Indonesia
NovelToon NovelToon
DIA YANG KU PILIH

DIA YANG KU PILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:650
Nilai: 5
Nama Author: Raudah Sahidah

Telah ku lewati perjalanan panjang dengan air mata...

lelah ku melangkah dengan harapan yang hampa....

ku cari sinar terang tuk jalan gelap didepan mata, namun tak kunjung ku jumpa...


Hati menjerit serta memanjatkan doa....

berharap semua cepat mendapatkan akhir bahagia....


Di tengah hati gudah dan gelisah secercah cahaya datang menerpa....

ke hadiran yang ku nanti telah tiba...

dan ku pilih dirimu tuk melengkapi hidup dan menemani sisa umur ku...


Tak banyak ku pinta padamu cukup cintai ku segenap jiwamu dan bimbing aku agar tetap di jalan yang benar...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raudah Sahidah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kecemburuan Rania

Akhirnya Loly memilih sebuah gaun berwarna merah delima lembut, dengan lipatan kain yang jatuh anggun menyusuk lekuk tubuhnya, dihiasi pita sutra berwarna senada di bagian pinggang yang diikat rapi menjadi busur kecil yang manis. Gaun itu sederhana namun memancarkan kehangatan yang sesuai dengan dirinya cerah, menyenangkan, penuh semangat yang tak bisa dipadamkan. Ia memutar badannya perlahan di depan cermin besar di sudut ruangan butik itu, menatap pantulan dirinya dari segala sisi, tersenyum lebar seakan tak ada keraguan sedikit pun di hatinya.

"Ini dia..." gumamnya pelan, matanya berbinar memantulkan cahaya lampu yang hangat. "Inilah yang akan aku kenakan nanti malam."

Setelah membayarnya dan memastikan gaun itu dibungkus dengan kertas indah dan pita rapi, keduanya melangkah keluar dari butik itu. Langkah kaki mereka terdengar beriringan di atas jalanan berkerikil yang bersih.

Dimas membukakan pintu mobil untuk Loly, lalu berjalan mengelilingi kendaraan itu dan duduk di kursi kemudi. Ia menyalakan mesin, membiarkan udara sejuk perlahan mengisi ruang di dalam mobil, lalu menoleh sekilas ke arah gadis di sampingnya yang sedang memeluk bungkusan gaun itu erat-erat di pangkuannya.

"Ke kampus sekarang?" tanyanya pelan, suaranya tenang namun masih menyisakan keheningan yang belum sepenuhnya hilang.

Loly memainkan ujung tas tangannya dengan jari-jari yang halus, bibirnya tersungging senyum manja yang berusaha kembali ceria, seakan ingin menghapus bayangan kesedihan yang sempat muncul di antara mereka. Ia mencondongkan badan sedikit ke arah Dimas, menatapnya dengan pandangan yang lembut namun penuh harap pandangan yang sulit untuk ditolak begitu saja.

"Kak..." panggilnya lembut, suaranya terdengar merdu di keheningan kabin mobil, "bukan langsung ke kampus ya?"

Dimas mengernyit pelan, tangannya memegang setir dengan santai namun siap melaju kapan saja. "Lalu ke mana?"

"Ke Restoran Narira dulu boleh?" pinta Loly, matanya berkilau memohon, "Perutku tiba-tiba terasa lapar sekali. Lagian... sudah lama sekali aku tidak ke sana. Aku kangen banget sama masakan di restoran itu. Rasanya belum ada yang bisa menandingi kelezatannya bumbunya, cara menyajikannya, semuanya terasa begitu istimewa."

Dimas terdiam sejenak. Restoran Narira... tempat itu kini terasa begitu dekat sekaligus begitu jauh baginya. Jika ia kesana tentu ia akan bertemu rania yang terlihat berharap lebih padanya. Namun melihat wajah Loly yang penuh harap, melihat bagaimana gadis itu berusaha sekuat tenaga mengembalikan suasana keakraban di antara mereka, Dimas tak sanggup menolaknya. Ia tak ingin menambah kesedihan di hati gadis yang begitu ia sayang.

Ia menghela napas panjang, lalu mengangguk pelan. "Baiklah. Kita ke sana dulu."

Wajah Loly seketika berseri-seri, seakan matahari pagi tiba-tiba menyinari wajahnya. Ia tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi, lalu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan riang, membiarkan dirinya terbawa suasana yang kembali cerah. Mobil meluncur perlahan membelah jalanan kota yang mulai dipenuhi cahaya matahari sore yang keemasan, menciptakan bayangan-bayangan panjang di sepanjang jalan yang berkelok-kelok di antara pepohonan rindang.

Di dalam mobil, percakapan perlahan mengalir kembali Loly bercerita tentang kegiatan di kampus, tentang teman-temannya yang baru saja pulang berlibur, tentang rencana-rencananya untuk masa depan yang tampak begitu cerah di matanya. Sementara Dimas mendengarkan sambil sesekali menyahut pelan, matanya tetap memandang ke depan, namun pikirannya terus melayang ke arah satu tujuan yang sama Restoran Narira, dan sosok yang ada di sana ya itu rina.

Tak lama kemudian, bangunan Restoran Narira mulai tampak di kejauhan berdiri anggun di antara pepohonan rindang yang daunnya bergoyang ditiup angin sore, cahayanya yang hangat menyambut siapa pun yang lewat, seakan membuka pelukannya bagi siapa saja yang mencari ketenangan dan kelezatan. Dimas memarkir mobil di tempat yang teduh di bawah pohon beringin tua, mematikan mesin, lalu menatap bangunan itu sejenak, menarik napas panjang sebelum berbalik ke arah Loly.

"Sampai," ucapnya pelan, suaranya sedikit bergetar meski ia berusaha menyembunyikannya.

Loly membukakan pintu dengan cepat, turun dengan langkah ringan seakan melayang di atas tanah, lalu menunggu Dimas menyusulnya sambil merapikan rambutnya yang tertiup angin. "Ayo, Kak. Aku sudah tidak sabar!"

Mereka berjalan beriringan menuju pintu masuk yang terbuka lebar, di mana aroma masakan yang lezat segera menyambut mereka wangi rempah yang harum meresap ke udara, kuah yang gurih mengundang selera, dan udara yang hangat menyapa siapa pun yang melangkah masuk. Suasana di dalam restoran itu terasa hidup namun tenang, pengunjung duduk dengan santai sambil berbincang pelan, pelayan bergerak dengan sigap namun sopan, menciptakan suasana yang membuat siapa pun merasa diterima dan dihargai.

Namun di sudut lain restoran, jauh dari pandangan pintu masuk, Rania sedang berjalan membawa nampan berisi piring-piring bersih, hendak menuju meja di dekat jendela besar yang menghadap ke halaman depan. Langkah kakinya ringan, senyum tipis terukir di bibirnya senyum yang ia latih setiap pagi sebelum mulai bekerja, senyum yang menyembunyikan begitu banyak perasaan yang tak boleh diketahui siapa pun. Namun tiba-tiba langkahnya terhenti seketika, kakinya seakan tertanam di lantai marmer yang mengilap.

Pintu kaca utama terbuka perlahan, dan sosok yang dikenalinya begitu baik melangkah masuk yaitu Dimas.

Jantung Rania seketika berdegup kencang, begitu kencang hingga ia merasa napasnya tertahan di kerongkongan, seakan ada tangan tak kasat mata meremas dadanya dengan kuat. Namun senyum yang sempat tersungging di bibirnya perlahan memudar, pucat seketika, seakan disapu bersih oleh kenyataan yang baru saja terlihat di hadapannya. Di samping Dimas, berjalan seorang gadis muda yang cantik jelita rambutnya hitam berkilau jatuh indah di bahu, wajahnya berseri-seri memancarkan kebahagiaan yang tak bisa disembunyikan, mengenakan pakaian rapi dan anggun yang memancarkan kemewahan yang halus namun nyata. Gadis itu tersenyum riang, berjalan beriringan dengan Dimas, sesekali menyentuh lengan pria itu pelan seakan tak ingin terpisah, seakan mereka adalah sepasang yang paling serasi di dunia ini.

Tangan Rania yang memegang nampan itu mengepal erat, buku-buku jarinya memutih, kuku menancap pelan di telapak tangannya yang hangat. Dadanya terasa sesak, panas yang menyakitkan menjalar dari dada ke seluruh tubuh, membuatnya gemetar diam-diam di tempatnya berdiri, tak berani bergerak sedikit pun.

"Siapa lagi wanita cantik itu..." gumamnya pelan, suaranya nyaris tak terdengar, tertelan suara percakapan pelan di sekelilingnya, penuh kecemburuan sekaligus kepahitan yang mendadak memenuhi hatinya hingga meluap-luap.

Ia menatap tak berkedip, matanya menyaksikan setiap gerakan mereka melihat bagaimana gadis itu mencondongkan badan sedikit ke arah Dimas, berbicara dengan nada yang begitu manja dan akrab, dan Dimas... Dimas tidak menolaknya. Ia hanya mendengarkan, berjalan di sampingnya, dan sesekali tersenyum tipis senyum yang belum pernah Rania lihat di wajah pria itu saat berada di hadapannya, senyum yang begitu lembut, begitu tenang, seakan kehadiran gadis itu adalah hal yang paling wajar di dunia ini.

Rasa cemburu itu membara, perlahan membakar setiap pertahanan yang baru saja ia bangun dengan susah payah. Selama ini ia mencurigai Rina, menduga-duga, menyimpan keraguan yang menyesakkan dada namun kini ada sosok lain, sosok yang jauh lebih muda, jauh lebih cantik, dan terlihat begitu dekat dengan Dimas, begitu akrab, begitu tak terpisahkan. Apakah ini yang selama ini tersembunyi di balik semua alasan, di balik semua kepergiannya? Apakah ada orang lain lagi yang ia tak ketahui, orang yang sudah ada jauh sebelum ia mulai menyadari perasaannya sendiri?

"Siapa dia..." ulangnya lagi dalam hati, kali ini lebih berat, lebih perih, seakan ada duri tajam tertanam di setiap kata. "Siapa sebenarnya wanita yang selalu ada di sampingmu itu, Kak Dimas? Mengapa aku tidak pernah tahu tentangnya?"

Ia menahan diri agar tidak melangkah mendekat, agar tidak memanggil nama Dimas di tengah ruangan yang penuh orang itu. Kakinya terasa berat, namun ia tetap terpaku di tempatnya, menatap sepasang itu berjalan menuju meja di sudut yang teduh, duduk berdampingan, menyisakan ruang yang begitu sempit di antara mereka seakan tak ingin ada apa pun yang memisahkan.

Nampan di tangannya terasa semakin berat, seakan menampung seluruh beban kesedihannya, namun ia tak beranjak. Matanya tak bisa berpaling, menyaksikan setiap gerakan, setiap senyuman, setiap tatapan yang saling mereka berikan hal-hal yang selama ini ia dambakan dalam diam, hal-hal yang ia bayangkan menjadi miliknya, namun ternyata diberikan kepada orang lain, dengan begitu mudah dan begitu tulus.

Sementara itu, tak menyadari tatapan yang menyakitkan itu, Loly segera membuka buku menu dengan antusias, matanya berbinar melihat deretan nama hidangan yang lezat dan menggugah selera. Ia menatap Dimas dengan semangat yang tak pudar sedikit pun.

"Kakak mau pesan apa? Biar aku yang traktir hari ini," ucapnya dengan bangga, seakan ingin menunjukkan bahwa ia juga bisa memberi sesuatu yang indah bagi pria yang dikaguminya.

Dimas tersenyum tipis, namun tak benar-benar membaca apa yang tertulis di daftar itu. Pandangannya melayang ke arah pintu ruangan pemilik di kejauhan, berharap sekilas melihat sosok yang ia cari. "Terserah kamu saja. Aku ikut apa yang kamu pesan."

Loly mengangguk riang, lalu memanggil pelayan yang sedang berjalan mendekat. Ia memesan beberapa hidangan kesukaannya masakan yang selama ini selalu ia nikmati di sini, masakan yang katanya tak bisa ditemukan di tempat lain, dengan rasa yang begitu khas dan tak tergantikan. Sambil menunggu makanan datang, ia terus bercerita dengan riang, seakan kehadirannya di tempat ini memberinya semangat baru, seakan kecemasan tadi di butik sudah hilang sepenuhnya digantikan kegembiraan bertemu kembali dengan tempat favoritnya.

Namun di balik keriangan itu, Dimas sesekali melirik ke arah lorong samping, ke arah pelayan-pelayan yang bergerak ke sana kemari, berharap sekilas melihat wajah yang ia rindukan. Ia tak tahu bahwa sosok yang ia cari justru berdiri tak jauh darinya, di balik tiang penyangga yang lebar, menahan tangis yang hampir tumpah, menyaksikan semuanya dalam diam yang menyakitkan.

Tak lama kemudian, makanan datang. Aroma harum memenuhi ruang di sekitar mereka, tampilannya begitu indah dan rapi hingga sayang untuk disantap. Loly tersenyum lebar, mengucapkan syukur dengan tulus, lalu mulai menikmati hidangannya dengan nikmat, sesekali menyuap sedikit dan memejamkan mata karena puas dengan rasanya.

"Benar-benar enak sekali..." puji Loly dengan mulut penuh, lalu menunjuk piring di hadapannya, "Kak Dimas coba juga. Lihat, rasanya persis seperti yang dulu aku suka. Tidak ada yang berubah sedikit pun."

Dimas tersenyum tipis, menyantap sedikit makanan di piringnya dengan perlahan. Rasanya memang lezat, sama seperti yang ia ingat, namun pikirannya tak di sini. Ia terus merasakan kehadiran seseorang yang tak tampak, seakan udara di tempat ini penuh dengan jejak orang yang dicintainya langkah kakinya, suaranya, senyumnya yang lembut.

"Kak Dimas..." panggil Loly tiba-tiba, suaranya sedikit lebih pelan, lebih hati-hati, "kenapa Kakak sering melamun begitu sejak kita masuk ke sini? Seakan... seakan ada orang lain yang Kakak cari di sini."

Dimas berhenti mengunyah sejenak, meletakkan sendoknya perlahan ke atas piring, lalu menatap gadis di hadapannya dengan tatapan yang lembut namun penuh kesedihan yang tak bisa disembunyikan. "Tidak apa-apa, Loly. Cuma... teringat beberapa hal saja."

Loly menatapnya lekat-lekat, seakan ingin membaca apa yang tersembunyi di balik tatapan yang menjauh itu. Namun ia tak menanyakan lebih lanjut, seakan takut mendengar jawaban yang akan menyakiti hatinya. Ia hanya tersenyum pelan, senyum yang mulai tampak rapuh, lalu kembali menyantap makanannya, meski keriangannya perlahan mereda, digantikan oleh kesadaran yang tak bisa ia tolak bahwa di tempat ini, di antara aroma masakan yang ia rindukan, ada nama lain yang jauh lebih dinanti oleh pria di hadapannya.

Makan siang itu berlangsung dalam kehangatan yang rapuh. Mereka bercakap-cakap, tertawa, namun ada jarak tak kasat mata yang memisahkan mereka jarak yang diciptakan oleh sosok yang tak hadir di meja itu, namun hadir di setiap detak jantung Dimas. Dan di sudut ruangan lain, Rania masih berdiri diam, nampan di tangannya akhirnya diletakkan perlahan di atas meja yang kosong. Ia mengusap sudut matanya dengan cepat, meneguk ludah yang terasa pahit, lalu menarik napas panjang berusaha menguatkan diri, berusaha menahan agar tidak jatuh di tempatnya berdiri.

Ketika mereka selesai dan bersiap untuk pergi, Loly berjalan di samping Dimas menuju pintu keluar, langkahnya lebih pelan dari sebelumnya. Ia menoleh sekali lagi ke sekeliling ruangan, seakan mencari sesuatu yang tak ia temukan, lalu menarik napas panjang dan tersenyum kali ini senyum yang lebih tenang, lebih dewasa, meski masih menyisakan sedikit kepahitan yang tak terucap.

"Sudah kenyang?" tanya Dimas pelan saat mereka kembali masuk ke dalam mobil, menatap gadis itu dengan perhatian yang tulus namun bukan cinta yang diharapkannya.

Loly mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi, menatap ke luar jendela di mana bayangan pepohonan bergerak cepat tertinggal di belakang. "Iya. Terima kasih, Kak."

Mobil meluncur perlahan meninggalkan halaman restoran itu, menjauh dari bangunan yang menyimpan begitu banyak rahasia dan luka. Dimas menatap ke depan, memandang jalanan yang terbentang di hadapannya, namun di dalam hatinya, ia adasebuah gejelok rasa bersalah terhadap rania.

Sementara itu, di balik jendela restoran yang memantulkan cahaya sore, Rania berdiri sendirian, menatap mobil yang perlahan menjauh hingga hilang di tikungan jalan. Dadanya terasa sesak, namun di tengah kepedihan itu tumbuh sesuatu yang lain tekad yang perlahan mengeras, kesadaran bahwa ia tak bisa terus berdiri diam menunggu sesuatu yang tak pasti.

Ia menarik napas panjang, menyeka sisa air mata yang sempat jatuh tanpa disadari, lalu berbalik badan kembali ke dalam kerjanya dengan satu pertanyaan yang kini berubah menjadi janji pada diri sendirisiapa pun gadis itu, apa pun hubungannya dengan Dimas, ia akan mencari tahu kebenarannya, meski harus menyakitkan hatinya sendiri.

 

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!