Indonesia
NovelToon NovelToon
SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

SETELAH SUAMIKU MENGKHIANATIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: Silvi F. Sari

Raya tidak pernah menyangka dua bulan meninggalkan rumah akan mengubah seluruh hidupnya.

Pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan bersama atasannya, Kansa Alvaro Alistair, membuat Raya harus meninggalkan suami dan adiknya di rumah. Ia sama sekali tidak curiga, hingga kepulangannya disambut pemandangan yang menghancurkan hati.

Rumahnya dipenuhi tamu. Pernikahan sedang berlangsung.

Rara, adik yang selama ini ia percaya, telah mengandung anak Zevan, suaminya.

Lebih menyakitkan, Zevan tidak merasa bersalah. Ia justru menyalahkan Raya karena belum siap memiliki anak, sementara keluarga mereka membenarkan pengkhianatan itu.

Kini, setiap hari Raya harus melihat suaminya bermesraan bersamaan adiknya sendiri di depan matanya.

Akankah Raya terus bertahan demi pernikahan yang telah mengkhianatinya, atau pergi dan membuat Zevan menyesal karena telah kehilangannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi F. Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raya: Dia Harus Pergi dengan Tangan Kosong

Sesampainya di warung ketring, ia langsung menghampiri pemilik katering.

“Bu, saya mau pesan. Satu hari lagi menantu saya akan mengadakan acara tujuh bulanan. Saya mau pesan yang paling mewah untuk seribu porsi. Bisa, nggak?”

“Bisa, Jeng.”

Riana mengangguk puas.

“Oh, ini DP-nya, tiga juta. Sisanya saya bayar nanti kalau pesanannya sudah selesai. Ingat, menunya yang paling best seller, antar di rumahnya menantu saya.”

“Tenang saja, Jeng. Aman.”

Riana tersenyum. Ia menyerahkan uang muka tersebut, kemudian berbalik dan melenggang pergi.

Kini, langkahnya menyusuri trotoar terasa ringan. Uang hasil penjualan cincin masih tersisa cukup banyak.

Hingga akhirnya, langkah Riana berhenti di depan sebuah toko aksesori wanita.

Pandangannya tertuju pada etalase yang memajang berbagai macam tas.

“Aduh, kalau lihat yang begini nggak boleh dilewatkan. Harus beli, mumpung lagi pegang uang banyak.”

Tanpa pikir panjang, Riana masuk ke dalam toko.

“Selamat datang, Bu.”

“Saya ingin tas yang paling mahal di toko ini,” ucap Riana.

“Baik, Bu. Tunggu sebentar.”

Pelayan itu segera pergi. Tak lama kemudian, ia kembali membawa dua tas dengan desain berbeda.

“Yang ini harganya tujuh ratus ribu, sedangkan yang ini satu juta lima ratus ribu.”

Riana langsung mengerutkan kening.

“Kamu menghina saya, hah? Ini terlalu murah. Ambilkan yang paling mahal.”

“Baik, Bu.”

Pelayan itu kembali pergi.

Beberapa saat kemudian, ia datang membawa sebuah tas lain yang tampak lebih mewah.

“Kalau yang ini harganya sekitar empat juta rupiah, Bu.”

Senyum tipis muncul di wajah Riana.

“Nah, ini baru cocok. Kulit saya sensitif sama harga murah. Saya minta dua buat menantu saya.”

“Baik, Bu.”

Pelayan itu kembali pergi.

Tak lama kemudian pelayan itu kembali membawa tas.

“Berapa harganya?” tanya Riana.

“Lima juta setengah.”

Tanpa minta potongan harga, Riana mengambil kartu dari dalam tasnya, lalu menyerahkannya kepada pelayan.

“Bayar. No kredit, kredit.”

Pelayan itu menerima kartu tersebut dan segera memproses pembayaran.

Beberapa detik kemudian, mesin pembayaran mengeluarkan bunyi tanda transaksi berhasil.

“Transaksi berhasil. Silakan datang kembali, Bu.”

Riana tidak menyahut. Ia hanya mengambil paper bag berisi dua tas barunya, lalu berbalik dan berjalan keluar dari toko.

Sesekali, ia melirik paper bag di tangannya dengan senyum puas.

“Rara pasti seneng banget ini,” ucap Riana. “Oh, untuk Raya aku belikan apa ya?”

Lalu tak lama, langkahnya kembali terhenti. Ia menoleh ke pedagang yang menjual aksesoris.

“Bang, cincin ini berapa harganya?”

Ia mengambil cincin itu. Memperhatikan setiap detail cincin itu.

“Itu sepuluh ribu, Bu.”

“Saya beli ini.”

Riana lalu mengeluarkan uang selembar berwarna hijau.

“Ambil saja kembaliannya.”

“Terimakasih, Bu.”

Riana tak menjawab, ia memperhatikan cincin ditangannya.

“Cincin ini untuk ganti cincinnya yang ku jual, pasti dia bakalan terima kasih sama aku,” ucapnya.

Setelah ia mengatakannya, Riana kemudian memasukan cincin itu ke dalam tasnya begitu saja.

“Di dekat sini katanya ada restoran yang baru buka, aku coba ke sana ah. Kapan lagi ke restoran.”

Riana pun kembali melangkah menelusuri trotoar menuju restoran.

. . .

Waktu terus berlalu, hingga akhirnya siang tiba. Aktivitas di dalam perusahaan semakin padat. Sementara di ruang CEO, Raya kini duduk di sofa dengan kepala yang masih diperban.

Pandangan tak beralih sedikitpun dari layar ponselnya. Meski pikirannya masih dipenuhi kejadian pagi tadi, terutama tentang cincin peninggalan ayahnya yang kini berada di tangan Bu Riana.

Entah, berapa uang yang ibu mertuanya terima dari hasil menjadi cincin itu.

Kling.

Suara notifikasi dari ponselnya membuat Raya tersadar.

Ia segera menekan notifikasi tersebut. Layar ponselnya pun beralih, tak lama menampilkan sebuah unggahan story dari media sosial.

Mata Raya langsung tertuju pada unggahan video yang baru saja diunggah oleh ibu mertuanya.

Sebuah tas yang terpampang jelas di video itu, bahkan masih bersegel.

Raya terdiam sejenak sebelum ia menggeser layar ke story berikutnya. Kali ini, Bu Riana mengunggah foto makanan di sebuah restoran. Sepiring steak tersaji di atas meja dengan tampilan yang begitu menggugah selera.

‘Ternyata cepat juga ya dapat uangnya. Setelah dapat uangnya baru pamer.’

Jemarinya perlahan meremas ponsel.

“Raya, ada apa?”

Suara Kansa membuat Raya mengangkat wajah. Ia mendapati Kansa yang sedang duduk dibalik meja kerja yang tidak jauh darinya.

“Ibu mertua saya mengunggah video tas dan makanan di restoran yang baru dibukanya beberapa hari lalu, Pak.”

Raya menunjukkan layar ponselnya. Jemarinya perlahan mengerat di sisi ponsel.

Kansa tampak terlihat melirik layar tersebut sekilas.

“Oh, restoran itu?” tanyanya. “Kalau tidak salah, harganya memang tidak main-main. Sekali makan bisa menghabiskan belasan juta, bahkan bisa puluhan juta. Tapi menurut saya, rasa makanannya tidak sesuai dengan harga yang di patok.”

Raya menghela napas panjang.

“Kalau saya tegur, yang ada saya malah dibilang menantu durhaka.”

“Biarkan saja.”

Raya mengernyit. “Kenapa begitu? Kalau uangnya habis, pasti ibu desak saya buat nambahin.”

Kansa mengangkat sudut bibirnya. “Karena itu malah bagus.”

Raya semakin bingung. Ia menatap Kansa dengan kening berkerut.

“Bagus bagaimana, Pak?”

Kansa menyandarkan tubuhnya dengan santai.

“Mau membuat drama?”

“Drama apa, Pak?”

“Kamu akan tahu saat hari-H acara adikmu.”

Raya terdiam sejenak. Kemudian ia mendengus pelan.

“Itu bukan adik saya, Pak. Tapi hewan peliharaan yang nggak tahu diri.”

Kekehan samar terdengar dari arah Kansa.

Raya hanya memandangnya dengan wajah datar, meskipun sudut bibirnya nyaris ikut terangkat.

“Permisi.”

Suara seorang wanita dari ambang pintu membuat Raya mengalihkan pandangan dari Kansa.

Seorang pria berjaket kulit berdiri di sana.

“Bagaimana, Gio?” tanya Kansa.

“Dapat, Pak,” jawab pria itu. “Dan pengacara keluarga Alistair sudah tiba. Beliau sedang menunggu di depan.”

“Tolong simpankan, dan suruh beliau masuk.”

“Baik, Pak.”

Pria bernama Gio itu mengangguk, kemudian berbalik dan meninggalkan ruangan.

Tak lama setelah pintu kembali tertutup. Kansa kemudian berdiri dan berjalan mendekat. Kemudian duduk di salah Raya. terdengar ketukan dari luar.

“Pak Kansa.”

“Masuk, Pak. Silakan duduk,” ujar Kansa.

Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahunan masuk sambil membawa sebuah tas kerja. Dari penampilannya, Raya langsung bisa menebak bahwa pria tersebut adalah pengacara yang dimaksud Kansa.

Kansa berdiri, lalu mempersilakannya duduk di sofa.

“Silakan, Pak.”

Pengacara itu mengangguk dan duduk. Kansa pun kembali mengambil tempat di depan Raya.

“Baik, Bu Raya. Kita langsung saja ke pembahasan.”

Raya mengangguk. “Saya sudah mendapat sedikit informasi dari Pak Kansa mengenai permasalahan Anda. Namun, untuk keperluan proses perceraian, saya perlu mendengar langsung dari Anda.” Ia menatap Raya serius. “Ceritakan alasan Anda ingin bercerai.”

Raya tak langsung membuka suara, justru ia menoleh ke arah Kansa yang kini menatapnya, kemudian menganggukkan kepalanya pelan.

Pandangan Raya kembali menatap ke arah sang pengacara. Ia menarik napas panjang sebelum akhirnya ia membuka suara.

“Alasan saya ingin bercerai dengan suami saya, Zevan. Yang pertama, suami saya berselingkuh dengan adik saya hingga adik saya hamil. Mereka bahkan menikah tanpa persetujuan saya sebagai istri pertamanya.”

Raya berhenti sejenak, dadanya terasa berat saat mengingat kembali apa yang terjadi selama tujuh bulan ini.

“Selain itu, suami saya juga tidak menjalankan kewajibannya sebagai seorang suami ketika saya disudutkan oleh keluarganya. Saya terus mendapatkan tekanan secara mental oleh ibu mertua saya, bahkan hari ini...” Suara Raya sedikit bergetar. “Ibu mertua saya mengambil cincin pemberian Ayah sebelum beliau meninggal hanya karena saya menolak membiayai acara tujuh bulanan adik saya yang sekaligus menjadi madunya.”

Pengacara itu mencatat beberapa hal sebelum kembali menatap Raya.

“Apa ada lagi?”

“Saya ingin mereka pergi tanpa membawa apapun. Karena rumah yang mereka tinggali adalah harta bawaan saya sebelum saya sama Mas Zevan menikah.”

“Baik, saya mengerti. Namun, semua itu perlu didukung dengan bukti. Apakah Anda memiliki bukti yang bisa memperkuat laporan Anda?”

Raya terdiam. Pertanyaan itu membuat pikirannya langsung tertuju pada kamera tersembunyi yang ia pasang di kamar.

CCTV.

Ia segera meraih ponselnya.

“Untuk kejadian hari ini, saya punya buktinya, Pak.”

Raya membuka aplikasi CCTV yang terhubung dengan kamera di kamarnya. Jemarinya bergerak mencari rekaman berdasarkan waktu.

Tak lama kemudian, sebuah rekaman muncul di layar. Ia kemudian menyodorkan ponselnya kepada pengacara.

“Ini rekamannya, Pak. Tanpa saya edit, jika tidak percaya serahkan ke tim IT untuk di periksa.”

Pengacara itu menerima ponsel tersebut dan memperhatikannya dengan saksama.

Raya hanya diam, perhatiannya tak lepas dari wajah pria paruh baya itu yang tampak serius.

Tak lama kemudian, pengacara itu mengangkat wajahnya dan kembali menatap Raya.

“Bukti yang Anda berikan cukup membantu. Apakah Anda membawa buku nikah dan kartu keluarga? Kalau ada, berikan kepada saya agar prosesnya bisa lebih cepat.”

“Selain itu, tuliskan poin-poin mengenai hak dan permintaan yang ingin Anda ajukan. Nanti akan saya pelajari untuk dimasukkan ke dalam gugatan perceraian.”

Raya terdiam sejenak. Sebelum akhirnya ia akhirnya mengangguk. Kemudian, ia menoleh kepada Kansa.

“Pak, boleh minta pena, kertas?”

“Sebentar.”

Kansa mengambil barang-barang yang diminta, lalu menyerahkannya kepada Raya.

Raya segera menarik selembar kertas ke hadapannya. Tangannya mulai menulis dengan hati-hati.

Ia sudah memikirkan apa saja yang harus dipertahankan.

Rumah itu. Rumah yang dibelinya dengan hasil jerih payahnya sendiri, jauh sebelum pernikahannya dengan Zevan.

Ia tidak ingin ada pembagian atau tuntutan apa pun apabila suatu hari rumah itu dijual dengan alasan kekeluargaan. Baginya, rumah tersebut bukan hasil harta bersama. Ia membelinya dengan uang yang ia kumpulkan dari hasil keringatnya sendiri.

Setelah selesai, Raya membaca kembali tulisannya untuk memastikan tidak ada yang terlewat.

Kemudian, ia menyerahkan kertas tersebut kepada pengacara.

“Hanya ini?” tanya sang pengacara setelah membacanya.

Raya mengangguk mantap.

“Iya, Pak. Saya ingin dia pergi dengan tangan kosong.”

Pengacara tersebut mengangguk sambil memasukkan kertas itu ke dalam map.

“Akan saya proses. Besok atau dua hari lagi, saya akan menyerahkan surat yang perlu Anda dan suami Anda tanda tangani. Untuk bukti CCTV, silakan kirimkan kepada saya juga.”

“Serahkan suratnya melalui Pak Kansa saja, Pak.”

“Baiklah, kalau begitu, saya permisi.”

Pengacara itu berdiri, kemudian melangkah menuju pintu.

Tak lama kemudian, pintu kembali tertutup setelah pria itu pergi.

‘Sudah. Tinggal menunggu.’

1
Tining Revi
makin seru thor.💪💪💪 lanjut
sunaryati jarum
Semoga Syla dapat pertolongan dan mukjizat maka sembuh.Rumah Raya langsung laku dan rencana mengusir suami,adik,ibu,dan ibu mertua berhasil dan lancar
sunaryati jarum
Emak sabar menunggu rumah Raya laku
Adinda
lanjut thor
Adinda
benalu banget punya suami dan keluarga seperti ini lebih baik tendang raya
Adinda
lebih baik cerai udah penghianat mokondo pula🤣🤣🤣
ary daramita
lanjut thor
Tining Revi
ceritanya bagus. makin seru.
ary daramita
good job. tinggal jual aja tu rumah biar nanti mereka jadi gembel
Arieee
mantap 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
sunaryati jarum
Memang benalu raksasa bukan hanya lintah,kenapa tersinggung
sunaryati jarum
🤣🤣🤣 mampus kalian, Zevan nanti setelah di cerai Raya langsung kalang kabut cara menutupi kebutuhan rumah tangga, karena gajinya ,dipotong pinjaman dan angsuran mobil.Diusir dari rumah Raya.Komplit , tahunya Rara hanya minta
lelih aliah
Maaf Aotor,dalam ajaran agama Islam ,adik kakak kandung tidak diperbolehkan untuk dinikahi ,kecuali kalau sudah bercerai
sunaryati jarum
Astaghfirullah suami,adik, mertua dan ibu dagjal.Setelah itu proses pasal pencurian dan perzinahan Raya.
sunaryati jarum
Segera usir mereka.Raya .emak saja enak akan kelakuan mereka.Emak cicin yang dicuri mertuamu harus dilaporkan ke pihak hukum,biar tahu rasa.
sunaryati jarum
Nah gitu Raya,pasti dengan adanya bukti dan kuasa Pak Kansa proses cerai lancar dan semua hak milikmu kembali.Biarkan adikmu yang tidak tahu terimakasih ,suami ,ibumu dan mertuaku gigit jari.Atas pencurian cincin agar diproses sesuai hukum pasal pencurian
Iffanaya 😽
pengen rasanya maki² si Rara, adek gk ada akhlak gk tau diri 👊
Iffanaya 😽
buang aja semua parasit yg ada di rumah mu itu raya 🤪
sunaryati jarum
Disakiti begitu dalam kok melunak,melunak otakmu yang dangkal itu Zevan .Dapat surat cerai dan diusir baru tahu rasa
sunaryati jarum
Untuk tujuh bulanan sampai nyuri warisan,anakmu cacat baru tahu rasa,trus rahim diangkat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!