Indonesia
NovelToon NovelToon
Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Menjadi Ibu Tiri Anak Jendral Perang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Ibu Tiri / Ruang Ajaib
Popularitas:27.5k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Seorang wanita cerdas dengan sejuta keahlian, yang tidak pernah takut dengan apapun, bahkan dengan kematian sekalipun. Bagaimana jadinya saat jiwa nya tiba-tiba terbangun di tubuh Aleta Volis, seorang wanita bangsawan dengan reputasi paling busuk di seluruh kekaisaran.

Marquez Liam Volis, seorang Jendral Perang sekaligus penguasa wilayah Volis yang terkenal dingin, kejam di medan pertempuran, dan memiliki prinsip hidup yang keras. Bagi Liam, hidup hanyalah soal tugas, pedang, dan darah, dia tidak punya waktu ataupun ruang di hatinya untuk urusan cinta.

"Kau berubah, apa yang sebenarnya sedang kamu rencanakan?" tanya Liam, dingin.

"Oh ayolah suami ku, apa pantas pernyataan itu kamu tunjukkan pada istri mu ini," jawab Aleta, tersenyum miring, merapikan kerah pakaian Liam.

Mampukah Liam mempertahankan prinsipnya, atau justru dia bertekuk lutut dan menyerahkan seluruh hidupnya pada wanita yang tadinya paling dia benci?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEMAKIN BERWARNA

Suasana di kediaman Marquez kini jauh berbeda, semenjak Marchiones mereka berubah.

Julian duduk di meja makan dengan pipi yang tampak lebih berisi dan cerah, menikmati potongan buah apel segar yang baru saja dipetik dari kebun belakang.

"Wah, apelnya manis sekali, Bu! Rasanya beda dari apel di toko kota," puji Julian antusias sambil mengunyah makanannya.

Aleta yang duduk di seberangnya tersenyum tipis, menyeka sisa jus buah di dekat bibir anak tirinya menggunakan serbet bersih.

"Pelan-pelan makannya, Jendral kecil, buah di kebun kita masih banyak, tidak akan ada yang merebut nya," jawab Aleta santai.

Sudah sebulan lebih Aleta fokus mengembangkan kebun ajaibnya, berkat bantuan ruang dimensi miliknya, hasil panen bukan cuma stroberi, tapi juga buah-buahan kualitas tinggi seperti apel, jeruk, dan anggur merah.

Hebatnya lagi, Aleta sudah tidak perlu repot-repot menggelar lapak kecil di pasar kota seperti dulu, karena para saudagar kaya dan pedagang besar dari ibu kota justru berbondong-bondong datang langsung ke kediaman Marquez untuk memborong hasil panen dalam jumlah besar.

Mereka bahkan berebut mengajukan kontrak kerja sama dengan Aleta sebagai pemasok utama buah-buahan istimewa di wilayah Volis.

Seperti perintah Liam waktu itu, penjagaan dikediaman Volis semakin di perketat, terlebih untuk sang Marchiones yang saat ini namanya sedang menjadi perbincangan semua orang di luar sana.

 Kediaman Marquez yang dulunya terkenal miskin, dan hampir bangkrut kini perlahan bangkit, utang-utang menumpuk sudah lunas, gaji para prajurit dan pelayan yang sempat tertunda kini dibayar penuh, dan renovasi mulai dilakukan di beberapa sudut bangunan yang hampir roboh.

"Oh iya, Bu, tadi Paman Seno bilang kalau pedagang dari ibu kota nambah pesanan lagi untuk minggu depan, kita kewalahan tidak kalau panen segitu banyak?" tanya Julian penasaran, meletakkan garpunya di atas piring.

Aleta menyandarkan punggungnya ke kursi, melipat tangan di dada dengan senyuman miring penuh percaya diri.

"Hey Jendral kecil kamu tidak perlu memikirkan itu, kamu fokus belajar saja, untuk urusan kebun dan penjualan biar Seno dan Ibu yang urus," ucap Aleta, tersenyum kecil.

"Tapi aku masih boleh membantu ibu kan, kalau sudah pulang dari academic?" tanya Julian penuh harap.

"Tentu saja boleh, Jenderal kecil," jawab Aleta lembut.

"Makin langka barang kita, makin tinggi harganya, Jendral kecil," lanjut Aleta mengajari anak tirinya itu cara berbisnis.

Julian manggut-manggut meski belum sepenuhnya paham dengan yang diucapkan ibu tirinya. Yang penting bagi bocah itu, keluarganya sekarang sudah tidak kelaparan lagi dan yang paling penting ibu tirinya itu sudah tidak jahat lagi.

Tiba-tiba, suara langkah kaki tegap terdengar mendekati ruang makan.

Ceklekk...

Pintu ruang makan terbuka, menampilkan sosok Jendral Liam Volis yang baru saja kembali dari barak militer, pria itu mengenakan seragam kebesarannya, dengan rahang tegas dan tatapan mata tajam yang menyapu seisi ruangan.

Hubungan antara Liam dan Aleta memang sedikit lebih dekat, meski keduanya masih sering saling lempar sindiran dingin layaknya dua musuh bebuyutan yang terpaksa satu atap.

Liam melirik ke arah meja makan yang penuh dengan makanan layak dan buah-buahan segar, lalu beralih menatap Aleta yang duduk bersantai.

"Salam Ayah," ucap Julian, turun dari kursi nya, menunduk sopan.

"Hem, duduklah, kembali ke tempat mu," ucap Liam, menepuk lembut pucuk kepala Julian.

"Menu makan siang kita hari ini kelihatan mewah sekali, Marchiones," ucap Liam dengan suara beratnya, berjalan mendekati meja lalu menarik kursi di samping Aleta untuk duduk.

Aleta melirik suaminya sekilas, lalu mendengus pelan sambil menuangkan teh hangat ke dalam cangkirnya.

"Tentu saja, kalau bukan karena aku yang putar otak jadi pemasok buah ke pedagang besar, mungkin sampai sekarang kita cuma bisa makan roti gandum keras sisa bulan lalu," sindir Aleta.

Beberapa pelayan baru yang berdiri di sudut ruangan langsung menahan napas, mereka sudah terbiasa mendengar ucapan pedas Nyonya besar nya itu.

Sementara Liam justru mendengus pelan, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang hampir tidak kelihatan, pria itu sama sekali tidak marah, justru dalam sebulan terakhir, Liam merasa hidup nya jauh lebih berwarna dengan perubahan sifat Aleta yang tidak segan-segan mengomeli nya.

"Kamu benar-benar pandai mencari uang sekarang, Marchiones," ucap Liam datar, mulai memotong daging di piringnya.

"Bukan pandai mencari uang, tapi suaminya aja yang dari dulu nggak becus ngurus wilayah," jawab Aleta cepat, tidak mau kalah satu detik pun.

Julian yang duduk di seberang langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan tawa melihat ayahnya yang seorang jendral perang besar selalu kalah debat di hadapan ibu tirinya.

"Ibu aku sudah selesai," ucap Julian, menggelap mulut nya dengan sopan.

"Ayo ibu antar ke depan, Seno seperti nya sudah siap untuk mengantarkan mu ke Academic," ucap Aleta berdiri dari kursinya.

Julian mengangguk antusias, lalu buru-buru menyambar tas kecil belajarnya yang tersusun rapi di kursi sebelah, bocah itu melompat turun dan berjalan mendekati Aleta.

"Mari, Bu," ucap Julian sambil meraih ujung jari Aleta dengan tangan kecilnya.

Aleta menggenggam tangan anak itu hangat, lalu melangkah beriringan keluar dari ruang makan menuju teras depan kediaman Marquis.

Liam hanya menatap kepergian istri dan anak nya, pria itu menyesap teh hangatnya perlahan, sementara sudut bibirnya kembali tertarik membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan.

Sesampainya di halaman depan, sebuah kereta kuda berlogo resmi militer wilayah Volis tampak sudah terparkir rapi dengan Seno berdiri tegap di dekat pintu masuknya.

"Selamat pagi, Marchiones, selamat pagi, Tuan Muda Julian," ucap Seno sopan sambil membungkuk hormat begitu melihat kedatangan mereka berdua.

"Pagi juga, Paman Seno," jawab Julian riang, melambaikan tangan kecilnya.

Aleta mengantar Julian sampai tepat di dekat tangga kereta kuda, lalu berjongkok sejenak untuk merapikan kerah baju anak tirinya agar terlihat lebih rapi.

"Dengar ya, Jendral kecil, selama di akademi, belajar yang benar, kalau ada yang jahat sama kamu, lawan selama kamu tidak bersalah," pesan Aleta dengan nada tegas namun penuh perhatian.

"Siap, Bu! Aku akan menjadi murid paling pintar di sana," jawab Julian bangga.

"Bagus kalau begitu. Sana naik, Paman Seno sudah nungguin dari tadi," ucap Aleta sambil menepuk pelan punggung Julian.

Julian segera memanjat tangga kereta kuda dengan lincah, lalu melambaikan tangan dari balik jendela kecil begitu dia sudah duduk di dalam.

"Hati-hati di jalan, Jendral kecil," ucap Aleta sambil balas melambaikan tangannya.

Kereta kuda itu perlahan bergerak meninggalkan halaman kediaman Marquis, berderap membelah jalanan ibu kota menuju akademi tempat Julian akan belajar.

1
Dewi Habibah
lanjut
Mommy Ayu
good job Aleta.... memang balasan yang mantab tuh buat serra.
Tiara Bella
Aleta dilawan ya km kalah lah lady sera....
Septi Wijaya
Aleta tiada lawan donggg😍
IG : hofi03_skrniii: rawww🫦
total 1 replies
miss blue 💙💙💙
jadi makin penasaran sama liam 🤔🤔🤔😅😅😅
IG : hofi03_skrniii: ikuti terus cerita mereka biar gak ketinggalan 😚
total 1 replies
Maria Lina
makasih ya thor ud up pagi"ya thor🙏🙏🥰🥰
Septi Wijaya
ish ish jenderal liam ini... katanya kismin kok punya banyak koin emas.... bohhong yaaaa😬
IG : hofi03_skrniii: mulai-mulai😆
total 1 replies
Tiara Bella
kena menta pastinya si lady serra....
Anbu Hasna
Garel atau Geral?
Septi Wijaya
yg ada serra justru akan makin dipermalukan di acara sendiri 🤣🤣
miss blue 💙💙💙
ngomongin jiwa modern, apa gak bikin liam makin penasaran 🤣🤣🤣🤣
miss blue 💙💙💙
julian itu anak kandung liam apa bukan kak? gak pernah ada cerita sebelumnya, bahkan ibu kandung julian juga. apa aq yg gak merhatiin cerita sebelumnya ya?? 🤔🤔🤔
miss blue 💙💙💙: sipp kak 👍👍👍
total 2 replies
miss blue 💙💙💙
kok aq curiga liam itu kaisar atau putra mahkota kekaisaran, mungkin dia di angkat anak oleh marques volis sebelumnya 🤔🤔🤔🤔
kaylla salsabella
jiwa modern🤔🤔🤔🤔 pasti Liam mikir🤣🤭🤭
kaylla salsabella
sombong itu wajib🤣🤣🤭🤭🤭
kaylla salsabella
la itu tahu kamu garel
Maria Lina
makasih ya thor ud up double"nya🙏🙏😍😍☕️☕️
IG : hofi03_skrniii: kembali kasih sayangggg🤍
total 1 replies
kaylla salsabella
kenapa jadi gariel mondar-mandir🤣🤣
kaylla salsabella
😍😍😍😍😍😍😍
kaylla salsabella
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!