Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Laptop yang Hilang
Pagi datang tanpa benar-benar membangunkan Rin. Cahaya matahari hanya masuk tipis-tipis lewat celah tirai yang terbuka setengah.
Rin menggeliat pelan. “Hm…”
Tangannya bergerak meraba-raba lantai dingin di sampingnya. Masih dengan mata terpejam, ia meraba isi kantong plastik besar yang kemarin dibawanya. Begitu mendapatkan satu bungkus camilan, Rin langsung merobeknya.
Satu potong. Dua potong. Ia mengunyahnya tanpa berniat membuka mata. Tenggorokannya terasa kering, jadi tangannya meraba lagi sampai menemukan kaleng soda.
Psssst.
Rin meneguknya sedikit, baru setelah itu matanya benar-benar terbuka. Ia menguap lebar sambil menggaruk rambutnya yang berantakan, lalu menoleh ke arah meja tempat laptopnya biasa berada.
Meja itu kosong.
Rin mengerutkan kening. Ia berkedip sekali, lalu dua kali.
“Hah?”
Rin langsung duduk tegak. Ia melihat ke lantai. Tidak ada. Ia mencari ke samping tempat tidur. Tidak ada. Di bawah tumpukan pakaian kotor pun tidak ada.
Ia mulai panik. Rin bangkit dan membuka laci meja. Kosong. Ia mengangkat bantal kasur, membongkar bungkus makanan, tapi laptopnya tetap tidak ada.
“Mana laptopku?”
Rin buru-buru keluar kamar dan berlari menuruni tangga.
“Obaachan!”
Nenek yang sedang membersihkan meja menoleh. “Sudah bangun?”
“Ayah mana?”
“Sudah pulang sekitar satu jam yang lalu.”
Langkah Rin terhenti. “Pulang?”
“Iya.”
“Laptopku mana?”
Nenek tidak langsung menjawab. Ia mengambil sebuah amplop di atas meja. “Ini. Dari ayahmu.”
Rin mengambilnya cepat-cepat. Tangannya membungkuk membuka kertas di dalamnya, lalu membacanya. Semakin jauh ia membaca, wajahnya berubah merah padam. Tangannya mulai gemetaran.
'Fasilitas dari Ayah akan Ayah sita sampai kau memilih antara mengikuti perjodohan dan menikah, atau kuliah.'
Rin menelan ludah. Ia lanjut membaca kalimat terakhir.
'Jangan buang waktumu untuk game bodohmu itu.'
Tubuh Rin seketika membeku. Nenek mengamati wajah cucunya. “Rin…”
“Ayah…” Suara Rin terdengar pelan, lalu matanya membulat lebar. “Ini gila!”
Ia meremas surat itu kuat-kuat. “Dia mengambil laptopku!”
“Rin, tenang—”
“Dia mengambil laptopku obaachan!” teriak Rin frustrasi. Ia mengacak-acak rambutnya sendiri. “Aku benci Ayah!”
Surat remuk itu dilemparnya begitu saja ke meja. Rin berbalik dan berlari kencang kembali menaiki tangga.
“Rin!”
BRAK!
Pintu kamar dibanting keras. Tidak lama kemudian terdengar suara kunci diputar.
Klik.
Nenek berdiri diam di bawah tangga. Ia mendekati meja, mengambil surat yang dilempar Rin, lalu membacanya kembali.
Nenek menghela napas panjang. “Anak itu…” Ia melipat surat tersebut dan menyimpannya di laci dapur.
Di lantai atas, Rin duduk di lantai sambil memeluk lututnya. Tidak ada laptop. Tidak ada game. Tidak ada suara teman-temannya. Tidak ada lagi hal yang bisa membuatnya lupa.
Ia menatap sekeliling kamarnya yang berantakan—dunia kecil yang selama ini terasa aman baginya. Rin menarik napas panjang.
“Kalau begitu…”
Ia bangkit, berjalan ke jendela, lalu menutup tirainya rapat-rapat sampai kamar menjadi gelap. Setelah itu, ia kembali duduk di lantai.
Pintu terkunci rapat. Dan sejak hari itu, Rin mulai benar-benar menghilang dari dunia luar.
***
Hari-hari berlalu tanpa terasa, dan rumah Obaachan kembali diselimuti kesunyian.
Sejak laptopnya disita, Rin memang sempat mengamuk hebat. Namun setelah beberapa hari lewat, kemarahannya perlahan mereda dan berubah menjadi rasa acuh yang jauh lebih sulit diatasi.
Gadis itu berhenti berusaha keluar dari kamar. Pintunya hampir selalu terkunci rapat dan tirai jendela jarang sekali dibuka. Di dalam sana, dunia Rin hanya berputar di antara kasur, ponsel, tumpukan camilan, dan koneksi internet.
Sore itu, Rin sedang berbaring santai sambil memainkan ponselnya ketika ketukan di pintu kembali terdengar.
“Rin.”
Rin tidak menjawab, ia berpura-pura tuli.
“Rin, buka pintunya.”
Tetap tidak ada jawaban. Rin justru meraih earphone, menyumbat kedua telinganya, lalu menaikkan volume musik hingga maksimal. Suara lagu seketika memenuhi kepalanya.
“Rin!”
Mendengar samar teriakan itu, Rin makin sengaja menaikkan volumenya ke tingkat paling tinggi.
Di luar kamar, Obaachan yang berdiri menanti akhirnya menghela napas panjang. Ia tahu cucunya sengaja mengabaikannya.
“Dasar anak ini…” gumamnya pasrah.
neneknya berbalik dan berjalan menuruni tangga menuju dapur. Ia mengambil ponsel di atas meja, lalu memanggil nomor telepon anaknya. Tidak butuh waktu lama sampai sambungan itu terhubung.
“Halo, Nak?”
“Kenapa, Bu? Rin masih di dalam kamar?” tanya ayah Rin langsung di seberang telepon.
“Iya, masih. Dia cuma keluar buat ambil makan dan ke kamar mandi. Habis itu mengunci diri lagi.”
Ayah Rin terdiam sejenak. Namun saat kembali bersuara, nadanya terdengar jauh lebih santai dari dugaan Obaachan.
“Biarkan saja lah, Bu.”
“Biarkan?”
“Iya. Satu atau dua hari lagi dia juga bakal menyerah.”
Obaachan mengernyitkan dahi. “Maksudmu?”
Ayah Rin melanjutkan dengan nada penuh keyakinan. “Ponselnya butuh kuota, dan dia butuh camilan. Kalau kuota internet dan stok makanannya habis, dia pasti keluar sendiri. Paling tidak buat minta uang.”
Obaachan tertegun sejenak, bingung harus menghela napas atau tertawa mendengar kepastian anak laki-lakinya itu. “Jadi menurutmu perang dingin ini bakal selesai cuma gara-gara kuota habis?”
“Bukan cuma kuota, Bu. Laptopnya kan sudah tidak ada. Kalau internetnya mati, mau melakukan apa lagi dia di dalam kamar?”
Obaachan melirik ke arah tangga lantai dua. “Jangan terlalu yakin. Rin itu kalau sedang keras kepala, kadang bisa lebih kreatif dari yang kita kira.”
Ayah Rin tertawa kecil di balik telepon. “Tenang saja, Bu. Kita lihat besok.”
“Kalau ternyata dugaanku yang benar bagaimana?”
“Kalau tidak menyerah juga, anggap saja cucu Ibu memang sedang tidak ada di kamarnya. Dia bukan anak kecil lagi, Bu. Aku sudah hafal wataknya karena dia selalu pakai trik yang sama.”
Obaachan langsung memutus sambungan telepon. Ia berdiri sebentar di area dapur, menatap ke arah tangga menuju kamar Rin. Dari lantai atas, hanya ada kesunyian.
Obaachan menggelengkan kepala. “Benar-benar merepotkan…”
Sementara itu di dalam kamar, Rin sama sekali tidak peduli bahwa orang-orang di luar sedang sibuk menebak berapa lama ia bisa bertahan. Dengan tenang, ia menggeser layar ponsel untuk mengganti lagu, lalu menyambar sebungkus camilan di samping bantalnya.