Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Tuan Azka

Pengantin Pengganti Tuan Azka

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Nikah Kontrak / Penyesalan Suami
Popularitas:40.6k
Nilai: 5
Nama Author: mama reni

Reatha terpaksa menggantikan saudara kembarnya, Raisa, yang kabur di hari pernikahan. Ia menjadi istri kontrak Azka selama satu tahun.

Azka yang masih mencintai Vania selalu bersikap dingin. Namun, Reatha tak peduli. Ia hanya ingin menyelesaikan kontrak, menerima uang yang dijanjikan orang tuanya, lalu pergi meninggalkan keluarga yang tak pernah menyayanginya.

Saat satu tahun berlalu, Reatha diam-diam pergi.

Barulah Azka mengetahui kebenaran—wanita yang selama ini menjadi istrinya bukanlah Raisa, melainkan Reatha.

Dan saat Azka sadar bahwa ia telah jatuh cinta pada wanita itu, semuanya sudah terlambat.

Reatha telah pergi. Mampukah Azka menemukannya sebelum wanita itu benar-benar menjadi milik orang lain?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mama reni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab Delapan

Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam ketika pesta pernikahan akhirnya benar-benar selesai.

Satu per satu tamu mulai meninggalkan hotel. Suasana ballroom yang sejak pagi ramai kini perlahan sepi. Hanya tersisa beberapa keluarga dan orang-orang terdekat yang masih sibuk membereskan berbagai hal.

Reatha duduk diam di samping Azka. Seharian penuh ia tersenyum, menyapa tamu, dan berpura-pura menjadi Raisa. Padahal rasanya tubuhnya sudah hampir tidak sanggup lagi.

Azka yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya berdiri. "Sudah malam. Kita istirahat saja," ucapnya.

Reatha mengangguk. Mereka pun berjalan menuju kamar yang sudah disiapkan untuk pengantin.

Namun, baru beberapa langkah, Papa dan Mama Azka menghampiri.

"Sudah mau masuk kamar?" tanya Mama dengan senyum penuh arti.

Azka mengangguk singkat. "Iya, Ma. Sudah malam."

Papa justru tertawa kecil dan berkata, "Wah, anak Papa ternyata sudah tidak sabar ingin tidur berdua dengan istrinya."

Reatha langsung menunduk. Wajahnya terasa panas.

"Papa!" protes Azka.

Mama ikut tertawa. "Jangan pura-pura malu begitu. Sekarang kalian sudah resmi suami istri," ucapnya.

Azka hanya diam. Ia tampak tidak ingin meladeni godaan kedua orang tuanya.

Reatha justru tersenyum kecil. "Selamat istirahat, Pa, Ma," ucapnya sopan.

"Selamat malam, Sayang. Jaga suamimu baik-baik."

Reatha mengangguk. Azka langsung menarik napas panjang.

"Sudah, Ma. Kami masuk dulu," ucap Azka.

Keduanya kemudian berjalan meninggalkan orang tua Azka. Begitu pintu kamar tertutup, suasana mendadak berubah. Tidak ada lagi senyum dan tawa. Hanya ada dua orang asing yang kini terikat dalam sebuah pernikahan.

Azka meletakkan jasnya di kursi. Kemudian menatap Reatha. "Aku ingin menjelaskan sesuatu," ucapnya.

Reatha menoleh. "Apa?" tanyanya dengan suara datar.

"Aku menikahimu karena paksaan orang tuaku," ucap Azka.

Reatha terdiam sebentar.

Azka melanjutkan, "Jadi jangan pernah berpikir bahwa pernikahan ini terjadi karena aku menginginkanmu."

Reatha menatapnya datar. "Aku sudah tahu."

Azka mengerutkan kening. "Apa?" tanyanya.

"Aku sudah tahu semuanya," jawab Reatha santai. "Tak perlu mengingatkan aku berulang kali."

Ia berjalan menuju meja dan meletakkan beberapa perhiasan yang dikenakannya. "Aku sadar diri," ucap gadis itu selanjutnya.

Azka diam.

"Aku tahu kamu mencintai Vania," lanjut Reatha. "Dan aku juga tahu pernikahan ini bukan sesuatu yang kamu inginkan."

Azka sedikit terkejut mendengar ketenangan gadis itu, lalu ia berucap, "Bagus kalau begitu."

Kemudian wajahnya kembali serius. "Tapi ada satu hal lagi."

Reatha menoleh.

"Jangan pernah mengadu kepada Papa dan Mama mengenai semua ini," ucap Azka

Reatha mengangkat alis. "Mengadu?" tanyanya dengan nada heran.

"Jangan ceritakan kepada mereka kalau aku tidak memperlakukanmu seperti seorang istri!" seru Azka.

Reatha tersenyum simpul. "Jangan takut." Ia lalu menatap Azka lurus. "Aku bukan cepu."

Tanpa menunggu jawaban, Reatha mengambil pakaian tidurnya. "Aku mau mandi."

Ia masuk ke kamar mandi dan menutup pintu. Azka berdiri sendirian. Entah kenapa, jawaban Reatha tadi sedikit mengusiknya.

Gadis itu terlalu tenang. Seolah-olah semua yang terjadi tidak penting baginya. Padahal perempuan lain mungkin sudah menangis sejak mendengar suaminya masih mencintai wanita lain.

Azka menggeleng. "Baguslah kalau dia memang mengerti," gumamnya.

Ia kemudian duduk di tepi ranjang. Niat awalnya jelas. Setelah Reatha selesai mandi, lalu ia juga akan mandi dan segera pergi menemui Vania.

Namun, rasa lelah yang sejak pagi menumpuk membuat matanya semakin berat. Beberapa menit kemudian, tanpa sadar Azka tertidur.

Sementara itu, Reatha selesai mandi. Ia mengenakan pakaian tidur sederhana, lalu membuka pintu kamar mandi.

"Sudah selesai ...."

Kalimatnya terhenti ketika melihat Azka sudah terlelap di atas ranjang. Reatha berdiri beberapa saat. Ia memperhatikan pria itu.

"Katanya mau pergi ke apartemen Vania," ucap Reatha pelan.

Reatha tersenyum kecil. Mungkin Azka terlalu lelah. Ia tidak berniat membangunkannya. Bagaimanapun, itu bukan urusannya.

Reatha mengambil bantal dan selimut tipis, kemudian berjalan menuju sofa. Ia merebahkan tubuhnya di sana.

"Lebih baik aku tidur di sini," gumam Reatha. Tidak lama kemudian, Reatha pun terlelap.

---

Suara alarm dari ponsel membuat Azka terbangun. Matanya masih berat. Ia meraih ponsel yang berada di atas meja.

Begitu melihat layar, kedua matanya langsung membesar. "Astaga!"

Pukul lima pagi. Azka langsung duduk.

"Aku sudah janji akan tidur di apartemen Vania," ucap Azka lirih.

Ia buru-buru membuka ponselnya. Puluhan panggilan tak terjawab memenuhi layar. Nama Vania muncul berkali-kali.

Azka mengusap wajahnya dan berucap, "Pasti dia sudah menungguku."

Tanpa membuang waktu, Azka bangkit dan masuk ke kamar mandi. Ia mandi dengan cepat. Setelah selesai, ia keluar sambil mengeringkan rambut.

Barulah pandangannya jatuh ke sofa. Azka terdiam. Ia baru ingat sesuatu. Matanya mencari-cari keberadaan istrinya. Dan di sanalah perempuan itu. Tertidur di sofa dengan tubuh meringkuk. Selimut tipis menutupi sebagian tubuhnya.

Azka mengernyit. Kenapa dia tidur di sana?

Azka berjalan mendekat. "Raisa," panggilnya.

Tidak ada jawaban. Ia mengguncang bahu gadis itu dengan agak kasar. Reatha langsung terbangun.

Matanya masih berat. Ia sedikit terkejut ketika melihat Azka berdiri di hadapannya.

"Ada apa?" tanya Reatha.

Azka menatapnya kesal. "Kenapa kau tidak membangunkanku?"

Reatha mengerjapkan mata. "Membangunkanmu?" tanyanya.

"Iya!" seru Azka.

Reatha duduk perlahan sambil merapikan rambutnya. "Mana aku berani."

Azka semakin kesal. "Kenapa tidak berani?" tanyanya.

"Nanti kamu marah," jawab Reatha.

Azka mengusap wajahnya frustrasi. "Jadi kau sengaja?"

Reatha mengerutkan kening. "Sengaja apa?"

"Sengaja membuatku tidak jadi menemui Vania!" serunya.

Reatha justru tersenyum simpul. "Buat apa aku sengaja?" Ia menatap Azka dengan wajah polos. "Memangnya ada untungnya untukku?"

Azka terdiam.

Reatha kemudian melanjutkan dengan tenang. "Jangan-jangan kamu berpikir aku iri atau cemburu?"

Azka tidak menjawab. Dalam hatinya membenarkan ucapan gadis itu.

Reatha malah tertawa kecil. "Lucu sekali."

"Apa yang lucu?" tanya Azka.

"Bukankah kamu sendiri yang meminta aku untuk tidak mencampuri urusan pribadimu!" ujar Reatha. Azka terdiam.

"Jadi aku hanya mematuhinya," lanjut Reatha. "Kamu mau pergi menemui Vania, silakan. Kamu mau tidur di apartemennya, silakan. Itu bukan urusanku."

Azka mengepalkan tangan. Entah kenapa jawaban gadis itu membuatnya semakin kesal. Ia berharap ada sedikit rasa cemburu. Namun, Reatha justru terlihat sama sekali tidak peduli.

"Ya sudah!" seru Azka.

Azka membalikkan badan. Reatha hanya memandang punggung pria itu.

Azka mengambil jasnya dan bersiap pergi.

Pagi bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi masalah di antara mereka sudah terasa semakin rumit.

Sementara itu, Reatha kembali merebahkan tubuhnya di sofa. Ia menatap langit-langit kamar. "Suami macam apa dia itu?" gumamnya pelan.

Kemudian ia tersenyum getir. "Ah, bukan." Ia memejamkan mata. "Dia memang bukan suamiku. Ini cuma pernikahan satu tahun."

Di sisi lain, Azka sudah membuka pintu kamar. Sebelum pergi, ia sempat menoleh. Tatapannya jatuh pada Reatha yang kembali memejamkan mata.

Untuk sesaat, langkahnya terhenti. Namun, ia segera menggeleng. "Vania sedang menungguku," gumamnya.

1
Nar Sih
untung yg kmu nikahi reatha semoga kmu ngk marah bila nanti kbnran dtg
Sri Supriatin
lanjuut Thor 🙏🙏🙏
Radya Arynda
haduh pelakor2,,,mati aja.jijik kalau baca tentang vania,,,pelakor ngak tau malu
Radya Arynda
laki2 goblok,,di budak sama vania dengan dalih balas budi mau aja,,,,tolol...
ken darsihk
Vania kebakaran jenggot mengetahui kedekatan nya Azka dngn Raisa istri nya 🤣🤣🤣
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Ida Nur Hidayati
Vania....Azka dan Raisa suami istri jadi kalau mereka berdekatan itu wajib
Naufal Affiq
gak sadar juga kamu vania,rea itu istrinya,kamu hanya pelakor
Teh Euis Tea
ga mungkin gimana vania Reatha istri sah nya azka gimana sih km, tp sah ga ya pernikahan mereka kan namanya yg di ijab kabul raisa bkn reatha?
Eva Karmita
dasar benalu so berkuasa sadar diri napa kamu itu siapa cuma pelakor yg tidak tahu diri menjual kebaikan kakak mu untuk jadi tameng mu 😏
Apriyanti
lanjut thor 🙏
Suanti
setelah raisa/ reatha prgi baru azka merasa kehilangan bakal menyesal azka 🤭
Eva Karmita
seiring berjalannya waktu kamu akan sadar Azka ... tapi semoga saja bila waktu nya tiba kamu tidak terlambat dan menyesal , wanita yg selama ini menemanimu Tampa menuntut apapun pergi Tampa jejak
Lela Angraini
smga dgn kejadian ini kamu segera sadar dan menyadari perasaanmu sblm waktuny tiba nanti reatha pergi dri kehidupanmu
Lela Angraini
heleeehhh preeettt,,cinta duitny doank kamu itu. pgn lihat kamu di campakkan aku 🤣🤣
ken darsihk
Apa yang akan terjadi yak , setelah satu tahun terlewati
Naufal Affiq
mudah-mudahan kau paham untuk semuanya azka,kau sudah menikah,dan harus menghargai hati istrimu,biar pun dia bukan wanita yang kau cintai,kalau untuk vania itu wanita yang dititip kan kepada mu,hanya untuk di jaga,bukan untuk di nikahi
Sugiharti Rusli
dan sejatinya hati nurani si Azka masih jalan sih, dan cinta yang selama ini dia rasa buat Vania, bisa jadi bukan cinta sebenarnya yah,,,
Sugiharti Rusli
apalagi keberadaan Raisa/Reatha di sisi Azka selama beberapa bulan ini bisa mendekatkan mereka, meski tidak ada sentuhan fisik,,,
Sugiharti Rusli
terkadang manusia yah terlalu percaya pada dirinya sendiri sih, padahal yang menggenggam hati manusia tuh Sang Pencipta,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!