Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.
Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.
Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.
Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.
Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.
Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Delapan Belas
Vania berjalan cepat meninggalkan kamar Reatha. Wajahnya masih dipenuhi kemarahan. Bahkan langkahnya terdengar lebih keras dari biasanya.
Begitu sampai di lobi, matanya langsung menemukan Azka yang sedang berdiri dekat sofa sambil memeriksa ponselnya.
“Azka!” panggil Vania dengan sedikit keras.
Pria itu mengangkat wajah, tampak terkejut. Vania langsung menghampirinya dengan wajah cemberut.
“Kamu kenapa?” tanya Azka.
Vania tidak langsung menjawab. Ia justru berdiri di hadapan Azka sambil melipat kedua tangannya di dada.
“Aku nggak suka," ucap Vania.
Azka mengerutkan kening. “Nggak suka apa?” tanyanya.
“Aku nggak suka kamu perhatian sama Raisa," jawab Vania.
Azka terdiam. Vania semakin kesal melihat pria itu hanya diam.
“Kamu tadi lihat sendiri, kan? Kamu sampai menggendong dia, membawanya ke klinik, lalu mengantarnya ke kamar.” Suara Vania terdengar ketus. “Kamu bahkan menyuruh dia menghubungimu kalau ada apa-apa.”
“Itu karena dia terluka," balas Azka.
“Alasan!” seru Vania.
Azka menghela napas panjang.
Vania menatapnya lekat-lekat. “Kamu pasti sudah jatuh cinta dengan wanita itu.”
Azka langsung menatap Vania serius. “Vania,” ucapnya pelan, tetapi terdengar tegas. “Aku tak harus mengulang ucapanku setiap hari, kan?”
Vania terdiam.
“Aku sudah pernah bilang, perasaanku tetap sama.” Azka memasukkan ponselnya ke saku. “Kalau kamu nggak percaya, aku harus bagaimana lagi?”
Vania menggigit bibir dan menjawab dengan suara di buat sendu dan sedih, “Aku cuma takut kehilangan kamu.”
Azka tidak menjawab.
“Aku ingin kamu jauhi dia,” lanjut Vania. “Jangan terlalu perhatian. Jangan terlalu dekat. Jangan membuat aku merasa kalau posisi aku mulai tergeser.”
Azka menatap Vania beberapa detik. Kemudian ia hanya mengangguk.
“Baiklah," ucap Azka singkat.
Vania sedikit terkejut. Ia tidak menyangka Azka akan mengiyakan permintaannya semudah itu.
“Serius?” tanya Vania.
“Iya," jawab Azka dengan sedikit malas.
Senyum tipis muncul di wajah Vania. “Kalau begitu, temani aku.”
“Ke mana?” tanya Azka.
“Kita cari tempat wisata lain.” Vania langsung menarik lengan Azka. “Aku nggak mau liburan ini rusak hanya karena kejadian tadi.”
Azka sebenarnya ingin kembali ke kamar untuk melihat keadaan Reatha. Namun, ia akhirnya mengikuti langkah Vania. Mereka meninggalkan hotel dan menuju tempat wisata lain yang tidak terlalu jauh.
Sore berganti malam.
Setelah puas berjalan-jalan, Vania mengajak Azka makan malam di sebuah restoran mewah. Restoran itu berada di lantai atas sebuah gedung dengan pemandangan kota yang dipenuhi cahaya lampu.
Vania terlihat jauh lebih ceria. Ia sibuk memilih makanan sambil sesekali bercerita tentang tempat wisata yang mereka datangi tadi.
Sementara Azka hanya sesekali menanggapi. Pikirannya justru beberapa kali melayang kepada Reatha.
Ia membayangkan perempuan itu sendirian di kamar hotel.
Apakah dia sudah makan? Apakah kakinya masih sakit? Apakah dia membutuhkan sesuatu?
Azka tanpa sadar menghela napas pelan. Hal itu terdengar oleh Vania.
“Kamu kenapa?” tanya Vania.
“Nggak apa-apa," jawab Azka.
“Kamu kelihatan melamun, dan pikiranmu entah kemana," ujar Vania.
“Aku cuma capek," balas Azka.
Vania akhirnya kembali melihat menu. Tak lama kemudian, makanan mereka datang. Namun, baru beberapa suap, Azka tiba-tiba meletakkan sendoknya.
“Aku ke kamar mandi sebentar," ucap Azka.
Vania mengangguk. Azka berdiri lalu berjalan menjauh dari meja. Begitu sampai di tempat yang lebih sepi, ia mengambil ponsel dari sakunya.
Jarinya sempat berhenti beberapa detik di atas nama kontak Raisa. Entah kenapa, ia merasa sedikit ragu.
Bukankah tadi ia sudah berjanji kepada Vania untuk menjaga jarak? Namun, rasa khawatirnya justru lebih kuat.
Akhirnya Azka menekan tombol panggil. Tidak lama kemudian, panggilan tersambung.
“Hallo?” Suara Reatha terdengar dari seberang.
Azka tanpa sadar tersenyum kecil. “Raisa.”
“Kenapa?" tanya Reatha di seberang sana.
“Kamu sudah makan?” tanya Azka.
“Sudah.”
Azka bersandar pada dinding. “Tadi makan apa?” tanyanya lagi.
“Tadi sudah diberi makanan hotel.”
“Oh.”
Azka terdiam sebentar. Lalu ia bertanya lagi, “Kamu mau aku belikan apa?”
Reatha terdengar bingung. “Belikan?”
“Iya.”
“Buat apa?” tanya Reatha.
“Ya buat kamu makan.”
Reatha tertawa kecil. “Aku sudah bilang tadi sudah makan.”
“Buat nanti kalau lapar.”
Reatha berpikir sebentar, sebelum menjawab, “Martabak telur.”
Azka langsung mengernyit. “Martabak telur?”
“Iya.”
“Dasar selera kampung," ucap Azka.
Reatha langsung tertawa kecil.
“Yang elit kek pesanannya.”
“Ya suka-suka aku. Seleraku itu.” Reatha terdengar santai. “Kalau kamu nggak mau beli ya udah.”
Azka tersenyum. “Siapa bilang nggak mau?”
“Barusan kamu bilang selera kampung," jawab Reatha.
“Memang.”
“Terus?”
“Aku beli dengan gerobak dan penjualnya sekalian untukmu," ujar Azka.
Hening beberapa detik. Kemudian suara tawa Reatha terdengar dari seberang. Azka ikut tersenyum.
“Gitu dong,” ucapnya.
“Apa?”
“Tertawa.”
Reatha terdiam.
“Jangan diam terus, dan hanya fokus pada game di ponselmu," ucap Azka.
Senyum Reatha perlahan menghilang. Ia menatap langit-langit kamar sambil menggenggam ponselnya.
“Udah sana,” katanya kemudian.
“Kenapa?” tanya Azka.
“Nanti Vania ngambek lagi dengar kamu hubungi aku.”
Azka terdiam. Kalimat sederhana itu entah kenapa membuat dadanya terasa sedikit sesak.
Ia menatap layar ponselnya. “Ya sudah.”
“Pergilah!" seru Reatha.
Azka masih diam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pelan. “Iya.”
Sambungan telepon pun terputus. Azka menurunkan ponselnya. Namun, sudut bibirnya masih menyisakan senyum kecil.
Sementara di kamar hotel, Reatha juga masih memandangi ponselnya. Entah kenapa, percakapan singkat tadi berhasil membuat suasana hatinya jauh lebih baik.