Alesia Fiore mengira hidupnya di Korea Selatan sudah berada di titik paling damai. Demi memperbaiki ekonomi keluarga yang ironisnya hanya peduli pada uang kirimannya Alesia rela bekerja keras bagai kuda selama satu tahun sebagai admin pemasaran di Aetheris Games. Biarpun sering lembur, ia bahagia karena memiliki lingkungan kerja yang sehat dan sahabat-sahabat yang suportif.
Namun, kedamaian itu hancur berantakan saat takdir membawa Dante Luca Alessio masuk ke hidupnya.
Dimulailah hari-hari penuh kesialan, kejengkelan, dan kesalahpahaman kocak bagi Alesia yang harus melayani segala tuntutan ajaib dari bos barunya yang ruthless. Sanggupkah Alesia bertahan demi pundi-pundi won, atau justru benci di antara mereka berubah menjadi benih-benih cinta yang tak terduga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon seasoulune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4
Begitu Alesia melangkah masuk ke dalam ruangan CEO, atmosfer dingin langsung menusuk kulitnya. Dante berdiri di balik meja dengan kemeja baru yang terpasang rapi, sementara kemeja putih yang kotor dan jas hitamnya yang bernoda kopi tergeletak di atas sofa kulit.
"Kamu tahu berapa harga jas ini, Fiore?" tanya Dante, suaranya tenang namun terdengar sangat mematikan. Ia berjalan mendekati Alesia dengan tatapan merendahkan.
"Jas ini dibuat khusus di Italia. Bahkan dengan seluruh gaji dan bonusmu selama setahun bekerja di sini, kamu tidak akan pernah mampu menggantinya."
Alesia menunduk dalam, meremas ujung kemeja kerjanya sendiri.
"Saya benar-benar minta maaf, Sajangnim. Saya akan bertanggung jawab."
Dante mendengus sinis.
"Bertanggung jawab? Dengan apa? Gajimu yang tidak seberapa itu?"
Pria itu terdiam sejenak, menatap Alesia yang tampak pasrah. Alih-alih melayangkan surat pemecatan, Dante justru melemparkan sebuah tas jinjing berisi pakaian kotornya ke arah Alesia.
"Bawa pulang kemeja dan jas saya. Cuci sendiri sampai bersih tanpa ada satu pun noda kopi yang tersisa. Dan ingat, jangan sampai merusak kainnya. Jika besok pagi pakaian ini tidak kembali dalam keadaan sempurna, surat pemecatanmu sudah ada di meja ini."
...----------------...
Malam harinya di apartemen kecil milik Alesia, gadis itu langsung memulai operasi penyelamatan kariernya.
Ia mengisi ember dengan air hangat, menuangkan detergen cair khusus, lalu merendam kemeja dan jas milik Dante. Dengan sangat hati-hati, Alesia menyikat noda kopi membandel itu pelan-pelan menggunakan sikat berbulu halus agar tidak merusak serat kain mahal tersebut.
Setelah berjuang hampir satu jam, noda kopi akhirnya menghilang. Alesia mengembuskan napas lega. Namun, rasa lelah yang teramat sangat membuat otaknya mendadak tidak bisa berpikir jernih.
Karena ingin cepat selesai, Alesia memasukkan baju Dante ke dalam mesin cuci bersama dengan tumpukan pakaian kotor miliknya sendiri yang berwarna-warni.
“Ah, sekalian saja biar cepat kering,” pikirnya praktis.
Beberapa puluh menit kemudian, alarm mesin cuci berbunyi. Alesia berjalan dengan riang menuju mesin cuci, berniat untuk menjemur pakaian tersebut. Namun, begitu ia menarik kemeja putih milik Dante, senyum di wajahnya langsung lenyap.
Kemeja putih yang tadinya bersih itu kini dipenuhi bercak-bercak warna merah muda dan biru tua akibat luntur dari baju tidurnya. Tidak hanya kemejanya, furing bagian dalam jas hitam mewah Dante pun ikut berubah warna menjadi belang-belang tidak karuan.
Alesia panik setengah mati. "Astaga... kenapa warnanya jadi begini?!" teriaknya histeris. Ia memandangi kemeja itu dengan tangan gemetaran.
"Arghhh! Kenapa apes banget sih gue?!" ucap Alesia dengan nada sedikit memelas, air mata frustrasi mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Gimana jelasin ke Pak Singa besok?!" gerutu Alesia frustrasi sambil menjambak rambutnya sendiri.
Dalam keadaan darurat tingkat tinggi, Alesia langsung mengambil ponselnya dan melakukan panggilan grup video dengan Min-ji dan Hana. Sambil menangis, ia memohon agar kedua sahabatnya itu segera datang ke apartemennya malam ini juga.
Tiga puluh menit kemudian, Min-ji dan Hana sudah sampai di apartemen Alesia. Mereka bertiga kini duduk melingkar di lantai ruang tamu, menatap kemeja dan jas Dante yang mengenaskan di atas meja.
"Parah sih, Al... ini udah gak bisa diperbaiki lagi. Lunturnya udah meresap ke serat kain," ucap Hana setelah memeriksa kemeja putih yang kini berubah warna menjadi abstrak tersebut.
"Terus gimana dong?" ucap Alesia dengan suara parau, menatap kedua temannya dengan pandangan meminta pertolongan.
Min-ji kemudian mengambil jas hitam Dante. Ia membalik bagian kerah dalam untuk memeriksa label dan tag nama yang tertera di sana.
Begitu membaca deretan huruf dan logo mereknya, mata Min-ji langsung melotot sempurna. Ia menatap Alesia dengan tatapan horor.
"Al... kayaknya karier kamu di Aetheris bakal tamat deh. Harga jas ini... ratusan juta, Al," ucap Min-ji lemas.
Alesia langsung mendengus, mencoba menyangkal kenyataan pahit itu.
"Gak usah bercanda, deh! Mana ada kain doang kayak gini harganya ratusan juta? Jangan menakut-nakuti aku, Min-ji!"
"Kalau tidak percaya, kamu bisa lihat sendiri!" Min-ji menyodorkan tag jas tersebut tepat di depan wajah Alesia, memperlihatkan logo desainer haute couture terkenal dunia.
Seketika, Alesia langsung mengambil ponselnya, memfoto label tersebut, dan mencari tahu harganya di internet melalui situs resmi sang desainer.
Dan benar saja... angka yang tertera di layar ponselnya memiliki deretan angka nol yang sangat panjang. Harganya setara dengan biaya hidupnya selama bertahun-tahun di Seoul.
Alesia langsung merengek frustrasi, merebahkan tubuhnya di lantai.
"Terus gimana dong nasib aku?! Aku bakal dipecat? Uang dari mana buat ganti ini?!"
Min-ji mengusap bahu Alesia, mencoba menenangkannya meski dia sendiri juga ikut ngeri.
"Kamu tenang dulu... besok coba jelasin baik-baik ke Pak Dante. Kalau dia marah dan minta ganti rugi, kamu tanya saja... boleh dicicil tidak? Katakan kamu akan mencicilnya dari gajimu."
Alesia hanya diam membisu. Matanya menatap kosong ke arah jas ratusan juta rupiah yang kini telah rusak di tangannya. Membayangkan amukan Dante Luca Alessio besok pagi, Alesia merasa hari esok adalah hari kiamat kecil baginya.