Indonesia
NovelToon NovelToon
Tujuh Kembaran

Tujuh Kembaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi Timur
Popularitas:335
Nilai: 5
Nama Author: Seven Gu

⚠️ PERINGATAN

Jika Anda hanya ingin membaca kisah salah satu karakter utama, silakan loncat tujuh bab sejak kemunculan pertama kali dari tujuh tokoh utama.

Contoh Fang Ye 1 > 8 > 15 >... >... >.. dst



Dalam berbagai legenda, Tujuh Kembaran dipercaya sebagai tujuh sosok yang berasal dari satu sumber, tetapi lahir dengan jalan hidup yang berbeda.

Ada yang mengatakan mereka adalah pecahan jiwa. Ada yang menyebut mereka sebagai tujuh kemungkinan dari satu keberadaan. Sebagian bahkan percaya bahwa mereka tidak pernah benar-benar ada.

Namun semua legenda memiliki satu kesamaan:

Tujuh Kembaran bukanlah tujuh orang yang sama. Mereka adalah tujuh kehidupan yang memilih menjadi berbeda.

Di tempat yang tidak memiliki nama, seseorang telah hidup terlalu lama. Ia telah melihat kerajaan bangkit dan runtuh, para penguasa menjadi debu, cinta berubah menjadi kebencian, dan kehidupan yang begitu panjang hingga tidak lagi memiliki arti.

Ketika seseorang telah memiliki segala

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seven Gu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Fang Kuang [FRAGMEN KELIMA: FANG KUANG]

Padang Yeshou tidak mengenal musim semi.

Hanya ada dua musim di sana: musim ketika rerumputan masih cukup untuk semua orang, dan musim ketika rerumputan tidak lagi cukup—dan pada musim kedua, satu-satunya hukum yang berlaku ditulis bukan dengan tinta, melainkan dengan tinju.

Fang Kuang berdiri di tengah lingkaran duel, tubuh bagian atas telanjang meski suhu di bawah titik beku, uap mengepul dari kulitnya yang memerah bukan karena dingin, tapi karena darah di bawahnya mendidih dengan cara yang tidak dimiliki manusia biasa.

Di seberangnya berdiri Ao Heng, kepala Suku Taring Hitam, seorang pria berusia empat puluh tahun dengan bekas luka yang lebih banyak daripada kulit yang tidak terluka, memegang kapak bermata dua yang sudah meminum darah dari tiga puluh tujuh pertarungan sebelumnya.

Di sekeliling lingkaran, dua suku berdiri berhadapan—Suku Fang dan Suku Taring Hitam—menyaksikan dalam diam yang tegang, karena hasil duel ini akan menentukan siapa yang menguasai Padang Rumput Selatan untuk musim dingin ini, dan siapa yang harus berjalan lebih jauh mencari tempat yang mungkin sudah lebih dulu direbut orang lain.

"Kau masih terlalu muda untuk memimpin sukumu sendiri," Ao Heng menggeram, memutar kapaknya sekali, memamerkan otot yang terbentuk dari dua puluh tahun lebih pertarungan. "Tapi aku menghormati keberanianmu untuk berdiri di sini."

"Aku tidak butuh rasa hormat," Fang Kuang menjawab, menyeringai, kepalan tangannya mengeras hingga buku-buku jarinya berderak. "Aku hanya butuh kekuatan untuk menang."

 

Ao Heng menyerang lebih dulu, kapaknya membelah udara dengan kecepatan yang seharusnya tidak mungkin dimiliki tubuh seberat itu—tebasan horizontal yang ditujukan untuk memenggal, bukan melukai.

Fang Kuang tidak mengelak.

Ia memiringkan tubuhnya sepersekian derajat, cukup untuk membiarkan mata kapak itu meluncur di sepanjang lengannya alih-alih menembus leher—dan pada detik kontak itu, otot-ototnya mengeras dalam sekejap, kulitnya berubah warna sesaat menjadi abu-abu gelap seperti batu, dan kapak yang seharusnya memutuskan tulang justru terpental dengan bunyi denting logam beradu logam.

Ao Heng terhuyung setengah langkah, matanya melebar.

Ini bukan trik biasa. Ini Body Dao tingkat tinggi—kulit yang bisa mengeras sekeras baja dalam waktu kurang dari sepersekian detik, hanya di titik yang dibutuhkan, tanpa mengorbankan kelenturan di bagian tubuh lainnya.

Fang Kuang tidak memberinya waktu untuk terkejut lebih lama.

Kepalan tangannya menghantam rusuk kiri Ao Heng—bukan pukulan penuh, ia sengaja menahan sepertiga kekuatannya, karena bahkan dalam kegilaan pertarungan, ia tahu perbedaan antara mematahkan tulang dan menghancurkan organ di baliknya.

Ao Heng terbatuk darah, mundur tiga langkah, tapi tetap berdiri.

"Bagus," Fang Kuang menyeringai lebih lebar, matanya berbinar dengan sesuatu yang mendekati kebahagiaan murni. "Aku pikir kau akan roboh dari pukulan pertama. Ternyata tidak."

 

Pertarungan berlanjut tujuh puluh detik lagi—waktu yang terasa jauh lebih panjang bagi mereka yang menyaksikan, karena setiap detik dipenuhi dentuman, geram, dan darah yang menetes ke rerumputan beku.

Ao Heng bertarung dengan pengalaman dua puluh tahun, membaca setiap gerakan Fang Kuang sebelum benar-benar terjadi, mengarahkan kapaknya ke titik-titik yang secara teori seharusnya menjadi kelemahan pemuda di depannya.

Tapi Fang Kuang tidak punya kelemahan dalam pengertian biasa—karena filosofinya sederhana dan brutal: jika suatu bagian tubuh bisa dijadikan sasaran, maka bagian itu harus dilatih hingga tidak lagi bisa dijadikan sasaran. Ia sudah menghabiskan sepuluh tahun terakhir memukul batu dengan tulang keringnya sendiri sampai tulang itu lebih keras daripada batu yang dipukulnya.

Pukulan terakhir datang saat Ao Heng mencoba serangan penuh yang mengorbankan pertahanannya sendiri—taruhan terakhir seorang veteran yang tahu ia sudah kehabisan opsi lain.

Fang Kuang menangkap gagang kapak dengan tangan kosong—kulitnya mengeras tepat pada detik kontak, memercikkan api kecil dari gesekan logam dan sesuatu yang lebih keras dari logam—lalu menariknya, membuat Ao Heng kehilangan keseimbangan selama seperempat detik yang cukup untuk satu pukulan terakhir menghantam rahangnya.

Ao Heng jatuh ke rerumputan beku, tidak sadarkan diri, tapi masih bernapas.

Lingkaran duel meledak dalam sorakan dari pihak Suku Fang, dan keheningan berat dari pihak Suku Taring Hitam.

 

Menurut hukum padang rumput, yang berlaku lebih tua daripada ingatan siapa pun yang masih hidup, pemenang duel berhak atas segalanya: wilayah, ternak, senjata, bahkan nyawa pihak yang kalah, jika ia menginginkannya.

Fang Kuang berdiri di atas tubuh Ao Heng yang tak sadarkan diri, napasnya masih memburu, darahnya masih mendidih dengan kepuasan pertarungan yang belum sepenuhnya mereda.

Ia berhak mengambil semuanya.

Ia mampu mengambil semuanya.

Di belakangnya, seseorang dari Suku Fang berteriak, "Selesaikan dia! Klaim seluruh wilayah mereka!"

Fang Kuang mengangkat kepalan tangannya, siap untuk pukulan terakhir yang akan menyelesaikan segalanya sesuai tradisi—

—dan matanya, tanpa sengaja, jatuh pada sekelompok kecil di pinggir kerumunan Suku Taring Hitam: dua anak kecil, mungkin adik dari Ao Heng atau anak-anak sukunya, berdiri memeluk satu sama lain, wajah mereka pucat pasi, menyaksikan kemungkinan bahwa pemimpin mereka akan mati di depan mata mereka detik ini juga.

Ia tidak tahu mengapa itu membuatnya berhenti.

 

Kepalannya tetap terangkat selama tiga detik yang terasa jauh lebih lama.

"Fang Kuang," seseorang dari sukunya sendiri mendesis, "apa yang kau tunggu? Kau sudah menang! Ambil semuanya, itu hakmu!"

"Aku tahu," Fang Kuang menjawab, suaranya tetap keras, tidak melunak, tapi ada sesuatu yang baru di dalamnya—bukan keraguan, sesuatu yang lebih dekat dengan perhitungan. "Pertanyaannya bukan apakah aku boleh mengambil semuanya."

Ia menurunkan kepalannya, tidak memukul, melainkan membalikkan Ao Heng ke posisi telentang dengan kasar, memastikan pria itu masih bernapas dengan baik.

"Pertanyaannya adalah apakah aku "ingin" mengambil semuanya."

Ia berdiri, memandang seluruh Suku Taring Hitam yang menunggu dalam ketegangan yang hampir tak tertahankan.

"Kalian kalah. Padang Rumput Selatan menjadi milik Suku Fang untuk musim ini—itu tidak bisa dinegosiasikan lagi, karena itu alasan kita bertarung." Ia menunjuk dengan dagu ke arah bukit di timur, tempat tanah yang lebih tandus namun masih bisa dihuni. "Tapi kalian boleh pindah ke Padang Timur. Bawa ternak kalian. Bawa yang terluka, aku tidak akan mengejar."

Keheningan yang lebih dalam menyelimuti lingkaran duel.

 

"Kenapa?" Seseorang dari Suku Taring Hitam akhirnya bertanya, suaranya penuh curiga, seolah mengharapkan jebakan. "Kau punya kekuatan untuk menghancurkan kami sepenuhnya sekarang. Kenapa tidak melakukannya?"

Fang Kuang berpikir sejenak—jarang sekali ia benar-benar berpikir sebelum bertindak, tapi pertanyaan ini pantas mendapatkan jawaban yang jujur, bukan jawaban cepat.

"Karena kekuatan memberiku hak untuk memilih," ia akhirnya berkata. "Bukan kewajiban untuk selalu mengambil yang paling banyak. Kalau aku menghabisi kalian semua hari ini, hanya karena aku bisa, itu bukan kekuatan. Itu hanya ketakutan yang menyamar jadi kekejaman—takut bahwa kalau aku tidak menghancurkan kalian sekarang, dan kalian akan kembali suatu hari nanti untuk menghancurkanku." Ia meludah ke tanah beku. "Aku tidak takut pada kalian. Jadi aku tidak perlu menghancurkan kalian untuk merasa aman."

Ia berbalik, melangkah menjauh dari lingkaran duel, menuju sukunya sendiri yang menatapnya dengan campuran kebanggaan dan kebingungan.

"Kalau kalian tumbuh cukup kuat suatu hari," katanya, tanpa menoleh ke belakang, "aku akan senang bertarung dengan kalian lagi. Duel yang berarti butuh lawan yang masih hidup untuk mengingatnya."

 

Malam itu, di tenda pribadinya, Fang Kuang duduk mengasah kukunya sendiri dengan batu—kebiasaan yang selalu ia lakukan setelah pertarungan besar, meski kukunya sudah cukup keras untuk merobek kulit rusa dalam satu gerakan.

Pertanyaan yang ia lontarkan sendiri di lingkaran duel tadi masih berputar di kepalanya.

Jika seseorang memiliki kekuatan untuk mengambil sesuatu, apa yang memberinya kewajiban untuk tidak mengambilnya?

Ia sudah menjawabnya di depan semua orang tadi—kekuatan memberi hak untuk memilih. Tapi jawaban itu terasa lebih rumit sekarang, sendirian, tanpa mata orang lain yang menilai.

Karena jika kekuatan hanya memberi hak untuk memilih, dan pilihannya hari ini adalah tidak mengambil semuanya—apakah itu berarti ia sedang menjadi lemah? Atau apakah justru pilihan itu sendiri bentuk kekuatan yang lebih tinggi daripada sekadar menghancurkan segala sesuatu yang bisa dihancurkan?

Ia tidak tahu jawabannya. Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya yang penuh kepastian dan tinju, ketidaktahuan itu tidak membuatnya marah.

Ia malah menyeringai sendirian di dalam tendanya yang gelap.

"Menarik," gumamnya.

 

Tepat saat ia hendak merebahkan diri untuk tidur, sesuatu menggelegak di dadanya—bukan rasa sakit, bukan kelelahan, tapi sesuatu yang terasa seperti darahnya sendiri kembali mendidih, meski tidak ada pertarungan yang sedang terjadi. Sensasi itu datang bersama sesuatu yang menyerupai suara tawa jauh, riang, seolah seseorang baru saja menyaksikan pertandingan yang tidak mereka duga akan berakhir semenarik ini.

Fang Kuang duduk tegak, tinjunya otomatis mengepal, siap menghadapi ancaman yang tidak bisa ia temukan sumbernya.

Tidak ada apa pun di dalam tenda. Tidak ada musuh, tidak ada bau darah asing, tidak ada apa pun yang bisa ia serang.

Hanya sensasi itu—singkat, membakar, menyenangkan dengan cara yang aneh—lalu menghilang secepat ia datang.

"Siapa pun dirimu," Fang Kuang menggeram ke udara kosong, seringai kembali muncul di wajahnya, kali ini lebih lebar, lebih lapar, "kalau kau menikmati pertunjukan ini, tunggu suatu hari aku akan menemukanmu, dan aku akan memberimu pertunjukan yang jauh lebih menarik."

Ia berbaring, tertawa pelan sendirian dalam gelap, tidak menyadari bahwa tantangannya baru saja terdengar, dengan jelas, oleh seseorang yang sudah menunggu ribuan tahun untuk mendengar tantangan seperti itu lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!