Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18 ORANG KELIMA
Ruangan terasa semakin sunyi setelah Lidia bicara. Nama Bramasta sudah muncul di kepala Kaluna, tetapi ia menahannya. Petunjuk memang mengarah ke sana, tetapi belum cukup untuk menjadi bukti. Banyak orang dapat memasuki lantai dewan, anggota keluarga, penasihat, tamu penting, atau siapa pun yang sengaja diberi akses tanpa dicatat.
“Apakah kamu yakin mobil itu menjemput orang yang sama?” tanya Salindri.
Lidia mengangguk. “Saya mengenali cara berjalannya.”
“Wajahnya?”
“Saya hanya melihat dari samping saat di hotel. Waktu di kantor, dia memakai topi.”
Naren mencondongkan tubuh. “Tinggi badan? Bentuk tubuh?”
“Lebih tinggi dari saya. Tubuhnya tidak besar. Jalannya sedikit miring ke kanan.”
“Usianya?”
“Saya tidak bisa memastikan. Mungkin empat puluhan atau lebih.”
Kaluna memperhatikan perempuan itu. “Kamu bilang dia masuk melalui pintu samping ruang pertemuan.”
“Iya.”
“Apakah pegawai hotel mengantarnya?”
“Tidak. Dia masuk sendiri.”
“Berarti dia tahu tata letak ruangan.”
“Atau seseorang memberitahunya,” jawab Lidia.
Kaluna mengangguk. Ia mengeluarkan telepon dan membuka foto-foto lama jajaran Mahardika Medika. Ada foto rapat dewan, acara perusahaan, dan pembukaan cabang. Ia memperlihatkannya satu per satu kepada Lidia.
“Apakah orangnya ada di sini?”
Lidia memeriksa layar dengan gugup. Setiap foto berganti, jemarinya terus bergerak di atas meja. Ketika wajah Bramasta muncul, pandangannya tertahan sedikit lebih lama sebelum akhirnya ia menggeleng.
“Saya tidak bisa memastikan.”
“Kamu memang tidak yakin atau takut salah?”
“Kalau saya bilang iya dan ternyata salah, hidup seseorang bisa hancur.”
“Hidupku sudah hancur.”
Lidia menunduk.
Kaluna menahan diri. Lidia bukan orang yang merancang kecelakaan, tetapi kebisuannya selama tiga tahun ikut membuat kebohongan itu bertahan.
Salindri menyimpan kembali salinan daftar pertemuan.
“Untuk sementara, kita catat ada seseorang yang tidak tercantum dalam daftar, tapi punya akses ke lantai dewan.”
Lidia mengangguk.
“Apakah Anda bersedia memberikan pernyataan tertulis?”
Lidia langsung menegang.
“Saya sudah bicara banyak.”
“Pernyataan tertulis akan melindungi isi keterangan Anda agar tidak dipelintir.”
“Dan membuat nama saya masuk ke dalam perkara.”
“Nama Anda sudah tercantum dalam daftar pertemuan.”
Lidia memandang Kaluna. “Saya perlu waktu.”
Kaluna ingin mendesak, tetapi Salindri lebih dulu menjawab.
“Kami akan memberi waktu. Jangan menghubungi siapa pun dari Mahardika Medika untuk membicarakan pertemuan ini.”
“Saya tidak akan menghubungi siapa pun.”
“Kalau ada orang yang mencari Anda, beri tahu saya.”
Lidia menerima kartu Salindri. Sebelum mereka pergi, Kaluna berhenti di depan pintu.
“Di map merah itu, ada nama perusahaan yang paling sering muncul?”
Lidia berpikir beberapa saat.
“Ada satu nama yang saya ingat karena alamat kantornya sama dengan perusahaan lain.”
“Namanya?”
“Sentra Arunika Logistik.”
Naren langsung mencatat.
“Bidangnya?”
“Distribusi alat medis dan pengelolaan gudang. Tapi saya tidak pernah melihat kendaraan atau gudang mereka.”
“Berapa banyak pembayaran?”
“Saya tidak tahu jumlah pastinya. Beberapa tagihan nilainya kecil, tapi muncul berkali-kali.”
“Apakah perusahaan itu masih menjadi rekanan?”
“Saat saya keluar, masih.”
Kaluna menyimpan nama itu dalam ingatan. Sentra Arunika Logistik. Mungkin nama perusahaan itu pernah muncul di map merah.
Begitu mereka keluar dari kantor Lidia, Naren langsung mencari data dasar perusahaan melalui laptopnya di dalam mobil.
“Didirikan lima tahun sebelum kecelakaanmu,” katanya. “Alamat kantor yang terdaftar berada di sebuah ruko.”
“Pemiliknya?”
“Ada nama direktur dan komisaris, tapi keduanya tidak punya riwayat di bidang kesehatan.”
“Orang pinjaman?”
“Mungkin.”
Salindri duduk di kursi belakang bersama Kaluna.
“Jangan datangi alamatnya dulu sebelum kita tahu hubungan mereka dengan Mahardika Medika.”
“Kenapa?” tanya Kaluna.
“Kalau itu perusahaan kosong, kedatangan kita bisa memberi peringatan.”
Kaluna memandang keluar jendela. Orang kelima di hotel itu datang melalui pintu samping. Ia meminta Kaluna menghentikan pemeriksaan. Beberapa hari kemudian, Kaluna mengalami kecelakaan.
Semuanya terasa terlalu dekat untuk disebut kebetulan.
Belum ada satu pun bukti yang bisa menunjukkan siapa orang itu.
Telepon Kaluna bergetar. Pesan dari Salindri masuk, meskipun perempuan itu duduk tepat di sebelahnya. Sebuah berkas diteruskan dari kantor pengadilan.
“Apa ini?” tanya Kaluna.
“Pemberitahuan sidang pemulihan status hukum.”
Kaluna membuka berkas tersebut. Sidang dijadwalkan dua hari lagi. Hasil DNA, catatan identitas, kesaksian awal Mbok Rini, dan dokumen medis akan digunakan untuk membuktikan bahwa perempuan yang dinyatakan mati tiga tahun lalu masih hidup.
“Dua hari lagi.”
Salindri mengangguk. “Prosesnya dipercepat karena sengketa saham dan hak keluarga.”
“Apa mereka bisa menolaknya?”
“Mereka bisa mengajukan pertanyaan, tapi hasil DNA dan identitasmu cukup kuat.”
“Kalau statusku dipulihkan, sahamku kembali?”
“Tidak otomatis.”
Kaluna sudah menduga jawaban itu.
“Setidaknya aku tidak lagi dianggap orang mati.”
“Itu langkah pertama.”
Naren masih menatap layar laptop.
“Ada yang aneh.”
Kaluna menoleh. “Apa?”
“Sentra Arunika Logistik menerima pembayaran rutin dari Mahardika Medika selama hampir empat tahun. Setelah kecelakaanmu, nilai kontraknya meningkat tiga kali lipat.”
“Untuk layanan apa?”
“Distribusi dan penyimpanan.”
“Apakah mereka punya gudang?”
“Itu yang aneh. Alamat gudang dalam kontrak berbeda dari alamat perusahaan. Lokasinya sekarang digunakan perusahaan lain.”
Salindri mengingatkan, “Jangan menarik kesimpulan dari data awal.”
Naren mengangguk.
“Aku cuma bilang, kita perlu cek ini.”
Kaluna memandangi nama perusahaan tersebut di layar.
Potongan ingatan muncul.
Map merah terbuka. Dalam ingatannya, jarinya menunjuk baris pembayaran dengan angka berulang. Di ujung kertas terdapat huruf yang dicetak tebal.
S.A.L.
Kaluna memejamkan mata.
Suara seorang lelaki muncul lagi di kepalanya.
Nilainya tidak cukup besar untuk disebut masalah.
Lalu suaranya sendiri menjawab.
Justru karena dipecah kecil-kecil, tidak ada yang memperhatikannya.
Kaluna membuka mata.
“Aku pernah membicarakan perusahaan itu.”
Naren langsung menutup laptop sedikit. “Kau ingat?”
“Tidak semuanya. Aku melihat singkatan S.A.L. di map merah.”
“Sentra Arunika Logistik.”
“Mungkin.”
Salindri memperhatikan wajah Kaluna.
“Catat dulu saja. Jangan dipaksa.”
“Aku juga ingat ada yang mengatakan nilainya terlalu kecil.”
“Siapa?”
“Tidak tampak.”
Kaluna meremas jemarinya. Ingatan itu selalu datang dalam potongan yang tidak lengkap. Kadang hanya suara tanpa wajah, ruangan tanpa pintu, atau angka tanpa penjelasan.
Kini, nama di map merah itu mulai memiliki kaitan yang lebih jelas.
Mereka kembali ke hotel menjelang sore. Salindri harus menyiapkan berkas sidang. Naren melanjutkan pemeriksaan terhadap perusahaan rekanan.
Kaluna mencoba menghubungi Revan.
Panggilan tidak dijawab.
Ia mengirim pesan:
Apakah Sentra Arunika Logistik ada dalam map merah?
Sepuluh menit kemudian, pesannya terbaca.
Tidak ada balasan.
Kaluna menunggu hampir satu jam sebelum teleponnya bergetar.
Jangan tulis nama itu melalui pesan.
Kaluna langsung menelepon.
Revan menolak panggilan.
Pesan berikutnya masuk.
Saya sudah memberi terlalu banyak.
Kaluna mengetik cepat.
Elara diancam. Aku tidak bisa berhenti hanya karena kamu takut.
Tidak ada respons.
Kaluna menunggu, lalu mengirim pertanyaan lain.
Siapa orang kelima di hotel?
Pesan itu tidak langsung dibaca.
Menjelang malam, Arsen menelepon.
“Elara bertanya apakah kamu datang besok.”
Kaluna melirik berkas sidang di atas meja.
“Aku ada persiapan dengan Salindri.”
“Kau bisa datang setelahnya.”
“Apakah kamu yang memintaku datang atau Elara?”
“Elara.”
Kaluna diam sebentar.
“Aku akan datang sore.”
“Ada hal lain,” kata Arsen.
“Apa?”
“Bagian hukum perusahaan menerima pemberitahuan tentang sidang pemulihan statusmu.”
“Lalu?”
“Paman Bramasta minta rapat keluarga besok pagi.”
Napas Kaluna tertahan.
“Untuk membahas aku?”
“Katanya sih, buat memastikan posisi perusahaan.”
“Posisi perusahaan terhadap perempuan yang kembali hidup?”
“Terhadap tuntutan yang mungkin muncul setelah statusmu dipulihkan.”
Kaluna tertawa kecil tanpa rasa senang.
“Secara hukum aku saja belum hidup lagi. Mereka sudah sibuk mikirin hartaku.”
“Aku tidak bilang aku setuju.”
“Tapi kamu akan datang ke rapat itu.”
“Aku harus tahu apa yang mereka rencanakan.”
Kaluna belum sepenuhnya percaya, tetapi ia tidak membantah.
“Kalau ada dokumen yang menyangkut namaku, jangan tanda tangani apa pun.”
“Aku tidak sebodoh itu.”
“Tiga tahun lalu kamu menandatangani perubahan struktur saham tanpa memeriksa seluruh berkas.”
Arsen diam sejenak sebelum menyahut.
“Besok sore aku datang menemui Elara,” kata Kaluna sebelum menutup telepon.
Malam itu, pesan dari Revan akhirnya masuk.
Hanya terdiri dari tiga baris.
Sentra Arunika ada dalam map merah.
Cari pemilik manfaat sebenarnya, bukan nama dalam akta.
Orang kelima datang untuk melindungi perusahaan itu.
Kaluna langsung menunjukkan pesan tersebut kepada Naren dan Salindri.
“Pemilik manfaat sebenarnya bisa disembunyikan melalui beberapa lapisan perusahaan,” kata Naren.
“Bisa ditemukan?” tanya Kaluna.
“Bisa, tapi tidak cepat.”
Salindri mengambil foto layar sebagai dokumentasi.
“Revan tetap tidak menyebut nama orang kelima.”
“Karena dia takut.”
“Atau karena dia sendiri tidak tahu.”
Kaluna membaca pesan itu sekali lagi.
Orang kelima datang untuk melindungi perusahaan tersebut.
Berarti pertemuan hotel bukan sekadar pembahasan pengadaan. Kaluna rupanya sudah mendekati jalur aliran uang yang ingin disembunyikan seseorang.
Telepon Salindri berdering.
Ia menjawab, lalu berjalan menjauh beberapa langkah. Wajahnya berubah tegang saat mendengar penjelasan dari seberang.
Setelah panggilan berakhir, ia kembali membawa tabletnya.
“Ada perkembangan soal sidang.”
“Ditunda?” tanya Kaluna.
“Tidak.”
“Lalu?”
Salindri membuka berkas baru.
“Seseorang mengajukan keberatan terhadap permohonan pemulihan statusmu.”
Kaluna membaca nama pihak yang tercantum di bagian atas.
Bukan Arsen.
Bukan Veyra.
Keberatan diajukan atas nama Mahardika Medika melalui kantor hukum perusahaan.
“Alasannya?” tanya Kaluna.
Salindri menggulir halaman.
“Mereka tidak menyangkal hasil DNA.”
“Jadi apa yang mereka persoalkan?”
“Mereka minta pengadilan mempertimbangkan kemungkinan kamu sengaja menghilang. Mereka juga bilang kamu membiarkan keluarga dan perusahaan menganggapmu meninggal.”
Kaluna menatap dokumen itu.
Ia belum resmi dinyatakan hidup, tetapi serangan berikutnya sudah disiapkan.
“Dasar mereka apa?”
Salindri membaca bagian lampiran.
“Tiket Singapura, foto hotel, transaksi perusahaan, dan laporan lama mengenai penggelapan.”
“Foto hotel sudah terbukti dipotong.”
“Belum pernah dibantah secara resmi di pengadilan.”
Kaluna merasa marah, tetapi tidak terkejut.
Seseorang tahu ia hampir mendapatkan kembali identitasnya. Karena sudah tak bisa menyangkal bahwa Kaluna masih hidup, mereka mengubah cara menyerangnya.
Bukan lagi siapa dirinya.
Melainkan mengapa ia menghilang.
Salindri menutup berkas.
“Sidang tetap jalan. Mereka cuma akan mencoba membentuk kesan kalau kamu memang sengaja pergi.”
Kaluna memandang namanya di atas dokumen keberatan.
Tiga tahun lalu, ia dibuat mati.
Sekarang, ketika hendak hidup kembali, ia dipaksa membuktikan bahwa dirinya tidak pernah memilih untuk menghilang.