Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11. Vampir Pencuri Sepeda

"Astaga! Ada apa ini?! Kenapa mobilnya mendadak berhenti secara ekstrem begini?" tanya Evelyn dengan napas tersengal-sengal akibat syok yang hebat.

"Mohon maaf yang sebesar-besarnya, Nona Evelyn. Sepertinya ban belakang bagian kanan kita mendadak bocor atau meletus," jawab sang sopir sembari menyeka bulir keringat dingin yang mengucur di dahinya.

Elisa memukul dasbor depan mobil dengan kepalan tangannya secara frustrasi. "Aduh, Eve! Bagaimana bisa jadi begini? Jarak menuju panti asuhan lamaku masih sangat jauh dari sini!"

"Mau bagaimana lagi, El. Kita terpaksa harus menunggu bantuan di sini. Aku akan segera menelepon kepala pelayan di rumah sekarang untuk menjemput kita menggunakan mobil cadangan lain," ujar Evelyn sembari merogoh ponsel pintarnya dengan tergesa-gesa dari dalam tas.

Namun, Elisa sudah benar-benar kehilangan seluruh sisa kesabarannya. Rasa ketakutan yang teramat sangat akan keselamatan Ibu Iris dan adik-adik pantinya telah mengalahkan rasa lelah fisik yang menderanya sejak pagi. Tanpa memedulikan imbauan Evelyn, ia segera membuka pintu mobil dan melompat turun ke atas aspal.

"Terlalu lama jika harus menunggu, Eve! Aku akan jalan kaki dan berlari duluan saja dari sini. Semoga saja sepeda bututku yang tadi kujatuhkan masih ada di tempatnya!" teriak Elisa tanpa menolehkan kepalanya lagi ke belakang.

Ia mulai mengayunkan langkahnya, berlari sekuat tenaga menyusuri pinggiran jalan aspal, berharap sepedanya belum dicuri orang atau hancur digilas oleh kendaraan besar lainnya.

"Eh, El! Tunggu dulu! Jangan pergi sendirian, jalanan hutan itu sangat berbahaya!" teriak Evelyn histeris dari dalam mobil, namun suaranya hanya berakhir tertiup angin lalu.

Evelyn hanya bisa menghela napas panjang dan pasrah, menatap punggung sahabat manusianya yang kian mengecil di kejauhan.

Sementara itu, di balik rimbunnya dedaunan pohon cemara yang gelap, Josiah Salvatore masih setia mengawasi pergerakan mangsanya dengan sepasang mata yang memancarkan binar lapar. Ia sengaja membiarkan Elisa berlari menjauh dari jangkauan Evelyn dan sang sopir, agar ia bisa menghadapi gadis manusia keras kepala itu secara personal, berdua saja.

"Lari yang cepat dan kuat, Singa Kecilku," bisik Josiah dengan suara serak yang memikat sembari menjilat bibir bawahnya sendiri.

"Karena... permainan berburu di antara kita baru saja resmi dimulai."

****

"Di mana sepedaku?"

Elisa berputar-putar di tempat dengan panik, matanya menyapu sela-sela semak di area yang sangat ia yakini sebagai lokasi serangan Jonah beberapa saat lalu. Napasnya tersengal-sengal, terasa memburu dan dangkal di parunya.

Dadanya kian sesak seolah pasokan oksigen di sekitar Hutan Luminara ini mendadak menipis secara drastis akibat kepanikan yang menguasai dirinya.

Namun, sejauh matanya memandang, benda berkarat roda dua miliknya itu sama sekali tidak terlihat di mana pun.

"Sial, sepeda tua itu mungkin sudah dicuri orang. Ck, tapi siapa juga manusia waras yang mau memungut barang rongsokan sejelek dan seberkarat itu di pinggir hutan? Pasti tukang loak," gumam Elisa dengan nada getir dan frustrasi yang kentara.

Merasa tidak ada waktu lagi untuk mencari barang mati, ia memutuskan untuk kembali mengayunkan tungkainya dan berlari, meskipun sepasang kaki manusianya kini sudah terasa seberat balok timah.

Butiran air mata yang sedari tadi ia tahan perlahan mulai menggenang di pelipis dan merembes turun melewati pipinya yang kotor.

Rasa takut, lelah fisik, dan rasa bersalah yang teramat besar bergulung, bercampur aduk menjadi satu gumpalan emosi yang menyesakkan dada.

Ia merutuki nasibnya yang teramat malang hari ini; niat hati ingin menyelamatkan panti asuhan tempat tinggalnya dari penggusuran, ia justru malah melangkah masuk dan terjebak di tengah-tengah lingkaran keluarga predator supernatural yang mengerikan.

"Aku benci hidupku! Aku benar-benar benci menjadi diriku yang lemah seperti ini!" teriaknya pecah ke udara bebas.

Suara lengkingan penuh luka itu seketika tenggelam dan teredam di antara isak tangisnya yang mulai tak terkendali.

Krieeettt...

Tiba-tiba saja, dari arah samping kanan pepohonan, terdengar bunyi derit putaran rantai sepeda yang sangat familiar di telinganya.

Seseorang sedang mengayuh sebuah sepeda tua dengan gaya yang sangat santai, bahkan sosok itu sempat bersiul kecil menirukan nada lagu pop populer di kota.

Itu Josiah Salvatore. Pemuda bermata hitam pekat itu tampak sangat menikmati pemandangan gadis fana yang sedang menangis frustrasi di depannya saat ini.

"Kau... sedang mencari benda rongsokan tak berharga ini, Cantik?" ucap Josiah dengan nada suara bariton yang terdengar sangat menyebalkan di telinga Elisa.

Elisa tersentak hebat, menghentikan langkah kaki pelariannya seketika.

"Kau!" teriak Elisa dengan suara yang parau akibat terlalu banyak menangis.

Jari telunjuk manusianya terangkat, menunjuk tepat ke arah wajah rupawan Josiah yang tengah mengulas senyuman tanpa dosa di atas sepedanya.

Josiah tertawa kecil, suara tawa seraknya terdengar renyah membelah keheningan hutan cemara.

Bukannya menghentikan laju kendaraan, pemuda vampir itu justru semakin lincah mengayuh sepeda butut milik Elisa, bergerak berputar-putar mengelilingi tubuh Elisa yang berdiri kaku, seolah-olah gadis manusia itu adalah pusat poros orbit mutlaknya.

"Kenapa kau mendadak berhenti berlari? Ayo, teruslah melangkah, Elisa," goda Josiah dengan kerinduan instingtif yang tersembunyi.

Sepasang mata hitam pekatnya berkilat jenaka di bawah terpaan sinar matahari yang menembus celah dedaunan.

"Mari kita lihat bersama-sama, seberapa jauh sepasang kaki kecil manusiamu itu bisa membawamu pergi menjauh sebelum aku memutuskan untuk menangkapmu kembali."

"Kembalikan sepedaku sekarang juga, Dasar Vampir Pencuri!"

Elisa bergerak nekat, mencoba merangsek maju untuk meraih setang sepedanya yang sedang berputar. Namun, dengan kecepatan supernatural yang luar biasa lincah, Josiah dengan mudah meliukkan sepedanya untuk menghindar dari jangkauan jemari Elisa.

"Pencuri? Kasar sekali bahasamu, Sayang. Aku justru sedang berbaik hati menyelamatkan benda kuno ini agar tidak benar-benar berakhir di dalam mesin penghancur tempat pembuangan sampah akhir," Josiah akhirnya menghentikan kayuhan sepedanya, bertumpu kokoh pada satu kaki panjangnya sementara sepasang matanya menatap lekat pada sosok Elisa yang tampak berantakan dan basah oleh sisa keringat.

"Lagi pula, untuk apa kau terus memaksakan diri berlari seperti ini? Kau sudah sangat lelah, kau ketakutan setengah mati, dan aroma manis dari darah murnimu tercium sangat pekat sampai ke ujung hutan sana. Menyerah saja pada takdirmu, Elisa. Naiklah, aku bisa memberikanmu sebuah tumpangan instan."

"Aku tidak akan pernah sudi naik kendaraan apa pun atau berada di dekatmu, Makhluk Gila!"

Elisa menyeka sisa air matanya dengan kasar menggunakan punggung tangan, sepasang matanya menatap tajam penuh kebencian ke arah Josiah.

"Sebenarnya apa mau kalian semua dariku? Kenapa kalian tidak bisa membiarkan kehidupanku dan keluargaku tenang?!"

Josiah memiringkan kepalanya sedikit, senyuman jenaka yang sedari tadi menghiasi bibir tipisnya perlahan memudar, digantikan oleh sebuah tatapan mata yang jauh lebih dalam, intens, dan gelap.

"Aku sendiri tidak tahu apa mau kedua kakak kandungku yang menyebalkan itu terhadapmu. Tapi aku? Aku hanya ingin memastikan bahwa Mate-ku tidak pingsan atau mati konyol di tengah jalanan sepi ini sebelum ia sampai ke tempat tujuannya."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!