Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.
Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.
Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.
Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pembagian Tugas Kelompok 24.
Dengung suara kipas angin di langit-langit kelas Dua Belas C seolah beradu lambat dengan ketukan spidol Pak Anwar di papan tulis.
Di jam-jam krusial menjelang siang seperti ini, hukum termodinamika yang sedang diterangkan di depan kelas tak ubahnya bak mantra pengantar tidur.
Namun tidak bagi Livy. Gadis itu duduk tegak, bukan karena antusias pada rumus-rumus fisika, melainkan karena atensinya terbagi habis oleh dua objek di dekatnya.
Matanya sesekali melirik ke barisan kanan paling depan, tempat Galang duduk dengan penopang dagu dengan malas, menatap lurus ke depan dengan rahang yang mengeras kaku. Lalu, lirikan Livy berpindah ke bangku tepat di sebelahnya, tempat Rayhan sedang mencatat dengan tenang, sesekali melempar senyum tipis yang hanya bisa ditangkap oleh Livy itu sendiri.
"Livy fokus. Kamu merhatiin papan tulis apa merhatiin saya?" bisik Rayhan yang akhirnya sadar, pemuda itu tanpa melirik ke samping, ia masih fokus ke depan papan tulis.
Livy tidak menjawab, gadis itu kembali fokus ke papan tulis untuk mendengarkan materi yang diberikan oleh Pak Anwar.
"Baik, anak-anak. Materi termodinamika untuk hari ini saya cukupkan," Pak Anwar meletakkan spidolnya, mengetuk meja guru dua kali untuk mengumpulkan kesadaran kelas yang sempat melayang. "Sebelum bel istirahat berbunyi, ada satu pengumuman penting terkait tugas praktikum kelompok yang akan mengambil porsi tiga puluh persen nilai ujian akhir semester kalian."
Keluhan masal langsung terdengar dari seisi kelas.
Pak Anwar mengabaikan protes tersebut dan mengeluarkan selembar kertas. "Kelompok sudah saya bagi secara acak. Saya akan sebutkan kelompok lima. Mayang Annisa, Olivia Renata Adhitama, Galang Narendra, dan... Rayhan Setiawan."
Jantung Livy rasanya melompat kecil. Ia refleks menoleh ke arah Rayhan, yang langsung membalasnya dengan senyuman lebar. "Wah, kita sekelompok, Liv. Berarti kerja kelompoknya bisa sekalian main di rumah kamu seperti waktu kita SD kan?" ucap Rayhan, suaranya sengaja tidak dikecilkan.
"Iya, Ray! Seru banget pasti!" jawab Livy dengan nada yang sengaja diceriakan, sedikit dikeraskan agar bisa didengar oleh telinga seseorang di barisan kanan paling depan.
Dan benar saja. Di sudut sana, Galang yang tadinya bersandar malas langsung menegakkan punggungnya.
Jemarinya yang sedang memutar-mutar pulpen mendadak berhenti.
Sepasang matanya yang tajam langsung mengunci figur Rayhan, lalu beralih pada Livy dengan tatapan yang sarat akan ketidaksukaan, frustrasi, dan sesuatu yang menyerupai kecemburuan yang membakar ego tingginya.
Galang benci situasi ini. Dia terbiasa menjadi pusat semesta Livy. Dia terbiasa melihat Livy yang memohon perhatiannya. Kini, ulu hati Galang jelas terasa teremas.
Lebih sialnya lagi, dia harus berada di kelompok yang sama dengan mereka.
Galang senang karena itu berarti Livy akan berada di dekatnya, namun kehadiran Rayhan di sana terasa seperti duri dalam daging.
Pak Anwar berjalan menuju pintu seiring dengan berbunyinya bel istirahat. "Mayang, karena nilai simulasi kamu yang tertinggi di kelompok lima, saya tunjuk kamu sebagai ketua kelompok. Atur anggotamu. Tugas dikumpulkan dua minggu dari sekarang."
"Baik, Pak," jawab Mayang pasrah.
Begitu Pak Anwar keluar, atmosfer di sekitar bangku Livy langsung berubah mencekam.
Mayang segera menarik kursinya mendekat ke meja Livy dan Rayhan.
Sementara itu, dari depan kelas, Galang berdiri. Langkah kakinya terdengar tegas dan berat saat berjalan menghampiri meja mereka.
Setiap hentakan sepatunya seolah membawa aura intimidasi yang pekat.
Galang tidak mengambil kursi. Dia berdiri di ujung meja, menjulang di antara mereka, dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. Matanya dingin, menatap Rayhan sedetik sebelum beralih sepenuhnya pada Livy.
"Jadi, kapan kita mulai?" tanya Galang langsung pada poinnya, suaranya rendah dan terdengar menuntut.
Mayang berdeham, mencoba mencairkan ketegangan yang mendadak mencekik udara di antara mereka. "Sebagai ketua kelompok, saya saranin kita kerjain Sabtu ini. Biar nggak mepet. Tempatnya... gimana kalau di rumah Livy aja? Kan halaman belakangnya luas buat bikin maket praktikum."
"Boleh banget! Rumah saya selalu terbuka, apalagi buat Rayhan," sahut Livy cepat, melirik Galang dengan tatapan menantang yang belum pernah dia tunjukkan sebelumnya.
Dulu, Livy akan gugup setengah mati jika ditatap Galang seperti ini. Sekarang? Dia justru menikmati kilat kemarahan di mata cowok itu.
Galang menggerakkan rahangnya, menahan emosi yang nyaris meluap. "Nggak usah di rumah Livy. Di rumah saya aja. Lebih lengkap alatnya."
Rayhan, yang sejak tadi mengamati dinamika itu dengan senyum tenang, akhirnya angkat bicara. Dia bersandar pada sandaran kursinya, menatap Galang tanpa rasa takut sedikit pun. "Tapi seperti nya lebih efisien di rumah Livy, Lang. Saya sudah tahu seluk-beluk rumah dia sejak kecil. Mama nya Livy juga udah kenal saya. Jadi kita nggak bakal canggung."
Kalimat 'sejak kecil' dan 'mamanya Livy sudah kenal saya' telak menghantam ego Galang. Kepalan tangan Galang di dalam saku celananya mengeras.
Cowok itu maju satu langkah, memperkecil jarak antara dirinya dan meja Rayhan, menciptakan jarak yang sangat intimidatif.
"Saya nggak peduli kamu tahu rumah Livy sejak kapan, anak baru," desis Galang, suaranya setajam pisau. "Ini urusan nilai kelompok, bukan ajang reuni masa kecil kalian, paham!"
"Galang, jaga omongan kamu," potong Livy cepat, suaranya mendadak dingin. Dia berdiri, menyejajarkan posisinya dengan Galang, menatap cowok itu lurus-lurus. "Rayhan cuma kasih saran yang logis. Kenapa kamu yang sewot? Bukannya biasanya kamu nggak pernah peduli saya mau kelompokan sama siapa atau di mana?"
Pertanyaan Livy bagaikan tamparan keras bagi Galang.
Bukannya biasanya kamu nggak pernah peduli?
Kata-kata itu adalah cerminan dari sikap dingin Galang di masa lalu, yang kini berbalik menjadi bumerang yang melukai dirinya sendiri.
Ada rasa sesal dan cemas yang mendalam berkelebat di mata Galang selama sepersekian detik, sebelum ego dan gengsinya kembali menutupinya.
Galang menatap Livy dengan tatapan yang rumit—marah, terluka, dan memohon di saat yang bersamaan. "Saya peduli, Liv. Sekarang saya peduli," ucap Galang dengan suara yang mendadak serak, hanya ditujukan untuk Livy, mengabaikan Mayang dan Rayhan yang berada di sana.
Livy tertegun sejenak menangkap intensitas emosi di mata Galang. Detak jantungnya berpacu liar. Ini adalah ekspresi Galang yang selalu dia impikan dulu—ekspresi takut kehilangan dirinya. Namun, Livy buru-buru menguasai diri. Dia tidak boleh kalah secepat ini. Mantan cegil seperti dirinya tahu betul kapan harus menahan umpan.
Mayang yang merasa situasi sudah terlalu personal, segera mengetuk meja dengan pulpennya. "Oke, cukup! Ini kelompok saya yang pimpin. Keputusan ada di tangan ketua. Kita kerjain di rumah Livy hari Sabtu jam sepuluh pagi. Nggak ada bantahan. Galang, Rayhan, kalian berdua harus datang dan jangan bawa sentimen pribadi ke tugas fisika saya. Paham?!"
Rayhan tersenyum manis dan mengangguk. "Saya ikut aturan ketua."
Galang tidak menjawab. Dia hanya menatap Livy lama, mencoba membaca apa yang ada di pikiran gadis yang dulu selalu mengejarnya tanpa lelah itu. Namun, hari ini, Livy dengan sengaja memalingkan wajahnya, memilih untuk tertawa kecil menanggapi bisikan Rayhan tentang masa kecil mereka.
Dengan perasaan campur aduk yang membakar dadanya—kombinasi antara cemburu yang hebat, penyesalan, dan ambisi untuk merebut kembali atensi Livy—Galang berbalik arah tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Dia berjalan keluar kelas dengan langkah lebar, meninggalkan ruangan yang masih menyisakan bara ketegangan yang siap meledak hari Sabtu nanti.
Di tempatnya, Livy tersenyum tipis. Permainan baru saja dimulai, dan kali ini, dialah yang memegang kendali.
......................
...****************...
Tbc,