Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Sore harinya, mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak di pinggir sungai kecil di balik rumah. Angin pegunungan berembus lembut, membelai rumput-rumput hijau dan membawa kesegaran udara pedesaan, rambut panjang Kinanti terkulai indah, burung burung berterbangan dari atas langit, langit sore belum berwarna jingga.
Kinanti melangkah gembira di depan, membiarkan jemarinya menyapu ilalang yang tumbuh subur. Senyum manis tak pernah lepas dari bibirnya saat Arka benar-benar memetikkan seikat bunga liar berwarna ungu pucat dan menyematkannya di sela telinga Kinanti.
"Cantik banget, Mas..." gumam Kinanti pelan, matanya berbinar menatap hamparan air sungai yang jernih. "Aku merasa hidup kita di sini benar-benar sempurna."
Arka tersenyum lembut, merangkul bahu Kinanti dari samping dan menariknya rapat ke dalam pelukan. "Selama ada kamu, hidup Mas juga sempurna, Kin."
Namun, di tengah suasana romantis itu, indra penglihatan Arka menangkap pantulan cahaya lensa yang sangat tipis dari balik kerapatan pohon pinus di atas bukit titik pengintaian jarak jauh. Seseorang dengan teropong militer sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dari ketinggian.
Arka tidak panik. Ia memposisikan tubuh tegapnya secara presisi untuk menutupi tubuh Kinanti dari sudut pandang penembak jitu mana pun di atas bukit, seolah-olah ia hanya sedang merengkuh istrinya dengan mesra.
Sambil menatap keindahan sungai bersama Kinanti, tangan kiri Arka yang berada di dalam saku jaket menekan tombol panggilan cepat di ponsel terenkripsinya. Panggilan itu terhubung otomatis ke earpiece mikro yang terpasang di dalam lubang telinganya.
"Tuan Arka," suara bisikan anak buahnya terdengar langsung di telinganya melalui getaran konduksi tulang. "Unit pelacak 'Dragon Utama' udah mendirikan basis sementara di bukit pinus sebelah utara. Mereka membawa lima penembak jitu dan tim taktis."
"Sudah kutemukan posisi mereka," bisik Arka sangat halus melalui mikrofon tersembunyi di kerah jaketnya, nyaris tak terdengar seperti kata-kata bagi Kinanti yang sedang terbuai suara gemercik air. "Amankan bagian bawah. Jangan biarkan satu pun dari mereka turun mendekati kawasan pemukiman warga desa."
"Diterima, Tuan. Apakah perlu kami sapu bersih bukit itu malam ini?"
"Tunggu komandoku," sahut Arka dingin. "Mereka ingin memancingku keluar. Biarkan mereka berpikir mereka memegang kendali."
Arka memutus sambungan. Ia menunduk menatap Kinanti yang sedang memejamkan mata, menikmati hembusan angin sore yang sejuk di dalam dekapan suaminya.
Aura pembunuh yang sempat membakar dadanya luntur seketika. Arka mengecup dahi Kinanti penuh kehangatan, mengusap punggung istrinya dengan kasih sayang yang melimpah.
"Mas... dingin," bisik Kinanti seraya makin merapatkan tubuhnya.
"Yuk, kita pulang," ajak Arka lembut, menyatukan jemarinya dengan jemari Kinanti. "Mas buatkan cokelat hangat ya di rumah."
"Asyik! Pakai marshmallow kecil-kecil ya, Mas!" seru Kinanti gembira seraya menggandeng lengan suaminya berjalan kembali ke rumah kayu mereka.
Malam merayap cepat menyelimuti pedesaan Bandung. Angin dingin dari arah perbukitan berembus kencang, menampar dinding kayu rumah dua lantai milik Arka dan Kinanti. Di dalam kamar, suara napas teratur Kinanti menandakan ia telah terlelap dalam tidur nyenyaknya, efek dari secangkir cokelat hangat berbumbu rempah yang khusus dibuatkan Arka.
Arka berdiri bergeming di samping ranjang, menatap wajah istrinya yang damai di bawah Cahaya redup lampu tidur. Ia mengusap pipi Kinanti sangat pelan, lalu menyelimutinya hingga sebatas dada.
"Mas pergi sebentar ya, Sayang," bisik Arka hampir tanpa suara. "Tidur yang nyenyak."
Dalam hitungan detik, aura suami penuh kasih itu menguap. Arka bergerak menuju sudut ruangan, membongkar lantai kayu rahasia di bawah lemari. Ia mengenakan pakaian taktis serba hitam yang melekat pas di tubuhnya, melingkarkan sepasang belati sangkur di pinggang, serta menyiapkannya senapan taktis M416 berperedam suara.
Ia menyelinap keluar lewat jendela teras atas, mendarat di atas tanah basah tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Bagaikan hantu malam, Arka melesat menembus kegelapan, menerobos rimbunnya hutan pinus menuju puncak bukit.
Pukul sebelas malam. Kabut tebal menggantung pekat di puncak bukit pinus, membatasi jarak pandang hingga hanya beberapa meter.
Di sebuah bekas gubuk pemantau hutan yang terisolasi, tim taktis Dragon Utama telah mendirikan basis operasional sementara. Layar monitor canggih menampilkan pemetaan inframerah dari kawasan pemukiman di bawah, memantau posisi rumah Arka.
Dua penembak jitu berseragam taktis kelabu sedang berdiri berjaga di balik semak-semak, memegang senapan runduk AWM dan M24, dua macam seniper jarak jauh.
"Jarak pandang makin buruk karena kabut ini," bisik salah satu penembak jitu lewat radio komunikasi. "Tapi begitu target keluar rumah besok pagi, aku akan langsung mengunci kepalanya."
"Jangan remehkan dia," sahut rekannya dingin. "Dia Bos Arka,Naga Hitam aja dilumpuhin dalam itungan menit...."
Srrrt!
Kalimat itu terputus seketika. Sebuah bayangan hitam muncul dari balik kabut bagaikan petir. Sebelum penembak jitu pertama sempat menarik pelatuk, tangan Arka sudah memiting lehernya, memutarnya hingga terdengar bunyi patahan yang tajam.krek
Penembak jitu kedua panik dan mencoba mengarahkan senjatanya, tetapi belati berbilah hitam milik Arka sudah lebih dulu menancap presisi di tenggorokannya. Tubuh pria itu ambruk tanpa sempat mengeluarkan jeritan sedikit pun.
Arka mencabut belatinya, mengusap noda darah di celananya, lalu menatap gubuk kayu di depannya. Di dalam sana, termometer inframerah mencatat ada lima personel taktis lainnya, termasuk sang jenderal, 'Dragon Utama'.
Arka menyulut senyum dingin yang mengerikan di balik kegelapan kabut malam.
"Selamat datang di tempat pembantaian kalian," bisik Arka penuh gema ancaman".