Indonesia
NovelToon NovelToon
THE LAZY GENIUS

THE LAZY GENIUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Misteri / Anak Genius
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ardyan1

Yamada adalah seorang jenius.
Ia mampu memahami hampir segala sesuatu dengan cepat—akademik, olahraga, teknologi, strategi, bahkan berbagai keterampilan yang dianggap sulit oleh orang lain.
Masalahnya hanya satu.
Dia terlalu malas untuk menggunakannya.
Bagi Yamada, hidup yang ideal hanyalah hidup tenang tanpa masalah.
Tidak perlu menjadi nomor satu.
Tidak perlu mendapat perhatian.
Tidak perlu berusaha lebih keras dari yang diperlukan.
Sampai suatu hari, kehidupannya berakhir.
Ketika membuka mata kembali, Yamada mendapati dirinya berada di dunia yang tidak pernah ia kenal.
Lebih aneh lagi, ia tidak terlahir sebagai bayi.
Ia terbangun dalam tubuh seorang anak laki-laki berusia lima belas tahun.
Tubuh itu memiliki kehidupan, keluarga, kenangan, dan sebuah rahasia yang tidak diketahui Yamada.
Kemudian sebuah suara terdengar di kepalanya.
[System Initialization.]
[Host detected.]
[Synchronization rate: 17%.]
[Warning.]
[This body already possesses an owner.]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ardyan1, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 9,1

"Ayah." Yamada menatap pria di depannya, pria yang sudah kehilangan satu anak laki-laki 5 tahun lalu, dan hampir kehilangan anaknya lagi malam ini.

"Apa yang terjadi setelah aku... setelah anak Ayah yang berusia sepuluh tahun itu meninggal?" Tanyanya, hati-hati memilih kata.

Ayahnya menutup mata, seolah-olah tidak ingin mengingat malam itu, tapi dia tahu dia harus menceritakannya, karena anak di depannya berhak tahu.

"Kami menguburkanmu." Jawabnya, dengan suara yang sangat pelan, hampir hilang ditelan isakan ibunya. "Aku sendiri yang menggalinya. Di malam yang sama. Karena tubuh Ren... tubuh kakakmu sudah tidak bisa ditemukan. Hanya kau yang bisa kami bawa pulang."

Yamada terdiam, merasakan dingin yang menjalar dari ujung kaki hingga ke ubun-ubun.

"Mayatku? Tubuh anak sepuluh tahun itu? Ayah kubur?"

"Ya. Kami memandikanmu, kami membungkusmu dengan kain putih, kami menguburkanmu dengan layak, seperti yang seharusnya." Ayahnya menjawab, air mata kini mengalir di pipinya yang tegas, tidak ditahan lagi.

"Di mana? Kuburannya di mana?" Tanya Yamada cepat.

Ayahnya tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah jendela yang menghadap ke halaman belakang, ke arah tempat di mana tanah terlihat sedikit lebih tinggi dan ada sebuah batu nisan kayu kecil yang tertutup lumut, yang selama ini dianggap Yamada sebagai tempat untuk menanam bunga.

"Di belakang rumah. Di bawah pohon maple tua. Di sebelah kuburan kakakmu yang kosong, yang hanya berisi pedangnya."

Yamada merasa tubuhnya semakin dingin, sedingin es. Bulu kuduknya berdiri semua.

"Kalau begitu..." Dia menatap tubuhnya sendiri, tangan anak 15 tahun yang terluka, kaki yang masih bisa berjalan. "...bagaimana aku bisa berada di sini sekarang? Bagaimana tubuh yang sudah dikubur lima tahun lalu bisa berdiri di sini, berusia 15 tahun, dengan luka baru? Apakah Ayah menggalinya kembali?"

Tidak ada yang tahu. Atau mungkin...

ada seseorang yang tahu. Seseorang yang tidak ada di ruangan ini.

Yamada teringat monster di hutan. Makhluk bermahkota tanduk tiga itu.

Yang membawamu kembali. Kalimat itu terus terngiang.

"Makhluk itu." Yamada bergumam. "Makhluk di hutan yang berbicara itu. Dia bilang dia yang membawaku kembali."

Ayahnya yang mendengar itu langsung menatapnya dengan mata membelalak, dengan ketakutan yang kembali.

"Jangan sebut namanya. Jangan panggil dia. Jangan ingat-ingat dia."

"Kenapa? Kenapa tidak boleh menyebut namanya? Dia kan sudah membiarkanku pergi?"

"Karena setiap kali namanya disebut... setiap kali sosoknya diingat dengan jelas oleh orang yang pernah diambil jiwanya..." Ayahnya berhenti, menelan ludah, menatap ke sekeliling rumah seolah-olah takut ada yang mendengarkan dari dinding. "...sesuatu akan mendengarnya. Hutan akan mendengarnya. Dan dia akan datang lagi."

Yamada mengerutkan kening, tidak mengerti takhayul itu, tapi melihat ketakutan di wajah ayahnya, dia tidak mendesak.

"Namanya siapa? Siapa nama makhluk itu? Kalau Ayah tahu dia seharusnya mati lima tahun lalu, pasti Ayah tahu namanya."

Ayahnya tidak menjawab, menggeleng keras.

Yamada menatapnya tajam, dengan tatapan yang sama tajamnya dengan tatapan ayahnya tadi pagi.

"Ayah."

"Aku tidak bisa mengatakannya, Yamada. Maafkan Ayah." Suara ayahnya bergetar. "Karena aku sudah kehilangan satu anak, Ren. Aku melihatnya mati di depan mataku. Dan aku melihatmu mati di pelukanku lima tahun lalu. Aku tidak akan kehilanganmu untuk kedua kalinya hanya karena aku menyebut sebuah nama terlarang. Aku tidak akan membiarkanmu diambil lagi."

Yamada terdiam. Untuk sesaat, dia tidak tahu harus berkata apa. Kata-kata ayahnya itu, meskipun penuh ketakutan, penuh dengan kasih sayang seorang ayah yang sudah kehilangan terlalu banyak.

Wanita di sampingnya, ibunya, mulai menangis lebih keras, bukan isakan lagi, tapi tangisan yang pecah, tangisan yang sudah ditahan selama lima tahun, sejak malam api hitam itu.

Yamada menatapnya. Ada perasaan aneh di dalam dadanya, perasaan yang bergejolak. Bukan miliknya, milik Yamada yang pendatang yang tidak pernah merasakan kasih sayang ibu seperti ini. Ini adalah perasaan milik tubuh ini, milik jiwa asli yang berusia sepuluh tahun yang mati, yang rindu pada ibunya selama lima tahun di dalam kegelapan.

Namun semakin lama dia merasakan perasaan itu, semakin sulit membedakan mana perasaan dirinya yang pendatang dan mana perasaan pemilik tubuh yang asli. Batas antara dua jiwa itu semakin kabur, semakin tipis, karena kesedihan yang sama.

Dia berjalan mendekat, selangkah, dua langkah, dengan kaki yang masih gemetar karena pertarungan tadi.

Kemudian, dengan gerakan yang canggung tapi tulus, dia memeluk ibunya. Memeluk wanita yang bukan ibu kandungnya di kehidupan pertama, tapi adalah ibu dari tubuh yang sekarang dia pakai.

Wanita itu terkejut, tubuhnya menegang sesaat karena tidak menyangka Yamada yang biasanya malu-malu untuk dipeluk akan memeluknya duluan.

Namun beberapa detik kemudian, dia membalas pelukan tersebut dengan sangat erat, dengan sangat kuat, seolah-olah takut Yamada akan menghilang lagi jika dilepaskan. Tangisannya semakin keras di bahu Yamada.

Yamada menutup matanya, membiarkan air mata ibunya membasahi mantelnya yang robek.

"Maaf." Bisiknya, pelan, hanya untuk ibunya yang bisa mendengar.

Wanita itu menangis semakin keras, mengangguk-angguk.

Yamada tidak tahu kenapa dia mengatakan maaf. Apakah karena dia menggunakan tubuh anak mereka yang sudah mati? Apakah karena dia hidup ketika anak mereka yang asli seharusnya sudah mati dan dikubur di belakang rumah? Apakah karena dia tidak bisa menjadi pengganti yang sempurna?

Atau mungkin...

karena sebagian dirinya, sebagian kecil dari Yamada yang pemalas itu, mulai menerima bahwa kehidupan ini bukan sekadar kehidupan kedua yang bisa dia jalani dengan malas-malasan.

Ini adalah kehidupan seseorang yang telah hilang, kehidupan yang dipinjamkan, kehidupan yang harus dia jaga, bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk ibu yang sedang memeluknya, untuk ayah yang ketakutan kehilangan anak untuk kedua kalinya, dan untuk kakak bernama Ren yang mati melindunginya.

Malam itu, setelah ibunya tertidur karena kelelahan menangis, dan ayahnya duduk berjaga di ruang tengah dengan pedang baja sungguhan di pangkuannya, menatap ke arah Hutan Elaria dengan waspada, Yamada tidak tidur.

Dia duduk di atas tempat tidur di kamarnya, dengan pintu terkunci, jendela tertutup rapat, menatap jendela sistem yang melayang di depannya, yang cahayanya menerangi wajahnya yang masih basah oleh air mata.

[STATUS]

Name: Yamada

Age: 15 (Biological) / 10 (Soul Age at Death) + 5 (Unknown Gap)

Race: Human

Level: 1

Soul Synchronization: 64% (Decreasing -1% per day)

HP: 87/100

MP: 42/100

Skills:

• Basic Magic Analysis Lv.1 • Basic Swordsmanship Lv.1 • Danger Sense Lv.1

Unique Trait:

• Lazy Genius

Memory Reconstruction: 13%

Yamada memperhatikan bagian terakhir, bagian yang baru muncul setelah dia menangis tadi.

"Memory." Gumamnya pelan, sambil mengetuk tulisan itu dengan jarinya, yang menembus hologram itu.

Dia mengetuk tulisan itu.

[Memory reconstruction: 13% - 5 Years Ago Incident Partially Restored.]

"Kalau aku mendapatkan seratus persen... apakah aku akan tahu siapa yang hidup di tubuh ini selama lima tahun?" Tanyanya pada sistem.

[Information unavailable. Memory beyond 13% is locked by external interference.]

Yamada menghela napas, napas lelah yang sudah kesekian kalinya malam ini.

"Selalu begitu. Selalu unavailable, selalu insufficient data. Sistem macam apa kau ini."

Dia menatap angka sinkronisasi yang terus turun, dari 68% tadi sore menjadi 64% malam ini setelah pertarungan dan setelah menangis.

"Dan ini terus turun. Empat persen dalam satu hari. Lebih cepat dari perkiraan."

[Affirmative. Emotional stress and physical combat accelerates soul rejection.]

"Kalau begitu, aku punya dua masalah besar sekarang." Kata Yamada, mengangkat satu jari, menghitung dengan gaya guru yang malas.

"Pertama, tubuh ini seharusnya sudah mati lima tahun lalu. Aku tinggal di dalam mayat yang seharusnya sudah menjadi tulang di belakang rumah."

Jari kedua terangkat, sedikit gemetar.

"Kedua, jiwaku, jiwa pendatang ini, perlahan-lahan ditolak oleh tubuh ini. Dalam 20 hari lagi, mungkin aku akan hilang. Atau kau yang akan hilang."

Yamada terdiam, menatap kegelapan di luar jendela, ke arah kuburan di belakang rumah yang tidak bisa dia lihat dari kamarnya, tapi dia tahu ada di sana.

"Dan ada masalah ketiga, yang paling merepotkan."

Dia menatap kegelapan di luar jendela, ke arah Hutan Elaria.

"Siapa yang menghidupkan tubuh ini selama lima tahun? Siapa yang merawat kuburan kosong itu? Siapa yang membuat Elena berpikir aku masih hidup dan masih berjanji latihan pedang?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!