mendengar kata 'pulang', sepasang mata elang Eksan seketika terbuka kembali dengan kilatan tajam yang mengintimidasi. Suasana hangat yang baru saja tercipta mendadak runtuh, digantikan oleh aura protektif yang pekat dan menyesakkan dada.
"Rumahmu tidak lagi aman, Nasya," ucap Eksan dengan nada suara yang bergetar penuh penekanan. "White Tiger memang sudah runtuh, tapi dunia jalanan ini dipenuhi oleh serigala kelaparan yang licik. Begitu mereka tahu bahwa kelemahan terbesar seorang Eksan Prasetya adalah seorang gadis sekolah bernama Nasya, mereka akan menggunakan segala cara kotor untuk menculik, menyiksamu, dan menggunakannya untuk menjatuhkan!"
Eksan mencengkeram lengan Nasya sedikit lebih kuat, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi oleh badai obsesi yang gelap. "Kau pikir aku akan membiarkan hal itu terjadi? Tidak akan pernah, Nasya. Mulai malam ini, tempatmu adalah di sampingku. Di bawah perlindunganku. Di bawah pengawasanku dua puluh empat jam penuh. Kau tidak akan kembali ke rumah itu sampai aku memastikan seluruh kota ini bersih dari musuh-musuhku!"
Nasya menahan napasnya, merasakan getaran absolut dari setiap kata yang keluar dari mulut berandal di hadapannya. Sisi posesif Eksan bukan lagi sekadar bualan remaja yang sedang jatuh cinta; ini adalah benteng kegilaan yang dibangun dari rasa bersalah, trauma jalanan, dan insting protektif seorang pemimpin faksi yang tidak mengenal kata kompromi.
"Tapi sekolahku... pendidikanku..." gumam Nasya lirih, air matanya kembali menggenang di pelupuk mata. Ia merasa dunianya yang normal dan tenang telah dirampas paksa, digantikan oleh belenggu emas yang disediakan oleh sang penguasa aspal kota.
"Aku yang akan mengurus semuanya. Apapun yang kau butuhkan, Black Cobra akan menyediakannya untukmu. Tapi kebebasanmu untuk berkeliaran di luar sana tanpa pengawasanku... sudah berakhir, Nasya," balas Eksan tanpa belas kasihan dalam suaranya, meskipun ada secercah rasa bersalah yang tersembunyi jauh di lubuk hatinya saat melihat air mata gadis itu kembali menetes.
Eksan mengangkat tangannya yang kasar, menggunakan ibu jarinya untuk menghapus air mata di pipi Nasya dengan gerakan yang anehnya sangat lembut, berbanding terbalik dengan kata-katanya yang kejam. "Jangan menangis... Aku melakukan ini karena aku tidak sanggup melihatmu terluka lagi. Mengerti?"
Nasya hanya bisa angguk pasrah dalam diam. Di dalam ruangan klinik yang temaram itu, ia menyadari bahwa dirinya kini bukan lagi sekadar penolong yang menyelamatkan nyawa seorang berandal jalanan. Ia telah bertransformasi menjadi harga diri termahal, kelemahan tersuci, dan sekaligus milik abadi dari seorang Eksan Prasetya—berandal paling berbahaya yang tidak akan pernah membiarkannya lepas, apa pun taruhannya.