Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12 - Harus Operasi
Nayla sedang dalam perjalanan pulang menggunakan bus. Gadis itu duduk di dekat jendela sambil memeluk tasnya. Wajahnya masih dihiasi senyum kecil yang sejak tadi sulit hilang.
Hari pertamanya bekerja ternyata tidak seburuk yang dia bayangkan. Memang ada insiden kopi yang membuatnya malu setengah mati. Bahkan sampai sekarang dia masih merasa ingin menutup wajah setiap kali mengingat bagaimana cangkir itu terlepas dari tangannya. Namun di luar kejadian tersebut, Nayla merasa cukup puas dengan pekerjaannya.
Dia berhasil memahami jadwal Tristan, menyelesaikan beberapa tugas yang diberikan Zay, dan bahkan ikut menghadiri pertemuan penting pada hari pertamanya. Meski dirinya masih harus banyak belajar, Nayla merasa mendapatkan kesempatan yang luar biasa.
"Aku harus mempertahankan pekerjaan ini," gumamnya sambil tersenyum.
Gaji dari pekerjaan tersebut akan menjadi perubahan besar bagi keluarganya. Untuk pertama kalinya, Nayla merasa memiliki harapan yang lebih nyata untuk membantu ibunya mendapatkan pengobatan dan memastikan kedua adiknya tetap bersekolah.
Bus akhirnya berhenti tidak jauh dari rumahnya. Nayla turun, lalu berjalan cepat melewati gang kecil menuju rumah.
Namun begitu sampai di depan pintu, langkahnya mendadak terhenti.
Pintu rumah terbuka. Rianti berdiri di sana dengan wajah pucat. Matanya sembap seperti baru saja menangis. Di belakangnya, Zaki juga terlihat panik.
"Kak Nayla!"
Rianti langsung berlari menghampirinya.
Nayla mengernyit. "Kenapa? Ada apa?"
"Kak..."
Suara Rianti bergetar. "Ibu..."
"Ada apa dengan Ibu?"
Rianti menelan ludah. Air matanya kembali jatuh.
"Ibu muntah darah."
Senyum di wajah Nayla langsung menghilang. "Apa?"
"Terus Ibu jatuh pingsan."
Nayla segera masuk ke rumah. "Kenapa kalian belum membawanya ke rumah sakit?"
"Baru saja, Kak!" jawab Rianti panik. "Kami juga bingung harus bagaimana. Tadi Ibu tiba-tiba muntah darah, lalu jatuh."
Nayla bergegas menuju kamar ibunya. Wanita itu terbaring lemah di tempat tidur dengan wajah pucat. Napasnya terdengar pelan.
"Ibu..."
Nayla menggenggam tangan ibunya. Tidak ada respons.
"Nggak bisa begini."
Nayla segera berdiri. "Rianti, ambil tas Ibu. Zaki, ambil dokumen dan kartu identitas!"
"Kak, kita mau ke mana?"
"Rumah sakit."
"Tapi—"
"Jangan tunggu lagi!"
Nayla berusaha tetap tenang meski jantungnya berdegup begitu kencang. Dia keluar rumah dan meminta bantuan tetangga. Untungnya, seorang tetangga mereka bersedia mengantar menggunakan mobilnya.
Beberapa menit kemudian, mereka membawa ibu Nayla ke rumah sakit terdekat. Sepanjang perjalanan, Nayla terus menggenggam tangan ibunya.
"Ibu harus kuat."
Air matanya mulai menggenang.
"Kita sudah sampai sejauh ini. Ibu jangan pergi sekarang."
Rianti duduk di sampingnya sambil menangis. Zaki yang biasanya banyak bicara kini hanya diam dengan wajah ketakutan.
Begitu tiba di rumah sakit, petugas segera membawa ibu Nayla ke ruang penanganan. Nayla hanya bisa berdiri di depan pintu sambil memeluk kedua adiknya.
"Semoga Ibu nggak apa-apa," bisik Zaki.
Nayla mengusap kepalanya.
"Iya. Ibu pasti baik-baik saja."
Namun suaranya sendiri terdengar bergetar. Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Setiap kali pintu ruang penanganan terbuka, Nayla langsung berdiri. Namun beberapa kali tenaga medis keluar masuk tanpa memberikan informasi lebih jauh.
Hampir satu jam kemudian, seorang dokter keluar.
"Siapa keluarga pasien?"
"Saya anaknya, Dok."
Dokter memandang Nayla dengan serius.
"Namanya Ibu siapa?"
Nayla menyebutkan nama ibunya Ani.
"Baik. Kondisi beliau sudah kami stabilkan untuk sementara. Tapi saya perlu bicara dengan Anda mengenai kondisinya."
Nayla langsung merasa tidak tenang.
"Apakah Ibu saya dalam bahaya, Dok?"
Dokter mengangguk pelan.
"Kondisinya cukup serius. Ada masalah yang membutuhkan tindakan operasi."
Nayla terhenyak.
"Operasi?"
"Ya. Dan sebaiknya dilakukan secepatnya."
Rianti yang mendengar dari belakang langsung menutup mulutnya. Nayla mencoba mengendalikan air mata.
"Kalau tidak dioperasi?"
Dokter menarik napas.
"Risikonya cukup besar. Karena itu saya menyarankan keluarga mempertimbangkan operasi secepat mungkin."
Nayla mengangguk pelan.
"Kalau begitu, lakukan saja, Dok."
Namun sebelum dokter pergi, Nayla teringat sesuatu.
"Tunggu, Dok."
"Ya?"
Nayla menelan ludah.
"Biayanya berapa?"
Pertanyaan itu membuat dokter terdiam sebentar.
"Untuk operasi seperti ini, perkiraannya bisa mencapai lima puluh juta rupiah atau lebih. Tergantung tindakan yang diperlukan, obat-obatan, kondisi pasien, dan lama perawatan."
Nayla membeku.
"Lima puluh juta?"
"Perkiraan, ya. Rumah sakit akan memberikan rincian administrasi lebih lanjut."
Lima puluh juta. Angka tersebut terasa seperti sesuatu yang mustahil bagi Nayla. Selama ini, dia bahkan harus berhitung untuk membayar kebutuhan sehari-hari. Tabungannya belum seberapa. Gaji dari pekerjaan barunya pun belum sempat dia terima.
Bagaimana mungkin dia mengumpulkan puluhan juta dalam waktu singkat?
Nayla menunduk. Air mata jatuh ke lantai.
"Kak..."
Rianti memegang lengannya.
Nayla segera mengusap wajahnya. "Dok, saya setuju Ibu dioperasi."
Dokter mengangguk. "Kami akan melakukan persiapan. Untuk administrasinya, keluarga bisa mengurusnya melalui bagian terkait."
"Baik, Dok."
Setelah dokter pergi, Nayla memeluk kedua adiknya.
"Jangan takut."
"Tapi uangnya bagaimana, Kak?" tanya Rianti sambil menangis.
Nayla terdiam. Dia sendiri tidak tahu. Namun beberapa detik kemudian, sebuah nama muncul di dalam pikirannya. Tristan, bosnya.
Nayla memang baru bekerja satu hari. Dia merasa tidak enak hati jika harus meminta bantuan kepada atasannya. Apalagi mereka belum benar-benar mengenal satu sama lain. Namun keadaan ibunya membuat Nayla tidak punya banyak pilihan.
"Mungkin aku bisa meminta bantuan Bos."
Rianti menatapnya.
"Bos Kakak?"
Nayla mengangguk.
"Mungkin aku bisa meminta gaji dimuka. Atau kalau memang memungkinkan, meminta perusahaan memberikan pinjaman."
"Tapi Kakak baru bekerja."
"Aku tahu."
Nayla menarik napas panjang. "Karena itu aku sebenarnya malu. Tapi aku harus mencoba."
Dia tidak ingin menerima begitu saja jika Tristan menolak. Yang penting, Nayla harus berusaha mencari jalan keluar. Dia menatap kedua adiknya.
"Kalian tunggu di sini."
"Mau ke mana, Kak?"
"Aku harus menemui Pak Tristan."
"Sekarang?"
Nayla mengangguk.
"Tapi sudah malam."
Nayla melirik jam di ponselnya. Hari memang sudah mulai malam, tetapi pikirannya hanya tertuju kepada satu hal, waktu. Semakin lama operasi tertunda, semakin besar kekhawatirannya.
"Aku tidak bisa menunggu sampai besok."
Nayla berdiri. "Rianti, kamu temani Ibu. Zaki, jangan ke mana-mana. Kalau dokter datang, langsung hubungi aku."
Rianti mengangguk dengan mata berkaca-kaca. "Kakak pasti kembali, kan?"
Nayla tersenyum meski air matanya kembali jatuh.
"Pasti."
Dia memeluk kedua adiknya sebelum berjalan keluar rumah sakit. Namun baru beberapa langkah, Nayla berhenti dan menatap gedung rumah sakit di belakangnya.
"Ibu harus selamat."
Dia menggenggam erat tali tasnya. Tidak peduli seberapa berat permintaan yang harus dia ajukan, Nayla akan melakukannya.
Nayla kemudian memesan kendaraan menuju kantor Nebula. Dalam perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan. Bagaimana jika Tristan menolak? Bagaimana jika perusahaan tidak memberikan pinjaman? Bagaimana jika gaji di muka juga tidak diperbolehkan?
Nayla mencoba menenangkan dirinya. Setidaknya dia akan meminta. Dia akan menjelaskan semuanya dengan jujur.?
Begitu kendaraan mendekati gedung Nebula, Nayla mendongak melihat bangunan tinggi yang sudah dikenalnya sejak kemarin. Hari ini dia datang bukan sebagai sekretaris yang sedang menjalankan tugas. Dia datang sebagai seorang anak yang sedang berusaha menyelamatkan ibunya.
Nayla menarik napas panjang. "Pak Tristan... tolong beri saya kesempatan."
Tanpa menunggu lebih lama, dia turun dan melangkah menuju gedung Nebula.