Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Dibayar 2M Menjadi Istri Duda Anak 1

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:8k
Nilai: 5
Nama Author: sopiakim

Baru lulus SMA di usia 19 tahun, masa depan Aira hancur berantakan. Ayahnya berselingkuh hingga memiliki anak lain, dan mirisnya, Aira serta ibunya terpaksa tinggal seatap dengan keluarga baru sang ayah demi bertahan hidup. Tekanan batin yang luar biasa membuat sang ibu terserang stroke parah.

​Tanpa biaya pengobatan, Aira mengambil keputusan nekat: menerima penawaran 2 Miliar rupiah untuk menikah dengan Arka Danuartha, seorang duda kaya raya berumur 39 tahun yang dingin dan memiliki putra kecil bernama Elano.

​Kehidupan pernikahan beda 20 tahun ini penuh kejutan. Kepedihan masa lalu Aira dan sifat kaku Arka memicu berbagai momen canggung yang kocak sekaligus menggemaskan, terutama saat Aira belajar menjadi ibu sambung bagi Elano. Namun di balik sikap dinginnya, Arka perlahan menjadi pelindung yang menyembuhkan luka hati Aira. Dari pernikahan kontrak yang berawal dari kepedihan, mampukah cinta sejati tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sopiakim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2.Bayaran 2 Miliar

Hening menjerat ruang makan mewah itu selama beberapa detik. Lampu gantung kristal di atas meja memantulkan bayangan orang-orang yang saling mengunci pandangan dengan kepentingan masing-masing.

Hendra, dengan gelisah bergegas berdiri dari kursinya. Ia tersenyum lebar sambil berdeham pelan untuk memecah kecanggungan yang teramat kaku di udara.

"Ah, ini dia Aira! Aira, ayo duduk di sini, Nak," panggil Hendra dengan nada suara yang dipaksakan sehalus mungkin. Ia menarik salah satu kursi kosong yang berada tepat di hadapan Arka Danuartha, mengisyaratkan putri kandungnya untuk segera mengambil tempat.

Aira melangkah pelan dengan tungkai yang terasa berat seperti dipasangi rantai besi.

Setiap jengkal jarak yang ia pangkas menuju meja makan terasa seperti langkah menuju garis eksekusi. Tatapan dingin Arka yang menusuk seolah mampu menelanjangi seluruh rasa takut, malu, dan keputusasaan yang berusaha setengah mati ia sembunyikan di balik gaun hijau sederhananya.

Saat Aira akhirnya duduk dan menunduk dalam-dalam, mata bulat kecil milik anak di pangkuan Arka menatapnya penuh rasa ingin tahu. Bocah itu memiringkan kepalanya, memperhatikan Aira dari ujung rambut hingga wajahnya yang pucat.

"Papa... Tante itu kok matanya merah? Habis dikutuk sama nenek sihir ya?" celetuk Elano polos dengan suara nyaring, sambil menunjuk lurus ke arah Lina yang duduk di sebelah Hendra.

Uhuk! Hendra yang baru saja hendak meminum air putih langsung tersedak ludahnya sendiri, sementara Lina mendadak mematung dengan senyum yang mendadak kaku bak semen basah. Wajah Lina berubah merah padam menahan malu dan kekesalan yang luar biasa, namun ia tidak berani memarahi anak dari seorang Arka Danuartha.

Aira refleks menutup mulutnya dengan sebelah tangan, menahan kedutan di bibirnya agar tidak kelepasan tertawa. Di tengah situasi berat yang menghimpit dada dan membuatnya ingin pingsan ini, kejujuran tanpa filter dari bocah berusia empat tahun itu terasa seperti setitik udara segar yang sangat ia butuhkan.

"Elano, sopan," tegur Arka datar.

Suaranya berat, dalam, dan tanpa nada marah yang meledak-ledak, namun memiliki otoritas alami yang sanggup membuat Elano langsung menutup mulut rapat-rapat. Bocah kecil itu menyandarkan kepalanya di dada bidang sang ayah, meski matanya yang jernih masih mencuri-curi pandang ke arah Aira.

Arka kemudian mengalihkan pandangannya pada Hendra dan Lina, sepenuhnya mengabaikan basa-basi atau kepura-puraan ramah yang coba dibangun pemilik rumah. "Saya tidak punya banyak waktu untuk obrolan tak berguna. Kita langsung ke intinya saja."

Lina dengan cepat mengambil alih pembicaraan, membenarkan posisi duduknya dan melempar senyum paling manis yang ia miliki. Dibalik wajah ramahnya, otak wanita itu sebenarnya sedang bekerja keras dan memutar skenario licik.

Seminggu yang lalu, saat menghadiri acara arisan sosialita bersama para istri pengusaha, Lina tak sengaja mendengar rumor panas dari kalangan atas. Rumor itu menyebutkan bahwa Arka Danuartha—pria paling berpengaruh di industri otomotif dan properti—sedang mencari seorang istri baru.

Bukan untuk dijadikan pendamping pesta atau dipamerkan di media, melainkan untuk menjadi ibu rumah tangga yang fokus merawat putra tunggalnya yang sangat rewel dan sulit cocok dengan pengasuh manapun.

Otak licik Lina langsung berputar cepat malam itu. Ia melihat peluang emas yang bisa menguntungkan dirinya. Aira adalah umpan yang sangat sempurna. Gadis itu masih polos, tidak punya daya tawar, dan mudah dikendalikan. Dengan memanfaatkan kondisi ibu Aira yang kritis dan terbaring lumpuh akibat stroke, Lina tahu ia bisa memaksa Aira menerima pernikahan ini tanpa syarat.

Rencana besarnya adalah menggunakan wewenang sebagai "keluarga pengantin wanita" untuk memeras uang, meminjam nama besar, dan meminta fasilitas mewah dari Arka di kemudian hari.

Bagi Lina, Aira tidak lebih dari sekadar barang dagangan berharga tinggi yang bisa menyelamatkan keuangan keluarganya yang mulai goyah.

"Tentu saja, Pak Arka," ujar Lina manis dengan kerlingan mata penuh tipu daya.

"Seperti yang sudah saya sampaikan lewat telepon kemarin, Aira ini anak yang sangat penurut, sopan, dan baru saja menyelesaikan pendidikannya di SMA. Dia tidak punya ambisi aneh-aneh seperti anak muda zaman sekarang, dan yang paling penting, dia pasti sangat telaten untuk mengurus Elano. Kami sengaja menyarankannya kepada Pak Arka karena kami yakin Aira adalah opsi terbaik yang tidak akan merepotkan Anda."

Arka sama sekali tidak menanggapi atau membalas ucapan panjang lebar Lina. Ia bahkan tidak sudi melirik wanita itu. Matanya yang tajam bak elang justru beralih sepenuhnya, menatap lurus ke arah Aira yang masih menunduk meremas jemarinya di bawah meja.

"Berapa usiamu?" tanya Arka dingin.

Aira mengangkat wajahnya perlahan. Ia menyerap hawa intimidasi yang memancar dari pria di hadapannya.

"Sembilan belas tahun," jawab Aira pelan tapi jelas, berusaha keras agar suaranya tidak bergetar.

"Masih sangat muda," tanggap Arka datar tanpa ekspresi.

"Kamu tahu kenapa kamu duduk di meja ini malam ini?"

Aira mengepalkan jemarinya lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. Rasa sakit di hatinya membakar dada, namun kenyataan tidak memberinya ruang untuk bersikap naif.

"Tahu. Untuk... menjual diri saya demi biaya pengobatan ibu saya."

Jawaban jujur tanpa aling-aling dan tanpa hiasan kata-kata manis itu seketika membuat ruang makan kembali mencekam.

Hendra melotot tajam pada Aira, memberi isyarat agar putri kandungnya itu menjaga bicaranya, sementara Lina meringis menahan kekesalan karena Aira justru blak-blakan mengungkapkan kondisi mereka.

Namun, reaksi Arka sungguh di luar dugaan. Alis tebal pria itu justru terangkat sedikit. Ada kilat ketertarikan yang sangat tipis di dalam manik mata hitamnya yang biasanya mati rasa. Arka menyukai kenyataan bahwa gadis di hadapannya tidak bersikap drama atau berpura-pura menjadi korban yang suci.

"Bagus kalau kamu sadar posisi," balas Arka dingin. Ia memberi isyarat kecil dengan lirikan mata pada asisten pribadinya yang berdiri tegap di belakang kursinya.

Asisten bernama Raymond itu langsung melangkah maju, meletakkan sebuah map kulit berwarna hitam berisi dokumen tebal tepat di atas meja, di hadapan Aira.

"Itu draf perjanjian pernikahan kita," kata Arka, mengalihkan perhatian Aira pada tumpukan kertas tersebut.

"Kontrak ini berlaku selama tiga tahun. Tugasmu sangat sederhana dan spesifik: urus seluruh kebutuhan Elano, tinggal bersama saya di rumah utama, dan bersikaplah sebagai istri yang patut di depan publik jika diperlukan. Dilarang mencampuri urusan pribadi saya, dilarang mencampuri urusan bisnis saya, dan yang paling penting... dilarang jatuh cinta pada saya."

Aira menatap tumpukan kertas itu dengan dada yang bergemuruh hebat. Kalimat terakhir Arka terasa seperti tamparan, namun ia tahu itu adalah batas yang masuk akal bagi pernikahan bisnis.

"Dan uang dua miliar itu?" suara Aira lirih.

"Dua miliar rupiah akan ditransfer utuh ke rekening rumah sakit dan tim dokter spesialis yang menangani ibumu malam ini juga, tepat setelah kamu menandatanganinya," jawab Arka lugas tanpa keraguan sepeser pun.

"Plus, seluruh biaya perawatan harian, fisioterapi, dan obat-obatan ibumu selama tiga tahun ke depan akan ditanggung sepenuhnya oleh Danuartha Group melalui jalur medis privat."

Mendengar nominal fantastis dan jaminan biaya perawatan hingga tiga tahun ke depan, mata Lina langsung membelalak gembira. Wajahnya berseri-seri penuh kesetanan. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja dan memajukan tubuhnya.

"Wah, Pak Arka sungguh sangat luar biasa dan dermawan!" puji Lina dengan suara yang dibuat-buat heboh.

"Tapi Pak, kalau boleh tahu, untuk biaya acara syukuran pernikahan, gaun, dan kompensasi untuk keluarga yang sudah membesarkan Aira..."

"Uang dua miliar dan fasilitas medis itu dialokasikan khusus untuk pengobatan ibu Aira. Bukan untuk membiayai gaya hidup atau kesenangan orang lain," potong Arka dengan suara dingin yang sanggup membekukan seluruh ruangan.

Tatapan Arka bergeser menembus Lina dengan aura menakutkan, membuat kata-kata wanita itu terhenti di tenggorokan. Lina seketika bungkam, menarik kembali tubuhnya dengan wajah salah tingkah dan pucat pasi.

Arka adalah pengusaha kawakan; ia sudah terlalu sering melihat manusia bertopeng seperti Hendra dan Lina, dan ia tidak akan membiarkan sepeser pun uangnya masuk ke kantong mereka.

Arka kembali menatap Aira yang terpaku. "Bagaimana, Aira? Keputusan ada di tanganmu."

Aira memandang pulpen berujung emas yang tergeletak di samping dokumen tersebut. Bayangan ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang paviliun belakang kembali melintas dengan sangat jelas di ingatan. Air mata ibunya, selang-selang medis yang menempel, serta vonis dokter tentang harapan hidup ibunya jika tidak segera mendapat perawatan intensif—semuanya menari-nari di kepala Aira.

Tidak ada jalan kembali. Tidak ada pahlawan yang akan datang menyelamatkannya. Ini adalah satu-satunya pengorbanan yang harus ia bayar demi menyambung nyawa orang yang paling ia cintai di dunia ini.

Dengan tangan yang sedikit bergetar namun memiliki keteguhan yang bulat, Aira meraih pulpen tersebut. Ia membuka lembar demi lembar dokumen tebal itu tanpa ragu, lalu membubuhkan tanda tangannya di atas materai pada lembar terakhir.

Sret. Sret.

Tanda tangan itu menjadi bukti sah bahwa masa mudanya, kebebasannya, dan impian kuliahnya telah resmi dijual.

"Sudah," ucap Aira seraya menggeser dokumen itu kembali ke arah Arka.

Arka memperhatikan tanda tangan yang terukir rapi di atas kertas tersebut, lalu mengangguk pelan pada Raymond untuk merapikan dan mengamankan berkas penting itu.

Pria itu kemudian berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan, merapikan kemeja charcoal-nya sambil tetap menggendong Elano yang mulai mengantuk dan menyandarkan kepala di bahunya.

"Kemas barang-barang pribadimu malam ini. Besok pagi tepat jam delapan, sopir pribadi saya akan menjemputmu untuk pindah ke rumah saya," kata Arka dengan nada tegas yang tidak menerima bantahan.

Ia berbalik untuk melangkah keluar dari ruang makan tersebut. Namun, sebelum Arka benar-benar melangkah jauh, Elano yang berada di pundak ayahnya mendadak membuka matanya sedikit.

Bocah kecil itu menatap Aira dari balik bahu tinggi Arka dengan wajah polos dan suara serak khas anak mengantuk.

"Tante cantik... nanti di rumah Papa ada mainan robot banyak banget. Tante jangan nangis lagi ya... nanti Elano kasih mainan Elano," bisik anak kecil itu lembut.

Aira terpaku di tempatnya berdiri. Kata-kata sederhana dan polos dari anak kecil yang bahkan belum mengenalnya itu mendadak menghantam bagian paling rapuh di dalam hatinya. Benteng pertahanan yang sudah ia bangun kokoh sepanjang malam runtuh seketika.

Saat langkah kaki Arka dan Elano semakin menjauh dan menghilang di balik pintu depan, satu tetes air mata hangat Aira akhirnya jatuh melintasi pipinya—membasahi kain gaun hijaunya di tengah kepastian pahit bahwa kehidupannya yang baru, sebagai istri kontrak dari seorang duda kaya, telah resmi dimulai.

_Bersambung

1
Penulis kentang🍠
apaan dahhhh busett
gurucantik
😍😍😍😍😍
sago
🤣🤣🤣🤣🤣
sago
nak😍😍
sago
uhuyyy
sago
sini aku bantu make kartunya🤣
sago
😍😍😍😍
sago
💪💪💪💪💪🙏
sago
🤣🤣🤣
sago
lucu banget elano
sago
😂tulahh
sago
iyaa ihhh
Saintz Gold
gasabarrrr
Saintz Gold
cemburuuuu
Saintz Gold
🤭🤭🤭
Saintz Gold
😍😍😍😍
Pendi Gudung
lanjuttt
Pendi Gudung
asik naga ajaaa
Rif Qi
up Thor jangan lama lama
Rif Qi
lnjutttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!